Kadang bertanya pun justru membuat kita makin bingung
Memilih rumah merupakan tahapan yang paling membingungkan dalam memiliki rumah. Pembiayaan meski ribet bukan masalah yang paling membingungkan, karena secara teori, pasangan bekerja (dengan cukup tabungan) sudah bisa membeli rumah, -tergantung dengan lokasi dan ukuran serta pengharapan.
Biasanya setelah bingung, kita akan mencoba bertanya pada orang-orang terdekat kita, kepada orangtua, kepada developer misalnya. Dan pada prakteknya ‘konsultasi’ ini justru membuat kita semakin bingung. Berikut daftar orang yang saya sarankan ‘tidak perlu didengar’ karena justru akan membuat kita bingung.
1. Saudara dekat (Keluarga besar)
Saudara dekat adalah pihak yang sangat tidak independen dalam memberi masukan tentang rumah. Orang-orang dalam kategori satu ini biasanya sudah apriori (sok tahu) dengan kondisi kita. Saudara dekat, bisa om, tante, pak lek, bude biasanya akan melihat kondisi kita dari kondisi orang tua kita atau kondisi kita saat kecil.
Pernikahan adalah suatu kondisi dimana, seorang pria yang culun, bisa menjadi sangat dewasa, atau kondisi Mba Titi yang dulu malas-malasan menjadi sangat optimis. Faktor kedekatan, kecemburuan, ataupun signifikan mempengaruhi akurasi pendapat yang diberikan. Saran saya, kalau anda di challenge, biarkan saja, lha yang tahu persis kita kok.
2. Orang Jakarta
Penduduk asli Jakarta atapun yang telah 2-3 generasi tinggal di kota ini seringkali tidak memberikan pendapat yang akurat. Faktor preferensi tempat tinggal ditentukan dari pengalaman masa kecil bisa membuat saran yang diberikannya sama sekali tidak tepat bagi kita.
Teman baik saya, besar dan lahir di Koja, Tanjung Priok. Beliau tahu persis bagaimana dulu Kelapa Gading merupakan sebuah rawa yang kemudian dijadikan komplek perumahan elit. Rumah impiannya adalah rumah didaerah Koja, bukan Kelapa Gading. Teman baik yang lain, yang bergenerasi-generasi tinggal di Depok akan menjadikan Depok surga dunia, lebih baik dari lokasi manapun.
Belum lagi masalah jarak, spatial, topografi dan sebangsanya.
“Kenapa ga di Tebet aja Njar?, kenapa ga di Slipi aja Njar?, Bintaro kan jauh banget tuh!, Apa? Bogor?”
Pertanyaan-pertanyaan wajar dari ‘orang Jakarta’ ini biarlah menjadi angin lalu. Kalau ada dananya, ga mungkin lah pilih disini.
3. Petugas KPR bank
Ini dia, salah kaprah lainnya. Petugas KPR bank memang tidak dididik untuk memberi saran dimana lokasi terbaik untuk tempat tinggal. Padahal secara data, petugas KPR harusnya punya data, dimana sebaran nasabah, program KPR yang diambil dan lokasi perumahan. Sangat sedikit petugas KPR yang bisa membantu kliennya menemukan lokasi terbaik, ketika budget yang diajukan tidak cocok.
Karena tidak ada rumah sempurna!
Kebingungan yang kita hadapi ini wajar, karena tidak ada satu pun rumah yang sempurna. Rumah megah 2 lantai di Menteng pun memiliki kekurangan, apalagi komplek-komplek perumahan ‘beda tipis’ dipinggiran Jakarta.
Pihak-pihak berkepentingan seperti developer rumah, security komplek pun sebenarnya tidak bisa dijadikan sandaran untuk menilai rumah yang terbaik bagi anda. Saran saya, sering-seringlah main ke rumah teman atau kerabat (pasangan muda) anda yang memang tinggal di lokasi tersebut. Tanyakan kondisi lingkungannya, tanyakan bagaimana proses KPR-nya. Berani taruhan, pasti anda akan jadi optimis, anda akan yakin bisa memiliki rumah!


Yups.. cocok banget advis ini. Silaturahim katanya memperlancar rezeki kita, termasuk rezeki untuk memiliki rumah. Saat kita bersilaturahim, setidaknya banyak informasi terpercaya yang bisa didapat. Dari mulai info soal adanya tanah/rumah murah disekitar situ yg mungkin tidak kita dengar dari tempat lain, seperti apa lingkungan tetanggaannya, sampai napak tilas tips memperoleh rumah/KPR dari kolega kita. Makanya jadi pingin silaturahim ke tempat Mas Anjar nih.. ;D
Saya juga tidak mudah percaya penuturan orang lain tentang lokasi rumah sebelum saya lihat & alami sendiri, kecuali dalam kasus silaturahim langsung ke rumah seperti di atas ya.. kenapa? karena persepsi seseorang akan jauhnya suatu tempat, enaknya suatu pemukiman, macetnya suatu jalan, bisa berbeda-beda. Orang yang sehari-harinya tinggal di sekitar Margonda Raya mungkin dalam mendefinisikan ” batas disebut macet” tidak sama dengan orang yang tinggal di Bogor misalnya. Toleransinya bisa beda. Jadi, untuk mengukur feasibilitas sebuah lokasi rumah saya lebih senang untuk survei sendiri & mengalami sendiri atau silaturahim ke rumah teman.
Yang sekarang ini belum nemu caranya adalah, gimana caranya survei suasana jam berangkat kantor di daerah Cibubur, Bekasi & Depok misalnya.. Secara saya tinggal di Bintaro gituu.. :D
zidanie
Juni 21, 2007 at 4:18 am
Depok I-Manggarai
KRL: 40 menit perjalanan di atas rel + 30 menit nunggu + 30 menit angkot (anytime)
Sepeda motor: worst case: 1 jam 30 menit via Pancoran lagi padet2nya. best case: 40 menit via Pancoran lagi agak longgar. optimal: 45 menit via Kalibata-pengadegan. (Berangkat jam 7.00-9.00 WIB). Sepeda motor bisa menyelinap lewat kampus UI Depok untuk motong Margonda.
Mobil: Berangkat jam 6.30 WIB via Srengseng Sawah-Lt. Agung-Ps. Minggu. Waktu tempuh: 1 jam 30 menit.
Berangkat jam 7.00 WIB lewat jalur sama, waktu tempuh: 2 jam (bisa lewat).
Manggarai-Depok 1
KRL: sama dengan berangkat. Tapi bedanya mungkin lebih lama cari KRL yg layak dinaiki
Sepeda motor: 1 jam. Macet di Pancoran & Ps. Minggu. Mau lewat Kalibata-Pengadegan juga antri Ps. Minggu. Kalo pulang jam 22.00 ke atas, dapet lampu ijo terus dari pancoran sampe ps. Minggu, cukup 20 menit deh. Asal gerbang UI masih buka … hihihi (tutup jam 23.00)
Mobil: 1.5-2 jam rata2. Jalur pulang lewat Cilandak-Ciganjur. Atau Lt. Agung-Srengseng Sawah. No Margonda :P
jim
Juli 31, 2007 at 9:57 am
kuningan-cibubur (kowis) :
jam 9 mlm, lewat tol kota, tol jagorawi, 45 menit – 1 jam
wong ndeso
Juli 31, 2007 at 10:48 am
Buat saya kalau mencari rumah yang terpenting sarana transportasinya, serta cita2 akan seperti apa keluarga kita kelak. Beberapa kawan saya banyak yang orangtua-nya ingin punya rumah di dekat tempat kerjanya, tapi anaknya disekolahkan di sekolah negeri top jakarta yang jaraknya minta ampyun jauhnya.
the catfish
Januari 24, 2008 at 1:59 pm