Marah!
Saya punya trackrecord yang cukup baik mengenai soalan marah, dimarahi tepatnya. Dahulu sekali, saat masih di sebuah kantor yang ‘keras’ budayanya, saya pernah ditugaskan dengan seorang bos di sebuah kota abstrak cukup jauh dari Jakarta. Dalam situasi yang secara design sudah panas ini, ternyata pekerjaan pun tidak mudah diselesaikan. Ada saja masalah yang datangnya dari client, hingga lembur jam 2.00 dinihari menjadi pemandangan biasa.
Kira-kira kalau anda berada dalam situasi ini apa yang akan anda lakukan?
Yang bos saya lakukan adalah:
“Arrgghhh, apa sih ini… Prankkk”
Melempar remote televisi -hingga hancur-kedepan meja hotel, berteriak kejadiannya sekitar jam 1.00 dini hari, disaat kami sedang berkutat soalan pekerjaan. Kemudian listrik dihotel pun padam tiba-tiba dan saya pun berusaha tidur dengan perasaan tidak enak.
Ya, bos saya marah besar, si bos -yang sialnya satu kamar hotel dengan saya- semakin membuat hari-hari kedepan menjadi neraka. Buat saya, kenapa sih harus marah? dan kenapa sih harus meluapkan marah itu? dan kenapa harus dilampiaskan kepada saya -staf yang waktu itu hanya bisa manut sama si bos?
‘Penderitaan’ ini pun masih berlangsung panjang. Masih dalam episode yang sama, di lain hari si bos kembali marah ketika saya tidak sengaja menjatuhkan benda kesayangannya. Bos memaki saya dihadapan orang-orang.
“Bodoh kamu, kamu tahu engga di tas itu isinya apa!”
“Bodooo, booddooo banget sih”
Saat itu semua orang memandangi si bos dan saya, bingung, heran, tapi kemudian diam. Mungkin semua orang tahu tabiat si bos yang keras seperti itu.
Saya diam, memang saya tidak pernah menceritakan kejadian diluar kota itu kepada siapapun dikantor. Kesal sekali saya hari-hari itu, ingin rasanya segera pulang ke Jakarta. Buat apa kerja kalau harus berhadapan dengan orang seperti itu.
Ternyata ada yang lebih buruk
Sengaja memancing, saya sharing dengan beberapa teman mengenai pengalaman buruk ini, jawabnya ternyata:
“Kamu masih mending, si Jono tuh, dilempar binder mukanya, sampe berdarah tuh pelipis, terus disuruh pulang dari tempat client. Tahu engga clientnya itu dimana? 1 jam naik perahu, 2-3 jam naik mobil! dan itu pun tengah malam buta“
Alhamdulilah, seruku dalam hati. Entah maknanya masih banyak orang yang jauh lebih menderita, atau artinya aku harus lebih banyak belajar
PS: Akhir cerita, pasti happy ending, karena si bos pun akhirnya minta maaf, beliau pun hingga kini masih banyak memberi masukan kepada saya. Thanks bos, sorry dikutip dikit, kejadiannya ini sudah lama sekali kan sebenarnya ;)
pengalaman yang….. “menarik”. Kalau Bos suka marah-marah begitu, bukannya anak buahnya malah jadi tidak produktif yah? Njar, waktu dimarahin, kamu kerjanya jadi produktif karena takut kena marah lagi atau malah jadi gak produktif karena pikiran kacau?
untung bos saya nggak pernah marah & wise… :D
Bahar
Juni 15, 2007 pada 12:02 pm
biasanya sih jadi produktif karena takut. tapi buat untuk urusan analisis lho yah. dan rasa tidak puas biasanya tetap membekas apapun yg terjadi. kalo ada pilihan resign, hal hal kayak gini biasanya jadi point utama alasan untuk move out.
papabonbon
Juni 15, 2007 pada 12:37 pm
Lha Mas, koq baru sekarang dibahas? ehm ehm :D
Apa emang nunggu waktu yang tepat, atau postingan ini juga sebentuk “kemarahan” yang tak lekang dipendam masa?
sehingga selalu terkenang kenang :D
Fadli
Juni 15, 2007 pada 3:37 pm
tergantung orangnya juga sih
ada yang malah jadi termotivasi tapi ada yang malah mati kutu jadi gak bisa mikir jernih takut bikin salah lagi dan kena timpuk bogem mentah gak cuman binder :p
Well, tetapi secara umum dan wajarnya akan ada dendam atau kekesalan yang terkenang hingga kapanpun
Makanya bagi para Bos, jangan terlalu galaklah sama anak buah
Bolehlah sesekali marah dan menegur staffnya tapi masih dalam batas kewajaran dan harus tetap menjaga perasaan staff tsb
Salam,
riyantoro
Juni 15, 2007 pada 5:29 pm
Anjar,
Kita tak bisa memilih bos, dengan berbagai temperamennya. Yang penting tetap tenang, ada bos yang pemarah, ada yang sengaja marah2 untuk melihat apa anak buahnya kuat menahan stres.
Anjar laki-laki, terbayang nggak kalau hal itu juga menimpa cewek seperti saya, di tengah malam, didepan semua BoD? Tapi justru itu yang merekatkan saya…beliau minta maaf keesokan harinya…dan saya memahami kok (walau sebel juga saat dia marah2), karena sebagai CEO kan tekanannya tinggi.
Mendapat kritikan, omelan, baik dari bos ataupun dari klien..itulah yang membuat saya kuat, dan berusaha menjadi lebih baik. Gengsi kan kalau diomelin terus??
edratna
Juni 16, 2007 pada 9:14 am
Klo kita udah biasa di marahi sejak jaman kuliah…mulai dr ospek sampe mau lulus di depan pasen… sebenernya klo mahasiswa goblok khan berarti dosennya juga yg salah…kekeke… tapi anger management itu penting…
bener mbak Edratna, kritikan itu penting untuk menuju kebaikan… jd bagian dr proses belajar juga, cuman klo di marahin mulu, capek juga ya….cari boss lain aja deh… atau jd boss… halhahaha…
Evy
Juni 17, 2007 pada 5:20 am
Hahahaah….itu perusahaan apa? kalo perusahaan yg menuntut ke profesional an kerja harusnya gak ada bos yg seperti itu… :):):)
Saya ada pengalaman bos yg temperamen, bukan bos langsung sih…. Gampang aja sih, hehehe….
Waktu itu saya bantuin temen saya buat sewa beberapa tukang pukul yg serem2… pas si bos itu pulang kantor…mobilnya dicegat sama org2 sewaan itu dan di gertak…adalah..saya punya triknya.
Akibatnya…. seminggu kemudian, tabiatnya berubah 360 derajat…hahahaha…. itu dulu lho…
eh jangan ditiru cara saya ini :)):))
bibir_tukul
Juni 17, 2007 pada 6:10 am
Bos yang temparemental kayak gitu kalau belum kena batunya yah nggak akan kapok. Saya pernah kenal seorang atasan yang kalau marah nggak berperikemanusiaan lah pokoknya-nggak cukup pakai kalimat yang memerahkan telinga tapi juga pakai kekerasan fisik. Suatu hari dia menampar seorang pelaksana yang memang baru kerja, bawahan itu tenang saja…tapi besoknya dia mengajak bapaknya-seorang perwira menengah di satu angkatan (oh iya,kejadiannya masih jaman Orba)-ke kantor. Bapak perwira itu dengan tenangnya menyerahkan daftar nama keluarga sang atasan-lengkap dengan alamat rumah-dan berkata: kalau cuma “ngerjain” seluruh saudara anda sih masalah mudah Pak-semudah Bapak menampar dan menghina anak saya?!Langsung tuh atasan ketakutan luar biasa dan minta maaf sejadi-jadinya. Cerita selebihnya tidak saya ungkapkan-yang pasti itu atasan kapok untuk semena-mena untuk seluruh sisa hidupnya. Ha..ha..ha..
andri PH
Juni 17, 2007 pada 11:38 am
^^^
wakakaka, yang di atas tuh lucu bener…
Aku rasa sih wajar aja kalo ada bos yang marah , yang penting gimana kita bisa menghdapinya. Terutama bagaimana caranya menyampaikan ide ataupun ketidak setujuan kita terhadap keputusan atau arahannya. Artinya jangan sampai kita berkembang jadi karyawan yang “nurut” saja, karena itu tidak baik bagi personal development kalian. Kebetulan aku sendiri termasuk “tukang ngeyel” dan “tukang obrak-abrik” tatanan, jadi mesti pandai2 menghadapi BOD, apalagi menghadapi sorotan regional office di singapore ataupun headquarter di London :-)
Setiap orang kan pasti ada cara menghadapinya, disitulah tantangan seorang karyawan dalam “menjinakkan” bosnya. Namun jika udah gak tahan, ataupun ada unsur kekerasan fisiknya, maka selalu ada jalan untuk resign dan pindah :-)
andrias ekoyuono
Juni 18, 2007 pada 2:44 am
moga2 ga sampe dapat bos yg kayak gitu. Wong pernah dibentak dikit aja aku udah kesal. Beberapa kali juga ditegur dgn nada tinggi. Tapi emang sih, lama2 aku jadi tau kalo dia tidak bermaksud menyakiti, cuman ga bisa ngomong dgn halus aja. Lama2…walopun dia ngomongnya dgn nada tinggi, aku senyumin aja… ^^
mirna
Juni 18, 2007 pada 3:43 am
@ temen temen, ini kata kata temen alumni NTU dan NUS di spore :
- perusahaan yg mature, butuh diskusi, masukan dan pemahaman dari karyawan, danbersifat perusahaan jasa atau konsultan biaanya cari orang orang yg bener bener jago bahasa inggrisnya dan bisa mengekspresikan maksudnya dengan pilihan bahasa dan diksi yg baik. kalau mereka ambil ekspat, biasanya ambil orang india dan filipina, karena mereka sudah native.
- kalau tipical perusahaan yg pabrik, vendor lapangan, dan bossnya tipikal suruh suruh anak buah dengan gaya militer, model pak turut, biasanya mereka mau rekrut orang indonesia lulusan spore. karena iklim kerjanya memang bukan untuk mendiskusikan kerjaan secara detail dengan ekspresi ekspresi terhalus.
menyedihkan, namunini kenyataan. bahkan orang indonesia lulusan universitas di spore, yg notabene bahasa inggrisnya menurut kita juga sudah jago sehingga bisa masuk dan kuliah di sana, hanya bisa menembus pasaran kerja di perusahaan perusahaan kelas dua.
ini juga salah satu masalah dari ekspat yang orang indonesia.
papabonbon
Juni 18, 2007 pada 3:53 am
bibir_tukul :
……… dipotong ……….
Akibatnya…. seminggu kemudian, tabiatnya berubah 360 derajat…hahahaha…. itu dulu lho…
………. dipotong ………
360 derajat? berarti gak ada perubahan donk? pas muter 1 putaran…. ke ke ke ke ke…….
yuan
Juni 18, 2007 pada 4:16 am
@papabonbon: yo nggak sampe segitunya kali. Orang Indonesia yang nggak kerja di pabrik juga lumayan banyak kok.
meskipun demikian, saya cenderung setuju dengan pernyataan bahwa rata-rata kemampuan orang Indonesia yang di singapura untuk mengekspresikan ide dengan jelas kurang dibanding mereka yang dari India misalnya.
Bahar
Juni 18, 2007 pada 5:01 am
Yuan….
Hahahahahahahahaha… lucu juga kamu.. TAK SOBEK SOBEK
bibir_tukul
Juni 18, 2007 pada 5:18 am
iya, ekspresi dan pilihan kata papabonbon kurang detail :) makanya masuk di pabrik hahahhaha.
yang di perusahaan biasa juga banyak, dgn tipikal macam macam. cuman yang itu, yg masuk ke sana juga, masih mengeluhkan diskriminasi karena kemampuan berbahasa ini, yg memang ujungnya soft skill sih .. garuk garuk kepala.
nantinya berujung ketika msuk jenjang manajemen. bisa mental gara gara kemampuan komunikasi yg tidak memadai.
papabonbon
Juni 18, 2007 pada 5:21 am
kan ada filmnya, “angger management” (robert de niro) :)
Seperti orang pintar bilang, tak pernah ada solusi, yang ada bagaimana mengelolanya. Bukan mencari solusi melainkan bagaimana memanagenya..
Thamrin
Juni 18, 2007 pada 9:49 am
yah belajar untuk sabar euy….
memang siapapun orang itu dalam keadaan tertekan emosi memang selalu memuncak
orang bijaklah yang tau tentang kondisi mereka jika lagilabil dan tetap dalam batasannya.
arul
Juni 18, 2007 pada 2:41 pm
[...] Komentar menggelitiknya pak Andri tentang backing Posted in Negosiasi. [...]
Anjar priandoyo is Lifeauditor Negoisasi dengan preman? «
Juni 21, 2007 pada 2:50 am
boss yang tidak bisa mengontrol emosi tidak pantas jadi boss.. di tempat saya ada boss bully yang menghantam tombol lift dengan kursi… karena tidak sabar liftnya lama banget.. buat sy itu kelakukan yg sangat tolol dan arogan.. dan memang dari awal sy sudah tidak respek .. tidak ada harganya sama sekali di mata bawahan.
gundul pacul
Juni 21, 2007 pada 3:22 pm
Boss emang ada yg baik hati ada yang tidak, ada yg konsisten ada yg tidak, yg baik adalah
Ing Ngarso Sung Tulodo
Ing Madyo Mangun Karso
Tut Wuti Handayani
Gue kerja di bank, tau sendirikan bagaimana kerasnya kerja di bank, dengan tingkat keuntungan yangmakin kecil karena persaingan ketat, maka gaji tidak naik-naik, bonus pun jarang datang. tetapi kualitas pekerjaan dituntut habis2an..
salah satu yg bikin muak adalah perilaku boss yg tidak konsisten dengan ucapannya, salah satunya adalah jangan pernah mengecewakan client, boss bilang semua pegawai adalahpelayan client, karena inti dari bank adalah pelayanan . semua pegawai dipesanin seperti itu, pernah ada pegawai kena damprat client karena sebenarnya permasalahannya adalah tidak dapat terakomodasinya kebutuhan client dari produk bank kami, karena produk bank kami emang tidak bisa bersaing dengan bank lain terutama dgn bank swasta, produk bank kami terkesan kaku dan tidak fleksible mengikuti perkembanganpasar, atas hal tersebut client kami mengalami kerugian karena dia memakai produk bank kami yg tidak dapat memenuhi keinginannnya, jelas sekali kan ini salah produk, bukan salah pegawai, pegawai sudah bertindak sesuai sisdur.
tapi jadinya pegawai tersebut habis2an didamprat boss, mana dampratannya diulang2 setiap hari senin pagi di saat meeting pegawai, sekali dua kali gpp, tapi lama kelamaan siapa yg kuat…
tak berapa lama ada cerita dari client yg menceritakan bahwa dia sangat kecewa dengan boss kami, karena katanya boss kami pernah ngomong kasar ama client kami ,saat mereka kebetulan lagi ada acara bareng. dan satu hal lagi, ada cerita lain bahwa bossku ini kadang secara langsung minta di entertain yg tidak murah biayanya..
wah..wah..begitulah uilah boss…yyg tidak konsisten, asal ngomong….
kalau dimarahi gajinya gede gpp, kalau cuma pegawai bank kan gajinya gak gede
pegawai
Juni 4, 2008 pada 2:29 am
Boss tidak pernah salah…
humble
Juni 4, 2008 pada 4:12 am