Legenda kota emas
“Lumayan mas bisa dapet 200 ribu-an nih” Dirman driverku menunjukkan segenggam pasir berwarna kekuningan dalam kantong plastik kecil, tidak sampai 2 kilo kutaksir.
“Hehehe tadi saya dapat dipelataran parkir Sheraton, saya heran pasir kok warnanya ada kuning-kuningnya”
“Hahaha”
“Kalau engga gini susah tinggal di Timika mas, kalau kerja di Freeport boleh lah” Dirman menjawab sambil tertawa kecil
Jumlah total karyawan Freeport mencapai 30.000-an dari total 120.000 jiwa penduduk Timika (sensus 2005). Gunung (pasir) yang dikeruk sehari mencapai 250 juta ton. Jangan tanya berapa kapasitas produksinya, limbah tailingnya saja bisa menghasilkan lebih dari 1 kg emas setiap harinya. Jauh lebih tinggi dari produksi Cikotok, tambang emas ditanah pasundan.
Wajar kalau jadi pembayar pajak terbesar di republik ini. Wajar kalau Grasberg habis masih ada Wild Cat dan jutaan metric ton lagi bahan tambang yang belum diexplorasi. Wajar jika Freeport tidak hanya digoyang dari dalam negeri namun dari luar negeri karena dicap terlalu mengatur harga emas dunia.
Tapi buat para penduduk -non pekerja tambang-, cerita-cerita keberhasilan dan legenda kemakmuran ini bukan sekedar isapan jempol belaka, bisa jadi ini alasan mereka untuk bersusah-susah membeli beras 250ribu/25kg, 5 hari diatas kapal dari Makassar, sekedar untuk bertahan hidup di kota ini.
“Nanti saya dulang pasir ini rumah, cukup pakai panci mas”
Nanti kalau dapet, besok saya ke Sheraton bawa sekop”
“Hahaha”


Memangnya Freeport pembayar pajak terbesar di republik ini?
*jadi ingat Scrooge McDuck
kunderemp
Mei 1, 2007 pada 11:42 am
Setahu saya freeport bukan pembayar pajak terbesar, tapi memang salah satu yang paling besar. mungkin masuk deh kalau 5 besar.
martin
Mei 1, 2007 pada 5:47 pm
Kalau kata orang KPP Besar di Gambir sih Freeport pembayar pajak terbesar, ga percaya?
pak confirm dong
priandoyo
Mei 2, 2007 pada 12:57 am
Selama tidak ditunjukkan data resmi sebagai rujukan maka pernyataan tersebut tidak bisa dipercaya™
Biarpun yang ngomong presiden sekalipun.
kunderemp
Mei 2, 2007 pada 3:23 am
Jadi inget 5 tahun lalu…ikut2an nyari emas/tembaga/perak di Grasberg selama setahun..and pake ditembakin OPM lagi…hehe:-)….Kalo gak salah sehari bisa dikeruk 1 jt ton ore, satu ton ore mengandung 1 gram emas, jadi sehari untuk emasnya saja 1 juta gram (1000 kg/1 ton), belom tembaga dan peraknya…..Kalo gak salah Freeport Papua nomer dua terbesar di dunia….
Agus
Mei 2, 2007 pada 4:26 am
Malu-maluin saja komentar2 di atas. Bikin gue ngakak…
Dari keinginan menyerang dengan bahasa keren yang ternyata terbalik (eksklusif oi… bukan inklusif.. malu2′in almameter SMU aja). Belum lagi kata-kata kasar yang digunakan..
Apalagi pakai istilah2 “senior blogosphere”… emangnya ente di-ospek ama mereka? Emangnya blogosfer itu IPDN?
Yang lebih menyedihkan lagi,
kita udah tau Nenda ini wanita, tapi dengan dengan gampangnya pakai kata-kata kasar. Kebiasaan preman jangan dibawa ke sini, Mas..
Loe,
kalau ini dunia nyata..
jujur aja kaki gue udah melayang ke wajah loe..
SOPAN DIKIT KEK AMA CEWEQ
Gue semi-anonim. Tapi kalo lo emang nyari masalah, gue pakai nama orang yang sama dengan SMU lo. Dia pasti bisa nebak siapa gue.
to nenda (gak tahu gambarnya bisa nongol atau tidak)
Kang Kombor
Mei 2, 2007 pada 4:39 am
Gue pengen nantangin yang pake ID Kang Kombor yang nulis-nulis kasar. Kagak tau malu.. Beraninya ama cewek.
Gue semi-anonim. Tapi kalo lo serius, teman gue yang gue pake namanya ini pasti bisa nebak siapa gue.
ada yang tau ga? biasanya penantang yang bener tuh kan menunjukkan identitas diri dengan jelas, kalo ga jelas, akan menyebabkan isu-isu ga bener ;) ya ga ?
koment menggunakan
nama: Anjar Priandoyo
email : priandoyo@gmail.com
site: http://priandoyo.wordpress.com
gimana yah? *mengamati*
mengatai seseorang lain yang berkata kasar dan beraninya sama cewe , ID yang mengatai ga jelas, bisa dibilang semi-anonim. ah entah..
Kang Kombor
Mei 2, 2007 pada 7:46 am
Nitip sekop ya?
(** Kabur **)
dewo
Mei 2, 2007 pada 10:00 am
gue orangnya.
kayak gitu bukan sexual harassment? ck ck ck ck….
malu2in aja…
kunderemp
Mei 2, 2007 pada 5:32 pm
nonton ah.
om ganteng
Mei 3, 2007 pada 12:17 am
Coward speaks nothing to his opposite.
I am waiting for confirmation. Fertob is waiting too.
My face is ready to receive your footprint if you dare to do that.
Javanese always says, speak no word means yes.
Kang Kombor
Mei 3, 2007 pada 12:19 pm
Kunderemp. Apakah ada gender ditulis di sana? Anda wadam ya?
Kang Kombor
Mei 3, 2007 pada 12:43 pm
pakai alasan gender untuk mengelak dari tudingan sexual harasment..
ck ck ck ck…
kunderemp
Mei 3, 2007 pada 2:40 pm
Kunderemp, jangan bawa ini jadi personal ya. Aku punya teman yang suka mengatakan, bahasa manusia penh keterbatasan. Contohnya ya soal tuduhan Anda soal sexual harassment itu. Sudah jelas tidak ada sesuatu yang menunjukkan gender pada kalimat-kalimat itu tetapi karena manusia membaca dengan bungkus persepsi, maka itulah jadinya.
Itulah keterbatasan bahasa manusia.
Monggo silakan. Aku hanya nunggu konformasi Anjar kok. Ada teman Anjar yang mengatakan dia tahu Anjar dan bilang tidak mungkin Anjar yang melakukan itu. Akan tetapi, kalau bukan Anjar sendiri yang mengatakan, aku tidak percaya. Kalau Anjar konfirmasi bahwa itu bukan dia, lalu apa maksud orang yang menggunakan namanya? Kalau memang Anjar yang menulis itu, tinggal lakukan saja keinginannya untuk melayangkan kaki ke wajahku. Gampang kok.
Kang Kombor
Mei 3, 2007 pada 4:02 pm
peace… peace.
om ganteng
Mei 3, 2007 pada 11:48 pm
bingung..pada komen tentang apa to…
makin dibaca..makin bingung..padahal postingane lumayan…lumayan kaget maksude..
kian
Mei 24, 2007 pada 7:34 am
dua orang itu udah pada rekonsiliasi kok …
papabonbon
Mei 24, 2007 pada 8:20 am
[...] jauh berbeda dengan legenda kota emas, Sangatta yang mulai dibuka tahun 90-an oleh KPC ini merupakan kota yang bangun hanya karena adanya [...]
Sangatta Day 1: Jalan darat! « Anjar Priandoyo
Januari 16, 2009 pada 3:04 am
pengenkerja di pertambangan emas,, ehmmm kaya apa yach rasanya???
Jabon
Juli 17, 2010 pada 12:30 pm