Anjar Priandoyo

Cukup tidak cukup?

with 12 comments

Tabungan saya ada berdua sampai saat ini kalau seandainya digabung baru sekitar 50jt dan kita akan lokasikan dana 30 jt utk biaya pernikahan. Jadi kita hanya punya sekitar 20 jt utk persiapan rumah, krn itu saya masih menunggu memiliki rumah 1 tahun setelah kita menikah, jadi sekitar thn 2009.

Target rumah yg sederhana saja, tanah 100m & di daerah Depok, karena berfikir lokasinya dekat dengan ibu saya dan harga di perumahan depok masih cukup murah.

Saya juga bertanya untuk biaya hidup di Jakarta ini, kira-kira dengan penghasilan kami segitu apakah cukup? (diemail sebelumnya total income 7 juta) karena terkadang ada rasa takut dihati kami utk berumah tangga mengenai biaya yg cukup tinggi. Kami memutuskan menikah tahun depan (dengan usia kami yg masih muda) karena untuk menghindari mudharat-nya. Tapi terkadang rasa takut itu jg tetap ada.
Mbak Rini via email, sambungannya email ini

Komentar:
Saya tidak tahu jawaban pasti atas pertanyaan ini, saya hanya ingin mendukung niat Mbak Rini untuk menikah cepat -toh pekerjaan etc yang infrastruktur sudah jelas kan- masalah tinggal mungkin atau tidak mungkin. Saya hanya ingin menyampaikan, bahwa banyak orang yang juga mengawali start seperti mbak. Saya juga tidak tahu hitungan statistiknya pernikahan mana yang lebih sukses. Tapi apapun kalau diniati untuk sesuatu yang baik, hasilnya pasti baik.

Ok, bicara tentang hitungan:
1. Biaya DP berkisar 20% dari harga rumah, jadi mengingat range di depok dalam kisaran 150-200 juta. Paling tidak budget DP harus 40 juta, terkecuali ada program promo seperti Depok Maharaja dan sebangsanya dimana DP dapat dicicil secara bertahap.

2. Jadi punya rumahnya berapa lama? Yang mbak Rini plan, itu punya rumah atau akad kreditnya? Akad mungkin bisa cepat, tapi pembangunan rumah sangat bergantung dengan kondisi developer. Kalau masih bisa ‘nebeng’ di rumah orang tua, mungkin kesempatan memilih akan lebih besar.

3. Biaya hidup cukup engga? KPR adalah metode menabung yang paling disiplin. Asumsikan dari 7 juta, 2.5 juta untuk KPR, maka sisanya adalah 4.5 juta, kira-kira cukup engga? susah njawabnya. Yang jelas pengalaman saya, berapa pun gaji kita pasti habis. Tapi Mbak, kalau mau dihitung matematis, kalau pernikahan itu harus ditunda 3-4 tahun lagi misalnya, ga akan ngaruh juga, dengan kenaikan gaji 10% pertahun misalnya, kondisinya masih sama seperti sekarang.

Hidup (karir) kita mungkin akan signifikan setelah 15 tahun kelulusan kuliah misalnya, tapi siapa yang menjamin selama 15 tahun menunggu itu, kita bisa bertahan dari godaan. Again, kalau diniatkan untuk kebaikan, hasilnya juga baik.

Akhirnya, menikah memang setengah agama, modal nekad, tugas pria mengepalai rumah tangga, tapi tugas perempuan untuk membuatnya jadi kenyataan.

Written by priandoyo

Juni 20, 2007 pada 9:38 am

Ditulis dalam Tips Membeli Rumah

12 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).

    jadi nikah siapa takut asal sesuai dengan tuntunan Allah ok:D

    daus

    Juni 20, 2007 at 10:34 am

  2. Menikah taun depan?
    hehehe, ketahuan..! pasti pingin pas 8 agustus 2008 kan?
    biar jadi 08-08-08..

    ~Mas Kop~

    Juni 20, 2007 at 10:43 am

  3. Kalo boleh saya mau bercerita pengalaman saya :)

    Waktu saya menikah dulu semua keperluan menikah dibeli satu2, setiap bulan disisihkan dari gaji yang tidak besar, sampe akhirnya hampir semua keperluan untuk acara tercukupi… (atau tepatnya dicukupkan :) )

    uang di tabungan? hampir tidak ada!, karena gaji terpakai semua, termasuk untuk cicilan rumah.. tidak terpikir masalah nanti kalau sakit atau kalau punya anak dari mana uangnya..

    tapi ternyata menikah membawa banyak rejeki, kehidupan berputar, nasib berubah, rejeki datang dengan tidak disangka-sangka.. dan selanjutnya punya anak. bertambah lagi hal-hal yang dulu tidak sangka bisa kami sekeluarga nikmati dengan cepat..

    jadi saran saya jangan takut tidak cukup, karena hal itu tidak benar-benar berhubungan dengan jumlah pendapatan :)

    weathertop

    Juni 20, 2007 at 1:07 pm

  4. bismillah saja mas…….

    menikah itu….katanya….bisa mendatangkan rizqi

    mrtajib

    Juni 21, 2007 at 1:58 am

  5. mbak yang baik, mau sharing neh. Dulu saya memberanikan diri alias nekad menikah dikala gaji saya waktu itu (thn 2005, di bandung) sebesar 1.2 juta. Gaji calon istri waktu itu di bandung sebesar 1 juta. Jadi kalau ditotal sekitar 2.2 Juta. Ah lagnsung aja nekad kita nikah. Pasrah kpd Allah dan yakin akan ada rejeki-NYA. Ortu emang menyakan lu bener neh mau nikah. Lu punya tabungan berapa. Yah tabungan ku cuman 6 Juta (1.5 Tahun kerja). Untungnya sang calon istri waktu itu ngerti dan kita sih berharap nikahan gak mewah lah.

    Alhadulilah pernikahan dialngsungkan januari 2005. Dan kite tinggal di PMI (orang tuaku). Emang istriku seh kagak nyaman, ya tapi belajar dulu lah cara berumah tangga ke ortu. Maret 2005 gak ada hujan gak ada angin ada tawaran kerja di mega kuningan dengan gaji cukup lumayan, alhadulilah bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bisa nabung dan beli motor. Juli 2006 anak ku lahiran dengan proses Cesar di RSCM, dan alhamdulilah karena istriku punya askes, cuman bayar kurang dari 2 juta. RSCM is our favorite hsopital. Banyak ahli dan murah. Gimana kita mintanya, kalau bisa kita minta ama dokter ahlinya (Dosen FK UI). Ngeri juga seh ada beberapa orang nyaranin jgn lahiran di RSCM, tapi nyatanya istri gw aman2 saja. Terima Kasih ASKES.

    Rahasia Rezeki : Doa, Silaturahim, Rutin ngasih uang bulanan ke Ortu, Sedekah buat mesjid / pengajar TPA, dan Pantang menyerah!

    isal

    Juni 21, 2007 at 2:01 am

  6. Kuncinya ada di wanita. Kalau wanitanya bisa mengelola keuangan dengan bijaksana, insyaAllah berapapun pendapatan pasti cukup. Mulai dari urusan resepsi, akad nikah, membeli rumah, makan, sekolah anak, dll. Ini pesan dari ibu saya semenjak saya masih lajang sampe detik2 menjelang pernikahan.

    Kuncinya adalah keyakinan bahwa rezeki dan kecukupan itu semuanya dari Allah, bukan dari besarnya gaji yang kita dapat.

    nungqee24

    Juni 21, 2007 at 2:35 am

  7. gaji 7 juta cukup banget deh… saya aja bisa hidup nyaman ngontrak di Jakarta dgn istri, 1 anak balita dan pembantu, hanya dengan gaji istri 2,5 jt, plus sedikit bonus. Ortu berdua di Madiun/Klaten dan kita juga sering kirim dana utk berobat, dsb. Itu juga sabtuminggu masih bisa jalan2 naik taksi/motor meski tidak mewah ya. Gaji saya semua ditabung, dan hanya diambil utk keperluan yg besar2 spt DP rumah, kontrak rumah 7,5 jt/th, beli motor dsb. Supaya duit saya susah diambil, gaji saya ditaruh di bank DKI yg aman dan jaringannya sedikit, tanpa ATM pula.. percaya deh, rezeki akan datang. Ingat konsep rejeki itu tidak selalu berupa uang, tapi bisa keluarga sehat, tidak kena masalah aneh2, anak pintar shg dapet beasiswa, dsb

    roel

    Juni 21, 2007 at 4:42 am

  8. yang penting perencanaan dan hidup sederhana ajah cukup.

    arul

    Juni 21, 2007 at 5:18 am

  9. waduh…itung2an duit lagi…capeee dee

    the23wind

    Juni 21, 2007 at 6:10 am

  10. hmm..sangat berarti buat aku yang mau nikah akhir taun ini (insya4JJI)..hehehe

    @ the23wind
    itung2an duit perlu lhoo..wong zakat aja itungannya duit (harta)..mosok kita ga boleh mikirin itu, padahal suami juga harus memikirkan bagaimana mendatangkan rezeki bagi keluarga..duit lagi to?

    ABe

    Juni 21, 2007 at 8:27 am

  11. ups..nambah
    tentu tidak menafikkan tulisan mas Roel ya..rezeki tidak selalu uang memang :)

    ABe

    Juni 21, 2007 at 8:32 am

  12. Ehm…..menarik juga nih.
    Aku jadi pengen nikah. ^_^
    Aku umur 24, kerja di salah satu BUMN Terkemuka di kota Gresik. Gaji cuma 3 juta sebulan. Tabungan msh 5,5 juta.
    Taon depan InsyaAllah uda bole nikah dan uda diangkat jadi pegawai tetap. Masa training selesai.

    Dodit

    Juni 25, 2007 at 2:17 pm


Tinggalkan Balasan