Anjar Priandoyo

Lelaki lulusan pesantren itu kini memimpin negeri ini

with 13 comments

Di Magelang, ada sebuah pesantren -yang tidak terkenal- berada didaerah Payaman, kurang lebih 30 menit dari kompleks Akademi Militer. Pesantren ini bukan dibangun oleh Kiai langitan tradisional, bukan pula dibangun oleh kalangan modernis. Pesantren ini banyak diisi oleh kalangan Jamaah tablig. Entah bagaimana mulanya, tapi sudah banyak Sersan Taruna yang berkunjung ke pesantren ini setiap pesiar akhir minggu. Sebuah warna yang berbeda dikaki megahnya Patung Jendral Sudirman dan Gunung Sundoro Sumbing yang hangat

Di Jogja, selain kolese de Brito yang terkenal dengan rambut gondrongnya itu, selain Wisma Syantikara dikawasan Samirono yang sering dijadikan tempat diskusi tidak hanya bagi mahasiswa Katolik tapi juga Majalah Mahasiswa Balairung dalam pembekalan anggota barunya. Juga, terdapat juga pesantren kecil di kaki Gunung Merapi. Pesantren yang juga bukan dibangun bukan oleh siapa-siapa. Sebuah pesantren Ihyaussunnah di Mbesi yang dibangun oleh kalangan Salafy, turut mewarnai pilihan beragama bagi para mahasiswa di kota ini, mulai dari Hizbut Tahrir, Ahmadiyah, hingga Tarbiyah

Gunung vulkanik menjulang, kolese, susteran, pesantren telah lama menjadi saksi tumbuhnya seorang lelaki untuk akhirnya tegar sekeras batu karang. Alam telah lama memiliki mekanisme tersendiri untuk membentuk seseorang menjadi tangguh. Seperti halnya masyarakat yang keras punya mekanisme tersendiri untuk mencetak seorang pahlawan disetiap jaman baru. Di setiap kesemrawutan jaman pasti akan muncul seseorang yang bisa menjawab tantangan yang jaman itu berikan. Apapun bentuk tantangannya, pahlawan itu pasti lahir

Mengapa pahlawan itu pasti hadir? mengapa dia hadir sebagai sebuah keniscayaan? tidak hanya sebuah kemungkinan? mengapa dia hadir melawan arus? mengapa pahlawan itu harus melalui fase-fase pembentukan yang berat? mengapa ia harus belajar begitu banyak dari alam sebelum dia belajar dari masyarakat? mengapa dia harus belajar begitu banyak penderitaan sebelum akhirnya dia bisa menjadi besar?

Mengapa Isa harus berjalan menuju bukit Golgota? mengapa Muhammad harus menerima penderitaan yang begitu berat? mengapa Gandhi? mengapa Budha? mengapa kita semua harus bisa memaknai arti penderitaan? mengapa hanya dengan penderitaan kita bisa belajar dengan cepat bagaimana berjuang bagaimana menang? Mengapa semua hal itu menjadi mungkin? mengapa? mengapa?

Mengapa pada akhirnya kita tidak boleh menyerah? dan mengapa pada akhirnya kita menang? tak peduli seberat apa jalan yang kita lalui!

About these ads

Written by priandoyo

Juni 4, 2007 at 2:00 am

Ditulis dalam uncategorized

13 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. karena setiap insan manusia memiliki kemampuan dan potensi untuk bisa menjadi pemimpin.
    Nah, tinggal bagaimana dalam perjalanan hidup ini dia mengasah potensi diri untuk bisa menjadi pemimpin di masa depan

    Jadi inget sama Pak AY kepala sekolah SMP ku dulu
    “Kalian ini calon2 pemimpin bangsa di masa depan!! Jangan sampai mengecewakan orang tua dan masyarakat dengan berbuat hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Teruslah belajar dan pupuk jiwa kepemimpinanmu”

    Wah, tak terasa dah beranjak gede niy, Semoga besok bener2 bisa jadi pemimpin :D

    Salam,

    riyantoro

    Juni 4, 2007 at 4:02 am

  2. numpang lewat. hehehe

    hebiryu

    Juni 4, 2007 at 5:37 am

  3. menjadi orang memang harus lewat pengorbanan saat ini untuk mendapatkan hasil yg luar biasa

    arul

    Juni 4, 2007 at 11:26 am

  4. hebat dy

    Bachtzia

    Juni 4, 2007 at 1:56 pm

  5. pahlawan besok itu mungkin skrg sedang sibuk skripsi, wakakakakaka!

    *oalah….skripsi tak kunjung padam…*

    joesatch

    Juni 4, 2007 at 5:45 pm

  6. Koreksi mas…

    >> “Pesantren ini bukan dibangun oleh Kiai langitan tradisional, bukan pula dibangun oleh kalangan modernis”

    Sebenarnya itu pondok yang di Payaman itu pondok NU tradisional, hanya saja kemudian berubah menjadi pondok Jama’ah Tabligh belakangan ini.

    >> “Sebuah pesantren Ihyaussunnah di Mbesi yang dibangun oleh kalangan Salafy, turut mewarnai pilihan beragama bagi para mahasiswa di kota ini”

    Pondok Ihyaus Sunnah itu di Degolan, bukan di Mbesi. Pondok salafy yang di mBesi itu pondok Al-Anshar.

    Trus…
    >> Mengapa Isa harus berjalan menuju bukit Golgota? mengapa Muhammad harus menerima penderitaan yang begitu berat? mengapa Gandhi? mengapa Budha?

    Apakah memang sama? Hmm…

    Wira Mandiri

    Juni 5, 2007 at 2:32 am

  7. gila lo mokong yo

    fajar

    Juni 5, 2007 at 2:36 am

  8. Wah hebat bener ya….

    Suluh

    Juni 5, 2007 at 3:38 am

  9. aku agak bingung ama tulisannya anjar.

    setahu aku di magelang ada dua pesantren besar. pondok bambu runcing punya NU dan satu lagi yg coraknya muhammadiyah, punyanya jebolan gontor itu. dan kalau yg biasanya jadi banyak JT nya, biasanya emang pesantrennya NU. kalangan lain suka mau ngelepas :D

    di jogja salafynya juga ada beberapa aliran. harus tahu detail untuk mendeskripsikan salafy yg mana. degolan itu punya oom jafar, sementara ada aliran sururiyah yg dekat dgn tarbiyah dan ada lagi salafy yg masih komit ke jordan itu.

    nah, figur yg dianggap jadi pemimpin negeri itu dikaitkan dgn yg mana yah ?

    papabonbon

    Juni 5, 2007 at 4:17 am

  10. Ehmm… magelang kotanya eyangku… kotanya kami semua… Debrito… sekolahnya suamiku…serasa akrab pulang kampung. baca tulisan Anjar…

    Evy

    Juni 5, 2007 at 4:30 am

  11. Hehe he bicara magelang… Saya tinggal dimagelang… Hidup selama 26 tahun dimagelang… Sekolah dimagelang… Saya tahu pesantren yang dimaksud.. :D Salam kenal deh… Ke magelang dong… :D Ada borobudurnya loch… Atau ke Kopeng ? Atau ke Ketep? Silahkan pilih… Eh OOT… :D

    Suluh

    Juni 5, 2007 at 4:43 am

  12. Sejam yang lalu, barusan asyik diskusi tentang kepemimpinan, pendidikan, ke-magelangan, nostalgia masa lalu, juga tentang sekolahnya anjar, papabonbon, ferry, cay, kombor, dengan seseorang yang tentunya tak asing bagi kalian. baru setengah jam lalu berlalu dari lobby wisma tempatku berkantor. insyaAllah, beberapa bulan ke depan, mau ikutan mengais rejeki dari kota kecil nan menawan ini.

    Dee

    Juni 5, 2007 at 6:33 am

  13. aq ga dong ama tulisane anjar kali ini…
    lelaki yang dimaksud sapa ya…pemimpin sapa ya…

    aduhhh maafff setengah sadar neh..nguantuk bgt!!

    kian

    Juni 5, 2007 at 7:54 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 489 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: