Membeli rumah itu memang urusan perempuan
Beberapa hari yang lalu di sebuah warung tenda di Sudirman tanpa sengaja saya menyaksikan beberapa orang perempuan kantoran asyik membicarakan tulisan diblog ini. Yang mengejutkan ada artikel yang diprint dan dijadikan referensi diskusi mereka. Kejadian ini mengingatkan saya pada keyakinan saya dan dinda bahwa mencari rumah memang urusan perempuan.
Memang biasanya lelaki yang lebih dominan dalam proses pemilihan rumah. Tapi, itupun hanya terjadi pada proses awal administrasi saja. Toh yang akan menghuni, menempati lebih lama dan membuat suasana rumah tangga menjadi harmonis adalah si perempuannya, si ibunya anak-anak. Sementara, lelaki biasanya tidak ambil pusing urusan ukuran rumah, dapur yang sempit, halaman depan dan belakang.
Keyakinan bahwa membeli rumah adalah urusan perempuan ini pun semakin diperkuat dengan pengalaman saat menghadiri pameran property 17-25 Februari 2007 di JCC Senayan. Mulai dari tukang jualan kasur latex sampai tukang jualan kitchen set, semuanya menyosor kaum perempuan (ibu dan emak-emak) sebagai decision maker,sementara sang lelaki hanya kebagian proses approval saja.
Kapan seharusnya perempuan memiliki rumah?
1. Si lajang tangguh.
Membeli rumah sebenarnya tidak ada hubungannya dengan status seseorang. Pertimbangannya hanyalah biaya yang dikeluarkan untuk kost/kontrak perbulannya menjadi terbuang percuma. Ambil contoh pekerja dikawasan segitiga emas (Sudirman Thamrin Kuningan). Tarif kost layak didaerah ini (Kamar tanpa AC) sudah mencapai 600rb/bulan yang artinya dengan kondisi sekarang lebih baik uang tersebut digunakan untuk cicilan rumah tipe 36 seharga 70 juta-an di Depok atau Tangerang.
Kalaupun dirasa terlalu memaksakan diri, maka opsi yang lain adalah tanah / apartemen. Tanah tentunya tanpa resiko perawatan yang lebih besar dibandingkan rumah. Dan apartemen tentunya bila akses ke tempat pekerjaan menjadi prioritas utama.
Hal yang perlu dipertimbangkan juga, bahwa dengan status lajang, maka kemungkinan rumah yang bisa dibeli menjadi sangat terbatas. Jelas hal ini dikarenakan limit kredit yang bisa diambil sebesar 1/3 gaji. Kalau masih single hanya bisa membeli rumah tipe 36 di depok/tangerang, maka jika mau bersabar menunggu pernikahan dengan status pasangan bekerja, rumah yang mungkin yang dia dapat bisa lebih besar, lokasinya lebih bagus, dan pilihannya lebih banyak. Kejadian ini tentu akan lebih menyulitkan lagi jika ternyata rumah tipe 36 yang terlanjur dibeli sangat susah untuk dijual lagi.
2. Partner yang smart.
Buat yang sudah memiliki hubungan, tentunya proses pemilihan rumah akan menjadi lebih mudah. Disamping penghasilan yang lebih besar, pembagian tugas antara 2 orang membuat proses pemilihan menjadi lebih baik. Lelaki bisa berperan agresif mencari informasi, sementara perempuan sebagai penasihat yang teliti.
Biasanya yang seringkali lelaki lupa mempertimbangkan adalah faktor-faktor sebagai berikut.
- Keamanan,
Lelaki seringkali tidak mengangkat faktor ini sebagai issue utama. Seorang teman (lelaki) membeli rumah didaerah SUTET (Saluran Udara Tegangan Tinggi) milik PLN. Sementara teman yang lain membeli dikawasan yang terkenal rawan. Lelaki dengan mudah mempertimbangkan harga dan luasan permeternya, tapi faktor ini seringkali dilupakan.
- Public Facility,
Dokter praktik (umum, anak) yang menjadi titik pertama yang harus dihubungi bila pasangannya sakit. Yang pertama dituju tentunya bukan rumah sakit besar, tapi dokter-dokter praktik rumahan. Publik transport (feeder/kereta) bila sewaktu-waktu pasangannya tidak bisa bekerja.


Top deh, artikel blog sampai dicetak sama perempuan yang mau beli rumah. Beli rumah itu urusan perempuan? Bisa ditambah nggak dengan “yang sudah menikah”. Biasanya perempuan yang belum menikah jarang memikirkan beli rumah karena mau cari suami yang sudah punya rumah. Memang perlu data lebih lanjut tetapi dari pengalaman selama ini dengan rekan kerja, kebiasaannya memang begitu.
Kang Kombor
Februari 19, 2007 at 3:32 pm
Betul mas kombor, memang perlu data lebih lanjut soalnya survey bodoh (sample tidak akurat) yang saya lakukan justru yang perempuan yang lebih mikirin dan bersemangat.
Seharusnya para developer tuh mempertimbangkan perempuan (sisi feminisme) dalam mendesign dan mempromosikan rumah. Lelaki menurut saya lebih cuek, yang penting rumah bisa nyaman ga kehujanan, tapi perempuan berpikir lebih kompleks.
priandoyo
Februari 20, 2007 at 2:22 am
Yak, betul. gara2 harga murah. moso’ suamiku mempertimbangkan mo beli rumah di bawah SUTET. murah, sih murah, tapi keamanan tetap no. 1. Bagaimana dengan masa depannya rumah itu, dll.
FYI: Rumah bagus di bawah SUTET daerah cinere, Gandul Rp. 150 jt. Klu gak salah LT 100m2.
MJ
Oktober 30, 2007 at 3:59 am
[...] Baru krasa deh, bener2 ternyata di dalem rumah tu lebih banyak urusan si ibu daripada si bapak… Dan aku bener2 ngrasa butuh asisten kali ini… tugas2 yang berat sekali, makanya mulai dari memilih rumah itu sebenernya urusan wanita.. [...]
asisten RumahTangga pertama kami « little notes about my life
Oktober 30, 2007 at 5:18 am
Seneng baca artikel2nya mas Anjar. Salam kenal.
Bener mas membeli rumah memang ga ada kaitannya dg status. Masih single juga butuh rumah kok hehehe.
Waktu pertama kali mikirin mau beli rumah th 2001 alasannya karena capek jadi anak kost (baca : capek bayar kost mulu ) dan kurang sosialisasi dengan lingkungan. Tiap kali pindah kerja, ga lama kemudian diikuti dengan pindah kost spy lebih deket ke kantor.
Seperti comment No 1, dulu juga banyak temen yang koment gini “mbak, masih sendiri ngapain mikirin beli rumah, ntar aja biar dibeliin suami …”. hehehehe
Paling banter aku jawab “aku butuh tempat tinggalnya sekarang, capek bayar kost mulu, kalo bisa beli sendiri ngapain nunggu yang ga pasti. iya kalo ketemu jodoh yang udah punya rumah.. kalo enggak.??”
triyani
Nopember 2, 2007 at 4:06 am
Membeli rumah itu memang urusan perempuan-
‘lam kenal mas Anjar, aku iseng buka arsip ‘bicararumah.com’, nemu posting ini.kalo msh boleh ngasih comment,walau dah agak ‘basi’…heu3…
kebetulan suamiku tuh orangnya ‘TOP BGT’ bt urusan nyari rumah (menurutku sih).hal2 kecil bener2 dia perhatikan,sampe ga sungkan nanya ke penjual tentang banjir ga, gmn lingkungannya, berapa iuran keamanan/kebersihan, kepengurusan RT/RW, ada satpam ga, dikontrol tiap brp jam (kalo beli dari pihak kedua). trus kalo dari pihak pertama langsung (pengembang), nanyanya sampe berapa nilai jual kembalinya, ada sekolahan ga (tp ga pernah nanyain ada mal/shopping centre-tau kalo istrinya doyan shopping-kekeke…), akses kesana lancar ga,de el el.pokoknya komplit deh. selain itu juga memikirkan bagaimana anak kami ke sekolahnya kelak.sampe dia udah merencanakan kalo anak kami udah masa kuliah mau cari rumah di daerah Beji (belakang UI), katanya biar ada atmosfer UI…..
pengalaman 3x transaksi (beli tanah, rumah di bandung & rumah di depok sekarang) dari A-Z dia handle smua dan….perfect! bahkan ga segan ngecat tembok sendiri, termasuk urusan interior. kadang-kadang keki juga seh,mosok karena saking pinternya aku jadi ‘ga diperlukan’. tapi lihat sisi positifnya aja,kalo dia puas aku juga bahaaagiiiaaaa banget.
diah
Februari 15, 2008 at 4:59 am
hallo bang anjar…
senangnya menemukan blog ini disaat aku lg nyiapin segala sesuatu buat beli rumah.
ini bang anjar tn8 bukan y? sy tn9. salam kenal (lagi?) semoga sy tdk seapatis itu haha
anies
Juni 2, 2009 at 7:33 am