Perlukah perusahaan memberikan SP (surat peringatan)
SP, surat peringatan adalah suatu mekanisme kontrol dari perusahaan untuk ‘mengatur’ karyawannya yang ‘bengal’. Di buku-buku PKB (perjanjian kerja bersama) dan panduan lainnya biasanya mekanisme SP ini dijelaskan dengan detail. Biasanya SP ini diberikan pada karyawan yang melakukan pelanggaran seperti:
1. Indisipliner: Telat masuk, bolos, pakaian tidak sopan dkk
2. Fraud, Korupsi, kolusi, membocorkan rahasia perusahaan, bersekongkol dkk
3. Lalai, ceroboh, teledor dalam melaksanakan pekerjaanya.
Sebagai mekanisme kontrol, SP adalah suatu alat bantu yang sangat efektif. SP1 peringatan, SP2 siap-siap, SP3 dipecat adalah salah satu penerapan metode ini. Namun terkait dengan jenis pelanggaran yang ketiga: Kelalaian. Apakah pemberian SP ini menjadi efektif?
Jono, sebutlah seorang rekan senior system administrator di sebuah perusahaan Telco dengan pengalaman lebih dari 5 tahun pernah menyampaikan betapa kesalnya dia harus dimarahi VP network didepan ratusan karyawan terkait kelalaiannya dalam memonitor server yang mengakibatkan server down selama 10 menit.
Ceritanya, Solaris yang biasa dipegang Jono bermasalah, cukup kompleks karena terkait dengan upgrade sistem yang dilakukan oleh vendor beberapa hari yang lalu. Jono segera berinisiatif mencari penyelesaian, ternyata penyelesaiannya tidak membawa hasil, justru server menjadi down. Dan inilah yang menjadi akar masalah hingga meja direksi.
Buat saya, ini bukan salah Jono. Saya tahu persis dalam 1 minggu Jono bisa lembur 1-2 malam di kantor. Pagi buta jam 02.00 merestart dan memonitor system. Pun kalaupun Jono memang lalai itu murni bukan kesalahan dia, dan tidak seharusnya Jono dimarahi didepan forum.
Tapi, karena main server sangat kritikal bagi perusahaan, karena CEO melihat, otomatis VP, GM network pasang badan, dan Jono harus menanggung akibatnya. Kesal, karena SP1 sudah dikantongi Jono sekarang.
Sementara Dena, dalam kasus yang lain seorang engineer baru di perusahaan manufaktur harus menikmati SP1 di satu bulan pertamanya. Forklift yang dia pakai menabrak tumbukan raw material untuk produksi. Habis, gagang forklift patah dan mesinnya rusak. Dena, menyalahkan pembelajaran tentang forklift yang tidak jelas dan mekanisme material flow di gudang yang berantakan.
Saya tahu Dena seorang engineer yang cekatan, tapi entah mengapa hari itu naas buat Dena. Kesalahannya tidak bisa ditolerir, hilang sudah image cekatannya, SP2 ditangan.
Perlukah pemberian SP untuk kelalaian kerja?
Saya berpendapat bahwa pemberian SP untuk kelalaian kerja tidaklah perlu, SP yang seringkali sebagai alat ‘menakut-nakuti’ pekerja (engineer) yang bekerja dalam bidang yang sangat kritikal (main server, database) dirasa tidak perlu. Apalagi diberikan untuk engineer yang sudah ‘gila-gilaan’ memonitor sistem 24×7. Ga perlu bos! ga perlu
Any comment?
Untuk seorang sahabat baik disalah satu institusi keuangan yang sedang kena SP1, semangat ya. Kita dipihakmu!
Bubarkan SP*
Hidup SP**
*Surat Peringatan, ** Serikat Pekerja


Kehidupan pabrik, udah kena Sp, suruh ganti rugi kerusakan. jadi inget vendor logistics, yg mindahin CDT bare dari kontainer ke gudang, karena tumbukan antar forklift, paletnya jatuh, ada 4 ea yang pecah. It means 2 juta lebih, dan Sp1 melayang dan gaji mereka di potong. Atasan mereka yg orang lokal, komplain berat ke saya akan nasib anak buahnya. Gimana lagi, kalo bisa sih ndak perlu SP [tapi bos asingnya yg kasih anak anak itu SP], tapi barang yg rusak kudu ada yg ngeganti. Kalau sudah urusan ama external kan urusannya rumit dan makin kagak jelas.
Malah ada yg gak akses karena telat tapi gak kecatat satpam, justru kena SP2. males banget … :P padahal sorenya dia masih akses pulang lho. sementara expat sering telat dan gak bawa id cart aman aman aja tuh. kepala gorup juga aman, meski datang siang tiap hari. :D
papabonbon
Mei 25, 2007 at 7:39 am
test
priandoyo
Mei 25, 2007 at 9:12 am
kalo menurut saya penting banget SP itu…
kalo ada SP kan mereka tidak bisa langsung main pecat, tapi harus pake mekanisme SP dulu baru bisa ke langkah pemecatan..
dari sisi positifnya minimal begitu kita dapat SP kita harus tahu bahwa ini adalah early warning, sebuah pertanda kalo kita harus segera mengupdate CV dan melayari kembali lautan pencarian pekerjaan.. (atau kalo secara internal, waktunya kita melakukan audit terhadap diri sendiri)..
weathertop
Mei 25, 2007 at 9:28 am
saya sih setuju sekali kalau SP itu ada dan dikeluarkan. Soalnya di kantorku ada staff yang bengal. Awalnya dia sering ribut dgn aq. Aq berusaha diam dan mengalah.Namun lama kelamaan, terlihat juga watak aslinya. Dia bahkan berani melawan owner. Keributan yang terakhir terjadi pada minggu lalu dimana dia hampir melakukan kekerasan fisik terhadap saya. Padahal dia itu laki2..Akhirnya perusahaan terpaksa mengeluarkan SP Perusahaan berharap semoga itu bisa jadi shock terapi yang efektif.
saya tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada SP, apalagi jika sebelumnya sudah ada teguran-teguran secara lisan yang tidak pernah digubris.
jadi, jika memang kondisinya sudah mendesak dan dirasa perlu, kenapa tidak diterbitkan saja SP tersebut?
asteria jingga
Juni 1, 2009 at 1:13 pm
1. setuju ama oom weathertop. kok namanya ngingetin pada perusahaan oil service, weatherford. :D
2. ada temen yg cuek dgn sp. selalu ngambil jatah sp dengan telat, atau mangkir. tapi karir lancar lancar aja tuh, secara kerjanya di perusahaan yg lebih ndengerin apapun kata kata expat asingnya, dibanding penggunaan index performance secara serius.
3. sisi jeleknya, bikin orang lain gak percaya ama sistem. abis like and dislike gitu sih :D
papabonbon
Mei 25, 2007 at 9:36 am
test
priandoyo
Mei 25, 2007 at 10:12 am
hmm, saya perlu turun tangan? baik. besok si vp yg marahin jono akan saya setrap, lalu suruh baca buku jadulnya dale carnegie, “how to win friends & influence people” sampe ngelotok.
ttd.
[CEO sebuah perusahaan Telco]
dz.
Mei 26, 2007 at 2:48 am
mungkin harus ditambah dengan 360 degree feedback. Biar yang dikasih dan ngasih SP jadi ‘ngeh’ bahwa kesalahan itu terjadinya kenapa dan gimana solusinya….
bisma
Mei 26, 2007 at 2:56 am
1. Bos selalu benar
2. Bawahan selalu salah
3. bila bawahan merasa benar perhatikan lagi peraturan nomer 1 dan 2
kunderemp
Mei 26, 2007 at 6:16 am
hemm… memang benar, bahwa istilah bos selalu benar dan bawahan selalu salah itu banyak berlaku di perusahaan, walau tidak semuanya, lho.. Saya sering alami hal itu, namun sekali lagi mari kita belajar melihat hal itu dari sudut lain yang lebih positif, dan berusaha mencari nilai pelajaran yang berharga di balik kesalahan kita tersebut. Introspeksi diri dan berusaha tidak mengulangi lagi kesalahan itu. Dan hasilnya bisa anda rasakan sendiri.. Be a positif thinking person..
asteria jingga
Juni 1, 2009 at 1:21 pm
maaf, komentar yang ini sekedar test…
a + b < 2a
maka
b < a
masalah tanda lebih kecil apa, nJar?
kunderemp
Mei 26, 2007 at 6:17 am
SP masih perlu tetapi dalam pelaksanaannya mungkin harus lebih jeli
Pemberian SP harus dilakuakan hanya dalam keadaan yang sangat amat mendesak
Pas mau kasih SP harus dilihat juga riwayat pekerjaan “korban” hehehe
Kayak cerita pertama, kalo biasanya kerja bagus
mpe lembur2 koq tiba2 melakukan kesalahan kenapa?
Apa lalai atau emang kesalahan..
Nah kalo begitu khan kedua pihak bisa saling menerima kalo misalnya SP harus keluar juga
Harus ada hearing di antara kedua pihak sebelum menentukan apakah akan ada SP yang keluar atau tidak
Salam,
riyantoro
Mei 26, 2007 at 5:17 pm
ya, sangat setuju dengan anda. Karena ketika saya ditugaskan untuk membuat SP untuk karyawan, saya pun merasa perlu mendengar, memantau, dan mengevaluasi setiap informasi yang penting tentang karyawn tersebut, agar substansi dari SP itu tidak bias dan mempunyai korelasi dengan tindakan perusahaan dalam mengambil keputusan selanjutnya.
asteria jingga
Juni 1, 2009 at 1:26 pm
blom pernah kerja sih… tetapi SP saya kira perlu di terbitkan buat menumbuhkan etos kerja dan kedisplinan.
SP di turunkan gunanya untuk evaluasi pada masing2 karyawan yang natinya dapat juga di gunakan sebagai bahan pertimbangan semisal kenaikan pangkat jabatan atau apalah namanya dalam perusahaan.
wargabanten
Mei 26, 2007 at 7:02 pm
Aku pribadi merasa SP itu perlu. Yah, tergantung bagaimana penerapannya bukan? reward and punishment. Bukankah ada mekanisme pembelaan diri juga?
SP hanya sekedar SP apabila tidak ada tindak lanjut (root cause analysis, perbaikan diri dari yang ‘bersalah’, dll).
Aku rasa kumpeni juga tidak sembarangan mengeluarkan SP.
mungkin sama seperti pendapat bisma dan riyantoro
.\Goio
Mei 27, 2007 at 4:14 am
test tes c
<
>
priandoyo
Mei 28, 2007 at 1:13 am
Tadinya SP dikira Serikat Pekerja…ternyata Surat Peringatan. SP perlu, untuk membuat anak buah hati-hati, tapi tentu saja sebelumnya sudah dilatih prosedurnya agar berhati-hati. Contoh: bagaimanapun hati-hatinya seorang kasir, tetap ada risiko nombok. Jadi gaji seorang kasir tiap bulan selalu dipotong, untuk cadangan jika terjadi risiko kelebihan bayar. Dan karena sudah prosedur baku, kasir tak mengeluh.
Karena tanpa begitu, kadang anak buah bisa seenaknya, membuat kesalahan yang menyebabkan kerugian finansiil sangat besar. Tapi yang penting, semua harus dikomunikasikan, tranparan, dan SP dikeluarkan jika telah diperiksa oleh minimal 3 orang (dalam tim), sehingga tak hanya like and dislike.
edratna
Mei 28, 2007 at 5:43 am
saya punya staff yang cemerlang dan kreatif. kami cukup dekat dan sering diskusi tentang berbagai macam hal. kebetulan kami berdua pekerja kemanusiaan, sehingga harus berhubungan dengan berbagai lapisan masyarakat. suatu hari kami dapat undangan dari kepala desa untuk buka bersama, saya mewajibkan dia untuk datang karena itu bagian dari tanggung jawabnya. saya katakan dia harus datang, apabila tidak saya akan beri SP. tadinya cuma ancaman kosong.
ternyata dia mengacuhkannya dan tanpa pemberitahuan nggak datang ke acara desa. malamnya saya ajak bicara dan dia tau saya marah besar (mana habis meeting marathon lagi). saya kasih 2 pilihan, dia minta waktu untuk menjawab.
pagi hari ini dia bilang pilih SP. alamak….
padahal dalam hati nggak tega juga ngasih SP. nemu link ini aja karena mau nyontek contoh SP
evie
September 27, 2007 at 9:50 am
kalau memang itu sudah pilihan yang dia ambil, kenapa tidak anda terbitkan saja SP tesebut? sebagai pembelajaran juga untuknya, karena walau bagaimanapun antara staff dan atasan(jika memang anda atasannya) harus ada garis batas yang tegas dan jelas mengenai hak dan kewajiban masing2 sesuai dengan kapasitas dan kedudukannya. Mungkin ini juga menjadi pembelajaran bagi kita agar tidak mudah mengeluarkan “ancaman” SP jika memang masih dapat ditolerir. Jadi aran saya, keluarkan SP jika memang sudah terdesak dan harus.
asteria jingga
Juni 1, 2009 at 1:33 pm
saya akan memberikan sp pada karyawan/ rekan saya karena kelakuannya yang kasar, teledor,tidak sopan baik kepada sesama karyawan dan customer, karena peringatan lisan saya sering di abaikan,,
tolong berikan saya masukan dan contoh sp yg tepat agar sp ini dapat membuat dia berubah, jerah dan juga melindungi perusahaan untuk memphk karyawan tersebut apabila bener2 tidak bisa di rubah,
thanks and regards,
jefry
JEFRY SAHANGGAMU
Maret 12, 2008 at 5:36 am
contoh sp dimana sy bisa dpt
edwin
Maret 19, 2008 at 1:59 pm
Pernah dapet SP gara-gara sekolah master nggak bilang-bilang ke atasan hehe…
Adhi
Maret 19, 2008 at 4:57 pm
mana yah contoh SP nya.. aq juga butuh nih buat kasih warning.. biar peraturan bukan untuk dilanggar…
novi
Mei 28, 2008 at 7:46 am
kan Di setiap perusahaan ada PP dan sangsi-sangsinya jadi merujuk ke itu saja, trus di akhir kata ditambahin bahwa ini adalah SP pertama dst,yang apabila diabaikan akan berakibat timbulnya SP 2 dst, poko’e agak diplomatislah gitu
dan paling penting sebenarnya bukan ngeluarin SP tetapi, kenapa seseorang karyawan melakukan hal-hal yang bisa mengakibatkan keluarnya SP ( baiknya dipanggil secara personal ) siapa tau mau kenaikan gaji,lagi berantem ama doi dll.
aby
Mei 28, 2008 at 8:16 am
PKWT???
ZEFRY
Juni 8, 2008 at 9:35 am
bagaimana akibat hukumnya apabila terjadi pemutusan kerja secara sepihak tanpa ada surat peringatan dari perusahaan berkaitan dgn uud no. 13 thm 2003 ttg tenaga kerja, please bagi smua yang tw ????????
ZEFRY
Juni 8, 2008 at 9:37 am
Kalau di bank SP itu ada dua….
Surat Peringatan..
sudah jadi hal lazim kalau SP ini di bank, pegawai diancam2 pakai SP, yg katanya kerja harus hati2…tapi juga harus cepat, kerja lambat dapat SP karena lambat, kerja cepat terus salah juga kena SP karena salah (padahal salahnya karena kecepetan)….jadi yg aman di tengah2 saja.
di bagian Pemasaran Produk Bank, tidak capai target sudah pasti kena SP, karena target gila2an makanya temen2ku malah pada ngarepin SP biar bisa keluar dari kerja (ini di bank bukan platmerah)
Kalau SP Serikat Pekerja di bank…wah saya pikir tidak membela aspirasi pegawai, karena selain kurang greget, juga kalau ada ketua SP terlalu vocal, maka dia dapat kena SP (Surat Pengangkatan) ke posisi yg lebih tinggi….lho Vocal kok malah naik pangkat, ya itu dinaikkan pangkatnya biar tidak vokal, jadi kan perusahaan ayem2 saja, setelah diangkat dan naik gaji ehhhh tyt di ketua SP itu tidak vocal lagi karena merasa sudah dinaikkanpangkatnya.
selain itu (sorry OOT) serikat pekrja tidak mewakili aspirasi pegawai….
Kalau ada orang pengen dpat SP ya itu aku dan rekan2ku yg kerja di bank karena sudah bosen kerja di bank, dapat SP sampai ke 3 itu tiket untuk keluar dari tempat kerja kita.
tapi yg kasian adalah teman yg kerja di bank pelat merah, kalau dikeluarin erusahaan cuma dapat pesangon 1rb perak…wah sengsoro
illegalofficer
Juni 8, 2008 at 3:02 pm
SP????
salah satu tugasku adalah menindak para karyawan yg indisipliner dengan teguran lisan, SP bahkan sampai PHK. Perusahaan kami memberikan SP kalo tindakan karyawan tsb bener2 merugikan perusahaan. ya, karena bergerak di bidang penerbit media cetak, hal yg paling merugikan adl kala wartawan membuat berita yg tidak benar dan salah fatal thd isi berita. langsung di kasi SP tuh, spy tidak mengulangi lagi n mengingatkan akan pentingnya tugas yg di embannya
Eny
Desember 12, 2008 at 3:10 am
Budaya stick and Carrot masih berlaku di kita. Jadi sticknya SP , nah carrot-nya ini yang kadang terlupakan padahal cukup dengan tepukan di pundak, pujian kecil dsb.
Salahsatu tugas manager yang berat adalah memecat karyawan. Untuk mempermudahnya maka prosedur mesti
dijalankan dan track record selalu disimpan diantaranya mencatat peringatan lisan apalagi surat peringatan.
SP bertujuan juga memberikan kesempatan bagi karyawan untuk memperbaiki diri.
tresna
Desember 12, 2008 at 8:32 am
dear temans,
saya baru perlu sekali informasi mengenai kriteria kesalahan apa saja u/ SP 1, SP 2, SP3
terima kasih,
titik
titik
Februari 6, 2009 at 8:27 am
minta tolong ya..informasinya kriteria kesalahan SP1,SP2, SP3
titik
Februari 6, 2009 at 8:45 am
Dear titik,
Seperti ditulis di artikel diatas, saya kutip:
1. Indisipliner: Telat masuk, bolos, pakaian tidak sopan dkk
2. Fraud, Korupsi, kolusi, membocorkan rahasia perusahaan, bersekongkol dkk
3. Lalai, ceroboh, teledor dalam melaksanakan pekerjaanya.
kriteria-2 tersebut diatas sudah cukup untuk pengeluaran SP.
Teman-2 sekalian apakah ada contoh SPI/II/III? kalau ada yang punya template dan tidak keberatan saya minta contohnya ya.
Thanks a lot!
Victor
Februari 11, 2009 at 2:40 am
Mas Priandoyo,
Sy copast dari milis yg sy ikuti, mungkin bs tlg dibantu oleh pemikiran mas :
Temanz….
Cuma ingin membantu seorang teman yang sedang kebingungan (coz dia
curhat ke aQ tp aQ ga tau jawabannya, so… aQ sharing lagi deh
disini).
Kasus : temenQu dapet SP-1 dr kantornya bekerja dr seorang HRD yang
bersikap tidak seperti HRD (menurut aQ), dikarenakan dia tidak masuk
kerja. Dia memang punya suatu kelainan yang membuatnya tidak boleh
terlalu capek. Di dalam SP tersebut disebutkan dia terlalu sering
tidak masuk kerja sehingga memberi contoh tidak baik kepada karyawan
lain (pdhal c HRD tau alasan dia tidak masuk kerja, selain itu c HRD
pun sering tdk masuk kerja & pekerjaan dia – kebetulan sebagai mng
finance pun ga bener/ beres).
Yang jadi pertanyaan aQ adalah:
1. C HRD tidak pernah memberitahu secara personal atau pendekatan
tersendiri. Dia klo memberitahu didepan banyak karyawan sambil
berlalu / jalan (ga face to face, apa itu etis???)
2. Surat SP itu ditandatangani oleh DirUt bukan HRD sendiri (memang
seperti itu y????)
3. dari awal masuk jadi pegawai tidak pernah menandatangani surat
kontrak, atau membaca peraturan kantor. Semua berjalan begitu aza,
peraturan yang ada pun cuma secara mouth to mouthnya pegawai lama ke
baru… (ga jelas banget ya???). Apa surat SP itu berlaku???? atas
dasar apa y???
4. klo ini berdasarkan pemikiran aQ, ini dikarenakan temanQu itu
orang pribumi (moslem pula) sedangkan c HRD atau pun DirUT dan
manager2nya itu Chinese & mereka itu keluarga. Apa itu yang
menjadikan mereka bisa semena2 terhadap Qta yang pribumi & hanya
sebagai bawahan???
Temanz… mohon bantuan pemikirannya juga. klo bisa berdasarkan
peraturan ketenagakerjaan & peraturan perush serta tugas2nya HRD tuh
seperti apa????
Trims ya.
Dreesyach
Februari 26, 2009 at 3:09 am
SP terkadang sangat ampuh untuk membuat si target untuk
bisa memperbaiki di lagi.. yang tersulit bagai mana cara kita
mengemas sebuah sp menjadi suatu hadiah yang dapat membuat si terget lebih baik lg.
me
April 24, 2009 at 5:57 pm
Klo udah kena SP ya tinggal bikin CV baru aja wkwkw beres kan…peraturan perusahaan selalu yg paling benar wkwkwk……
kang yandi
Juli 13, 2009 at 3:54 am
saya punya contoh sp,yang berminat bisa hubungi saya alang_boys@yahoo.com
andi
September 14, 2009 at 2:36 am
lancau
atan suciya
Oktober 21, 2009 at 9:12 am
lancau kopdang
atan suciya
Oktober 21, 2009 at 9:13 am