Anjar Priandoyo

Jadi keselamatan kita bergantung gaji satpam 600 ribu?

with 14 comments

“Jadi bapak-bapak, ibu-ibu sekalian, dari 280 KK di RW ini, kita baru punya 15 orang satpam. Satpam ini kita gaji 600 ribu sebulan, diambil dari iuran keamanan warga 60 ribu sebulan, ditambah subsidi dari Bintaro Jaya 2.4 juta. Iuran kita ini termasuk yang paling murah, dibandingkan Puri Bintaro -cluster paling elit di Binjay- 75 ribu, Kuricang 65 ribu, Graha Taman lebih mahal lagi”
Pertemuan warga RT2/8 Permata Bintaro.

Pertemuan RT yang diselenggarakan 3 bulan sekali ini, merupakan satu-satunya wadah berkomunikasi antar warga diperumahan ini. Memang sangat terbatas mengingat kesibukan masing-masing orang -sehingga rumah hanya dipakai untuk beristirahat- dan gaya ‘ga mau tahunya’ orang kota membuat acara ini jadi sangat penting.

Issue keamanan merupakan issue utama yang dibahas malam itu. Belum lama ini komplek kami kebobolan, dimana ada 7 mobil yang hilang kaca spion + tapenya dalam satu malam. Mungkin masalah klasik sebuah perumahan -yang terkesan elit- dan punya gap besar dengan kampung sebelah tembok komplek. Sebuah masalah yang hampir merata terjadi setiap perumahan di Jakarta.

Saya dan dinda, -pasangan rookie- paling muda (dan paling culun) di pertemuan RT malam itu cukup terbengong-bengong mendengar penjelasan dari pengurus RT mengenai issue seputar keamanan dikomplek ini. Beberapa warga -yang tampaknya ‘kritis’- pun mempertanyakan seputar SOP bila terjadi pencurian, kebakaran, bagaimana kualitas satpam -yang ternyata diambil dari penduduk sekitar-, sampai issue gaji yang rendah -dibawah UMR 900ribu- tidak adanya jaminan asuransi, hingga perencanaan ‘strategis’ bagaimana caranya biar komplek ini lebih aman.

Ternyata, dari hasil investigasi dan pengalaman 6-10 tahun para pengurus di komplek ini, memang tindak kejahatan ini memiliki siklus yang sudah teratur, hampir 4-6 bulan sekali terjadi kecurian. Konon sang kawanan pencuri memang tidak jauh-jauh dari komplek ini. Warga sekitar paling, dan satpam dicurigai mengerti tapi diam.

Apakah kualitas satpam menentukan?
Sewaktu mengaudit di Wisma Mulia -yang terkenal dengan 5 star servicenya itu- alias gedung paling mahal di Jakarta. Petugas keamanan bertuxedo, fasih berbahasa inggris, bertubuh tinggi tegap pun bisa saja kebobolan. Screening bertahap di lobby, disetiap lantai dengan metal detector, bongkar2 tas, cek serial number laptop, 24×7 CCTV pun tidak ada artinya bila pencurinya orang dalam: OB, petugas mailing, ataupun karyawan sakit hati.

Jadi apa sih metode pengamanan yang paling efektif untuk rumah komplek seperti ini?
Apakah menggaji satpam yang berkualitas -dengan kata lain menaikkan iuran keamanan-?
Apakah koordinasi dengan preman dan aparat setempat -yang sudah dilakukan-?
Apakah cara preventif, gembok, alarm, lampu sorot?
Apakah cara holistik, kurang beramal, kurang sedekah?

Apapun, selama kita masih tinggal di republik yang panas ini, tidak ada sesuatu apapun yang bisa menjamin keselamatan kita selain kita sendiri.

Buat bapak-bapak, mengutip kata-kata tokoh fiksi pemimpin mafia di film godfather
“Seorang lelaki baru disebut lelaki ketika ia berkumpul bersama keluarganya”
Artinya? tanggung jawab suami untuk menjaga keselamatan anak dan istrinya, bukan satpam mas!
*olahraga dulu ah, dinda masih tidur, semalam acara RT hingga jam 23.00

About these ads

Written by priandoyo

Juni 18, 2007 at 5:41 am

Ditulis dalam Pekerjaan

14 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. OOT:
    di permata bintaro iuran keamanan yg 60rb sebulan masih ditambah konsumsi siang/malam satpam yg digilir tiap rumah ga mas?

    osinaga

    Juni 18, 2007 at 7:00 am

  2. baru diomongin udah kejadian, satpam jadi preman kuli angkut . Siang ini satpam kompleks kurang ajar sekali, dia berani memasukkan preman, dan memaksa bude saya untuk membayar 300 rb sebagai uang rokok untuk menurunkan barang… :( mo lapor ke siapa coba?

    nungqee24

    Juni 18, 2007 at 7:38 am

  3. hiyaiks … pusing banget tuh.

    papabonbon

    Juni 18, 2007 at 7:43 am

  4. kebetulan aku tinggal di citra gran-cibubur blok C.
    Sistem keamanannya seperti ini:
    – Pakai sistem cluster, single gate di tiap blok.
    – Ada patroli satpam, baik satpam blok maupun mobil patroli dari satpam perumahan.
    – Ada biaya keamanan bulanan yang ditarik estate management dengan parameter luas tanah yang dimiliki.
    – Tamu diharuskan meninggalkan KTP di pos satpam/cluster, termasuk taksi yang mengangkut penumpang tamu.
    – Arisan ibu-ibu melakukan inisiatif dengan bergiliran menyediakan makan siang buat satpam blok.
    – Arisan ibu2 juga berinisiatif mengumpulkan sumbangan sukarela rutin (dengan jumlah tetap tiap KK) untuk menambah honor satpam.
    – Ada pengumpulan THR buat satpam dari warga tiap lebaran.
    – Aku pribadi cukup kenal dengan satpam dan kadang ngasih2 rokok atau makanan gitu.
    – Kalau ditinggal keluar kota, maka rumah dititipin ke satpam. Biasanya kalo ada tamu pas kita keluar kota, maka ditahan di gate blok kita, lalu mereka nelpon kita dulu untuk konfirmasi.

    Alhamdulillah boleh dibilang sampai saat ini blok kita aman, satpamnya juga sangat bersahabat. Mobil ditinggal di luar juga gpp, bahkan pada suka manasin mobil di luar n ditinggal gitu aja. Semoga tetap seperti itu.

    andrias ekoyuono

    Juni 18, 2007 at 8:03 am

  5. Kalau daerah Bintaro sekitar sektor 9 dan BSD sudah terkenal banyak tukang palak yang meminta paksa kalau kita mau memasukkan barang. Jangan coba-coba kita menolak dengan keras, wah bisa-bisa satu kampung plus satpam komplek ikut men-demo rumah kita. Kawasan kota wisata dan legenda di daerah cibubur juga sama, tapi lebih teratur dan pihak satpam tidak terlibat. Artinya kalau dalam tahap pembangunan rumah saja tukang paksa kulit angkut itu berkiprah, kalau pindahan barang tidak. Walau kadang-kadang ada yang coba-coba, tp kalau kita menolak yah mereka nggak maksa. Modus operandi mereka sama, lewat tukang ojek-atau bahkan satpam sendiri yang ada di depan gang. Wah mereka sangat responsif sekali, selang 5 menit barang-barang di depan rumah kita eh mereka sudah datang…ruarr biasa..Yang jelas peroleh nomor telepon kantor polisi terdekat..jaga-jaga kalau mereka nekat. Memang daerah bintaro sektor 9 dan sekitarnya dari dulu lumayan rawan. Penduduk asli yang notabene kurang beruntung dalam pendidikan & ekonomi, serta pendatang yang punya nasib yang sama menjadikan kita harus ekstra hati-hati..(jadi ingat pernah kehilangan motor waktu kuliah di dekat2 sana..hikss)

    Ingin jadi IT Auditor Juga

    Juni 18, 2007 at 8:38 am

  6. Walau kami tinggal di kompleks rumah dinas, keamanan nggak terjamin, awal-awal tinggal di kompleks kehilangan barang-barang kecil.

    Akhirnya mengamankan diri sendiri, kompak dengan tetangga samping kiri kanan rumah, depan belakang rumah, saling menitip kunci kalau kosong. Mengapa menitipnya di tetangga? Karena tetangga tahu kalau rumah kita kosong, seringnya ada orang sok kenal, belagak saudara dan oleh tetangga dibiarkan….ternyata menguras isi rumah.

    Nahh… Anjar dan Nunung sering turne kan? Bawakan oleh-oleh untuk tetangga dekat, walaupun cuma sedikit, juga satpam…paling tidak dia merasa diperhatikan. Setelah saya “nguwongke”…rumah saya aman tenteram, padahal kadang lupa mengunci pintu rumah dan pintu pagar malam hari.

    Dan…satpam sering menongkrong depan rumah, saat saya pindahan mereka menawarkan untuk membantu…jadi yang utama adalah menjalin hubungan baik dengan sekitar.

    edratna

    Juni 18, 2007 at 8:39 am

  7. ha…ha…bwt para suami2, jadilah suami siaga buat anak istri, jangan sampai keduluan satpam, ntar mereka di emabat ma satpamnya gimana??? uppss..

    the23wind

    Juni 18, 2007 at 1:52 pm

  8. Lebih baik di outsourcing saja ke pershaan yg profesional, konsekuensinya rada mahal, tapi kalau kita/warga komplain atau inging improvement lebih enak daripada punya keamanan yg partikelir/dari sekitar. Siapa yg mau manage?

    Rimar

    Juni 18, 2007 at 2:11 pm

  9. Saya rasa semua orang yang berada di sekitar kita memiliki peran penting dalam keselamatan kita.. :)

    arul

    Juni 18, 2007 at 4:05 pm

  10. Mau murah kalo njaluk selamet. hehehehe…… Sama saja kan seperti menyewa programmer (baik yg murahan atau yg mahalan), programnya pasti aja banyak glitch-nya!! hehehe……

    Yari NK

    Juni 19, 2007 at 4:51 am

  11. pager tai lebih efektif daripada pager tembok. setuju dengan bu edratna yang meng-uwong-ke lingkungan sekitar. tapi ini masih teori. saya belum praktek sendiri :p

    jim

    Juli 31, 2007 at 9:52 am

  12. mungkin penggunaan jasa outsourcing di lingkungan perumahan bisa dipertimbangkan, tapi yang harus diperhatikan adalah memilih perusahaan outsourcing yang berkualitas dan dapat dipercaya, karena sekarang ini perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengamanan ada ribuan..

    mmhh… pak priandoyo yang menulis di http://www.gardusecurity.com kah? foto yang ada disana ng-copy dari http://www.wirasandi.com kah?

    Tiara

    September 4, 2007 at 4:43 am

  13. Mas Anjar,
    sebaiknya satpam kampung itu ada pengawas/koordiantornya dari pihak kepolisian atau tentara. Otomatis perlu gaji koordinator satpam tsb. Jadi kita kalo komplin ke polisi/tentara tsb lebih safe. jadi tidak langsung berhadapan dengan satpam dari kampung .Memang susah berhadapan orang kampung/penduduk asli..walaupun saya juga dari kampung

    Oh ya iuran keamanan di Graha Bintaro GR.29 sudah mencapai 100 rb/bl untuk keamanan, acara 17 an, dan tahun baru.

    sutomo_asngadi

    Februari 20, 2008 at 9:33 am

  14. Menurut saya, rekan-rekan perlu memahami dasar dari pengamanan. Yaitu pengamanan fisik,kekuatan koordinasi dan pelayanan. Sebenarnya contoh komentar sebelumnya sudah mewakili hal tersebut. Tinggal kita lihat lagi,apakah fokus kita sudah melingkupi keseluruhannya ?
    Jangan hanya fokus pada personal satpamnya aja, tetapi apakah kita sudah memperkuat lingkungan dengan koordinasi aktif( semua komponen ) ? Kesejahteraan personil memang perlu, tapi wawasan pengamanan mereka hrs diasah. Pertanyaannya adalah siapa yang mengasah dan bertugas aktif koordinasi ( dg wawasan mereka yg terbatas ). Satpam yang baik bukan yg berhasil menangkap maling, tetapi yg bisa meniadakan maling.apapun caranya !

    yudha

    Desember 22, 2010 at 11:59 am


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 495 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: