Anjar Priandoyo

Rumah tumbuh vs Beli rumah baru

with 5 comments

Jono teman baik saya -lulusan teknik sipil PTN ternama- orangtua kepala dinas PU, berasal dari trah pemborong bangunan, selalu merekomendasikan membangun rumah tumbuh kepada saya. Rumah tumbuh yang dibangun separuh-separuh ini menurut beliau paling cocok untuk saya.

“Jadi Jar, gini strateginya, pertama lu beli tanah kaplingan dulu, tarolah 150 juta, asumsikan dapet tanah 150 m2 , lumayan gede kan. Dah itu baru lu bangun bertahap, lu kan sekarang lum ada baby, nah bikin aja tipe 21 dulu, seadannya deh, nah ntar kalau dah punya duit baru dilebarin lagi kesamping, atau dibangun bertingkat, itu hasilnya pasti ok, hidup tenang bebas utang lagi”

“Lagian Jar, gw paham, kondisi finansial lu sekarang emang lum maksimal, tapi lihat deh 20 tahun lagi misalnya, rumah lu sekarang tuh bakal kerasa sumpek banget. Nah kalau dari awal lu beli yang tipe maksa kaya gini, mau diupgrade kemana lagi? bikin basement?”

Saya membenarkan pendapat Jono, tapi jelas tidak mungkin menyetujuinya, lha wong saya ndak punya darah ‘tukang’ bangunan sama sekali. Bisa bubar jalan kalau saya bikin rumah sendiri sekarang. Tapi Jon, saya ga sebodoh itu kok.
“Gini nih, Jon, misalkan rumah saya sekarang berharga 200 juta, nah nanti kalau gaji saya sudah naik 10x lipat, saya bakal beli rumah baru seharga 600 juta. Rumah lama tinggal di jual lagi. Cerdas kan Jon”

Jono boleh bisa kagum dengan analisa saya waktu itu, sampai saya menerima email seorang teman. Ternyata strategi membeli rumah baru pun tidak semudah kelihatannya.

*Cek email dari teman saya dulu ya sebelum komen.

Written by priandoyo

Juni 20, 2007 pada 1:35 am

Ditulis dalam Tips Membeli Rumah

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Njar, darimana ngecek email temenmu?

    Buat yang nggak ngerti bangunan, ada beberapa alternatif untuk membangun rumah, dengan menggunakan jasa kontraktor,tentu yang dipilih sendiri….

    Kalaupun lulusan Sipil, kata temanku yang S1 nya Sipil ITB, bangun rumah sendiri sering nggak disiplin, waktu dan biaya molor….ternyata pendapat dia betul…rumah saya di Bandung kan bolak balik di rombak, Anjar lihat sendiri kan?

    Menurutku rumah tumbuh menarik, asal kita sudah menetapkan akan tinggal didaerah itu dalam jangka lama…jadi yang penting adalah lokasi…lokasi…lokasi… (kan ada yang senang didaerah sepi, ada juga yang senang tinggal di kota kayak saya, walau rumah kecil)

    Memang kalau bangun rumah sendiri (entah oleh kita sendiri atau melalui kontraktor), pemilihan ruang bisa disesuaikan dengan keperluan keluarga.

    Kapan Anjar nengok rumahku di Cilandak, kita bisa ngobrol di Citos (hanya 10 menit jalan kaki)…bisa sharing…dan jadi bahan tulisan di blog mu.

    edratna

    Juni 20, 2007 at 2:04 am

  2. Anjar,

    Memang definisi SWAP apa? Karena dalam istilah ekonomi agak berbeda…lihat blog nya Bahar.

    edratna

    Juni 20, 2007 at 3:18 am

  3. Bukan bu, ini istilah umum aja, maksudnya mengganti kali ya, bukan term economics-nya Mas Bahar. Detail emailnya cukup menjelaskan tuh bu. Karena si penanya menggunakan istilah swap, saya juga pakai istilah swap.

    priandoyo

    Juni 20, 2007 at 3:29 am

  4. [...] bacaan lainnya : – yang ini – yang itu – yang sana [...]


Tinggalkan Balasan