Anjar Priandoyo

Tipe orang pintar apa yang bangsa ini cari!

with 29 comments

Karena bapak saya hanya lulusan STM dan ibu saya pun hanya lulusan SMEA. Kemudian karena bapak (dahulu) bekerja di pabrik rokok sedangkan ibu bekerja sebagai pegawai negeri, saya tahu betul betapa tidak banyak orang kampung (yang pintar) yang bisa survive di ibukota. Dan saya tahu betul betapa lebih tidak banyak orang yang telah sukses itu bisa membawa manfaat untuk lingkungan yang membesarkannya.

Pendidikan adalah satu-satunya cara yang memungkinkan mobilisasi status secara vertikal. Pendidikan adalah satu-satunya caranya memutus lingkaran setan kebodohan-kemiskinan-kemunduran yang menjadi akar masalah krisis kompleks bangsa ini.

Mengherankan sebenarnya, karena sebenarnya meski kita punya cukup stok orang pintar, baik yang dibentuk -lewat pelatihan olimpiade fisika- ataupun memang orang gunung yang given dari sononya pintar. Tapi pertanyaannya: Apakah memang orang pintar tipe ini yang kita butuhkan?

Mbak saya lulusan FKUI, kemudian memutuskan menjadi dokter di puskesmas kecil di kota Cirebon. Terlepas dari faktor ‘pilihan pribadi’ yang mendasari Mbak untuk tetap di Cirebon menemani orang tua. Saya gemas kalau hanya dari 2-3 orang Cirebon yang bisa jadi ‘dokter UI’ ternyata pulang kampung tanpa memberikan kontribusi yang signifikan dibandingkan politisi lokal -yang terkadang mantan preman- bagi kampung halamannya.

Kampus saya -yang juga sama kampungnya- juga punya stok orang-orang pintar dari penjuru negeri ini -maklum dengan nama kampus rakyatnya- banyak anak kampung yang tidak mampu menimba ilmu disini. Anak-anak yang dekat dengan realita negeri ini, tapi kemudian terjerembab di industri -atau malah berguguran sebelum dia berkembang menjadi besar-.

Kalau Sukarno berkata bahwa dengan 100 pemuda dia bisa menggeser gunung. Kalau Hitler sengaja memilih anak-anak kampung untuk menjadi pasukan terbaiknya -bukan memilih anak-anak kota yang cengeng-. Harusnya kita tahu dimana kita bisa menemukan anak-anak yang tahan banting, harusnya kita juga tahu bagaimana menemukan orang-orang yang pintar karena kepepet, bukan pintar karena montessori atau SDIT mahal yang kering tanpa hati.

Selamat berjuang teman!

Written by priandoyo

Juni 12, 2007 pada 9:11 am

Ditulis dalam My Opinion

29 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah, pantesan gak setuju aku di BPK yah … :)

    memang banyak anak kita yg gak tahan untuk bertahan hidup di industri [terjerembab sebelum jadi owner]. papabonbon salah satu yg memilih ndak tahan.

    Jadi ingat sama kata kata Nus, kakak iparku, rata rata orang yang benar benar kaya dan dulu jadi customer di dealernya, pasti punya pabrik.

    papabonbon

    Juni 12, 2007 at 9:59 am

  2. sedang berusaha meresapi sentilannya Mas Anjar. semangat 45-nya kayaknya masih berkobar nih. :)

    sepertinya orang pintar yang dicari adalah orang pintar tahan banting yang memberikan kontribusi signifikan bagi kampung halamannya.

    mungkin tiap orang akan berkontribusi tergantung cara pandang mereka masing-masing. dan kadang-kadang, apa yang kita pikir adalah kontribusi, mereka pikir bukan. dan apa yang mereka pikir kontribusi, kita pikir bukan. apa seorang aktivis LSM yang terjun ke daerah-daerah lebih berkontribusi dibanding seorang entertainer yang kerjanya manggung di bar-bar? Yang jelas, menurut saya, Mas Anjar sudah berkontribusi lewat blog ini. :)

    btw, apa ada yah tipe-tipe orang diperlukan bangsa ini? wah, ini susah dijawab dan mungkin gak perlu dijawab. lebih sempit lagi, apa ada tipe-tipe orang pintar yang diperlukan bangsa ini? wait… apa bangsa ini butuh orang pintar?

    peace.

    Selamat berjuang teman!

    Bahar

    Juni 12, 2007 at 10:38 am

  3. Tumben kali ini bukan Jono… hmmm… apa sbnrnya sama aja orangnya? :D

    Panjul

    Juni 12, 2007 at 11:32 am

  4. yah, mbaknya mas anjar tuh cewek. masak dipakein nama jono juga sih, wekekekek :P

    papabonbon

    Juni 12, 2007 at 2:39 pm

  5. Kali aja, Pak Papabinbin eh Papabonbon. Soalnya disguise2 di blog ini udah gak jelas sih mana yang cerita nyata & mana yang cuma rekaan untuk pembenaran keinginan maupun kekecewaan pribadi…. : )

    Panjul

    Juni 12, 2007 at 11:10 pm

  6. Gpp, kok kalo mau terus2an bikin cerpen. Sah2 saja secara negara demokrasi gitu loh… Btw, saya kenal publisher yang bagus loh kalau suatu saat mau diterbitin… bwwhahahhahahaha….

    Panjul

    Juni 12, 2007 at 11:14 pm

  7. We need Edison, not Einstein….
    That’s what I said since I was in High School..

    Sebelum kalian para sarjana memahami itu, Indonesia tidak akan maju..

    Dan maaf yah, kondisi ini sudah ada sejak tahun 1934, ketika seorang pemuda berusia 25 tahun dari balik jeruji penjara Cipinang mencaci-caci para ‘intelektuil‘ yang disebutnya sebagai ‘pemegang gelar’ dan tidak cocok menjadi intelektual.

    Pemuda yang akhirnya tidak pernah menyelesaikan kuliah hukumnya tersebut, kelak menjadi salah satu orang berpengaruh di era 1945-1949 sampai namanya diabadikan dalam puisi “Karawang-Bekasi”-nya Chairil Anwar. Kritikan kerasnya terhadap Sukarno di tahun 1949, menyebabkan namanya kemudian terlupakan.

  8. Nama tokoh yang kusebutkan di atas adalah Sutan Sjahrir. Bacalah kritikannya dan itulah yang diharapkan dari seorang intelektual, bukan sekedar pemegang gelar untuk mendapatkan kerja.

  9. INDONESIA… negara yang penuh dengan dendam politik dalam pertumbuhannya…negara yang rakyatnya penuh dengan mimpi adil makmur tapi tak berkaca (mungkin termasuk saya) lebih karena memang sudah salah kaprah dari awal terbentuknya….orang-orangnya (kata guru-guru saya dulu..) ramah tamah katanya…anarkis adanya…mudah diprovokasi…..orang pintar yg dibutuhkan? (mungkin) orang yang bisa mengubah karakter bangsa, yang bisa menyadarkan bangsa ini bahwa…untuk jadi negara maju tuch… bisa buang sampah dengan benar….bisa antri dengan baik…bisa menggunakan fasilitas umum dengan benar….bisa menyelesaikan masalah tanpa tawuran antar kampung….bisa demo tanpa harus anarki di jalan dan nongkrong di atas atap bus yg jalan…..and and and another and….yaaa yang dasar dasar dulu laaach…kayanya orang pintar bangsa ini biasa melihat masalah dan menyelesaikannya dari sisi ekonomi dan politik…coba yuuk diseriusin lihat dari sisi sosiologisnya dan pendidikannya…. kayanya enakan jdi warga republik mimpi yaaa….

    ojodumeh

    Juni 13, 2007 at 4:21 am

  10. Yak setuju pendidikanlah yang utama… aku link ya Anjar, menurutku pendidikan harus bisa gratis… orang yg berpendidikan lebih mudah di atur… dan mengatur dirinya…

    BTW…Anjar sendiri kok ga balik ke Cirebon, apa karena di sana ga ada bidang pekerjaan yg sesuai atau gimana?

    Evy

    Juni 13, 2007 at 4:21 am

  11. hmmm,yang pinter akal en pemahamannya tentang kehidupan en manusia itu ndiri(*seriuz mode on))

    the23wind

    Juni 13, 2007 at 4:48 am

  12. We need Edison, not Einstein….
    That’s what I said since I was in High School

    Wah, pantesan karena kita punya prinsip kayak gini, kita cuma jadi ‘jajahan’ bangsa lain. Kita punya mental kuli!!!! Kita cuma jadi orang yang berada di ujung, bukan di pangkal. Bahwa yang tidak semua orang tahu, adanya ilmu terapan dan komersil saat ini, dimulai temuan-temuan basic yang ‘kering’ beberapa dekade yang lampau.

    Rutherford mungkin tidak menyadari bahwa temuannya yang sangat sulit dipahami orang awam saat itu, akan akan jadi titik tolak pengembangan IT yang sekarang kita nikmati.

    Tahukah anda bahwa akan ada kemungkinan orang berpindah sampai ke partikel dasarnya, sehingga suatu saat kita bisa kemana saja tanpa kndaraan konvensional seperti mobil, pesawat, dll. Kasarnya, time machine itu bukan hal mustahil. Dan yang terpenting, tahukah anda kalo salah satu ilmuwan kita terlibat dalam penelitian tersebut meskipun tidak dilakukan di Indonesia, karena mungkin dia tahu, mentalitas bangsanya seperti itu.

    somosentono

    Juni 13, 2007 at 5:20 am

  13. [...] kemiskinan. Andaikan saja dimulai dengan sekolah dan berobat gratis mungkin lebih banyak rakyat yang berpendidikan, sehat dan tidak malas… sehingga kesejahteraan akan [...]

  14. judul “Gaya pengemis amerika” yang ditulis mbak Evy itu mengingatkan papabonbon pada “good samaritans syndrom”. eh, ini tulisan mbak fau ding ….

    ===
    Saya punya pendapat yang agak berbeda. Betul kalau pemda punya tugas pelayanan publik dasar, tetapi kita harus memperhatikan pembagian tugas antar level pemerintah dan kesesuaiannya. Saya pernah kasih komentar di milis yg kemudian di upload di blognya ecosoc: http://tinyurl.com/yqtwag
    ===

    papabonbon

    Juni 13, 2007 at 8:42 am

  15. yang jelas, kalo pinternya dipake buat ngapusi (ngebo’ong) ya percuma

    ABe

    Juni 13, 2007 at 9:28 am

  16. Hemm…. hhh..
    Jika dikembalikan pada hati nurani yang terdalam…
    Bagaimana jika kita kaji lagi, back to The Holy Qur’an?
    Sungguh banyak sekali kejadian sejarah jaman doeloe yang diabadikan oleh-Nya, dan kalau kita cermati visi kita jangka panjang pada QS (42) Asy Syuura ayat 20: Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.

    Terus bagaimana ….
    Saya yakini penuh akan firman Alloh tersebut. Saya pikir bahwa apapun profesi kita, yang penting Akherat Oriented. InsyaAlloh jika kita mengedepankan Akherat, masalah bangsa telah Alloh beri kemudahan. Tinggal Bagaimana kita menanamkan Aqidah tersebut kepada pihak2 lain. Salam

    gustri

    Juni 13, 2007 at 9:43 am

  17. biasanya klo cewek namanya = mbak titi. He3x… ga penting, kan?

    mirna

    Juni 13, 2007 at 10:24 am

  18. Hmm..
    cukup menarik tulisan Mas Anjar untuk mengangkat masalah Pulang Kampung, Pintar dan Pandangan Hidup.
    Saya bisa pahami opini Mas atas perbedaan yang signifikan antra Merli Sang Dokter Puskesmas dan Preman Si Legislator gadungan. Namun ada yang perlu diingat, bahwasanya Manusia bebas memilih, aktualisasi diri bisa dilakukan dimanapun selama kita masih hidup dan menghidupi.
    Bukankah “manfaat” yang selama ini kita cari?
    di desa bermanfaat? Puji Tuhan! di Kota bermanfaat? jauh lebih hebat! dan puji Tuhan juga…

    Perlu dicermati..Orang pintar dapat mengangkat derajat dirinya dan orang lain, namun orang pintar juga makin sulit diatur orang lain!..

    bukan begitu?
    coleh dikit Ah..

    Kapan balik ning Cerbon, Ang?

    kopidangdut

    Juni 13, 2007 at 11:02 am

  19. kalau memang pemenang olimpiade fisika bukan orang pintar yang dibutuhkan bangsa ini, oke.
    tapi kalau itu memang mau si pemenang olimpiade fisika itu untuk jadi seperti itu, bagaimana?

    orang seperti mereka tidak dihargai di negeri ini, akhirnya pergi ke negeri orang, berhasil & besar di negeri orang, malah lalu klaim kewarganegaraan lain. negeri orang tambah SDM bermutu yang bisa dimanfaatkan lagi deh nih, sementara negeri ini kehilangan SDM bermutu karena tidak dihargai apalagi diberi kesempatan untuk berkontribusi.

    hebat! aku juga mau!ups :D

    kikie

    Juni 13, 2007 at 11:11 am

  20. Ini Kunderemp An-Narkaulipsiy pakai login ibunya
    Justru karena semua berpikiran pendidikan yang penting.. ralat, karena semua berpikiran “Pendidikan Formal” yang penting maka

    AKHIRNYA BANGSA INI JADI BUDAK!!

    Sebenarnya aku tidak tepat juga membandingkan Einstein dengan Edison, tetapi satu… ‘mengembangkan’ dan ‘bisa diterapkan’. Itu yang dibutuhkan…

    Rutherford, Einstein, Newton, semua itu menemukan ilmu yang masih mengawang-awang dan dikoreksi sedikit demi sedikit sepanjang sejarah ilmu.. Tetapi orang-orang yang bisa membaca ilmu-ilmu mereka dan menerapkannya dalam bentuk praktis, itu yang dibutuhkan oleh bangsa ini.

    LIHATLAH TIONGKOK!
    LIHATLAH JEPANG!
    LIHATLAH KOREA!

    Bagaimana bangsa kita?
    Jangankan Edison,
    Jangankan Einstein…

    YANG ADA HANYA BUDAK-BUDAK BERGAJI PULUHAN JUTA
    YANG TIDAK PERDULI SEKITAR MEREKA
    ASALKAN PERUT MEREKA KENYANG

    edratna

    Juni 13, 2007 at 3:02 pm

  21. Wah, jadi inget sentilan hati kecil untuk ngajak anak2 muda kampung yang kerjaannya cuman nonkrong2 aja pagi siang malam untuk kerja
    Seandainya saja aku dah bisa kasih kerjaan bagus buat mereka..

    Kapan ya? Sampai sekarang masih angan-angan saja
    Tetapi memang jarang orang kaya atau pintar yang bisa membawa lingkungannya/kampungnya ke arah kemajuan yang lebih baik..

    Anak-anak Indo banyak yang cerdas koq, tapi kenapa belum bisa juga mengangkat bangsa ini dari keterpurukan?

    Aku renungkan dulu Mas Anjar.. :)

    riyantoro

    Juni 13, 2007 at 5:33 pm

  22. :) Nimbrung lagi aahh…
    Sebenernya orng bule juga ga pinter2 amat, yang kita perlu bukan sekedar orang pinter tapi orang mental, pendidikan dasar aja belum bisa di penuhi apalagi pendidikan atau mengembangkan anak dengan kemampuan khusus, salah2 malah salah treatment…

    BTW aku kesindir neeh, meski ga merasa pinter… aku mo pulang deh…minggu depan… kali aja ada yang mau memanfaakanku, tapi klo ga ada yang menghargai dan diajak sharing knowledge… ya berangkat lagi…jangan salahin aku ya… ;)

    Evy

    Juni 14, 2007 at 12:19 am

  23. Menurutku orang pinter sudah banyak di Indonesia ini:
    - pinter korupsi
    - pinter manipulasi
    - pinter ngapusi rakyat
    - pinter memperjuangkan kepentingan sendiri (partai)
    - pinter menjual kekayaan alam ke luar negeri
    - pinter menjual BUMN strategis ke luar negeri

    Bangsa ini nggak butuh orang pinter lagi tetapi butuh:
    - orang yang bisa menciptakan lapangan kerja bagi dirinya dan orang lain
    - orang yang benar-benar peduli nasib rakyat
    - orang bisa dengan tegas mau meneruskan semangat Soekarno bahwa tambang-tambang di Indonesia tidak akan dijual ke luar negeri karena Indonesia sedang menyiapkan insinyur-insinyur yang akan mampu menambang sendiri semua kekayaan alam Indonesia.

    Kang Kombor

    Juni 14, 2007 at 5:00 am

  24. Ikut lagi nich..
    Betul banget mba Evy :) (salam kenal) bangsa ini memang secara makro bermasalah di mental, sepertinya mental inlander yang dihembuskan belanda selama 350 th sudah jd faktor genetik di tubuh kita ya…Waduh… semoga tidak dan jangan…bayangin saja, kalau mau naik kereta api kelas argo yg sdh jelas dpt tempat duduk aja kadang masih uyel-uyelan berebut naik…agak keterlaluan itu….
    bayangkan sebuah bangsa yang ingin jadi negara maju tapi secara makro mentalnya masih inlander, amtenaar, kuli…atau apalagi nyebutnya
    Bangsa ini khan yang berkuasa para politikus dan banyak yang asalnya dari “street fighter”.
    Kalau konsep pulang kampungnya mas Anjar yang dipegang, ya pemimpin yang di cari yang bisa mengedukasi lingkungannya, sekecil apapun cakupannya…biar pada punya mental bagus, biar ngerti kalau pemilihan presiden langsung sangat ditentukan sama mereka, biar ga gampang di sogok, dipolitisasi….di ini di itu…. tapi… pertanyaan baru muncul…gimana kalau mereka miskin, ga punya duit, laper…?? mau dong disogok…he-3…ribet banget bangsa ini…
    Abot tenan ki… topiknya mas Anjar…..
    Salam

    ojodumeh

    Juni 14, 2007 at 6:06 am

  25. selama semua aspek di negri ini masih dikontrol kekuatan politik, bangsa ini hanya butuh politikus, gak butuh yang laen……!

    canabiz

    Agustus 30, 2007 at 12:50 pm

  26. ehhmmm
    suka bingung dan pusing sendiri memikirkan bangsa ini….
    kapan ya kita bisa maju, kapan ya kita bisa menghargai rakyat sendiri….
    tapi saya tetep yakin, kita bisa merubah kebobrokan bangsa ini…
    masih banyak orang2 baik yang belum dikasih kesempatan untuk memimpin bangsa….
    perubahan mmg butuh waktu, kuncinya kita sabar untk menuju perubahan itu…
    MERDEKA!!!!!

    hanifa

    September 26, 2007 at 8:30 am

  27. ju2r ja menurut saya,,,yang terpenting bukan kepintarannya tapi keju2ran itu sendiri,,,coba semua orang bersikap ju2r dan terbuka ,,Insya Allah tidak terjadi mslah2 yang dihadapi oleh bngsa kita saat skg ini…ex:korupsi,kemiskinan,pengganguran,Krismon,..etc.dan satu lagi yang harus dibenahi adalh moral bangsa itu sendiri..bukan pada kualitas SDMnya..n mari kita perbaiki dari hal2 yang kecil dulu…

    arif

    Oktober 24, 2007 at 9:28 am

  28. saat ini indonesia membutuhkan orang yang menguasai teknologi. terutama di bidang oil&gas.
    Untuk itu, mari kita belajar yang semangat dan memajukan perminyakan indonesia.

    ito007

    Nopember 14, 2007 at 8:02 am

  29. ah,kalo hanya sekedar opini saja siy semua orang juga bisa nulis disini tp yang paling penting implementasi dr semuanya, masing2 hrs punya komitmen buat majuin bangsa ini lewat tindakan yang nyata, aku setuju ama pendapatnya arif,yg penting jujur..kalo bangsa ini jujur pasti akan diridhoi tuhan….amin

    senyum itu ibadah

    Nopember 14, 2007 at 8:26 am


Tinggalkan Balasan