Anjar Priandoyo

Marlboro kretek harusnya dilarang beredar

dengan 35 komentar

Apa-apaan nih, Marlboro bikin rokok kretek?

Kaget, pagi ini berangkat kekantor melihat Marlboro memasang baliho dan spanduk dimana-mana tentang peluncuran produk kreteknya. Saya protes, Marlboro harusnya tidak main di kretek atau kita ganti aturan mainnya.

Industri rokok harus diakui merupakan industri yang paling eksis di negeri tembakau tumbuh subur ini. Pemerintah memang melakukan proteksi terhadap rokok lokal sebangsa GG, Djarum, Sampoerna yang memang raja kretek. Aturannya: Rokok asing ga boleh bikin rokok kretek, bikin blend pun bakal digantung.

Jadi ceritanya lengkapnya begini, bapak saya bekerja di BAT, di Cirebon, kompetitornya Philip Morris, pabrik bapak bikin Lucky Strike, Triple 5, Pall Mall, Ardath . Rokok putih, apalagi jaman krisis memang tidak mampu bertahan dari gempuran rokok lokal (kretek) yang biaya produksinya dan proteksinya pemerintah. Akibatnya BAT dengan bangganya melakukan pemangkasan karyawan. Bapak, salah satu yang terkena dampaknya. Gimana lagi, ada aturan proteksi seperti itu.

Eh tiba-tiba hari ini Marlboro dengan bangganya meluncurkan rokok kretek. Ampun deh, itu bukan inovasi namanya. Kenapa peraturannya tiba-tiba bisa ganti? kenapa ga dari dulu-dulu? kenapa setelah Philip Morris beli Sampoerna baru dia bisa main di kretek. Kenapa?
*geleng-geleng.

Baca juga: Mengapa kita (harus) merokok

Ditulis oleh priandoyo

Juli 2, 2007 pada 1:40 am

Ditulis dalam Others

35 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Marlboro udah beli sahamnya HMS, dan mengapa mereka beli? Untuk mengatakan rokok hasil produksi asing apa tidak, harus dilihat dulu secara legal, karena bila PM sudah merupakan PMDN (saya tak tahu persis faktanya) misal PM Indonesia, maka berlaku peraturan PMDN. Dan untuk industri rokok, peraturan ini sangat ketat , seperti seperti pembatasan produksi, yang akan berpengaruh terhadap pembayaran cukai.

    Philip Morris (produsen Marlboro) telah melihat bahwa pangsa rokok kretek di Indonesia 93% dan rokok putih hanya 7%. Sedangkan pangsa pasar 93% tadi, sebagian besar (59%) berasal dari Sigaret Kretek Mesin dan sisanya 34% dari SKT (hasil riset dan wawancara Kontan).

    Lihat Kontan no.39-XI

    edratna

    Juli 2, 2007 pada 4:04 am

  2. Artinya segalanya bisa diatur tho bu, apalagi kalau aturan mainnya bisa diputer-puter cara ngakalinnya. Saya mikir impactnya aja bu, BAT itu dulu punya 5 pabrik dari surabaya sampai semarang, gara-gara soalan pangsa pasar bubar semua pabriknya ditutup. Kenapa harus ditutup?

    priandoyo

    Juli 2, 2007 pada 4:25 am

  3. Realitasnya yang bikin itu bukan Philip Morris Indonesia (yang secara de facto udah gak bermain lagi), tetapi PT HM Sampoerna, Tbk yang sahamya dikuasai oleh Philip Morris. Dan market share kretek baik itu SKM mapun SKT memang jauh lebih besar daripada rokok putih.

    andrias ekoyuono

    Juli 2, 2007 pada 4:25 am

  4. baguslah…biar makin bersaing…hehehe.

    johanes baptista

    Juli 2, 2007 pada 4:48 am

  5. Dulu Belanda, Portugis, Inggris dkk merobek-robek Nusantara dengan semangat GLORY – GOLD – GOSPEL [3G] sekarang? Sepertinya telah datang era baru 3G. Dimana2 ada 3G. What’s up??

    Kang Tutur

    Juli 2, 2007 pada 5:00 am

  6. Yah itu lah strateginya HMS ( bukan Pak Harto Lho.. ) buat ngerebut pangsa pasar kretek indonesia yg selama ini dikuasai GG dan Djarum kali ya Njar..
    Cuma mesti di bandingin nih kadar nikotin dan tarnya dengan kretek lainnya, kabarnya kada nikotin dan tar untuk marlboro kretek lebih gede ya

    Salam
    =Icho=
    bukanpenggemarmarlboro

    Icho

    Juli 2, 2007 pada 5:11 am

  7. Rokok kretek ya..? ah aku gak begitu kuat ngrokok kretek kok :cry:

    Suluh

    Juli 2, 2007 pada 5:21 am

  8. Strategi invest yang luar biasa hebat.

    Pancing dulu ikan kecil dengan umpan mahal, ikan kecil didapat, lalu diumpankan ke ikan yang lebih besar.
    Lebih hebat lagi, gak butuh waktu lama buat dapetin si ikan besar.

    Tapi rasanya kok sah-sah aj, karena mereka bisa memanfaatkan celah hukum dengan jalan memutar, gak ada peraturan yang dilanggar.

    somosentono

    Juli 2, 2007 pada 6:05 am

  9. usut punya usut, ternyata ini dampak dari UU penanaman modal yang kemaren baru di sah kan, jadinya yaa gini dechh ( pasti nyambung ),,,kalo masih blom tau isi tuh UU, cek dulu dech…

    the23wind

    Juli 2, 2007 pada 6:10 am

  10. ah gak ngerti.. bahasa u gak terlalu ngejelasin sebenernya masalahnya apa, jadi gua cuma dapet bingung doank

    yoto

    Juli 2, 2007 pada 6:22 am

  11. bingung…. gak ngerti…

    mirna

    Juli 2, 2007 pada 7:55 am

  12. intinya, kalau dulu rokok putih gak bankrut, maka bapaknya mas anjar masih kerja di BAT.

    kenapa rokok putih bankrut, yah, karena BAT dianggap PMA dan gak boleh bikin kretek, yg pangsa pasarnya paling besar [di sukai orang indonesia].

    papabonbon

    Juli 2, 2007 pada 8:35 am

  13. yang penting, jangan sampe rokok dilarang di Indonesia. rugi besar kita. :D

    -IT-

    irvan132

    Juli 2, 2007 pada 9:17 am

  14. hmm..saya penggemar kretek.
    apakah Indonesia bisa lebih liberal dari saat ini? sepertinya tidak..
    dan itu adalah “pasar’, njar..! ketika kita bikin aturan yang melarang sesuatu, considered apa? biarkan pasar yang akan menentukan, karena memang arah “dunia” dan “indonesia” sudah seperti itu..
    regulasi yang anti pasar akan ditinggalkan dan regulasi yang “dianggap” melindungi perusahan lokal, bukan lah bagian best practices yang “mau-tidak mau” harus kita jalankan..
    apalagi menghubungkan government kita dan market dan cukai, sebuah simpul-tali temali yang sulit diurai..
    maka, tontonlah..karena hanya itu yang dapat kita lakukan..
    *sigh*
    tariiik, Mang!

    kopidangdut

    Juli 2, 2007 pada 9:25 am

  15. Setuju dengan Ibu Edratna. Selain itu, PM nampaknya sudah PMDN. Karena kepemilikan saham mayoritas, tentunya.

    Yang hebat, postingan ini ada di bawah tag ‘santai’. Hehe, salut pada Mas Anjar, topik yang (menurut saya) butuh kedalaman serta kejelasan data, masuk dalam kategori santai. Lumayan deh buat mancing orang PM-nya buat ngomong langsung.

    bangaiptop

    Juli 2, 2007 pada 12:04 pm

  16. Proteksi selalu menimbulkan 2 sisi berlawanan: satu diuntungkan, satu dirugikan.

    Seandainya bapaknya Anjar sekarang bekerja di PM, atau seandainya BAT yang dibeli PM dan bikin kretek, akankah juga protes?

    Ttg marketshare, yg berubah hanya players. Dan selama dibuat di Indonesia, secara total pasar tenaga kerja yg diserap akan sama, cuma pemainnya saja yg berbeda. Soal diversifikasi juga sama, if not PM then others will do it, sooner or later.

    If we dearly love PMDN, then we should support GG and Djarum. The question is: should we? and if so, why?

    fau

    Juli 2, 2007 pada 3:41 pm

  17. arrggh,, ga bisa ga usah ngerokok aja ya,, :cry:

    *OOT gara gara depresi*

    Rizma

    Juli 2, 2007 pada 4:19 pm

  18. Jadi Njar, karena BAT dulu ga boleh trus lo protes? hmm.. namanya bisnis, korporasi, plus birokrasi.. segala sesuatu “bias diusahakan”… tanya kenapa?
    Makanya kalo lo idealis, as I do, ga usah deh ngebahas ginian.. bakal ga masuk :D

    Amir Karimuddin

    Juli 2, 2007 pada 4:28 pm

  19. Rizma:
    Salah besar berdebat soal ‘gak bisa gak merokok’ dengan Anjar. Soalnya, biarpun Anjar bukan perokok, tapi dia paling getol membela para perokok…

    (jadi ingat, masa2 kita diamuk bos kita di Challenger gara-gara memanfaatkan komputer kasir buat perdebatan apakah sebaiknya pabrik rokok ditutup :p )

  20. “Artinya segalanya bisa diatur tho bu, apalagi kalau aturan mainnya bisa diputer-puter cara ngakalinnya….”

    Anjar, justru aturan dibuat untuk semuanya…karena Indonesia udah ikut dalam pasar terbuka. Benar kata Andri, PM membeli saham HMS, jadi kendaraannya HMS…dan ini bukan asing. Terus kalau pemerintah buat aturan, berlaku untuk umum…dan harus diingat bahwa kita telah mengikuti ekonomi pasar, artinya diserahkan pada pasar.

    Dan, yang dimiliki asing, bukan hanya industri rokok lho, perusahaan yang go public, siapapun akan bebas beli sahamnya termasuk Anjar. Dan Bank2 yang go public dan saham2 potensial itu (tanya kan pada Bahar), sebagian besar dibeli oleh asing, bisa perorangan, atau institusi. Bahkan perusahaanku, yang saham publik nya 42,5 % di atas 90% dimiliki oleh asing. Karena orang Indonesia lebih suka jangka pendek, begitu harga saham naik, dijual, dan dapat capital gain….Sedang perusahaan asing, mereka analisisnya jangka panjang, dan bisa memperkirakan kalau saham perdana di bawah Rp.1000/lembar dan saat ini di atas Rp.5000, pada akhir tahun bisa di atas Rp.6000,-. Mereka juga rajin membaca laporan keuangan perusahaan, yang sahamnya dimiliki, dan hadir pada saat investor meeting.

    edratna

    Juli 3, 2007 pada 12:20 am

  21. jadi analisis jangka panjang/fundamental tetap jadi panglima ya, bu .. :)

    lagi heran ama bank islam yg tetap gak nurunin ratenya … :p

    papabonbon

    Juli 3, 2007 pada 1:18 am

  22. atur aja.

    cobain

    Juli 3, 2007 pada 6:55 am

  23. Ia neeh..
    Keok deh Indonesia kalo semuanya dibeli asing dan lambat tapi pasti akan dikuasai.
    Penjajahan kah… ?!

    WoKay

    Juli 4, 2007 pada 2:45 am

  24. Namanya juga mau cetak duit… Kalo bisa cari jalannya kenapa ngga?

    Bener juga kata papabobon, mas Anjar, komenmu objective apa subjective?

    lisa

    Juli 4, 2007 pada 9:29 am

  25. setia bersama djarum super soccer! :P

    Shelling Ford

    Juli 4, 2007 pada 4:08 pm

  26. Gmn ya..hidup gue juga dari that big company so what ever will be will be dech kita mesti evaluasi biar anak2 kita nanti ga dibodohi

    Inez

    Juli 5, 2007 pada 8:20 am

  27. its purely, murni, melulu…. bisnis bro…. apa aja bisa dibuat…. khan ujung2nya semua produk (plus brand-nya) mengacu pada ‘market needs’ baik yang latent atawa yang keliatan…. (dulu kenapa BATI gak bikin kretek hayoh….?)…. lagipula buat gw bro, para perokok (terutama yang saraf2nya dah kecantol cita rasa merek rokok tertentu), bisa kok membedakan enaknya rokok ini ato itu sehingga boleh dibilang perkara HMS keluarin produk ‘banci’ gitu ya jangan buru2 dianggap terlalu ‘wah’ or ‘gimanaaaa’ gitu… take it easy…. pasar yang menentukan… masalahnya ‘rasa berbicara’ bro…. inget khan merek LONGBEACH? di suatu forum P3I Surabaya, bos pemasaran PM waktu itu (lupa namanya) enggan bicara soal LONGBEACH… ngacirrrr….

    lanangjalang

    September 27, 2007 pada 3:40 am

  28. prend, pantes aja bokap lo kerja di BAT! emang BAT ga bisa bikin rokok jenis SKM – FF ato sejenis filter kretek??
    gua perokok tapi ga ada salahnya rokok MBR KRETEK tu keluar kahn!! apa bokap lo takut tersaingi ??
    God will be know !!!! hehe ; <

    bob wow

    November 21, 2007 pada 6:08 pm

  29. nang aja mas pri marlboro yang kretek itu ga enak kok rasanya, emang si agak mirip2 djarum disaosin A Mild, he.. sok tau ya.. tp emang gitu mungkin masih perlu 100 tahun lagi buat bisa sejajar dengan djarum ato gudang garam

    arieariesta

    Desember 6, 2007 pada 10:08 am

  30. ah, sungguh terlalu. emang rokok bikin loyo, kakeku usia dah tua 90 thn tapi tetap ok. belia perokok berat. kalau ndak suka perokok silahkan aja, emang gue pikirin. ingat :PEROKOK PEMASUK PAJAK TERBESAR DUNIA ( INDONESIA )

    dewi.ASMORO

    Juni 1, 2008 pada 4:33 am

  31. kambing aja ndak meroko juga batuk.

    imam

    Juni 1, 2008 pada 4:35 am

  32. [...] berita itu. Rasa-rasanya baru kemarin Philip Morris membeli Sampoerna dan kemudian meluncurkan Marlboro Kretek yang kontroversial itu. Sekarang BAT yang merupakan perusahaan rokok kedua terbesar didunia membeli [...]

  33. Untuk diketahui, bahwa Marlboro kretek itu dibuat oleh HM Sampoerna (bukan oleh Phillip Morris Indonesia)Setiap pabrik rokok di Indonesia masing-masing memiliki lisensi manufaktur yang berbeda. Dalam hal ini, HM Sampoerna boleh membuat Marlboro kretek karena mereka punya lisensi manufaktur/produksi rokok kretek.

    Nah, marlboro kretek ini tidak bisa dibuat oleh PMI, sebab lisensi PMI adalah manufaktur rokok putih-sama dengan yang dimiliki oleh BAT. Jadi secara aturan, tidak ada yang dilanggar.

    Andy G

    Juni 17, 2009 pada 5:52 pm

  34. yang penting aman sentosa mau filter apa kretek gua mag enakan ganja aja tau

    yans

    September 22, 2009 pada 1:07 pm

  35. Cintailah produk indonesia.
    bagaimanapun jg marlboro kretek walaupun mengatasnamakan HMS tetep aja pnya PMI (Perush asing) podo waene bule nganggo batik,yo tetep ae wonge bule

    DEEP INSIDE

    Desember 26, 2009 pada 5:38 pm


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 317 pengikut lainnya.