Anjar Priandoyo

Beli rumah: Utang KPR vs Utang Keluarga

with 6 comments

Saya dan suami berniat mengambil rumah seharga 109 juta, rumah akan jadi di awal tahun 2008. Jadi kami masih ada waktu untuk terus ngumpulin uang untuk membayar nya secara cash bertahap. Namun untuk sementara kami tetap berjaga-jaga untuk ngambil KPR, tapi berdasarkan saran dari temen2 submit berkas2 nya nanti ajah karena kalo dari sekarang bakalan dipaksa buat akad kredit kalo plafonnya disetujui.Begini detailnya, saya karyawan swasta dan suami pegawai negeri (masih honorer) total pendapatan kami sebulan 3,7 juta. Kami punya deposito 38 juta, sudah DP 7,5 juta dan rencana nabung s.d awal tahun bisa 14 juta lagi (asumsi 2 juta/bulan). Saat ini kami masih tinggal di rumah ortu, jadi masih bisa irit2 sedikit.

Nah, suami tuch keukeuh banget pinginnya kami ga usah KPR ke bank dan pinjem ke keluarga ajah karena ga ada bunganya, saya sich pinginnya KPR ajah biar ga ada ‘utang budi’ tapi setelah dipikir2 KPR itu jadi mahal karena ada biaya ini itu nya, selain itu status suami saya yang masih honorer pasti akan menyulitkan dalam proses KPR.

Menurut mas Anjar gimana. Mendingan pinjem keluarga atau gimana? Kalo harus KPR, saya pinginnya ga pake nama saya karena saya ga bisa ngurusin proses KPR, ttd dsb (kantor aga’ ketat soal ijin2) jadi akan pake nama suami, bener ga akan susah ngurusin KPR nya? Secara dia kan masih honorer, Kalo saya ga KPR berarti saya akan ngajuin pinjeman ke kantor, berarti gaji saya juga akan terpotong setiap bulannya, menurut mas Anjar biar saya bisa mengembalikan ‘pinjeman keluarga’ itu gimana? karena pendapatan kami sebulan tinggal 2,7 ajah Apa rumahnya nanti saya kontrakin dulu dan saya tetap di rumah ortu sampe utang atau saya langsung pindah dan nyicil utang saya dengan jangka waktu yang pastinya akan jauh lebih lama?
Mba Titi via email

Komentar:
1. Lebih baik pinjam keluarga.
Saya setuju dengan saran suami Mba Titi, lebih baik pinjam keluarga, saudara ataupun kerabat karena tidak ada hitungan bunga dan biaya administrasi. Tapi perlu dipertimbangkan hubungan dengan keluarga atau pihak ketiga ini seperti apa, apakah mereka memang mampu, apakah tidak memberatkan dst. Ini mba Titi sendiri yang bisa menilai. Saran saya jangan dipaksakan, kalau suami yakin, tentunya dia punya pertimbangan dengan konsekuensi keputusannya.

2. Tinggal dirumah orang tua
Saya kurang menyarankan tinggal di rumah orang tua, tapi sekali lagi ini Mba Titi yang bisa menilai. Ketangguhan keluarga mbak Titi lebih terbentuk kalau kita hidup mandiri dirumah sendiri.

3. Strategi membayar hutang
Hutang lewat KPR bisa jadi lebih mengikat daripada hutang dengan keluarga, dan karena hubungannya personal mungkin juga berdampak kepada mental kita membayar hutang (jadi males, menganggap remeh dkk). Paling efektif dibuat mekanisme yang mengikat seperti Mandiri Pasti, atau Niaga Pasti, dimana kita wajib nabung. Detailnya cek di Bank terdekat, ada banyak cara untuk mengikat kita membayar.

4. Strategi KPR yang tepat.
Tetap join income, karena posisi tawar lebih baik. Tetap pakai identitas Mbak Titi yang karyawan tetap, suami sebagai pendukung. Urusan administrasi mungkin ga seribet yang kita kira, yang jelas butuh izin 1/2 hari untuk sign kontrak. Tapi, pastinya perusahaan ngasih izin untuk hal tersebut.

Ada pendapat lain?

Written by priandoyo

Juni 27, 2007 pada 4:32 am

Ditulis dalam Tips Membeli Rumah

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Klo kasusku mirip-mirip ma mba Titi.Rumah bakal jadi awal th 2008 dan masih nyicil DP 9x.Berkas2 juga blm lengkap semua.Suami juga masih status karyawan kontrak dan krn itu rmhnya a/n ku krn ak dah jadi karyawan tetap.Cuma ak ga punya kelg yg bisa diandalin u pinjaman.So tetep pake KPR.

    Saran mas Anjar sieh dah bener,klo bisa pake pinjaman kelg knp ngga?Tp mang hrs dipikirin mateng2 gimana kedepannya.Jgn sampai hub kelg bisa putus cuma gr2 masalah komunikasi yg ga jelas.Mknya meski sama kelg.tetep hrs dibuat perjanjian diatas materai dan saksi.Pokonya dibuat sedetail dan sesuai dgn hukum yg berlaku.Soale byk kasus kelg juga yg awalnya ya karn sistem kekeluargaan yg ga jelas.

    Sedikit pertanyaan ma mas Anjar,pertimbangan KPR itu apa aja ya? Biasanya mereka survey ke kantor and rumah tinggal kita skrg ga sieh? Soalnya kantorku kbtulan mo pindah lokasi. Jadi agak takut nieh klo disurvey and pas dah pindah lokasi.Takut dikira boong.Dgn gencarnya promosi KPR di bank2 skrg, chance kita u dpt KPR brp persen ya?Soalnya dag dig dug nieh..bkl diapprove ma KPR or ngga.Tlg buat artikel perbandingan ttg KPR Syariah dgn konvensional duong mas…thanx bfore.

    istri_wife

    Juni 27, 2007 at 4:50 am

  2. Untuk Mbak istriwife:
    1. Survey calon nasabah KPR
    Tergantung kondite kita, kalau perusahaan kita bekerja punya nama yang baik (eg BUMN, PNS) biasanya tidak perlu survey, tapi kalau kira-kira meragukan pasti mereka survey dengan detail, jangankan rumah, kredit motor saja kalau kita dianggap tidak layak pasti disurvey dengan sangat detail. Pun terkait konfirmasi status karyawan ke HRD

    2. Gencarnya promosi?
    Betul seiring kondisi ekonomi (turunnya SBI, pertumbuhan positif sektor properti) memang ini menguntungkan kita, promo ini impactnya juga ke cicilan DP, jenis rumah yang kita dapatkan etc. Tapi, kalau pertanyaannya dikaitkan dengan persentase kesempatan, saya kurang tahu.

    Tapi menurut saya, karena kebutuhan akan rumah bukanlah kebutuhan konsumtif, bahkan bisa sebagai aset dan ‘enforcement’ agar kita menabung, menurut saya momen seperti ini harus kita kejar dan manfaatkan dengan baik. Pastinya ada pilihan yang sesuai dengan kondisi kita kan.

    Perbandingan KPR syariah dgn konvensional
    Terimakasih, untuk perbandingan ini belum sempat dibuat, in chargenya Bapak Aresto dan Bapak Papabonbon belum membuat rumusan yang komprehensif. Ditunggu ya mbak. Mungkin mba Istriwife bisa juga sumbang saran?

    priandoyo

    Juni 27, 2007 at 5:13 am

  3. hah, jadi incharge .. :p wah, oke oke. surat penugasan di terima. berburu data dulu yah :)

    papabonbon

    Juni 27, 2007 at 8:21 am

  4. Kalo saya:

    1. Bakal tinggal di rumah-nya calon mertua (bukan rumah yang ditempati) dan bayar bulanan (kaya ngontrak)
    2. Cari rumah taun depan (masih pusing mikirin duit DP, gadein SK pegawai kali yah?hehe)
    3. Nunggu Mas Anjar kasih ‘pencerahan’ baru

    ABe

    Juni 27, 2007 at 11:51 am

  5. Dari pengalaman saya, yang paling penting dalam membeli rumah dengan uang pinjaman (KPR atau bukan) itu adalah kemampuan menilai kemampuan finansial kita dan kemampuan kita untuk ‘tahan’ terikat hutang dalam jangka waktu yang cukup panjang. Ini hal yang cukup berat untuk dijalani dan membutuhkan komitmen tinggi, bahkan membutuhkan perubahan ‘lifestyle’. Secara psikologis memiliki hutang besar dalam jangka panjang akan menimbulkan rasa tertekan dan insecure.
    Jadi saran saya, siapkan uang dan siapkan mental :)

    Caya

    Agustus 3, 2007 at 12:59 am

  6. Setuju dengan saran Caya, kita harus bisa mengukur kemampuan, untuk memenuhi kebutuhan dan kenginan kita.

    Saya punya pertanyaan:
    1) Kalau sudah berumah tangga, apa harus pisah rumah dg orang tua dengan alasan kemandirian?
    2) Kalau memang tidak mampu membeli rumah, apakah tidak lebih baik mengontrak saja?

    Saran saya: coba mencari penghasilan tambahan, kerja atau usaha sampingan. Dengan demikian kemampuan mengambil kredit juga akan bertambah.

    taufan

    Agustus 15, 2008 at 7:50 am


Tinggalkan Balasan