100% lelaki
Menurut saya, lelaki adalah mahluk yang ajaib. Lelaki dilahirkan untuk punya kecenderungan menguasai, punya kecenderungan untuk berperang, berkompetisi dan menjadi pemenang. Lelaki punya hormon, kromosom yang memungkinkan untuk melakukan sesuatu yang hebat, yang punya nama tengah penaklukan didalamnya.
Kalau sekelompok lelaki berkumpul, maka kemungkinannya tinggal dua:
1. Lelaki berkelahi, memperebutkan satu hal yang kadang sepele. Mulai perhatian cewek, atau pengakuan bahwa lelaki tersebut paling jagoan.
2. Lelaki bekerjasama menaklukan sesuatu yang sulit, misal memutuskan mendaki gunung Ciremai, touring Jakarta Jogja, memancing di Makassar atau menyelam pantai Amai di Papua.
Tapi pernahkah anda berpikir bagaimana jadinya bila si lelaki berkeluarga? akankah semua stereotype diatas hilang? haruskah lelaki mengorbankan insting kelaki-lakiannya atas nama keluarga? haruskah hobi main gaple hingga dini hari itu hilang?
Kalau lelaki dan perempuan berkumpul?
Kalau lelaki sendiri?
Apapun, menurut saya hal terpenting dari seorang lelaki dimata perempuan baik adalah: bertanggung jawab. Apa itu bertanggung jawab? paling engga seperti Om Jono dalam Balada sarjana tukang ojek, yang nekad ngojek di kawasan Slipi gara-gara uang gajinya habis, demi anak istri tercinta.
Diluar itu? mungkin omong kosong. Coba Mbak, tanyakan pada pasangan anda kenapa dia memilih Mbak-nya. Karena tidak pernah ada kata mantap bagi lelaki untuk memutuskan menikah, karena keraguan selalu datang justru didetik-detik terakhir yang semakin dekat. Karena jika akhirnya lelaki memutuskan untuk menikahi anda, maka sesungguhnya malaikat dan tuhan sedang menyaksikan perjanjian yang lelaki buat.


http://www.kopimaya.com/forum/viewtopic.php?t=272
Tentang film sih….
kunderemp an-narkaulipsiy
Juli 2, 2007 at 5:02 pm
gituu yahh???bukan laki2 sich…
the23wind
Juli 3, 2007 at 6:04 am
Menurut gw, “laki-laki” itu konstruksi sosial bro Anjar. Bisakah kita mengatakan ada 100% laki2? Itu problematis… Yg ada maleisme dan machokisme yg dalam masyarakat dan kebudayaan lain, bisa berbeda pengertiannya :D
ilham
Juli 3, 2007 at 8:29 am
Oo begitu yah! Aku baru tau… (^_^)
evy02
Juli 3, 2007 at 8:52 am
setuju mas Ilham, tergantung budayanya kan, kalau menurut rasa-rasanya mas Ilham sendiri 100% lelaki itu yang seperti apa?
priandoyo
Juli 3, 2007 at 9:16 am
pria sejati menjadi image yang coba diasosiasikan dengan produk yang dijual pemasar. sedikit banyak mempengaruhi persepsi publik, sebagaimana “definisi” dari wanita cantik. barangkali siy….
bumisegoro
Juli 3, 2007 at 9:22 am
mmh..
lelaki = kuat + kuasa + tangguh
lelaki terhormat = lelaki + tanggung jawab + bijaksana
regards,
:)
rickisaputra
Juli 3, 2007 at 12:11 pm
100% Lelaki :)
Gimana ya… gw setuju dengan penekanan ke arah tanggung jawab. Sebab menurut gw ke-lelaki-an atau ke-jantan-an seorang laki-laki terletak di tanggung jawab itu tadi.
Atau lebih spesifik lagi dari sisi sportifitas :)
Salam,
WoKay mania!
http://wokay.wordpress.com
“mampir ya… dan jangan lupa isi comment.”
WoKay
Juli 4, 2007 at 2:35 am
@ priandoyo Juli 3rd, 2007 at 9:16 am
Numpang dikit komentar panjang ya bro Anjar…Saya sedikit berbeda soal yg kita bahas ini karena berasumsi tidak ada laki2 100%…
Begini ceritanya dan mohon disimpulkan sendiri:
1) laki-laki berbeda secara fisik dari perempuan is fact…
2) Lelaki melakukan sesuatu yg hebat itu ilusi dari commonsense kita yg belum teruji
3) Ini contoh pilihan yg bagus, tapi kurang lengkap, sebab cuma ada dua alternatif dan semuanya tentang laki-laki:
Mari coba masukkan perempuan di sana dan kita sadar bahwa dalam kondisi mana perempuan memiliki kemapuan bersaing yg tinggi dan populasi yg mayoritas maka akkan ada persaingan antar perempuan terjadi dan/atau kerjasama untuk menghancurkan laki-laki…
Poinnya bukan soal laki-laki atau perempuan memiliki sifat A atau B, atau keduanya saling bertukar. Tapi apakah kita cukup menerima bahwa sifat-sifat itu bukanlah dikotomi, tapi gradasi dalam diri laki-laki dan perempuan yang menguat dan melemah berdasarkan bagaimana ia dan masyarakat mengontruksi kenyataan ideal, dus menciptakan kondisi yang “memaksa” laki-laki atau perempuan untuk kompromi ataupun melawan dalam dan mengembangkan sifat A, B, C, atau D dan seterusnya…
4) Saya setuju dengan maksud bro Anjar dengan streotip yang harus dihilangkan jika lelaki berumah tangga. Bukan soal dihilangkan atau tidaknya, tapi bahwa idenya adalah: itu semua adalah sterotipe yg merupakan bentukan masyarakat yg bisa diperkuat ataupun dilemah-dan-gantikan…. : 1) laki-laki berbeda secara fisik dari perempuan is fact… karena “lelaki punya hormon…” 2) Lelaki melakukan sesuatu yg hebat itu ilusi dari commonsense kita yg belum teruji yang menyatakan bahwa mereka memiliki “kromosom yang memungkinkan untuk melakukan sesuatu yang hebat, yang punya nama tengah penaklukan didalamnya. 3) Untuk berkonflik “memperebutkan satu hal yang kadang sepele” ataukah “bekerjasama menaklukan sesuatu yang sulit”….
5) Namun sayang memang saat ini istilah tanggung jawab adalah kata yang problematis dalam masyarakat…
Masyarakat mengenal kata ini dengan baik namun menimpakan tanggungjawab kecil pada laki namun dengan otoritas yg jauh lebih besar dari yg dimiliki perempuan. Laki-laki paling hanya diharuskan cari nafkah, sesuatu yg mudah baginya karena konstrksi sosial dan berbagai kondisi mendukung.
Sayangnya, perempuan diserahi tanggungjawab besar namun dengan otoritas kecil. Ga percaya, tanggungjawab keuangan keluarga, pengasuhan anak, mengatur keperluan suami datang berbarengan larangan macem-macem se macem-macemnya hingga sekolah pun ga didukung, kerja dibatasi, main ga boleh lama-lama… Sakit deh pokoknya.
Main gaple hingga larut, turing naik motor ke pelosok negeri, menaklukkan Mahameru, bukan khas milik laki-laki. Hanya saja masyarakat menganggap bahwa itulah bukti “kelaki-lakian”. Dan itulah yg berkembang luas. Padahal tidak selalu demikian kondisinya dan tidak semua kelaki-lakian semacam itu pun bajik sifatnya ….
ilham
Juli 4, 2007 at 3:26 am
Lelaki atau perempuan itu sebenarnya jenis kelamin. Selebihnya? setuju dengan pendapat mas Ilham .. itu merupakan konstruksi sosial. Lelaki itu harus bla bla bla. Perempuan itu harus bla bla bla.
erander
Juli 4, 2007 at 3:31 am
[...] dan cita-cita. Kalau sedikit di fokuskan mungkin saya menyimpulkan mimpi dan cita-cita seorang laki-laki. Itu sudah cukup fokus menurut saya, karena parameter ruang dan waktu sifatnya konstan. Namun [...]
Lalu Apa Setelah Yang Tiga Itu? « d’Ranah
Juli 4, 2007 at 5:51 am
Yg pertama saya ingin mengkaitkan antara postingan ini (Lelaki) dengan postingan lalu (Nikah).
Menjadi LELAKI lebih condong merupakan Taqdir ktimbang pilihan, sedangkan menjadi (lelaki) bujang (tidak jua menikah) lebih condong merupakan pilihan ketimbang taqdir saja.
Maksudnya : Anda menjadi lelaki adalah lebih karena Kehendak-NYA, tapi anda menunda2 menikah adalah lebih karena pilihan anda sendiri. Walau segala sesuatu itu adalah kehendak-NYA, tetapi bukankah ada ruang bagi kita untuk berusaha meraih yg terbaik dari Kehendak-NYA itu, kalau tidak untuk apa kita ada di dunia ?
Selanjutnya ada porsi2 tertentu dimana lelaki memang lebih pantas melakoninya dan ada porsi2 tertentu lainnya dimana wanita yg lebih pantas melakoninya. Jadi kepantasan itu terjadi bukan karena konstruksi sosial, tapi kehendak-NYA. Anda menjadi lelaki atau wanita adalah Kehendak-NYA, bukan pilihan atau konstruksi (rekayasa) sosial tadi, sehingga [menurut saya] kita harus terima saja (pasrah) dengan kehendak-NYA itu, dan berlakon sesuai dengan apa yh DIA Kehendaki. Ada Kehendak-NYA yang berbeda jika kita ditaqdirkan–NYA menjadi lelaki atau wanita.
Jangan menjadi lelaki jika anda wanita, dan jangan menjadi wanita jika anda lelaki. Yang berbeda jangan dipaksa-sama. Maka bacalah, apa sih kehendak-NYA pada kita ?
BTW, siapa ya yg berani ngaku sebagai lelaki 100% ?
Herianto
Juli 4, 2007 at 8:11 am
Tapi Tunggu Dulu nich, siapa lawannya donk …
suryaningsih
Juli 4, 2007 at 6:25 pm
ah lelaki lagi.
unpredictable.
nieznaniez
September 11, 2007 at 4:55 pm
Uniknya pria inilah yang selanjutnya menjadikan dirinya sulit untuk mendapatkan wanita idamannya. Nampaknya dalam hal manaklukkan sesuatu apapun, kita harus banyak belajar dari makhluk yang bernama wanita. Mungkin akan lebih baik apabila para kaum pria merubah cara pandangnya yang terlalu kolot tentang wanita.
Karena ego superioritasnya, pria tidak ingin dianggap lemah, sehingga seringkali melakukan banyak kebodohan yang tidak perlu. Semisal di bawah ini:
Pria cenderung agresif dalam menghadapi wanita. Oleh karenanya, pria akan cenderung offensif. Inilah yang membuat wanita seringkali kurang/tidak nyaman. Mereka para pria beranggapan selalu memulai yang pertama. Padahal, wanita pun bisa dan punya hak jika memang ingin agresif mengenal pria. Perhatian yang berlebihan adalah satu contoh tindakan offensif yang membuat wanita tidak nyaman.
Pria cenderung punya ego untuk mendapatkan. Oleh karena ego spt ini, pria seringkali takut jika kehilangan, apapun apakah kesempatan atau seseorang. Akibat egonya ini, pria seringkali melakukan tindakan bodoh yang akhirnya membuat wanita merasa tidak nyaman. Misalnya, sifat ingin mengontrol, curiga, dan tidak percaya. Padahal, wanita akan lebih nyaman apabila pria sudah cukup percaya ketika pertama kali bertemu. Wanita sebelum resmi diperistrikan, punya hak untuk kehidupannya sendiri.
Di web social-bookmarking, saya sering melihat pola perilaku pria yang seringkali tidak memakai otaknya dalam mendekati wanita. Mereka kaum pria, karena egonya selalu beranggapan wanita adalah makhluk yang lemah dan bodoh. Tapi lihatlah siapa yang paling bodoh. Pria banyak melakukan tindakan bodoh dan memalukan yang tentunya tdk akan mendapatkan simpati dari wanita.
Oleh karena pria menganggap dirinya makhluk yang kuat dan superior, banyak sekali pria yang tidak pernah mau belajar dari kesalahan-kesalahannya sendiri. Lain halnya dgn wanita yang hampir setiap saat rela untuk mengkoreksi kelemahannya baik dengan mencari buku pergaulan atau bertanya dengan mereka yang sudah berpengalaman. Wanita tidak sekedar mau mendengarkan, akan tetapi mau pula melaksanakan. Hasilnya, mereka menjadi sangat pandai menghadapi pria-pria bodoh.
Lain halnya dengan pria. Sekalipun bertanya kepada mereka yang tahu dan berpengalaman, karena dikuasai oleh egonya, pria seringkali tidak pernah bisa menyimak kesalahan-kesalahannya sendiri. Akibatnya fatal sekali, kesalahan serupa selalu terulang kembali.
Leo Kusuma
Mei 24, 2008 at 10:27 am
100 persen lelaki, ciri=cirinya setia ,bijaksana, ngggak suka melakukan kekerasan pada wanita,yang paling penting laki laki harus tau tujuan hidup agar pengikutnya bisa selamat, ibarat nahkoda kapal yang nggak ngerti arah angin, hasilnya tersesat,
nursyarifah
Oktober 24, 2008 at 10:52 am
tetapi bener ga seh mas klo ada lelaki yang susah banget ngungkapin perasaan ke orang yang dia sayangi (cewe yg untuk di pilih untuk menjadi pasangannya)? knp?
klo masalah ketidak mantap an seorang lelaki dalam menjawab ketika seorang cewe (pasangannya) bertanya mengapa memilih aku, itu mungkin emang benar. karena beberapa bulan yg lalu aku sempat mengalami hal itu, saat cowo ku memutuskan untuk mo nikah, tiba-tiba dia sempet ragu ga tau apa sebabnya, dan akhirnya pernikahan kita harus munduuuuur bebera waktu yang ga jelas pe kapan?
lalu tentang lelaki yang cenderung penguasa itu bagaimana?
dek tiCka
Desember 15, 2008 at 7:33 am