Anjar Priandoyo

Bagaimana menjadi IT manager yang baik (dalam skala enterprise)

with 9 comments

Sebenarnya tidak ada perbedaan besar antara mengelola komputer skala rumahan dengan mengelola komputer skala enterprise. Hampir tidak ada perbedaan antara komputer jangkrik seharga 4 juta, dengan Sun fire 25K seharga 500 juta -kontrak maintenance 400 juta pertahun. Dan juga tidak ada perbedaan antara komputer Dell 1 processor dengan 72 processor pada Sun Fire. Dan dalam prinsipnya tidak ada perbedaan memimpin 10 orang pekerja pabrik dengan 10 orang pekerja TI bersertifikasi internasional.

Saya menjumpai IT Manager kharismatik dengan latar belakang Teknik sama banyaknya dengan menjumpai IT Manager dengan latar belakang Finance. Saya juga menjumpai banyak IT manager dalam perusahaan skala menengah yang mampu mengatasi persoalan dengan lebih baik, dengan lebih tenang dibandingkan IT manager di sebuah perusahaan publik yang listing di BEJ. Lalu sebenarnya kriteria apakah yang membuat seorang IT manager menjadi IT manager yang baik, yang bisa men-drive timnya, perusahaannya ke arah yang lebih baik.

Baru-baru ini saya menjumpai client di kantor terjebak dalam situasi yang cukup pelik. Server dikantor yang dibeli dengan harga sangat mahal tiba-tiba down, harddisk SCSI-nya mati dan waktu downnya mencapai 6 jam, di hari produktif bekerja. Sang direktur berang, IT manager marah-marah dan memaksa -dengan tidak mau tahu- anak buahnya untuk mencari solusi atas permasalahan ini. Vendor sudah dipanggil, namun masalah juga tidak selesai. Semua orang panik dan kesal. Untung ini hari jumat, sehingga ketegangan diantara mereka sedikit mereda. Tinggal officer dan tentunya vendor yang mengutuk didalam hati.

Prioritas utama IT manager adalah, tingkat layanan (SLA). Keinginannya adalah sistem yang di kelolanya harus berjalan 24x7x365 dan pelanggaran terhadap SLA adalah kesalahan dari anak buahnya atau semata hardware. Padahal masalahnya tidak semudah itu, komputer adalah benda mati, tapi mengelola komputer sama seperti mengasuh anak kecil. Perlu kesabaran dan ketelatenan.

Dalam teori semi konduktor, setiap piranti yang kita beli tidak mesti akan bekerja dengan sempurna. Satu cetakan processor akan diberi label 2Ghz jika ia mampu melewati testing test hingga 2Ghz, dan bila dia tidak melewati batas testing tersebut dia akan diberi label 1.5Ghz. Artinya, bisa saja kita mendapatkan processor 1.5Ghz terbaik yang mendekati 2Ghz, atau mendapatkan processor 2Ghz terburuk yang mendekati 1.5Ghz. Itu baru dalam semi konduktor, belum lagi dalam listrik statis, cacat produksi, bug, virus, hingga masalah lainnya yang membuat stress, kesal, dan sialnya tidak ada penyelesaiannya dalam buku panduan manapun.

Teman saya pernah mencuci motherboard dengan sabun, dan berhasil. Konon katanya menghilangkan listrik statis. Teman saya yang lain menjemur VGA card dan akhirnya VGA card itu kembali berfungsi. Seorang customer support HP cukup mencabut keping processor yang ‘hang’ dan sistem kembali berjalan. Nah permasalahan seperti itu sama terjadi antara tingkat rumah dan tingkat enterprise, sama persis.

Itu adalah contoh dari pengelolaan dari sisi piranti keras. Bagaimana dengan manusianya? bagaimana dengan tenaga ahli dibelakangnya. Tentunya sekali lagi tidak ada perbedaan antara mengelola tim dilapangan dengan tim IT engineer. Pendekatan-pendekatan yang lebih manusiawi terbukti lebih efektif dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Tetap tenang sambil terus kreatif mencoba berbagai solusi adalah cara yang terbaik.

Jadi kalau kita berkeinginan menjadi IT manager yang baik, yang service levelnya lebih tinggi, yang everyone happy, yang staf-nya ga banyak yang resign. Yang membuat semua orang berterimakasih kepada kita, -bukannya menggerutu akan layanan yang tidak reliable-. Cobalah memandang operasional IT kita yang dalam skala enterprise dalam satu ruangan server bersuhu 18C seluas lapangan basket, dengan memandangnya seperti mengelola komputer yang kita cintai dirumah kita, stafnya adalah istri kita, operatornya adalah anak kita, backup adminnya adalah ayah kita. Dan pengguna layanan itu adalah kita sendiri.

About these ads

Written by priandoyo

September 1, 2006 at 3:01 pm

Ditulis dalam Teknologi

9 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bagaimana kalau sebagian besar komplain berasal dari “common user” yang pegang posisi lebih tinggi? User yang mau terima jadi atau user yang tidak ada background sama sekali tentang IT. Pokoknya terima jadi. Dia download file gedhe2 dan ga ada hubungannya dengan kerjaan, di sisi lain, dia komplain karena internetnya lambat.

    Ada ide cara menghadapinya? Satu dua kali sih tidak masalah.. berkali-kali.. mmm.. tapi sabar kan ga ada batasnya yah… :D

    Arief Fajar Nursyamsu

    September 5, 2006 at 3:17 am

  2. Cerita yang sangat baik, terima kasih. Saya jadi ingin mencoba..

    Ari Ishfahani

    September 5, 2006 at 4:29 am

  3. Wah pak Arief, kalau saya dihadapkan pada bos-bos yang ‘rese’ justru saya senang sekali. Bukannya itu justru jadi kesempatan baik buat kita mendapatkan exposure lebih pada pimpinan :) -dalam arti positif, bukan menjilat-

    Teori pedagang melayani pelanggannya juga bisa kita pakai pak, kadang-kadang kita ga tahu dari pelanggan mana yang akan membeli produk kita. Jadi kita harus melayani mereka sebaik mungkin, sampai mereka tidak bisa lepas dari kita, sampai mereka tergantung pada kita. Dan pada akhirnya kita yang bisa mengendalikan TI kearah mana (teorinya sih)

    anyway thanks commentnya, mungkin pak Arief, perlu menulis juga bagaiamana tips dan triknya menghadapi ‘customer IT’ yang rese.

    priandoyo

    September 5, 2006 at 7:40 am

  4. Saya sudah mencoba mengubah mindset bahwa perusahaan adalah partner saya, dengan demikian, karena perusahaan adalah partner (baca: customer), maka seperti yang mas Priandoyo bilang, konsep jual beli dan after sales service bisa lebih tercapai.

    Pegang posisi tinggi yang saya maksud bukan big boss, tapi mereka yang berada pada level senioritas tinggi dan punya bargaining position tinggi, sehingga apa yang mereka bilang akan dianggap sebagai hal yang selalu benar. Seperti ini bakalan sulit, karena penjelasan secara teknis membuat mereka bingung, penjelasan sederhanapun mereka tidak mau tahu. So yang penting saya lakukan adalah justru memberikan penjelasan seilmiah mungkin dengan data yang cukup (misal: capture traffic, mrtg, iptraf) kepada big boss.

    So.. jika middle-level manager tidak bisa mengerti, kenapa bukan big boss saja yang dibuat mengerti? Begitu kan? Saya lebih setuju dengan cara ini. Lebih fair :D

    Btw, kapan2 saya tulis deh tips trik-nya.. :D

    Sukses ya di Surabaya. Satu hal yang saya ingat di Surabaya adalah penjual martabak, terang bulan, pukis dan tahu petis yang ada di jalan Nginden (terminal Bratang ke Selatan).. mmmm

    Arief Fajar Nursyamsu

    September 5, 2006 at 8:55 am

  5. Hmmm … menarik sekali, ga sengaja kok bisa nemu ini, BTW dulu saya jg selalu mengalami seperti, dimana posisi IT bagaikan kambing hitam di perusahaan, kena salah melulu. Tapi rupanya sekitar 3 tahunan ini keadaan sedikit berbalik, saya walaupun terhitung sebagai Junior Manager (dibanding sama Manager yg lain) tapi udah kurang ajar berani bikin IT Policy, aturan2 ketat … bahkan saya pernah bikin orang PHK juga pakai pasal2 IT…. ehehehe. Anyway thanks for sharing

    ipoi - Samaran

    Juni 10, 2008 at 8:34 am

  6. Menurut saya, semua pendapat benar, pekerjaan yang kita cintai itu sangat menyenangkan untuk menjadi tantangan agar tetap ada semangat hidup. Saya percaya kualitas hasil pekerjaan akan selalu melekat pada diri masing – masing beserta integritas teamnya. Karena itu, Data, Statistics, SLA, IT Policies dan Procedures adalah sebuah kesatuan Dokumen yang menjadi tolak ukur seberapa kemampuan kita menangani tantangan tersebut. Ada bedanya lho antara everybody happy karena keasyikan atau everybody happy karena respect terhadap aturan main yang baku..

    Yunata Octaviano

    September 5, 2008 at 5:25 pm

  7. Pak Anjar, Kriteria IT Manager yang baik itu menurut saya tidak bisa distandarkan. yang pasti profesionalisme penting.

    kalo filosofi tukang, mandor itu penting walaupun tidak bekerja seperti tukang. karena pada dasarnya pekerja kita masih mau bekerja kalau ada atasan mengawasi. saya ada jika engkau ada kira-kira begitu.

    Nah oleh karena itu, IT manajer yang baik harus selalu memperhatikan karyawannya. perhatian bukan berarti berbentuk materi tetapi banyak hal yang bisa diklasifikasikan sebagai bentuk perhatian kepada karyawan. seperti meluangkan waktu menengok staf bekerja sudah bisa diklasifikasikan sebgai bentuk perhatian. tapi jangan sampai terkesan perhatian ini adalah tekanan. make it relax

    Reza

    Desember 25, 2008 at 9:36 am

  8. Artikel yang bagus pak Anjar,

    Beberapa perusahaan memang memiliki kultur kerja yang berbeda, saya pribadi memiliki kesempatan yang baik dalam mengenal beberapa kultur perusahaan. Dari perusahaan yang non-policies alias ngga ada prosedur sama sekali, sampai perusahaan yang sangat baku dalam prosedur.

    Dalam menangani masalah memang banyak cara menuju roma. Setuju sekali ketika ke-arif-an seseorang manager dalam hal ini komunikasi terhadap bawahan maupun atasan harus menjadi hal yang paling unggul.

    Kesabaran itu memang tidak ada batasnya. Namun ada beberapa segi dimana ketegasan bahkan shock-therapy perlu dilakukan ketika bawahan tidak dapat merespond dengan baik atas permasalahan yang ada. Perlu diketahui, bahwa pendidikan merupakan Rezeki paling Nikmat yang bisa kita transfer kepada orang lain, disitulah letak nilai dari seorang Manager.

    Dimana Kesabaran diuji, dengan bumbu ketegasan namun tetap orientasi pendidikan dengan Result minded.

    Bagaimanapun kita sebagai Manger pernah mengalami posisi menjadi staf, satu hal yang saya inginkan sewaktu menjadi Staf adalah memiliki Atasan yang dapat mengajarkan, minimal apa saja yang telah membentuk dia sebagai Atasan.

    Sukses selalu untuk semua :)

    adrinoor.

    Januari 20, 2012 at 3:25 am

  9. It’s an amazing article in favor of all the online people; they will take benefit from it I am sure.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 489 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: