Anjar Priandoyo

Sistem informasi rumah sakit terbaik?

with 129 comments

Ceritanya begini, suatu hari saya terlibat diskusi dengan seorang teman (sebut saja Jono umur 40-an, menikah 2 anak) yang kebetulan bekerja di Health Science Industry, dalam hal ini Rumah Sakit ternama. Iseng-iseng saya tanya kenapa pakai aplikasi XXX ini? kebetulan RS teman saya ini punya budget yang hampir unlimited untuk membeli tetek bengek keperluan rumah sakit.

“Waktu itu udah beauty contest juga, terus yang paling OK ya aplikasi XXX ini mas”
“Oh gitu, emang market leadernya di SI rumah sakit ini apa pak?”
Rasa ingin tahuku kembali muncul.
“Engg siapa ya…” Jono terdiam sebentar, berpikir.
“Repot ya pak kalau industri spesifik seperti ini, nyari market leadernya aja ga ada” Saya bercanda sekenanya.
“Oh ada pak, NovaSprint, paling bagus itu untuk RS. Kita panggil juga dia di beauty contest, dah overview segala. Tapi punya Novasprint tergolong mahal, jadi kita ga pake dia” Pak Jono kemudian mendongeng sedikit tentang cerita vendor selection di RS-nya
“Saya tahu Novasprint pak, yang singapore punya itu ya? saya dengar memang bagus, leader dia”

Dalam prakteknya dilapangan, masalah vendor selection ini merupakan masalah yang cukup pelik. Beda kalau produk yang dibeli harganya sudah fix, semisal mobil 4WD untuk ditambang. Meskipun dalam skala mass project pun angka mobil 4WD ini masih bisa dibayangkan. Tapi kalau harus Sistem Informasi, kalau harus konsultasi marketing, kalau harus strategic management. Masalah pricing seharusnya berapa ini bisa jadi rumit.

Lha wong jangankan SI kelas gurem, major ERP macem Oracle atau SAP pun berani banting-bantingan harga biar bisa masuk ke satu perusahaan.
“Ya kita berani rugi Njar, biar dapet untung lebih gede belakangan”

Sebenarnya ada satu cara yang paling gampang yaitu menyewa konsultan untuk proses pembelian, vendor selection dkk. Contoh, Pemerintah Amerika menyewa Accenture, untuk menjadi konsultan, biar pemerintah Amerika bisa dapet barang yang kualitasnya bagus. Tapi apa yang terjadi, justru Accenture melakukan penipuan dengan bekerja sama dengan vendor. Jreng-jreng Accenture dituntut $30 juta. Detail ceritanya di tulisannya Aresto. Repot kan, ini untuk dikampung orang, apalagi di Indonesia kan, harusnya hal beginian lebih parah disini. Ga perlu diajarin lah ma Accenture luar.

Nah berkaitan dengan itu, kalau pertanyaan ini ditujukan kepada saya. Bagaimana cara vendor selection yang paling baik, saya jawab:
“…Cari aja forum, asosiasi atau independent yang bisa kasih review dan pricing strategi aplikasi tersebut. Suruh mereka buka harganya berapa. Dalilnya dalam industri yang sama tidak mungkin terjadi gap yang besar…”

Berikut sedikit (sekali) data yang saya miliki tentang peta Sistem Informasi Rumah Sakit. Setahu saya, sebagian besar SI RS didevelop sendiri oleh rumah sakit tersebut. Mungkin ada yang ingin menambahkan?

Buy / Package
1. Novasprint (Successfull client: RS Pondok Indah)
Price: IDR 1.5M, Unlimited user, Hospital Transactional Only

2. Qpro Sukses Mandiri (Best ISV by Microsoft Indonesia)
Price: < IDR 500 Juta, Unlimited User, Hospital & Small ERP (Payroll, Finance dkk)

In house Development
1. RS Pertamina Jaya, Cempaka Putih: Suse, Postgre
Price: IDR?

About these ads

Written by priandoyo

Mei 4, 2007 at 2:24 am

Ditulis dalam Technology

129 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah mas… utk pembahasan massalah yg ini saya bener-bener ngga ngerti sama istilah-istilah nya… hehehehehe

    Ranggi

    Mei 4, 2007 at 3:54 am

    • Saya tanggapi ini setelah yang ke46(2tahun 15Hari), mungkin sekarang anda telah menjadi seorang yang profesional dalam bidang IT..amin

      dr@inticom

      Mei 19, 2009 at 9:54 am

  2. Sepertinya hal ini masalah klasik terjadi dalam pembelian barang IT ya Mas. Mungkin tidak cuman di RS. Sudah mau milih vendor , spec yang dibutuhkan belum jelas. Berhubung budget unlimited semua dibeli…..maunya yang terbagus……tapi menurut siapa, kriterianya apa?, Ini lah awal kejadian resource IT berlebih tapi ga bisa support kegiatan bisnis. Alias pengadaan IT tidak selaras dengan tujuan bisnis he…..he….
    Yang begini bakal jadi proyeknya Mas Anjar….

    idrianita

    Mei 4, 2007 at 6:03 am

    • Permasalahan yang dialami oleh Vendor pengembang dengan RS dalam pengembangan sistem informasi yaitu belum ada seorang analist yang dapat menjembatani kebutuhan RS beserta segala kemungkinan perubahannya misalnya adakah vendor telah meyiapkan informasi(data elektronik) untuk perhitungan /pembuatan tarif di Rumah sakit??, agar Manajemen RS dgn EWS lebih awal diberi signal tentang inefiensi operasional…Hanya seorang analist profesional yang dapat mengenali item tersebut (Bukan konsultan IT)

      dr@inticom

      Mei 19, 2009 at 10:23 am

  3. Menurut saya, baik buruknya suatu sistem RS, tidak bisa dintinjau melulu dari sisi feature sistem tsb.

    Antara 1 RS dan RS lainnya, berbeda SOP-nya. SIM RS yang baik menurut saya adalah yg paling match dengan SOP rumah sakit bersangkutan.

    Karena saya juga sudah sering dengar baik NOVA maupun QPRO juga ada success story tapi juga ada sad story di-mana2. Jadi gak bisa dipukul rata penilainnya…….

    SAP aja juga blm tentu bisa selalu sukses implementasinya. Dan harga di atas juga tidak bisa dijadikan patokan, karena biasanya yg paling mahal bukan harga softwarenya, tapi implementation cost-nya. Nah, ini yang sering dilupakan.

    Kenapa implementation cost RS di Indonesia tinggi, salah satu penyebabnya menurut saya adalah karena SOP yang tidak standard dan baku.

    Kalo SOP-nya saja bermasalah, gimana bisa punya IT yang bagus. Nah di dalam kasus RS bermasalah SOP tsb, saya yakin NOVA pun bisa fail…………………….

    Terima kasih atas kesempatannya Mas Anjar, good article…………….

    Tonny - PT.Rent@Soft

    Mei 5, 2007 at 4:01 am

  4. tergantung sapa yang bisa ngasi persenan lebih gede kan ? :D

    defindal

    Mei 5, 2007 at 9:59 am

  5. Menurut saya sim-rs terbaik, adalah yg match dengan kebutuhan dan SOP di RS bersangkutan.
    Jadi antara 1 RS dan RS lainnya, bisa berbeda.
    Kalo melulu hanya melihat merk, blm tentu menjamin keberhasilan juga.

    Kalo dari segi features, saya setuju NOVARTIS bagus, tapi kalo dari segi implementasi, saya juga sudah sering mendengar ttg success story maupun sad story ttg software2 ini, termasuk QPRO.

    Kalo dari segi harga, kebanyakan proyek sim-rs di Indonesia, kurang memperhatikan ttg implementation costs. Padahal cost inilah yang biasanya membengkak.

    Harga softwarenya gak seberapa, tapi implementation cost bisa membludak sampe 4/5 x harga softwarenya.
    Jadi sekali lagi harga software gak bisa untuk patokan cost.

    Inti permasalahan adalah karena kebanyakan SOP RS di Indonesia gak baku dan standard. Sehingga implementasinya bisa painfull, karena proses customizing yang rumit.
    Research INDC cukup memberi bukti bahwa implementasi application software –> 70% fail (fail to meet the deadline, etc).

    Ttg hire konsultan untuk pembelian, saya setuju banget. Jadi bisa lebih obyektif, moga2, gak melulu ngeliat amplopnya……….he9x

    Semoga bisa memberi pencerahan.
    For Mas Anjar : good article……………………..

  6. Saya dari rumah-sakit swasta yang sudah menggunakan jasa dan produk SIM-RS dari QPRO dan semua berjalan dengan lancar dan dalam tempo kurang dari 6 bulan sistem tersebut sudah running well. Kami salut dengan metoda implementasi yang digunakan oleh QPRO sehingga pihak kami dengan mudah mengikuti proses implementasi tersebut. Dalam pertemuan dengan kolega di rumah sakit malahan ada yang menyebutkan produk QPRO kualitas internasional harga lokal. Bravo untuk QPRO dan tim

    Dr. Andien

    Oktober 2, 2007 at 3:24 am

  7. Saya salah satu pengembang SIM RS lokal , dan alhamdulillah sudah sukses dipakai di 17 Rumah Sakit di Jabodetabek , menyusul beberapa rumah sakit yang lagi taraf negosiasi . SIM RS tidak dibuat hanya untuk mengcover front office saja ( transaction modul only ) tetapi memuat proses back office ( sampai GL /payroll ) dan terutama report medis yang berbasis patient base (electronic medical record , RL 1-6 , BOR , LOS , dll ) . Setiap RS punya SOP sendiri – sendiri yang rata – rata tidak sama , karena itu saya menyediakan fasilitas customizasi sebelum implementasi disesuaikan dengan proses bisnis masing masing rumah sakit . Fitur – fitur yang ada tidak kalah dengan vendor dari luar , justru kami mendevelopnya disesuaikan dengan iklim bisnis Rumah Sakit di Indonesia . Selain design dalam windows kami juga menyediakan dalam webbase didukung oleh teknologi .NET . Multiuser , Multitarif , Full Integrated System , dan masih banyak fasilitas lain yang tidak Anda dapatkan di SIM RS yang lain . Implementasi biasanya antara 2 sampai 6 bulan tergantung kemampuan rumah sakit . Harga cukup ekonomis dibandingkan vendor diatas , bahkan saya menyediakan sistem KSO untuk klinik atau rumah sakit yang berminat .Saya berharap kedepan , semua pelayanan kesehatan di Indonesia dapat mengakses SIM RS dengan harga terjangkau dan aplicable . Untuk informasi lebih lanjut bisa kontak langsung ke 0813 8001 88 80 ( dr_lastri ).

    Dr. Lastri

    Oktober 4, 2007 at 11:11 pm

    • Jualan ya bu…

      tewewe

      Oktober 14, 2009 at 5:26 am

    • selamat malam bu..sy ini cuma home industri ingin menawarkan sarung tangan bayi utk rumah sakit….bisa bantu saya bu telp s,tqaya 0811828226

      meiin wk

      Mei 1, 2010 at 3:42 pm

    • Dear dr.Lastri..

      Kami tertarik dengan penawaran dokter,untuk SIM Klinik kami..mungkin bisa hub kami di 081 380547323 atau 021 99187930.

      Thx

      – ita wahyuningtyas -

      ita

      Juli 4, 2010 at 5:48 pm

  8. yang namanya jualan pasti yang ditampilkan adalah sukses story dan pasti menutup-nutupi fail storynya, tidak dipungkiri kami dari amandasoft (www.amandasoft.net) juga pernah mengalami kegagalan implementasi (kemoloran waktu) itu karena kita dihadapkan pada SOP rs yang cenderung tidak sama antara satu rs dan rs yang lain seperti yang diungkapkan oleh pak Tonny Loekito, PT.Rent@Soft, tapi kita juga pernah implementasi rs sudah jalan dalam waktu 2 bulan dari Front office sampai backoffice dikarenakan dukungan dari pihak management.
    menurut saya ada beberapa yang menjadi faktor pendukung dari keberhasilan implementasi rs yaitu
    1. tentu softwarenya harus bagus dan modulnya lengkap.
    2. dukungan full dari pihak management.
    3. kecakapan user dalam menggunakan sim rs
    4. penyesuaian sop rs sebelum implementasi.
    5. Dukungan tenaga medis konsultan (terutama dokter) dari vendor pembuat sim rs tersebut.

    apabila kelima aspek itu terpenuhi maka SIM RS akan berjalan dengan baik dan benar, masalah SOP RS diindonesia sebenarnya hampir sama, mungkin hanya beda istilah saja antara satu rs dengan rs yang lain.

    sekedar informasi untuk produk SIM-RS yang baik silahkan lihat di http://www.amandasoft.net

    haryanto

    Oktober 22, 2007 at 8:49 am

    • baik bgm yah mas…. menurut info yang di dapat supportnya jelek tuh… padahal masih satu group perusahaan sama-sama amanda …….

      tewewe

      Oktober 14, 2009 at 5:29 am

    • Wah,kalo masalah implementasi emg itu yang paling sulit untuk dipastikan deadline-nya.
      Persoalannya adalah sampai batas mana implementasi itu dilakukan,maksudnya apakah setelah SIM RS telah dipasang ataukah sampai juga ke debug” atau penambahan modul..
      Mungkin Rent@soft dah pengalaman -_-

      RIS Oracle

      Januari 7, 2012 at 9:30 am

  9. Ada beberapa aplikasi lain, jika berkeinginan menggunakan web based untuk produk teramedik. kalo nggak salah lihat di http://www.terakorp.com

    hawking

    Desember 26, 2007 at 12:08 pm

  10. Saya adalah salah satu pengembang SIMRS sejak tahun 2003, dan saat ini produk yang kami kembangkan mempunyai brand “Medifirst2000″ dengan 18 modul terintegrasi.

    Saya juga melihat bahwa SOP dari masing2 rumah sakit berbeda2 terutama masalah kebijakan di keuangan. Mungkin untuk masalah rekam medis pasien, mempunyai kemiripan dan biasanya implementasi di bagian ini (rekam medis pasien) bisa cuman 1 minggu. Tapi jika sudah masuk ke bagian keuangan, terutama Billing Pasien, apalagi sampai ke pembagian jasa dan REMUNERASI, itu akan memakan waktu. Yang saya lihat selama ini, disebabkan 3 faktor :
    1. Perlakuan keuangan per rumah sakit mempunyai kebijakan sendiri, apalagi perbedaan antara RS Pemerintah (Baku tapi kadang tak sama untuk akuntansi) dengan RS Swasta pasti berbeda

    2. Faktor SDM ; adalah faktor yang sangat menentukan. Operator dilapangan (entry data) adalah ujung tombak untuk jalannya SIMRS ini. Saya banyak melihat dilapangan karena ada “faktor-faktor tersembunyi” data pasien apalagi pembayaran (validasi) tidak diinput.

    3. Software SIMRS yg baku tidak akan bs masuk, mengcover karakteristik rmah sakit. Jadi harusnya “Tailor Made”, customize sesuai karakteristik RS bersangkutan. Tapi kelemahan “Tailor Made” adalah proses pembuatan yg tidak singkat.

    Kesimpulan terakhir saya :
    Apabila RS pengen implementasi SIMRS, ada baiknya menggunakan sistem berikut :
    1. KSO selama beberapa tahun, sehingga karakteristik RS tersebut tercover dan RS mempunyai kemandirian dengan mengembangkan personel/sdm di SIMRS tersebut. Intinya SIMRS memjadi produktif (software house), apalagi sekarang udah BLU
    2. Jika ada suatu tender, ada baiknya RS menyiapkan Konsultan Perencana terlebih dahulu untuk mengakomodasi selama pengembangan. Klo tidak…bs cuman pasang…beres..bayar…berantakan.

    Sebagai informasi tambahan, saya di PT Jasamedika Saranatama sejak tahun 2003 telah mengcover beberapa RS di JKT dan jawa barat (cianjur/cirebon). Yang terbaru, telah kami implementasikan di RSUD Karawang (kebayang rumsah sakitnya sebesar apa ?)- Sistem KSO 10 thn.
    Kemudian RS Haji Surabaya ( 2006) sistem tender, dan berjalan dengan sangat baik, sekarang masuk masa maintenance. Kemudian RSU Kota Semarang(ketileng) tahun 2006 dengan sistem KSO 5 thn. Terakhir RSU Timika, akhir 2007, dengan sistem tender.

    Melalui forum ini saya juga berharap, sistem IT di rumah sakit menjadi semakin baik yang tentunya akan lebih memuaskan pelayanan pasien.
    Klo ada partner yg bisa sharing dengan saya bs via japri 08170298530 / 022-5436559

    thx

    I Made Arimbawa

    Januari 24, 2008 at 4:33 am

  11. weks kenalnya koq sama qpro ma nova duank…

    klo soal features sama sukses history yang paling bagus ya TrakHelath di sini dah implement di RS gropnya Ramsey seperti RSMI, RS Bintaro & RSSI, lom lagi di thailand, brazil, Afsel, Timteng, dll…

    cuma masalahnya ya itu harganya selangit he.. he..

    Ferry ZK

    Januari 28, 2008 at 2:47 am

  12. komitmen yang tinggi dan tetap tinggi adalah modal dasar dari terlaksananya SIMRS-IT secara berkesinambungan. apapun software aplikasinya & seberapa lengkap modul ( jika dapat dikatakan modul ) yang ada didalamnya jika komitmen manajemen & pegawai tetapi tinggi maka SIMRS-IT akan tetap berjalan dengan baik.
    apakah yakin dengan implementasi software aplikasi yang selama beberapa bulan saja dapat dikatakan sebagai suatu prestasi ? emang nya siapa yang menggunakan software tersebut ? pengembang atau pegawai ? pengembang dapat dikatakan berprestasi jika telah membina hubungan yang tidak lagi berdasarkan nilai – nilai di atas kertas. jumlah rumah sakit yang telah terimplementasi bukan suatu ukuran keberhasilan ( kalo pengalaman boleh lah … ).
    bagi rumah sakit yang akan mengembangkan SIMRS-IT, saat ini belum ada standar biaya secara untuk software aplikasi SIMRS-IT, jadi berhati – hati lah…jalan keluarnya saat ini adalah menggunakan standar pembiayaan yang dikeluarkan oleh bapenas ( umumnya pengembang mmooohhh )
    bagi pengembang SIMRS-IT, gunakan lah software aplikasi yang bebas lisensi…karena umumnya menggunakan software bajakan, contoh software yang sering dibajak adalah : Borland Dephi, Visual Basic, Visual .Net, Access, Clipper, Foxpro, dll ( software yang berbasiskan GUI ). jika anda menggunakan software bajakan dalam membuat program aplikasi SIMRS-IT maka anda ikut menjerumuskan orang lain ke dalam jurang ( itu baru software aplikasi nya loh belom lagi OS & Database ) … jadi jangan bangga jika masih menggunakan software bajakan !
    orang yang paling mengerti tentang rumah sakit adalah pegawai rumah sakit itu sendiri … bukan orang lain …

    bsans

    Februari 6, 2008 at 6:58 am

  13. memang setiap vendor SIMRS punya kelebihan dan kekurangan masing masing. Menurut pengamatan saya ada beberapa vendor yang sukses implementasi di rumah sakit tapi hanya bagian front office saja (pendaftaran pasien, rekam medis, r/j,r/i, farmasi dan penunjang medis ) dan sekedar informasi billinglah, tapi begitu menginjak backoffice seperti klaim, hutang, dan gl pada mentok. ini yang saya temui di beberapa rumah sakit. faktornya adalah mereka tidak melibatkan ahli akuntansi dalam implementasi ini, untuk implementasi backoffice programmer atau analyst yang jago koding tdklah cukup untuk melakukannya, harus ada mediator akunting yang pintar dalam melaksanakan implementasi, ini baru bisa berhasil.

    sekedar informasi untuk produk SIM-RS yang baik silahkan lihat di http://www.amandasoft.net

    haryanto

    Maret 1, 2008 at 2:09 am

  14. saya tambahkan seperti komentar pak bsans, gunakan software lisensi, ada vendor yang jual SIMRS sangat mahal software databasenya masih memakai software bajakan, ini jelas melanggar dan mau untung sendiri, kalau Saya jualan biasanya saya paketin misalnya paket 10 pc sudah termasuk software original baik server maupun klient, dan ini memang menguntungkan kedua belah pihak.

    sekedar informasi untuk produk SIM-RS yang baik silahkan lihat di http://www.amandasoft.net

    haryanto

    Maret 1, 2008 at 2:15 am

  15. sya juga termasuk pengembang lokal..meneurut saya pembuatab SIRS bukan cuma SIM RS harus melihat RSnya juga.. saya yakin kebutuhan setiap RS akan berbeda..kebutuhan tersebut tentu akan menentukan bugdet yang akan di keluarkan..terimakasih.

    henri_greenleaft

    Maret 4, 2008 at 6:45 am

  16. SIMRS terbaik itu tidak bisa dibandingkan.Sama seperti membandingkan mobil balap di sirkuit yang berbeda, cuaca yang berbeda. Mungkin mobil balap A sesuai dengan sirkuit yang sehingga menjadi nomor satu, akan tetapi belum tentu di sirkuit B. Untuk lebih mantap, tanyakan kepada lebih dari satu rumah sakit yang berhasil mengimplementasikan SIMRS, sehingga tidak terpaku pada satu vendor saja. Kumpulkan data – data yang lengkap dari internet atau dari media lain. Cari yang cocok dengan “sirkuit” (baca:rumah sakit) anda. Sehingga anda bisa mencari “setting mesing” yang cocok agak dapat maksimal dipacu di “sirkuit” anda. Sukses selalu

    boed

    Mei 26, 2008 at 12:43 am

  17. saya seorang pengembang SIM-RS Saya setuju denga Bp. I made. menurut pengalaman saya pembuatan aplikasi SIM-RS harus mengikutsertakan pihak manajemen rumah sakit itu sendiri, bukan sekedar budget yang besar, tanpa adanya kerjasama dan keterbukaan manajemen dengan pihak develop maka SIM-RS yang dibuat akan sia-sia saja. banyak terjadi beberapa rumah sakit mebuat SIM-RS padahal sebelumnya mereka sudah pernah membuat tapi tidak cocok dengan sistem manajemn rumah sakit yg ada.
    jadi menurut saya pembuatan software Rumah sakit tidak harus fdari luar karena dari pengembang lokal pun sudah banyak yg memahami. dan harganya pun dapat terjangkau oleh pihak rumah sakit tinggal bagaimana kesepakan kerjasama antara pihak RS dengan pengembang sistem.

    robert

    Mei 27, 2008 at 8:52 am

  18. Rumah Sakit Kanker Dharmais sudah beberapa kali gagal membangun SIM-RS, sekarang ini sedang mencari calon-calon Vendor yang haldal. Jika anda berminat silahkan ajukan Proposal ke Direksi RS Kanker Dharmais Jakarta, siapa tau anda beruntung…..

    EDWARD HALIMI

    Juni 13, 2008 at 2:27 am

    • Pak Edwar,

      Sampai sekarang RS Dharmais cuma nanya saja dan setiap di tanya kapan kita presentasi jawabannya sibuk tuh……

      Maman

      Oktober 13, 2009 at 4:11 am

    • setiap rumah sakit punya permasalahan yang berbeda-beda. Kami sebagai pembuat dan pengembang SIM-RS tentu tahu bahwa itu adalah salah satu bagian yang harus diselesaikan. Sistem kami customize dan aplikable. Sistem kami telah dipakai 11 RS, baik di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur. Sekarang sedang mengerjakan 1 RS baru dan 1 RS lama, yang tentunya mereka telah cari informasi ke beberapa vendor. Jangan sampai beli kucing dalam karung. info lebih lanjut hub: paulus-024.70449688, 0818472757. “garansi uang kembali”

      Paulus

      Desember 26, 2009 at 5:56 am

    • Memang yang dari Univ. Bin…Nt…..ara gagal masalahnya apa pak?? semua RS yang ada di indonesia apalagi swasta masih fokus pengembangannya pada Duit padahal bukan itu saja sebenarnya kita harus intregasi mdical recor antara RS… mohon tanggapan dari RS Dharmais..

      Tomy

      Juli 7, 2011 at 3:59 am

  19. Namanya juga marketing, apa lagi marketing freelance yang ga ngerti ttg software SIM-RS, biasanya selalu memberikan angin surga bagi setiap cln pembeli/phk owner Rumah Sakit, padahal ybs sendiri belum tentu sudah koordinasi terelebih dahulu dengan pihak yang mendevolp software tsb. Karena, mereka hanya mengeruk keuntungan berdasarkan fee belaka.

    Artinya terkadang software sebagus apapun, kalo marketingnya tdk profesional, sungguh sangat merepotkan.
    Good luck buat Amanandasoft Mitra Development

    M. Yaasiin Fadhilah

    Juli 15, 2008 at 5:20 am

  20. 70% sistem rumah sakit yang masih berjalan dengan sistem manual walaupun ada sistem yang sudah diaplikasikan.

    kendala ini terjadi dikarenakan integrasi yang tidak berjalan dan budget yang tidak diperhatikan dengan bijaksana.

    dalam hal ini, diperlukan awareness dari team IT, jajaran Direksi dan Owner. terkait dengan itu adalah sejauh mana kebutuhan sistem tersebut diperlukan.

    sudiono@MEDEEVA

    Juli 18, 2008 at 10:29 am

  21. baik bagusnya sebua softare SIM-RS akan tergantung pada pemegang regulasi pelaporan kesehatan di indonesia itu sendiri, kadang kala satu sistem berjalan dengan baik di rumah sakit a , tidak menjamin itu akan terjadi pada rumah sakit b, karena SOP yang ada dari tiap2 rumah sakit belum distandarkan yang akhirnya setiap pengadaan sistem informasi yang timbul adalkah mafia mafia tender dengan berbagai cara akhirnya masukal sebuah software tanpa memikirkan dampak yag lebih luas, software dalam negeri pun banyak yang bagus bahkanberjalan di skala rumah kaliber nasionaldan internasional masalahnya koneksitas, dan kekerabatan, saya punya pengelaman di rumah sakit aini jakarta…. masalahnya bisa cair dan bisa bubar oleh seorang pimpinan yayasan .
    salam

    Kang Paku

    September 12, 2008 at 3:50 pm

  22. saya pengamat simrs di beberapa rumah sakit di indonesia,
    saya mengamati beberapa vendor besar simrs yang sudah terkenal (exist di rumah2 sakit besar) katanya,

    tapi kenyataaanya aplikasi mereka tidak berjalan baik di rumah-rumah sakit tersebut, aplikasi mereka hanya berjalan di bagian FRONT OFFICE saja. pada waktu implementasi backoffice mereka pada mentok dan banyak yang gagal. alasan mereka (vendor simrs red) pihak rumah sakit tidak koperatif, padahal menurut pengamatan saya pihak rumah sakit sudah cukup koperatif menerjunkan team terbaiknya.

    Saran saya untuk membeli SIMRS TERBAIK, jangan terpaku demo dari vendor-vendor tersebut, carilah aplikasi yang benar benar sudah siap, lakukan test software tersebut sebelum memutuskan untuk membeli

    salam.

    dr rusmilah malati

    September 21, 2008 at 8:21 am

    • Betul ibu dr, software kami untuk melakukan workshopnya butuh 3 hari

      Maman

      Oktober 13, 2009 at 4:10 am

  23. saya kebetulan pengembang simrs, simrs memang termasuk aplikasi yang kompleks, dan biasanya karena kekomplleksitasnya itu banyak pengembang (dengan berbagai penyebab/alasannya- baik karena vendornya maupun pihak rs-nya) gagal, saran saya bagi yang ingin mencari simrs terbaik adalah; 1. lakukan beauty contest secara detil dengan langsung di uji oleh para calon pemakai- mulai bagian admisi, keuangan, dll, 2. beauty contest jangan dipatok oleh waktu yang singkat, sebisa mungkin aplikasi tersebut di install untuk diujicobakan selama 1 minggu, 3. pihak rs harus menyiapkan sdm yang mumpuni dalam bidang IT, 4. para tenaga IT di rs diikut sertakan dalam pengembangan untuk fitur2 baru/fitur2 pengembangan, 5. mintakan source code (code) harus jadi milik rs tersebut -tapi disertai perjanjian agar rs tidak menyebarkan code tersebut dengan segala ketentuan dan syarat.

    novasprint bagus ya hehehhehehehehheheheh, maca cih? menurut saya banyak kok vendor lokal yang bagus

    yogafina

    Oktober 15, 2008 at 11:53 am

    • Novasprint bagus itu kata orang pak bukan kata Bapak

      Maman

      Oktober 26, 2009 at 8:50 am

  24. Sedih juga sih mendengar beberapa rumah sakit terutama yang dikelola pemerintah dan BUMN, abis anggaran dan aplikasi tidak bisa memenuhi kebutuhan pula.

    Saran kami, datangi dan bicara langsung dengan para pengelola rumah sakit swasta yang telah berhasil menjalankan aplikasi manajemen administrasi rumah sakit.

    Dari mereka akan didapat info tanpa kecap atau pemanis, namun apa adanya…

    atau kunjungi dan lihat referensi mereka dengan cari informasi marsonline di google.

    salam hormat untuk semuanya, mari kita berlomba untuk mewujudkan tertib administrasi pelayanan kesehatan masyarakat.

    Indonesia tercinta jayalah bangsaku.

    MARSONLINE

    Oktober 18, 2008 at 12:38 pm

  25. Kalau komentar saya sih ……………..Tergantung kebutuhannya dan berapa budget yang ada untuk implementation System Rumah Sakit.

    maman@novasprint.com

    maman

    Desember 3, 2008 at 8:39 am

  26. wah seru bener, semua ada di sini, ada yang kasih sanggahan, ada yang kasih support, sampai ada yang jualan juga. kalau pendapat pribadi saya, SIM RS memang sistem yang kompleks, butuh perjuangan total bukan hanya dalam proses pengembangannya, tapi juga proses implementasinya super heboh… di sini banyak aspek yang menentukan faktor keberhasilan penerapan suatu sistem informasi rs. hmmm intinya dari awal tahap user assessment sampai dengan masa retensi software menjadi faktor penentu keberhasilan yang memegang kendali masing – masing, dan itu dari awal harus disadari dengan betul baik oleh pihak management rs ataupun pihak pengembang software. Ibarat kata, meleng dikit = berantakan. So… hati2 dan persiapkan mental baja untuk rumah sakit yang ingin implementasi suatu software rs. Bukan nakut-nakutin, tapi yah ini yang saya pribadi sudah alami. cheers… (hehehe salam buat pa’ tony dan pa’ ferry)

    adrian

    Januari 3, 2009 at 5:52 am

  27. menurut saya SIMRS yang paling baik itu :
    1.Punya komputer……pasti gila
    2.Punya SDM yang mau pake…..klo ga gini sma aja boong
    3.Punya Manajemen yg tegas….klo luwes….gmn ya….
    4.Jangan memanjakan user/customer…….Jelas,Tepat dan Efektif…..
    5.Kalau udah jam 5:30 sore pulang aja…..Ga bagus kelamaan di depan komputer…..

    stanley

    Januari 13, 2009 at 11:45 am

  28. To haryanto & dr lastri…

    kalo jualan jangan gitu-gitu amat deh….
    ini forum share pendapat…. saya juga provider sim rs .
    kalo saya nilai dari beberapa studi kami tentang aplikasi anda on the spot … kelas anda masih PAS-PASAN…

    Gini hari masih andalin VB n MsSQL… ga jaman om…. ini jamanya web based n RIA (rich internet application, pake javaFX or adobe Flex)

    Priyo

    Januari 29, 2009 at 4:51 am

    • gaya u pake web base jalan jg ngak tuh …..

      hacker

      Februari 11, 2010 at 11:16 am

    • itu kan menurut ANDA ? kalo menurut saya Anda yang PAS-PASAN gimana ???

      KoMV-Music

      Februari 11, 2012 at 3:49 pm

  29. walah, kalau saya teknologi tidak jadi masalah mau pake vb kek, mau pake foxpro kek atau web yang notabenelah engga masalah yang penting bisa mencover semua masalah di rumah sakit, pake web kalau analisanya salah ya salah kaprah mas,

    wanita

    Februari 2, 2009 at 12:48 pm

  30. SIM RS yang baik adalah yang sesuai dengan RS tersebut. Secara Core Business semua RS sama, tetapi yang membedakan adalah Kebijakan (Business Rule) dari masing-masing RS. Di Indonesia tidak ada ketentuan yang baku. Seperti contohnya Kode Obat saja satu RS dengan RS yang lain bisa berbeda-beda. Jadi Menurut Saya SIM RS yang baik adalah SIM RS yang dapat memenuhi kebutuhan RS Tersebut. Saya juga adalah seorang pengembang SIM RS yang sudah berpengalaman lebih dari 15 tahun. Contoh SIM RS yang kami kembangkan adalah SIM RS di RSIA Hermina Grup. Aplikasi tersebut Sudah Integrated antara Front Office sampai dengan Back Office. Nggak usahlah kita menonjolkan teknologi (Jago Programming) tetapi tidak mengerti seluk beluk Sistem RS. Saya sering mendapatkan beberapa RS yang trauma karena kegagalan SIM RS di tempat mereka. Setelah Saya teliti kebanyakkan pengembang Lokal Hanya jago ngomong tetapi nggak jago dilapangan (Nggak mau tahu kemauan user jadi maunya sendiri) selain itu juga SIM RS yang diaplikasikan tidak user friendly akibatnya user bingung mau ngapain. Bukan Berarti kalo udah web base itu pasti bagus. Coba Anda tengok di beberapa RS Swasta yang katanya pake aplikasi web base. setelah saya lihat betul web base tetapi paling hanya untuk mengisi dan mencari data pasien doang. Kami sedang mengembangkan SIM RS yang tidak kalah mutunya dengan produk NOVA dan QPRO. Ini Asli Karya Anak Bangsa yang memang Ahli dalam pembuatan SIM RS. Kalo mau berkonsultasi atau permintaan demo hubungi 08161374269. Kami jamin anda akan puas. Bravo SIM RS lokal

    Fajar Joe

    Februari 7, 2009 at 5:21 pm

  31. Di kala hampir semua orang gempar membicarakan ini & itu, aku malah dirundung duka. Jika sebagian orang sering dihadapkan pada penyakit kanker usus besar, lain lagi dengan yang kuhadapi. Bayiku terlahir dengan membawa kelainan. Usus besarnya berada diluar tepat di atas perutnya, kira2 sebesar kepalan tangan. Ya Allah! Cobaankah? Ujiankah? Atau apa ini? Aku dilanda ketidak karuan. Dalam doaku kesebut ” Ya Allah! jika usia yang panjang adalah yang terbaik untuk bayiku, maka panjangkanlah umurnya, namun jika sebaliknya! Aku ikhlas, ambillah bayiku agar dapat tertidur nyenyak dipangkuanMu Ya Roob! Kasihan bayiku, masih kecil sudah terlalu menderita.” Adakah kini yang mau peduli padaku? Ada yang RS terbaik di indonesia ada dmn?

    Kang Mus

    Februari 22, 2009 at 1:59 am

  32. Di kala hampir semua orang gempar membicarakan ini & itu, aku malah dirundung duka. Jika sebagian orang sering dihadapkan pada penyakit kanker usus besar, lain lagi dengan yang kuhadapi. Bayiku terlahir dengan membawa kelainan. Usus besarnya berada diluar tepat di atas perutnya, kira2 sebesar kepalan tangan. Ya Allah! Cobaankah? Ujiankah? Atau apa ini? Aku dilanda ketidak karuan. Dalam doaku kesebut ” Ya Allah! jika usia yang panjang adalah yang terbaik untuk bayiku, maka panjangkanlah umurnya, namun jika sebaliknya! Aku ikhlas, ambillah bayiku agar dapat tertidur nyenyak dipangkuanMu Ya Roob! Kasihan bayiku, masih kecil sudah terlalu menderita.” Adakah kini yang mau peduli padaku? Ada yang RS terbaik di indonesia ada dmn? Yg tw tlng beri info 085664393893

    Kang Mus

    Februari 22, 2009 at 2:00 am

  33. Saya ingin menyumbangkan saran.. bahwasannya setiap perencanaan pengembangan SIM perhatikanlah hal-hal berikut:
    1. Studi kelayakan
    2. Visi misi pengembangan SIM RS
    3. prinsip2 keuangan standard IAI
    4. lakukanlah pemetaan (SDM IT, Hardware Resources)
    5. Software harus Opensource
    6. Low cost (tidak lebih dari 50 jt)
    7. penerapan InaDRG

    Kalau dibilang “menawarkan” mungkin iya… tapi saya seorang praktisi kesehatan dengan latar belakang programmer dan analis system ingin mengembangkan Health Information System yang baik (kalo yang terbaik belum..) berbasis web dan bersifat Opensource. keunggulan opensource disini tentu kita sudah tahu, kemandirian RS (tidak tergantung vendor), terhindar dari “penjajahan” vendor, dll

    Silahkan kontak via Japri (syaiful.fatah@gmail.com)


    dr. Syaiful Fatah

    syaiful

    Februari 28, 2009 at 12:12 am

  34. weleh2,kok banyak yang jualan yaa?

    saya mau sharing aja, udah 7 bulan ini full (front office sampe status pasien sampe resep, sampe pembayaran)pake Ksatria Medical System di salah satu RS di Indonesia Timur. Oke juga, walau banyak kekurangan yg ujung2nya membuat byk customizing ditengah jalan.

    Sekarang ada satu RS lagi (masih di Indonesia Timur) yg sedang menjajaki pakai qpro. Mungkin yg ini hanya admin/front officenya saja.

    Memang saya setuju kalo sistem MI RS ga bisa pukul rata, cocok2an sama berbagai profil RSnya, diantaranya SOP itu tadi.

    wisnu w

    Februari 28, 2009 at 11:35 am

  35. Salam
    Buta siapa saja yg sudah menadipengembang SIMRS ..kami ucapkan terimakasih

    Buat pengembang SIMRS yg udah coba ontegrasi dg INADRG di RS pemerintah mana yah .. QPRO dah bisa belum ?

    Kalau bsa, baru saya salut

    khalwa

    Maret 26, 2009 at 8:10 am

    • Salam kenal,
      2 tahun lalu saya ditawari untuk membuat SIMRS dikota Cirebon. Karena kegiatan utama saya dijakarta, jadi hanya bisa sebulan 5-7hari.
      Proyek SIMRS terlambat sebulan, dari budget 6 bulan.

      Tapi semua user puas, dan boleh dibilang client tercengang.. Karena hasilnya jauh melampaui dari yang mereka pikirkan. Singkatnya SIMRS tsb, sangat membantu baik untuk urusan rawat jalan, rawat inap, honor, maupun pembuatan tagihan ke asuransi/corporate. Semua serba otomatis.
      Bagi yang mau lihat-lihat cara kerjanya bisa download :

      http://www.4shared.com/file/109304265/7a44931e/PROPOSAL_SIMRS.html

      Saya akan coba kembangkan SIMRS tsb connect dg INADRG.., tapi karena saya baru dengar INADRG, dimana bisa saya peroleh ?

      Richard Roesnadi

      richard roesnadi

      Juni 3, 2009 at 11:26 pm

      • INA-DRG (versi Departemen Kesehatan RI) adalah sistem pembiayaan berdasarkan pendekatan sistem casemix. yaitu pembiayaan berdasarkan pengelompokan jenis diagnosis kasus yang homogen (bukan aplikasi). bentuk fisiknya berupa daftar tarif. yang diperlukan untuk mengintegrasikan dengan aplikasi SIMRS yaitu kertas kerjanya…(dapat diperoleh pada manajemen RS atau Depkes),tapi kalau mau gampangnya..tambahkan saja jenis pelayanan, kode, tarif sesuai daftar INA=DRG, selesai..dan tidak error…cuma saja 1-2 tahun kemudian apabila RS sendiri ingin mengembangkan pola tarifnya..mulailah timbul pernmasalahannya…karena databasenya tdk terrinci lagi..

        dr@inticom

        Juni 6, 2009 at 1:03 pm

      • Salam kenal mas Richard Roesnadi,

        Saya sendiri bersama tim sedang mengembangkan SIMRS di RSUD Gunung Jati Cirebon, dalam bentuk KSO selama 5 tahun. Mungkin suatu hari bs sharing mengenai implementasi di Cirebon ? karena pangsa pasarnya masih sangat luas.

        Salam,

        I Made Arimbawa

        http://www.madecerik.net

        madecerik

        Maret 15, 2012 at 2:18 pm

  36. untuk SIM RS yang sudah integrasi dengan INADRG saya kira belum ada. Karena pemerintah mempunyai software sendiri yang kurang kompatible untuk diintegrasikan dengan SIM RS yang sudah ada. Sedikit agak menyalahkan pemerintah sih… kenapa nggak ngembangin software INADRG Grouper yang lebih fresh dan berbasis web, tidak banyak alasan sebenarnya kalo INADRG terbitan pemerintah dibuat berbasis desktop.
    Salah satu contoh mungkin di RS PKU yang sedang kami kembangkan SIMnya. cukup rumit kalau kita mengintegrasikan INADRG software dengan SIM kita secara penuh, tapi hanya terbatas pada penyamaan kode diagnosis saja. thanks.

    syaiful fatah, dr.

    April 4, 2009 at 5:31 pm

  37. EDWARD HALIMI Says:
    Juni 13, 2008 pukul 2:27 am

    Rumah Sakit Kanker Dharmais sudah beberapa kali gagal membangun SIM-RS, sekarang ini sedang mencari calon-calon Vendor yang haldal. Jika anda berminat silahkan ajukan Proposal ke Direksi RS Kanker Dharmais Jakarta, siapa tau anda beruntung…..
    ————————————————————————-
    Sekarang kami sudah menyewa sebuah sistem SIMRS dan berjalan cukup baik . Dan sekarang sudah berjalan cukup baik, semoga rumah sakit yang lain bisa belajar dari kegagalan di masa lalu untuk berhati – hati dalam memilih vendor SIMRS.

    rs dharmais

    April 19, 2009 at 9:27 am

    • Sebenarnya anda tdk perlu gagal..dalam membangun SIMRS , mungkin yang anda bangun selama ini hanya pencatatan, pengolahan data dan pelaporan , padahal yang dimaksud dengan system itu terdiri dari SW,HW,BW dan semua infra struktur dan tidak hanya terintegrasi. Jadi Untuk suatu rumah sakit yang akan mulai berbenah diri, terlebih dahulu membuat Sistem Rumah Sakit (Corporate Governance) yang terdiri dari sistem manajemen rumah sakit, sistem profesi medis (Komite Medik dan SMF – Clinical Governance), sistem keperawatan, dengan berbagai subsistem untuk pelayanan, pendidikan/pelatihan serta penelitian rumah sakit dengan berbagai peraturan di tingkat rumah sakit (Hospital Bylaws) dan tingkat profesi medis (Medical Staff Bylaws), jadi tdk mempersalahkan vendor..yang salah anda telah memilih seorang analist yang mungkin kurang bisa menterjemahkan kebutuhan RS dengan Aplikasi/SW

      dr@inticom

      Juni 6, 2009 at 11:26 am

  38. ah basi…

    mending berobat sama saya aja, murah, manjur..gak pake malapraktik..

    Ponari

    April 19, 2009 at 1:39 pm

  39. Saya amat setuju dengan komentar yang mengatakan bahwa untuk mengaolikasikan SIM-RS harus disesuaikan dengan SOP Rumah Sakit nya. Seperti misalnya di RS kami di Nanggroe Aceh Darussalam, banyak vendor yang berduyun2 nyerbu ke daerah kami, tapi sayangnya sistem yang mereka tawarkan terlampau jauh dibandingkan dengan kebutuhan dan kemampuan SDM yang ada. Ini fakta, karena emang SDM yang kemudian akan menduduki perangkat operator belum mampu secara teknis, dan untuk mem-built up masalah ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Akhirnya penawaran2 dari vendor SIM-RS kepada RS menjadi Bullshit aja. Kecuali Vendor benar2 mengetahui strategi khusus untuk masuk ke segmen2 pasar seperti di tempat kami yang jauh ketinggalan secara edukasinya.
    Kemudian jika kita kembalikan kepada permasalahan kebutuhan SIM-RS yang berwawasan SOP, maka kami amat respon dengan hal ini. Karena kami menerapkan Sistem Informasi Management Rumah Sakit secara bertahap, tidak sekaligus. Jadi dari Billing system dahulu, kemudian meningkat lagi—meningkat lagi—lagi—-dan akhirnya diharapkan Siatem Informasi yang digunakan Full Spect. Dan ini merupakan strategi mendasar untuk menanggulangi tingkat edukasi SDM yang belum rata2 standard tadi.

    Muhammad Thantowi

    April 30, 2009 at 7:03 am

    • lagi2 masalah SDM, SOP.., adakah aplikasi SIRS yang dibuat seperti excel..word dari microsoft..orang awam saja bisa mengopersikannya..

      intinet

      Juni 27, 2009 at 3:14 pm

      • hahahaha jangan bercanda mas,.. Aplikasi RS dengan kemudahan seperti excel, word???
        Aplikasi sekelas SIMRS gak mungkinlah dibandingkan dengan excel atau word
        Bandingkanlah dengan Microsoft Dynamic, dan liat apakah masih bisa dioperasikan orang awan

        parno

        Desember 3, 2009 at 5:12 am

  40. kalo menurut saya mending mengembangkan sendiri. bikin yg custom made. kan produk jadi dari vendor belum tentu sesuai sama kebutuhan maupun workflow-nya RS.
    kalo beli dari vendor kan kita banyak pertimbangan2, misalkan : beli seluruh paket (seluruh modul), beli hanya modul2 tertentu, belum lagi di-customize dll.
    kalo mengembangkan sendiri kan bisa sesuai kebutuhan, paling tidak mendekati SOP RS lah. memang repot, kita harus melakukan manajemen proyek SI. akan tetapi lihat benefit nantinya. dalam waktu dekat kita tidak bisa mengharapkan sesuatu yg feasible dengan implementasi SIRS. tentu saja, karena dasar / tujuan dibuatnya suatu software sistem informasi bukanlah untuk mengefisienkan, tetapi mengefektifitaskan. kalo sudah efektif, efisien pasti datang sendiri kan…

    anaksoktau

    Mei 1, 2009 at 9:14 am

  41. bicara yang terbaik, tidak ada yang terbaik. dari sisi vendor, aplikasi tersebut harus sangat fleksibel mengikuti arus RS baik data master,data transaksi maupun data laporan. dari sisi customer, harus menyediakan baik data dan sumber daya juga mendukung implementasi simrs tersebut. saya banyak mengalami masalah di lapangan terutama terhadap user yang mempunyai kepentingan dan alasan sendiri, namun masalah-masalah tersebut dapat terselesaikan kalau kita tahu jalan keluar terbaik nya. bicara SOP, belum tentu semua user mau mengikuti SOP tersebut, ini biasa berlaku pada rs.pemerintah, namun jarang pada rs.swasta. ini kembali dengan kebijakan atasan juga bagaimana cara vendor mengatasi masalah tersebut. semoga vendor-vendor lokal dapat terus maju, walaupun saya dari vendor campuran lokal dan interlokal.

    Stanley

    Mei 4, 2009 at 5:17 am

  42. jadi yang sebenarnya posisi SIMRS ini berada dibagian apa kalau dilihat secara struktural tolong infonya….

    Alqiraf@RSUM

    Mei 13, 2009 at 2:47 am

    • Instalasi SIMRS secara struktural biasanya tergantung rumah sakitnya sendiri ataupun tipe rumah sakitnya. Ada beberapa RS menempatkannya di bawah Kabag. Perencanaan, ada juga yang menempatkan di bawah rekam medis, ataupun di bawah keuangan.

      Tapi pada intinya, Instalasi SIMRS haruslah mandiri dan revenue/profit center, bukan lagi cost center. Mungkin ada baiknya di taruh di bawah Wadir Umum & Keuangan kali ya ?

      Salam

      I Made Arimbawa

      http://www.madecerik.net

      madecerik

      Maret 15, 2012 at 2:12 pm

  43. secara umum posisi struktural berada di bawah lingkup Department EDP/TIK/SIM.

    Stanley

    Mei 13, 2009 at 3:07 am

  44. Di Indonesia uda ada belum ya RS yang pake SAP? dimana yaa?

    kaka

    Mei 18, 2009 at 4:59 am

  45. Sistem Informasi Rumah Sakit yang dimiliki oleh semua rumah sakit khususnya di indonesia semuanya baik dan kalau ditanya kepada vendornya atau kepada RSnya semua mengatakan SIRS saya terbaik.., tetapi ada satu-dua Kendala yang hampir semua RS mengalaminya yaitu: 1, Belum ada sistem atau aplikasi program yang mampu mengambil datamaster(database RS) untuk menghitung pola tarif(ABC,PPE,DRG)…2. RS yang bekerja sama dengan pihak asuransi (misalnya Askes) atau yang melayani masyarakat miskin(Prog.Jamkesmas) terkendala dalam masalah pembuatan/entri data ulang sesuai versi penjamin. RS Terbesar di Indonesia Timur tdk lagi mempermasalahkan Butir 2, dan sekarang saya sementara mempersiapkan aplikasi untuk butir 1.

    dr@inticom

    Mei 19, 2009 at 9:27 am

    • 1, Belum ada sistem atau aplikasi program yang mampu mengambil datamaster(database RS) untuk menghitung pola tarif(ABC,PPE,DRG)…
      2. RS yang bekerja sama dengan pihak asuransi

      Problem 1-2 Sebenarnya itu sangat mudah kog mas.. saya buat software RS th 2007, dan hal itu sangat bisa .. sudah dipraktekan 2 tahun, coba saja lihat saja screen shoot :

      http://www.4shared.com/file/109304265/7a44931e/PROPOSAL_SIMRS.html

      Salam,
      Richard Roesnadi
      08.99999.4688

      richard roesnadi

      Juni 2, 2009 at 6:59 pm

      • Trims Mas Richard..saya sudah melihat Proposal SIMRS anda.., tetapi pengalaman saya untuk pembuatan tarif RS salah-satunya harus/mutlak berdasarkan clinical pathways , boleh2 saja tarif sudah jadi (versi vendor) tetapi efisiensi biaya atau mutu pelayanan belum terjamin (versi Pasien dan Manajemen RS/Pemilik)..sedangkan ini adalah citra RS. mengenaiRS yang bekerjasama dengan pihak asusransi mungkin tdk bermasalah kalau pihak asuransi tdk mempunyai aplikasi/SW, tetapi bekerja sama dengan PT Askes..(mempunyai Aplikasi sendiri) sangat repot..contohnya melakukan mapping jenis pelayanan dari FFS(RS) ke Paket , paket(RS) ke Paket(Askes), belum lagi mapping lainnya mis:Unit Pelayanan Fungsional, tarif, selisih bayar, maupun kurang bayar dll. sebagai bukti nyata dari 8 ratusan RSPemerinta + RS Swasta dan ribuan apotik yang bekerja sama dengan askes.. belum satupun terjembatani kecuali satu di RS terbesar di Indonesia Timur, sedangkan di RS Bali..masih taraf ujicoba RJTL..dan mungkin terancam gagal.., boleh saja aplikasi sudah jalan (tdk error), tetapi bagaimana dengan pihak mitra/RS apa permasalahannya sudah terselesaikan…. sekali lagi terimakasih atas proposalnya..dan terbagus dari semua proposal yang kami pernah lihat.

        dr@inticom

        Juni 6, 2009 at 12:22 pm

  46. Bagaimana kalau modul-modulnya di compare dengan
    Aplikasi Software Rumah Sakit dalam proposal ini?

    http://www.4shared.com/file/109304265/7a44931e/PROPOSAL_SIMRS.html

    (lengkap dengan screenshoot + Petunjuk)

    1.Modul Medical Record
    2.Modul Poliklinik (Rawat Jalan)
    3.Modul IGD (Instalasi Gawat Darurat)
    4.Modul Rawat Inap
    5.Modul Laboratorium
    6.Modul Radiologi
    7.Modul Honor dokter, Jasa Medis
    8.Modul Kasir/Billing
    9.Modul Piutang Asuransi & Corporate
    10.Modul Apotik
    11.Modul Hutang Dagang
    12 Modul Absensi & Kartu Personalia
    13.Modul Inventory Obat
    14 Modul Medical Check Up.
    15.Lain-lain

    Lengkap dengan screen Shoot dan petunjuk pemakaian software
    Silahkan download: http://www.4shared.com/file/109304265/7a44931e/PROPOSAL_SIMRS.html

    Salam
    Richard Roesnadi
    08999994688
    02193369176

    richard roesnadi

    Juni 2, 2009 at 6:55 pm

  47. saya pemilik rumah sakit , kebetulan memakai produk sim-rs HMS amandasoft, saya sudah memakainya sejak tahun 2005 dan tarifnya bisa flexsible mengikuti pola asuransi, terus support askes klaim dan jamkesmas, jurnalnyapun otomatis sehingga laporan2 keuangannnya sudah otomatis digenerate oleh sistem.

    benar-benar sangat membantu saya dalam mengontrol manajemen rs.

    dr hany

    Juni 4, 2009 at 9:10 am

  48. Selama 5 Tahun menggunakan Medtrak (http://mtechsoft.com/medtrak.shtml) dari sisi front office, pharmacy, MR, ER, Pathology dan Radiology… sangat baik dan lengkap…
    namun untuk back office (finance & accounting), harus ada penyesuaian…

    Aldy

    Juni 22, 2009 at 4:42 am

    • Mas Aldi, boleh saya bertanya soal MedTrak? Saya bukan pengguna medtrak tapi sama mau tahu, apakah list detail program/benefit perusahaan2 asuransi disimpan menjadi master data di MedTrak, atau itu terpisah karena hubungannya lebih ke Back Office?
      Saya ingin tahu, saat seorang pasien menggunakan kartu asuransi nya, dan ternyata ada selisih bayar (misal di tanggung oleh insurance 80%), apakah user bagian cashier hanya memasukan kekurangan biaya yg harus di bayar di medtrak atau memasukan berapa yg ditanggung asuransi & berapa yg harus di bayar?
      Mohon info nya mas Aldi.
      Terima kasih. -Lia-

      lia

      Agustus 31, 2009 at 7:12 am

  49. Kenapa saya pakai amandasoft…banyak yang tidak terpenuhi ya. malah 75 % memakai tool bantuan(bukan Punya Amandasoft)….so Aplikasinya sisanya kemana? atau belum cocok aja kalee ya… :(

    Deden

    Agustus 3, 2009 at 8:49 am

    • Menanggapi pertanyaan saudara deden, tentang software “amandasoft” di blog ini, sangat mudah sekali untuk dapat di jawab dan tidak memerlukan pemikiran yang serius, kenapa tidak?

      Karena kebetulan saja sistem yg dipergunakan oleh phk pa deden itu, tidak support man powernya plus tenaga maintenance yg dipercaya dan di tambah lagi dengan ketidak pastian kebijakan yang dikeluarkan oleh management (di luar non teknis yang selalu berkembang dari waktu2), sehingga membuat system yang kami bangun bener2 tdk “berdaya guna” dan tidak link and match antara kebijakan management dengan system procedure yang telah disepakati sebelumnya.

      Artinya, setelah itu terjadi, sudah bisa ditebak bukan?….. seperti biasalah, system yang selalu jadi kambing hitam dari sebuah kegagalan atas intervensi dari keputusan yang tak pasti.

      Dengan kata lain, jika di replacepun dengan system aplikasi manapun, akan tetap sama, jika antar kebijakan manahement dan system yg dimplementasikan tidak link n match.

      Hormat kami,
      M. Yaasiin Fadhilah (Arie)
      HR & GA Menara Sukses Mandiri

      M. Yaasiin Fadhilah (Arie)

      Agustus 5, 2009 at 8:44 am

      • Makanya ada survey sebelum implementasi Pak. Jangan hanya pake proposal ideal doang dong. Sudah dibayar baru bilang sistemnya tidak bisa diterapkan. Mustinya sebelum dibayar bilang dulu…. :-)

        Johny

        Januari 21, 2010 at 3:39 am

  50. Berbagi info aja klo gitu, SIMRS 20-30 Juta, Lengkap, siap pakai dan dapat di modifikasi.

    info lengkap di http://tjokiest.wordpress.com/category/informasi/sim-rs/

    Stanley

    Agustus 3, 2009 at 9:14 am

  51. faktor kegagalan simrs bukan murni faktor vendor (PEMBUAT) ada banyak hal :
    1. biasanya waktu implementasi tidak dimanfaatkan oleh pihak rs dengan baik untuk menyimak dan mempelajari bagaimana simrs disetup, di custom dan diimplementasikan, karena simrs itu ibarat mobil, mau merknya apa kalau drivernya jago pasti dapat berjalan di jalan raya dan tidak keluar dari jalur.

    2. biasanya simrs tidak jalan karena waktu implementasi yang singkat dan pihak rs menganggap itu semua sudah selesai dan akan berjalan dengan sendirinya.
    3. biasanya pihak rumah sakit tidak mau mengeluarkan biaya maintenance setelah habis masa garansi, ini berakibat tidak disupportnya simrs oleh vendor pembuat.

    4. modul yang dibeli sepotong-sepotong jadinya tidak integrated dan susah dalam pengembangan.

    5. faktor vendor belum berpengalaman di simrs,

    sekian mudah-mudahan bisa membantu.

    terima kasih

    dr budi wibisono MARS

    budi

    Agustus 4, 2009 at 2:55 pm

    • betul pak budi.. saya setuju dengan anda, nambahin mungkin site visit perlu dilakukan oleh rumah sakit terhadap simrs yang di tawarkan vendor, dengan catatan minimal simrs tersebut dauh dipakai 2 tahun..

      tewewe

      Oktober 14, 2009 at 6:02 am

  52. Atau bisa juga di http://elitser.com untuk lebih jelasnya dalam SIMRS yang telah di pakai dalam dan luar negeri. 20-30 Juta untuk SIMRS yang lengkap.

    stanley

    Agustus 5, 2009 at 1:48 am

  53. Menurut saya sih Software Amandasoft tidak menggunakan tools bantuan, kalaupun menggunakan tool bantuan mungkin hanya sedikit kalau sy presentasi kan hanya kurang dari 5%.
    Aplikasi yang disajikan juga lengkap. Rumah Sakit, Klinik, dan Apotik yang menggunakan software Amandasoft tidak ada yang bermasalah terkecuali dikota L…..
    Sebagus apapun sebuah software, kalau tidak didukung oleh usernya maka software itu hanya sebuah aksesoris saja pada komputer, apalagi kalau pihak pembeli tidak mau peduli dengan software yang dibelinya.

    Jacko

    Agustus 5, 2009 at 3:54 am

    • haha kayanya perlu croshek ulang deh.. coba lihat di rs amanda apakah berjalan dengan baik? tanya langsung ke user atau ka unit masing-masing jangan ke bagian it nya.. karena bagian it nya ya amanda soft

      tewewe

      Oktober 14, 2009 at 5:59 am

  54. wah rame juga ya pembahasannya, ternyata baru keliatan banyak pengembang sistem informasi rumah sakit dan udah pada ngalamin juga failures over success vice versa. dari pengalaman saya sistem informasi untuk rumah sakit kecil sekali kemungkinan untuk bisa menggunakan produk jadi, sehingga yang terbaik adalah tailor made atau menggunakan base produk yang kemudian disesuaikan. namun seringkali yang menjadi kendala dalam pengembangan adalah lemahnya sisi manajemen proyek, karena siapa saja tentu bisa melakukan analisa, perancangan dan pembuatan program, namun banyak sekali yang kurang menitik beratkan pada bagian penting dalam proses pengembangan yaitu perencanaan kerja sebagai bagian dari manajemen proyek yg mengatur siapa mengerjakan apa dan kapan dilakukannya sekaligus bagaimana mengendalikannya, banyak vendor yang merasa softwarenya sudah digunakan di banyak rumah sakit kemudian menganggap enteng implementasi di rumah sakit berikutnya, apalagi yang jadi pemenang karena tendernya sudah diatur. no offense… hanya pendapat sederhana dari seorang praktisi IT yang sejak th 1999 suka mondar mandir di bbrp rumah sakit, salah satunya di RS Jantung Harapan Kita.

    zulmach

    September 28, 2009 at 5:24 pm

  55. Bagi Siapapun Yang Mau Mengembangkan Source Code SIMRS, Mampir Nih Ke Blog Saya…….
    Silahkan Download Source Code Sepuasnya.

    Best Regard

    vbopensource

    vbopensource

    Oktober 12, 2009 at 5:08 pm

  56. Betul product kami mahal tapi sekarang di indonesia sudah di pake di rumah sakit Pondok Indah Group, Sinar Mas Group dan ada beberapa rumah sakit international yang tertarik dengan product kami.

    Maman Abdurahman / Business Development
    PT. novaTARA Indonesia
    HP 0811847713

    http://www.nova-hub.com/novahealth/products_his.htm

    Maman

    Oktober 13, 2009 at 4:04 am

    • rs pondok indah bukannya tiap tahun ganti system tuh…. he he he yg tahun ke brp yah

      tewewe

      Oktober 14, 2009 at 5:57 am

      • Kita dapet kontrak tahun 2002, dan selesai 2004 harusnya sih 9 bulan beres karena sesuatu hal di internal RS Pondok Indah jadi mundur. dari 2004 sampai sekarang masih ada tambahan tambahan modul yang di butuhkan.

        Maman

        Oktober 15, 2009 at 3:08 am

  57. To haryanto & dr lastri…

    bapak ini aplikasi sirs nya yang di rs amanda bekasi yah… kok wkt saya minta history medis di bagian rekam medik tidak bias mengluarkan dari aplikasi katanya belum ada rekam medisnya… kayanya kebalik deh sama yang bapak dan ibu bicarakan…

    tewewe

    Oktober 14, 2009 at 5:23 am

  58. To haryanto & dr lastri…

    Amandasoft itu yang di pakai di RS Amanda yah..
    apa sih bagusnys Amanda soft

    tewewe

    Oktober 14, 2009 at 5:24 am

    • Mas atau mba tewewe,

      Mengenai apa bagusnya dan enak atau tidaknya, yang tau persis bukannya pihak penjual tentunya (Bpk Haryanto), idealnya anda bertanyalah langsung saja kepada pihak-pihak yang membeli dan mengggunakan SIMRS Amandasoft/Abiyosoft tersebutkan?

      M. Yaasiin Fadhilah

      Agustus 10, 2010 at 10:53 pm

  59. Numpang tanya nih, mumpung banyak pembuat aplikasi RS yang lagi kumpul…
    Harga yang cukup logis untuk pembuatan aplikasi Rumah Sakit (mencakup modul untuk Biaya Rawat Jalan & Inap, Rekam Medik, Farmasi dan Logistik) standard itu berapa ?….

    dengan asumsi Rumah Sakit tersebut <100 tempat tidur.

    Trim's….

    Septiaji

    Oktober 24, 2009 at 12:08 pm

  60. sebuah produk pasti ada bugnya, software sebagus apapun pasti ada kelemahannya, ya tidak pantas kalau menghujat sebuah karya anak bangsa yang sudah dipakai di rumah sakit, jelas mereka memakai produk karena tertarik sama produk tersebut dong,

    kami ucapkan selamat kepada anak bangsa yang sudah berhasil membuat simrs, bravoo buat kalian, semoga menambah lapangan kerja.

    tks

    yunta

    November 2, 2009 at 3:39 am

  61. saya kerja sebagai IT d salah satu RS d Jakarta, kami sudah menggunakan salah satu produk SIMRS Produk lokal, yaitu Teramedik, selain dapat digunakan d hampir semua department dan juga mudah pengembangan, dan yang terpenting tidak butuh lisensi

    Brawijaya Women and Children Hospital

    Antio

    November 7, 2009 at 12:45 pm

  62. Saya ingin klarifikasi kalau SIMRS AMANDASOFT/ABIYOSOFT bagus kok, nyatanya jalan di rumah sakit kami sampai accountingnya, bahkan MEDICAL RECORDNYA dah bisa buat laporan ke depkes RL1-RL6

    RS FM

    November 12, 2009 at 8:20 am

  63. waduhhh belum nyandak ki uteke hehehehee

    slams

    November 30, 2009 at 3:05 am

  64. wele..wele, disini kumpul pakar IT SIMRS, siapa yang bisa tolong buatkan aplikasi SIMRS dengan pelayanan obat Rawat Inap menggunakan Sistem OUDD atau ODDD, imbalan sangat memuaskan

    Alfons

    Januari 3, 2010 at 7:02 pm

  65. Sebenarnya SIMRS yang baik ya bisa memenuhi seluruh kebutuhan RS dari front off sampe back off , juga dapat bekerja efektif dan effisien . terkadang pengalaman saya pernah kerja di salah 1 rs di jkt , memang SOP nya juga beda beda , misal harga obat merek A untuk rawat Inap harga beda beda sesuai kelas dan untuk rawat jalan beda lagi untuk di jual di apotik beda lagi bahkan sampai ada kategori otc (untuk obat bebas) juga beda . dan harga bukan di patok mati semua menggunakan persentase , dan ada penhitungan base price , terkadang untuk pasien mutasi pasien dari kamar A ke B harga seluruh tarif bisa ganti ganti , pokoknya kadang nemuin SOP yang agak njilimet belum lagi urusan penunjang medis nya .sampe urusan medical checkup . agak susah menilai produk SIM RS si A sudah cukup , bisa saja cukup kalau karena mungkin RS itu masih baru. memang SIM RS disini agak agak njlimet … jadi mendingan cari vendor yang bisa support terus.

    SeXy

    Januari 31, 2010 at 12:08 pm

  66. Sistem Informasi rumah sakit menurut saya tidak kalah kompleks dengan ERP business yang lain, karena disitu ada multi disiplin industri, dari service, hospitality, produksi, maintenance, sampai yang khas medis, bahkan tidak menutup kemungkinan sampai mengintegrasikan dengan gadget dan perangkat medical yang lain seperti Lab, DICOM, Graphical Medical Record, wireless portable data collection dll.

    Masalah kompleksitas ini ditambah dengan kompleksitas policy / SOP dari masing-masing rumah sakit yang berbeda2 akan menambah faktor sukses atau tidak implementasinya.

    Faktor management juga sangat menentukan, dimana para tenaga medis/paramedis itu berlaku sebagai karyawan atau partner, atau bahkan pemilik modal rumah sakit juga menjadi satu faktor yang menjadi penentu, yang harus diperlakukan secara berbeda.

    Faktor ‘business-deal’ dengan dokter2 yang punya ‘bintang’ juga menjadi faktor yang kritis, dimana masing2 subjek bisa jadi akan punya rumus perjanjian masing2 yang sangat customized sehingga menimbulkan keruwetan pada pendefinisian fee dokternya, sehingga tidak jarang beberapa deal tidak bisa di computerized dengan mudah karena terlalu custom.

    Belum lagi kalau dokter2 ini memiliki team medis sendiri, bahkan tidak jarang ada yang memiliki daftar rekam medis pasien yang di simpan secara terpisah dan tidak di share ke bagian rekam medis rumah sakit karena pertimbangan tertentu.

    Diluar itu, faktor resources tenaga clerical yang biasanya juga ‘tidak siap’ untuk menjadi bagian dari implementasi ini, dan seringkali training implementasi juga hanya berfokus pada ‘what to’ bukan pada ‘how to’ sehingga seringkali terjadi human error pada transaksi harian yang berakibat pada ketidak akuratan informasi keuangan di back office, juga berperan sangat besar dalam kesuksesan implementasinya.

    Faktor penentu lainnya, seringkali top level management rumah sakit juga tidak ‘benar-benar’ aware apa makna dari sistem informasi rumah sakit ini, dimana biasanya sebagian besar top level management rumah sakit berasal dari orang2 medis yang sudah senior, tapi relatif cukup awam terhadap apa yang namanya sistem informasi, yang mayoritas hanya berpandangan bahwa sistem informasi rumah sakit tidak lebih dari sekedar program pengolahan data untuk memproduksi laporan keuangan saja. Bukan sebagai alat strategis yang bisa dijadikan salah satu keunggulan dari rumah sakitnya, karena mereka bisa melakukan analysa dan pengambilan keputusan management/bisnis berdasarkan informasi yang di produksi dari dalamnya. Informasi ini mestinya bisa sampai berupa data warehouse dari market / business analysis, ataupun analisa medis lainnya. Hanya sayangnya, sampai saat ini kelihatannya belum banyak Rumah Sakit yang betul2 ‘melek’ dengan keunggulan ini, padahal industri2 yang lain sudah banyak yang mengaplikasikannya.

    Menurut saya, dari yang sudah2 selama ini belum benar-benar ada sistem informasi rumah sakit yang memang bisa menutup semua kebutuhan sistem informasi management rumah sakit secara penuh, sehingga bisa dijadikan salah satu alat business intelligence dan decission making untuk top level management, yang ada hanyalah sekedar alat untuk mengolah data transaksi harian menjadi laporan keuangan saja.

    Kondisi ini akan lebih parah lagi, karena perkembangan kebutuhan masing2 user membutuhkan customized yang sangat banyak, kalau tidak salah didalam rumah sakit paling tidak ada 30-an departemen, baik medis maupun non-medis yang semua punya kepentingan & ego masing2 dan seringkali berbenturan satu sama lain. Dan akhirnya, oleh para vendor software yang ada dicoba untuk di custom atau di ‘cocok-cocok-an’ dengan kemampuan softwarenya sehingga pada akhirnya yang ada adalah solusi tambal sulam saja.

    Masing-masing solusi memang selalu memiliki sukses story tapi jangan lupa bahwa masing-masing solusi juga memiliki sisi ‘gelap’ yang biasanya tidak akan di share di portofolio profile perusahaannya.

    Sebenarnya, implementasi software rumah sakit ini menurut saya, ada 3 hal yang penting yang harus diperhatikan,

    1. Komitmeent dari Top Level Management / bahkan owner untuk mengimplementasikannya, regardless produk apa saja yang dipilih nantinya, karena pada saat implementasi akan terjadi resistensi, dan ini harus segera diatasi, kalau tidak mau resistensi ini menjadi racun untuk kesuksesan implementasinya.

    2. Business Process Reengineering harus ada, karena paket2 software yang ada pasti punya ketidak sesuaian dengan SOP yang sudah ada, dan ini membutuhkan ‘kebesaran hati’ dari seluruh stakeholder untuk bisa menerima kondisi ini dan mengikuti alur sistem informasi modul yang ada, demi kesuksesan implementasinya, bukan sebaliknya dimana software yang sudah jadi dibongkar untuk disesuaikan dengan kondisi yang ada.

    3. Training dan Sosialisasi ke semua bagian yang mendalam, karena sebagian besar orang di rumah sakit bukanlah tenaga administrasi yang mau mengerjakan kerjaan2 admin, terutama tenaga paramedik yang biasanya memiliki ego profesi yang tinggi, dan ‘sangat berat hati’ mengerjakan kerjaan2 administrasi.

    4. Kesabaran dari semua stakeholder, karena implementasi keseluruh bagian yang jumlahnya puluhan departemen ini membutuhkan waktu, dan tidak akan selesai dalam waktu hanya 6 bulan saja.

    Last but not least, biasanya pemilihan tenaga IT rumah sakit juga seringkali mendapat porsi yang kecil, dimana biasanya budget untuk itu tidak mendapat porsi yang semestinya, mengingat IT bukan concern utama disana. Akibatnya, resource yang ada biasanya tidak cukup ‘mumpuni’ untuk menajalankan task sebagai IT person, dimana dia dianggap sebagai ‘dewa’ yang tahu segala hal tentang Technology. Bahkan dalam beberapa kasus, resource yang ada tidak cukup untuk mengcover kebutuhan support 7x24x365 sebagaimana seharusnya sebuah rumah sakit beroperasi.

    IT deparment juga seringkali diletakkan dibawah departemen keuangan, sehingga orientasinya tidak bebas dan hanya berkutat pada masalah laporan keuangan saja, padahal semestinya jika Sistem Informasi rumah sakit ini ingin dijadikan ‘senjata’ harusnya mereka punya independensi tersendiri yang memiliki garis report ke jajaran direksi rumah sakit.

    Jadi regardles produk apa yang diambil, mestinya konsiderasi paling tinggi adalah pertimbangan cocok atau tidaknya SOP yang berlaku dengan system flow sebuah modul, dan seberapa mampu management berkomit untuk melakukan implementasi dan mendukungnya ‘sampai titik darah penghabisan’ sebelum bisa menikmati hasilnya yang cukup lama, menurut saya paling tidak dibutuhkan waktu 2 tahun untuk bisa melihat hasil integrasi semua modul dan hasilnya. Itupun sebatas sampai informasi saja, belum nanti membicarakan otomatisasi dari peralatan biomedic, data capture, office otomation, digital office, digital imaging, digital messaging dll, yang tentunya akan dibutuhkan waktu lebih lama lagi.

    Mudah2an sedikit sharing disini bisa memberi wacana bagi rekan2 yang berkutat di disiplin ini, untuk membantu kelancaran suksesnya sebuah implementasi Sistem Informasi Rumah Sakit.

    Aridharma

    Februari 1, 2010 at 4:17 am

  67. blogwalking…topik SIMRS yang menarik!!!
    Kerjaan sekarang lagi bantuin temen sekampung bagian keuangan di rumahsakit besar di jakarta, dikarena SIMRS yang ada mentok di persediaan,purchasing dan accounting. SIMRSnya webbase harga USD, bagian gw nih yg nerusin (import) ke backofficenya dan harus ngerti table yg ada dan maping ke software akuntansi gw..
    yaah nasib… :( jadi bagian bersih-bersih lagi dgn harga panyesaan, wakakak. :(

    bahpro

    Maret 25, 2010 at 4:23 pm

  68. bagi pihak rumah sakit,atau bagi yang membutuhkan ginjal.aq siap menjual ginjal aq,dengan sadar n tanpa paksaan.umur24 tahun,golongan darah B .tidak merokok,sehat jasmani n rohani.bagi yg berminat silangan hubungi saya,di no in 087841776749 atau email ismannurhayati@ymail.com

    isman

    Juni 15, 2010 at 5:09 am

  69. Intinya sih semua aplikasi simrs baik yang harganya miliaran rupiah dan jutaan rupiah tidak menjamin aplikasinya paling bagus. sukses di satu rumah sakit blm jadi patokan apakah sukses juga di tempat lain. namun kegagalan implementasi simrs juga harus dilihat dari sisi tengahnya. tak jarang kontribusi kedua belah pihak tidak seimbang.

    kegagalan ataupun faktor lain yang pernah di baca di http://tjokiest.wordpress.com/category/konsultasi/ itu bisa dilihat dari beberapa komunikasi antar bagian termasuk vendor juga.

    tjokie

    Juli 5, 2010 at 4:37 am

  70. berikut beberapa tips dalam memilih vendor simrs yang tepat.
    1.Client Listed
    jika vendor telah memiliki beberapa daftar klien yang telah menggunakan aplikasi simrs, ini bisa menjadi acuan sebelum menentukan untuk memilih vendor simrs.
    2. baca selengkapnya di http://tjokiest.wordpress.com/2010/07/19/tips-memilih-vendor-simrs-yang-tepat/

    tjokiest

    Juli 19, 2010 at 3:52 am

    • Berarti vendor baru yang mau mulai langsung di ‘coret’ ya Pak? :D … nasib. nasib…. :(( Belum tentu yang baru mau mulai lebih jelek daripada yang sudah listed Pak. Salah satu vendor yang saya tahu sudah bnyk pengalaman di SIMRS dan banyak kliennya pernah saja ada yg ‘tutup’ karena masalah kepengurusan internal mereka yang tidak beres. Akhirnya kasian deh RS yang sudah pada pakai sistem mereka jadi tidak terurus…. Jangan khawatir utk kawan2 yang msh mau coba-coba buat SIMRS. Kalian suatu saat juga bisa menjadi vendor yang ‘listed’ jika berbekal kemampuan dan kemauan untuk mendedikasikan diri bagi usaha di bidang software SIMRS.

      Dul

      Juni 8, 2012 at 7:38 pm

      • karena subjectnya simrs terbaik, maka semua tergantung dari master plan manajemen rumah sakit. apakah dikembangkan secara franshise, group atau cabang lainnya. kalau iya, maka jalan terbaik adalah mengembangkan sendiri. saya pernah menjadi IT Manager disalah satu rumah sakit di jakarta. awalnya kami membentuk tim pengembang dengan target 2 tahun. namun berjalan nya pengembangan serta kebutuhan yang dinamis serta change management yang kurang baik maka manajemen memutuskan untuk membeli dari vendor dengan harga yang murah…kami memutuskan rekanan yang telah diseleksi… Dengan perjanjian awal 3 tahun implementasi, namu tidak kunjung selesai permasalahan yang dihadapi dengan model tambal sulam dan gali lobang tutup lobang. salah satu penyebabnya adalah karena vendor tersebut baru pertama kali mengembangkan aplikasi simrs.. di tahun ke empat, kami memutuskan untuk membeli dari vendor yang sudah berpengalaman minimal implementasi di 4 rumah sakit kelas B. dalam hal ini, bukan berarti vendor yang belum client listed tidak boleh mengembangkan simrs, permasalahan start up di simrs adalah mencari pintu pertama yang terbuka / portofolio awal. setelah satu selesai implementasi di rumah sakit ke 2,3,4,dst akan otomatis mengikuti. permasalahan manajemen rumah sakit adalah tidak menghargai hasil karya anak bangsa…. mereka lebih apresiasi yang tinggi kepada vendor luar negeri daripada indonesia. di lain sisi ada beberapa praktisi simrs yang di pakai di vendor simrs atau rumah sakit luar negeri yang di pekerjakan sebagai developer, bisnis analis mulai dari manila, dubai, amerika, afrika, india,singapura dan negara lain. dengan ada nya diskusi simrs ini kiranya dapat menggugah praktisi simrs untuk saling berbagi dan bukan saling menjatuhkan, karena aplikasi semahal dan semurah apapun dinilai dari sisi suport / layanan dukungan yang mumpuni.

        stanley

        Juni 9, 2012 at 6:23 am

  71. SIMRS harus terintregasi semua pihak mulai dari staff paling depan sampai yang paling akhir,,,alias menganut ERP..semua bisa dikendalikan melalui 1 software..semua pihak mulai frontoffice,perawatan—bla-nbla.. sampai akuntan,,,harus memberikan apasaja harus di masukan kedalam fitur2 di SIM RS tersebut…

    Pak Ipin

    Oktober 15, 2010 at 3:06 am

  72. Menarik sekali membaca komentar para pakar pembuat software SIM rumah sakit, para pengguna dan juga pemerhati. Ada yang bilang berhasil, ada yang bilang gagal, ada pula yang bilang bisa jalan tapi hanya sekian %.

    Sebuah sistem yang kompleks dan penuh dengan fitur dapat pula menjadi batu sandungan bagi instansi yang tidak siap secara manajemen dan SDM. Pengembang software yang hanya mengerti teknologi tanpa pernah memikirkan proses implementasi di lapangan juga akan kesulitan dalam membangun sistem yang ideal untuk sebuah RS. Menurut pendapat saya, software manajemen rumah sakit memang lebih cocok jika dirancang dengan sistem ‘taylor made’ dibarengi dengan bantuan implementasi sistem di awal penggunaan serta kontrak maintenance selama rumah sakit masih menggunakan produk software tersebut. Otomatis harga penawaran sistem di awal harus mencakup 3 hal tersebut (meskipun dengan resiko terlihat mahal). Jika sebuah aplikasi rumah sakit dibangun dari awal secara khusus oleh vendor software, maka biayanya pastilah cukup mahal, daripada menggunakan produk ‘setengah jadi’ yang tinggal disesuaikan disana-sini. Namun, bilamana vendor yang dipilih tepat dan dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan RS secara spesifik, maka saya pikir sangat layak untuk dipertimbangkan meskipun dengan harga yang mahal (namun tentunya jangan sampai overbudget).

    Perusahaan kami memang bergerak di bidang software dengan fokus utama pada sistem keuangan/accounting. Di masa mendatang, jika ada permintaan kamipun siap melayani pembuatan software manajemen untuk RS.
    Saat ini, kami memiliki produk software untuk apotek yang sudah menerapkan integrasi sistem akuntansi keuangan. Selain itu, kami memiliki lini produk software untuk distribusi (dagang) yang telah banyak digunakan oleh supplier alat medis. Kami juga memiliki software akuntansi untuk hotel dengan sistem akuntansi yang terintegrasi, tidak hanya berhenti pada billing system. Kamipun pernah memiliki pengalaman membuat software sistem akuntansi keuangan secara taylor made untuk kebutuhan pabrik industri/manufaktur hingga sistem payroll untuk tenaga kerja. Jika Bapak/Ibu ingin melihat-lihat aktifitas kami, cobalah kunjungi website kami:

    http://www.titansystems.biz

    Terima kasih atas kesempatan untuk berkomentar disini.
    Salam sukses untuk semuanya!

    Deny Ernanda

    Deny

    Februari 28, 2011 at 6:25 pm

    • Saya sudah berkunjung ke website anda. Kawan saya di bali ternyata salah satu pengguna software akuntansi Titan, eazyhotel ya? Kalau yg titan pharmacy itu bisakah dipakai scr sederhana untuk rumah bersalin, ada polikliniknya juga. Saya hny perlu data stok obat saja, lalu medication record pasien dan syukur kalau bisa mencatat tagihan pengobatan rawat jalan dari IRD dan poli.

      email: robertrisno@gmail.com

      robert

      Juni 8, 2012 at 8:10 pm

  73. OOT. Terimakasih pak Anjar Priandoyo atas situs/blognya. Permisi sebelumnya saya mohon maaf jika isi tulisan saya menyimpang dari topik ini. Saya ingin menitipkan sedikit informasi tentang saya dengan harapan ada vendor / rumah sakit yang tertarik dan mau merekrut saya.
    Umur saya sekarang 43 tahun dan menggeluti bahasa pemrograman komputer sejak tahun 1992 s/d sekarang.
    Pengalaman kerja sebagai IT Programmer:
    1992-1995 Mega Super Grosir (Hero Group Of Companies)
    1995 membuat aplikasi untuk PT. Tugu Gemilang Mas dan PT. Warga Maju Sejahtera (salah satu Supplier Hero Group)
    1995-1997 bekerja di PT. Gita Variasi Rendatama – Cikupa (lace, yarn manufacturing)
    1997-1998 membuat aplikasi untuk Bengkel Billiard
    1998-2008 bekerja di RS Mitra Keluarga Bekasi (Barat & Timur)
    2008-2009 bekerja di Klinik Mahendra Indonesia (Mata & THT).
    2009-sekarang bekerja di Rabobank Internasional Indonesia
    Selain itu juga membuat aplikasi laboratorium untuk RS St. Carolus dan Laboratorium Multilab (depan RS Persahabatan) 1998-sekarang masih dipergunakan.

    Demikian sedikit informasi tentang saya. Untuk pak Anjar sekali lagi saya mohon maaf atas kesempatan dan tempat yang diberikan kepada saya.
    Terimakasih.

    Muhammad Syafri Djamal

    April 22, 2011 at 7:37 pm

  74. Informasi di Blog Anda sangat membantu saya untuk menyelesaikan paper akademik saya di http://widiaribowo.blogstudent.mb.ipb.ac.id/
    Terimakasih.

    Widi Aribowo

    Juli 22, 2011 at 8:57 am

  75. Best IBM in Healthcare Solution
    http://www.napierhealthcare.com
    Thank you

    Flyaway

    Agustus 19, 2011 at 2:05 am

  76. Profesi saya adalah System Auditor. Dari semua aplikasi yang dibicarakan disini semua sudah saya temukan FAIL dilapangan. Mungkin awalnya jalan, tetapi Business Process rumah sakit sangat dinamis; sehingga pada suatu titik aplikasi tersebut sudah tidak bisa mengakomodasi kebutuhan rumah sakit.

    Kunci keberhasilan implementasi SIMRS tidak hanya pada vendor atau SDM rumah sakit, tetapi juga pada kemampuan SIMRS untuk dikembangkan mengikuti perkembangan Business Process rumah sakit.

    Saran saya jika ingin implementasi SIMRS:
    Pertama: carilah tehnologi yang mumpuni atau tehnologi yang biasa dipakai di enterprise level, karena saat bisnis bertumbuh, data makin besar; banyak tehnologi yang tidak kuat lagi menghandle. Yang kuat dan tahan lama hanya JAVA dan ORACLE.

    Kedua: carilah vendor yang mapan dan siap support long term, karena Rumah sakit pasti akan butuh kustomisasi lajutan menyesuaikan dinamika business process nya.

    Ketiga: Libatkan personil ahli di setiap bagian di rumah sakit agar dapat mendiskripsikan kebutuhan mereka. Ingat komputerisasi hanya merubah cara kerja dari manual ke otomatisasi bukan mengganti cara kerja.

    Keempat: JANGAN pernah menerima vendor yang minta bayaran di depan, misalnya minta DP dulu terus baru implementasi. Carilah vendor yang menawarkan TURN KEY Solution. Vendor yang baik pasti akan bilang “Pakai dulu baru bayar, dan kalau gagal tidak usah bayar” Saya kenal yang seperti ini yaitu BPI Solution (http://bpi.co.id)

    Kelima: Study ke RS lain dan bertanya dengan detil, jangan sampai anda menjadi korban vendor yang bayak koar2 di blog saja; tetapi tidak ada proven track record

    Priyo

    Januari 14, 2012 at 4:38 pm

    • Saya nambah pak Priyo… Keenam: Carilah vendor yang menawarkan KSO, karena jika memakai sistem ini vendor akan selalu mendampingi. Siapa vendornya? search aja di Google dengan keyword ” KSO SIMRS” pasti akan bermunculan mereka.. heehheee!

      Budiman

      Januari 15, 2012 at 3:12 am

  77. Duh….SIM RS….

    Wahyu

    Februari 1, 2012 at 4:38 pm

  78. Saya telah melakukan membantu RS kecil2 untuk SIM RS dgn modul2 Rekam Medik. Registrasi RS & Billing RS, Accounting , Jasa Dokter. Tarifnya saya hanya maintenancenya saja tiap bulan.
    Tetapi saya masih kecil2an dan hanya pakai VFP dengan database dbf dengan free tabel saja.
    Yang saya alami sih lancar2 saja. yang saya sering update dan rubah adalah kebijakan Jasa Dokter, baik untuk Prosentase, Pembagian Hasil, Pajak yang harus disesuaikan dengan Peraturan PPh 21/26 dan disesuaikan dengan software dari DJP.
    Untuk Laporan Rekam Medik kebutuhannya beda dengan Billing Pasien dan Laporannya.
    Termasuk pada Lap. Rekam Medik BOR, LOI, LOS, TOI, RL, Morbiditas dll.
    OK siapa RS yang hanya ingin sederhana dengan dana yang sederhana … saya siap bantu.

    Johan

    Maret 12, 2012 at 11:44 pm

    • wah boleh juga pa, bisa minta proposalnya sama kl ada sedikit screenshootnya ke email saya antio_7@yahoo.com terima kasih

      vionaantioantio

      Maret 13, 2012 at 1:59 am

  79. Mengenai Implementasi SIMRS di Indonesia memang enggak ada hentinya di bahas, karena saat ini belum ada format yang jelas mengenai standarisasi SIMRS (Informatika Kesehatan) itu sendiri dari Kemenkes, termasuk Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) ataupun SIKNAS.

    Rekan-rekan, izinkan saya sharing mengenai Informatika Kesehatan di http://www.madecerik.net. Mudah-mudahan banyak saran dan masukan mengenai SIMRS, SIKDA, SIMKES, SIKNAS maupun bentuk informatika kesehtan lainnya

    Salam

    I Made Arimbawa

    http://www.madecerik.net

    madecerik@yahoo.com

    madecerik

    Maret 15, 2012 at 1:59 pm

  80. Silahkan untuk rekan-2 kalau mau mampir lihat software aplikasi bisnis/sim-rs/hotel murah tapi berkualitas

    Software Aplikasi Bisnis Murah Berkualitas

    Agung Hendranto

    April 10, 2012 at 9:12 pm

  81. Saya setuju dengan Pak Made. Kebanyakan rumah sakit hanya OK di front office. Padahal back office nya jauh lebih penting. Saya rasa perlu sistem enterprise menyeluruh, bukan sekedar sistem tambal sulam. Customisasi juga tidak mudah. Intinya, perlu keterbukaan antara pihak manajemen dan vendor, agar sistem berjalan mulus, semua pihak memberdayakan SDM mereka masing2. Kadang2 beberapa masalah yang rumit ternyata solusinya sederhana. Cuma membuat interface dari beberapa platform database. Tapi tidak selalu begitu. Jadi sebaiknya back office sudah dipikirkan sejalan dengan berjalannya sistem.

    Tugusoft

    Juni 8, 2012 at 1:27 am

  82. ada yg bisa bantu untuk pengembangan sim-rs sendiri gak

    lila

    Oktober 25, 2012 at 4:32 am

    • kontak bpi mbak.. http://bpi.co.id tersedia aplikasi gratis jika belanja obat di sister company nya

      Joko

      Oktober 31, 2012 at 1:38 am

  83. artikel menarik dan kelihatannya sudah terbit dari tahun 2007 … memang isi artikelnya memang sangat bermanfaat bagi para pengelola rumah sakit … salam sukses pak Priandoyo.

    ed soeliant

    Januari 12, 2013 at 1:43 pm

  84. Post writing is also a fun, if you be acquainted with then you
    can write otherwise it is complex to write.

    www.beltdrivebetty.com

    April 4, 2013 at 5:40 pm

  85. Yang Palilng penting jangan membeli aplikasi yang berangkat dari system tapi harus berdasar pada flow yang sudah dikaji sesuai kebutuhan RS.ISO,dll harus berbanding lurus dengan aplikasi yg di design sesuai flow yg terjadi.Kebanyakan RS hanya ingin punya aplikasi kalengan yg ingin segera di terapkan.Sabar dan tetap semangat.Never ending story

    Tri Jiwapraja

    Mei 22, 2013 at 10:48 am

  86. sudah setahun sepi komentar tentang sistem informasi rumah sakit, hallo hallo hallo ….. salam hangat mas pri

  87. kali saja mau mencoba yang ini elkhanza.wordpress.com/2013/05/19/free-software-sim-rs-software-rumah-sakitregistrasi-rekam-medik-apotek-keungan-penggajian-inventaris-presensi-dll/

    elkhanza

    Agustus 31, 2014 at 1:58 am


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 492 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: