Raja, Satria dan Rakyat jelata
Juni 25, 2007 — priandoyoRaja adalah fenomena sosial dimana seseorang menciptakan sistem atas kumpulan orang yang sadar ataupun tidak sadar mematuhinya. Raja yang kuat adalah raja yang bisa menciptakan ketergantungan lingkungan, orang lain bahkan kumpulan orang yang jauh lebih besar dan kuat dari pada dirinya.
Dikantor, raja bisa jadi putra mahkota, -anak bos- yang tidak ‘capable’ untuk memimpin, seorang raja yang kuliah di Inggris karena fasilitas bapaknya, seorang raja yang begitu balik kampung langsung memimpin pabrik beraset 10 T. Raja ini tidak ada apa-apanya dibandingkan jendral-jendral si bapak yang membantunya naik diposisi sekarang. Siapa yang lebih hebat? si jendral atau si raja?
Seorang GM area Makassar -jauh dari kantor pusat- yang membangun sistem dan aturannya sendiri bisa disebut raja kecil. Raja kecil ini hidup dalam fasilitas mewah -lebih mewah daripada fasilitas C-level dikantor pusat. Raja kecil ini memiliki posisi tawar yang sangat kuat, bernegoisasi langsung dengan supplier di wilayah. Si raja kecil ini adalah tak terbantahkan lagi, raja yang kuat.
Satria juga adalah fenomena sosial, layaknya cerita dalam dongeng dimana seorang anak kampung menuntut ilmu perang, bergabung dalam legiun perang di negerinya kemudian menyerahkan hidup matinya demi si raja. Si Satria merasa telah melakukan hal yang terbaik dalam hidupnya, melakukan sesuatu yang benar.
Juga dikantor, satria bisa jadi seorang auditor dengan rate ratusan dollarnya memeriksa transaksi perusahaan korup yang menghisap uang rakyat. Bisa juga seorang mining engineer yang menambang minyak di penjuru negeri ini. Kemana mengalirnya minyak, kemana mengalirnya uang rakyat si Satria tidak pernah peduli. Si Satria hanya berpikir melakukan sesuatu yang benar. Mungkin atas nama anak istrinya, atas nama keluarganya, atas nama keterbatasannya.
Jadi bagaimana cara anda menggulingkan raja? karena tanpa rakyat jelata, raja bukanlah siapa-siapa.
“Jar, dikantor kamu pernah nyadar ga sih yang kamu kerjain sebenarnya apa?
jangan sampai jiwamu hanya dihargai slip gaji yang kamu terima tiap bulan
Oh ya tanggal 25 gajian ya”













Juni 25, 2007 pukul 1:25 am
untuk keluarga
untuk masa depan yang lebih baik
kemana perusahaan menggelontorkan uangnya
dan kenapa ? adalah hal yg dilematis. :p
itulah kenyataan.
dan itu pula sebabnya auditor plat merah dan penyidik pajak bisa mata gelap karena uang. :)
Juni 25, 2007 pukul 3:01 am
Yoi, man!
Don’t sell your soul!
Apa langsung aja nih, kita buat gerakan bawah tanah (bukan gbt nya pak budi) ??!?
Kita kumpulkan satria2 dari kolong2 sudirman,thamrin,kuningan… kita rancang revolusi secepatnya! heheheheheehe….
Juni 25, 2007 pukul 4:33 am
hehehe….
itulah.. kenapa disebut kalo para raja adalah orang2 yang menerima wahyu.
sepintar dan sekeras apapun berusaha si jendral, dia gak bakalan bisa jadi raja. hehehe.. kecuali kudeta.
Juni 25, 2007 pukul 5:57 am
Wah, mas Anjar kayaknya lagi gamang nih…:-)
Si Satria lagi konflik batin….
Juni 26, 2007 pukul 1:22 am
Satria dan Jenderal boleh bergerilya tapi Raja tetap Raja. Ini dunia kapitalisme bung.
Sekarang dibalik deh, misalnya ini Anda mendirikan perusahaan selama 30 tahun dan established. Apakah Anda berkeinginan mempersiapkan putra mahkota? ;;)
Juni 26, 2007 pukul 7:29 am
Disini memang kapitalis, sama seperti jaman nabi dulu kan, tinggal menunggu ‘wahyu’, satria bisa jadi raja. Gimana?
Jaman dulu orang ‘menciptakan’ nabi, yang kemudian mengubah dunia, masa di era modern seperti ini, nabi, orang suci atau apapun namanya tidak bisa lahir?
Juli 13, 2007 pukul 3:00 am
kalau level kita belum sampai kenal dgn raja, pangeran dan ksatria, tapi masih terkagum kagum dengan pertarungan antara harimau dan beruang. kira kira bagaimana yah, biar bisa survive sambil memanfaatkan kesempatan ?
tulisan yang tidak tuntas … huehehehe …
http://papabonbon.wordpress.com/2007/07/13/krisis-melahirkan-kesempatan/