Mengapa kita merokok?
Bapak saya kerja di pabrik rokok dan kita semua, anak dan istrinya bangga pada beliau. Setiap bulan bapak pulang membawa setumpuk rokok berlabel putih, alias rokok Ardath yang belum dicetak labelnya, terkadang Pall Mall ataupun Lucky Strike, tapi bapak sekalipun tidak pernah merokok. Setiap hari bapak pulang berbaukan tembakau yang menyengat, yang kadang ibu ‘alergi’ dengan bau tembakau tersebut. Tapi, tetap saja anak-anaknya menyambut bapaknya pulang dengan bangga, menyalami tangannya tidak perduli bekas oli atau pekat tembakau masih terasa ditangan bapak.
“Hore bapak pulang, hore bapak pulang” seru si sulung
“Bapak bawa apa, bapak bawa apa” si tengah berlari-lari menuju vespa si bapak mencari apakah ada bungkusan plastik yang dibawa si bapak.
Bapak punya dua baju, satu baju dipakainya sebelum berangkat ke pabrik. Baju yang licin karena disetrika ibu. Di pabrik, bapak berganti baju, siap tempur. Baju di pabriknya kumal. Biar mudah bekerja dengan mesin-mesin. Bapak yang lulusan STM bertugas mengurusi mesin-mesin rokok raksasa buatan Jerman. Bayangkan, satu pabrik BAT hanya terdiri 400 orang, sementara Gudang Garam Kediri punya lebih dari 30.000, hampir satu kecamatan cerita bapak disuatu waktu.
Bapak tidak pernah melarang anak-anaknya untuk merokok, begitu juga ibu, sekalipun beliau tidak pernah mendoktrin anak-anaknya untuk tidak merokok. Nyatanya hingga kini, tidak ada seorang anak pun yang merokok. Dan nyatanya hampir setiap ruangan dirumah punya asbak rokok, bagus-bagus dari pabrik. Oh ya, tidak hanya asbak merchandise yang bapak punya. Mulai dari kaos, payung, stiker hingga topi.
Apakah saya pernah merokok? kalau pertanyaannya pernah tentu pernah. Saya pertama kali merokok saat kuliah tingkat dua. Saya merokok karena hampir semua teman kost saya merokok. Lucunya 1-2 batang saya merokok tiba-tiba saya masuk rumah sakit. Seketika itu teman-teman kost justru semakin rajin merokok.
“Lha Anjar yang ga merokok aja masuk rumah sakit, mendingan kita dong yang merokok”
Memang itu kejadian paling lucu seputar merokok. Saya divonis sakit paru-paru, padahal saya baru 1-2 batang itu merokok. Dokter dan mbak (karena mbak juga dokter) menduga sakit paru-paru biasa. Mungkin juga TBC, karena dalam etika kedokteran TBC tidak pernah disampaikan sebagai TBC. Tapi itu kejadian sudah bertahun-tahun yang lampau. Waktu itu ibu terpaksa datang ke Jogja, mendengar saya batuk-batuk darah.
Di RS Sardjito saya tidak bilang kepada ibu bahwa waktu itu saya mencoba merokok. Sambil bercanda saya bilang saya disantet oleh seseorang. Waktu itu batuk darah saya pertamakali malam Jumat Kliwon di Gardena Jalan Solo. Bapak waktu itu hanya menduga saya stress memikirkan rencana masuk tentara. Saya memang tidak bilang ibu kejadian ini, tapi teman kost yang kebetulan tetangga di Cirebon menyampaikan hal ini. Ibu hanya 4 jam di Jogja, berangkat malam hari dari Cirebon, pulang ke Cirebon sore harinya. Jadilah Narpati yang menemani saya di rumah sakit, dan menghabiskan jatah oleh-oleh yang tidak bisa saya makan karena mulut terasa pahit.
Dikesempatan lain, saat melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Sukoharjo, 1.5 jam perjalanan motor dari Jogjakarta. Rokok beberapa kali menyelamatkan hidup tim KKN kami. Negoisasi dengan warga yang terkenal tukang mabok dan preman kampung bisa berjalan lancar dengan rokok. Oh ya, sudahkan saya cerita bahwa Sukoharjo punya sentra pembuatan Ciu (minuman keras tradisional dengan kadar alkohol tinggi). Sebungkus Dji Sam Soe dengan mudah mencairkan suasana antara pamong desa, pemuda dan mahasiswa KKN. Waktu itu saya tetap tidak merokok, urusan ini saya serahkan pada seorang teman yang memang jago merokok. Saya manggut-manggut saja dibelakang layar.
Rokok memang tidak bisa dipisahkan dari hidup saya, suatu ketika menyaksikan kebun tembakau yang luas di Temanggung, hamparan kebun disalah satu komplek di Magelang yang dilumuri dengan Saos Sambal untuk membuat rasa tembakau lebih nikmat membuat saya trenyuh, ingin menangis rasanya. Ternyata di dunia ini banyak orang yang mencintai tembakau lebih dari apapun. Petani-petani tembakau di Temanggung ini rela menunggui kebunnya siang dan malam, menjemur, merawat tembakau ini seperti merawat anaknya sendiri.
Pernah suatu ketika saya ikut test MT di BAT, seketika itu bapak marah. Bapak tidak setuju bila anaknya juga bekerja di pabrik rokok.
“Jangan kerja di BAT njar, pabrik ga bagus”
“Tapi ini program MT pak, bagus karirnya”
“Iya tapi jangan”
“BAT memang lebih bagus gajinya daripada GG atau Djarum, tapi janganlah”
Dan memang, karena bapak tidak merestui, saya pun gagal dites BAT.
Rokok memang tidak akan pernah bisa dipisahkan dari hidup saya. Bergetar hati saya setiap pulang kerumah melihat pabrik bapak di Cirebon. Trenyuh hati saya melihat petani tembakau di kebun-kebun luas harum. Saya mencintai rokok, kemarin, hari ini, kapanpun hingga selamanya.
Jadi mengapa kita merokok?
Karena kita mencintai rokok.
*Jangan tanyakan saya kenapa saya mencintai


Hidup ROKOK !!!!!!! Tanpa Perokok, ribuan orang di Kediri dan Kudus terancam pengangguran !!
Philip_Moris
Juli 3, 2007 at 7:42 am
wah, temanggung dan probolinggo dgn kawasan kebun tembakaunya memang bikin kangen. baru kretek di udara kediri memang membuat jiwa termangu mangu. dan kerumunan sepeda onthel selepas bubaran pabrik memang dahsyat niat ….
papabonbon
Juli 3, 2007 at 8:30 am
Salah satu teknik pengawetan daging adalah dengan teknik pengasapan. Jadi kalau mau awet, paru-paru kita harus sering2 diasapi … lebih mantap kalau dengan g@nj@
marijuana
Juli 3, 2007 at 10:05 am
Ada joke yang lebih sadis,
“1/3 dari perut untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi untuk udara”
diplesetin jadi,
“1/3 dari perut untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi untuk asap”
anonim
Juli 3, 2007 at 10:24 am
[...] Recent Comments rickisaputra pada 100% lelakiarif pada Adakah tips mencari jodoh untuk lelaki?Anjar priandoyo is Lifeauditor Mau dicari kemana lagi? « pada Calon jodoh kita tuh kebanyakan fans kita!hard_worker pada Kalau engineer vendor mengeluhpriandoyo pada Calon jodoh kita tuh kebanyakan fans kita!Franky pada Perlukah apply ke Sinar Mas Telecom?anonim pada Mengapa kita merokok? [...]
Anjar priandoyo is Lifeauditor Marlboro kretek harusnya dilarang beredar «
Juli 3, 2007 at 12:23 pm
i need more nikotin, now…
rezayazdi
Juli 3, 2007 at 12:34 pm
Diplomasi rokok penting mas, kalau kumpul dengan teman mau tidak mau rokok menjadi penting dibagikan. Untuk mengurus surat menyurat, administrasi perijinan, dll perlu “uang rokok.” :D
Thamrin
Juli 4, 2007 at 8:02 am
merokok itu ya karena kita sehat..
coba tanya perokok pas saat dia gak ngerokok:
“Dul, tumben gak ngerokok?”
“Iya nih, badan lagi nggak enak, Man..”
iya kan..?
~Mas Kopdang yang Kondang~
Juli 4, 2007 at 8:44 am
Waduh kalo saya ni anti rokok…
Ndak tahan kalo ada orang ngerokok disamping saya…
Heri Setiawan
Juli 4, 2007 at 10:12 am
TBC?
Wakakakakak………
Tau gak nJar,
waktu nyari Visa ke Australia, kan ada pertanyaan apakah pernah menemani orang sakit TBC. Dan kujawab “pernah”.
Langsung lama banget dapat visa-nya, padahal kawan2ku yang lain cuma 2 minggu udah dapat. hihihihihi
Tapi ternyata batuk darah itu tidak sekeren di film-film kartun ah… :p
kunderemp an-narkaulipsiy
Juli 4, 2007 at 10:56 am
thank you for smoking :)
wikan
Juli 4, 2007 at 12:43 pm
kalao kata temen sayah mah,
“uwis mangan ora udud enek”
kalao kata sayah mah uwis mangan ya minum atuh !!
chatoer
Juli 4, 2007 at 2:46 pm
Apabila diibaratkan bahwa sebatang rokok kretek adalah “sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauknya” maka jenis tembakau Virginia dari Bojonegoro merupakan nasinya. Sedangkan jenis tembakau Madura adalah sayurannya, serta tembakau Temanggung adalah lauknya (Subangun, et al, 1993:31).
Kalau lagi survey ke pedesaan, negosiasi paling lancar adalah melalui rokok…yang jadi sulit adalah cewek/orang yang tak merokok, karena minimal harus memberi satu bungkus rokok pada orang yang diajak ngobrol, baru pembicaraan lancar. Padahal buat kantong mahasiswa, harga sebungkus rokok cukup mahal. sedang bagi perokok, omong-omong bisa dibuka sambil merokok, jadi paling-paling hanya memberikan 2-3 batang rokok selama pembicaraan (catt: pengalaman survey di desa pinggiran kota Garut, Tasikmalaya).
edratna
Juli 5, 2007 at 1:25 am
Jadi gak enak nih mo commentnya..
Salam balkoners lantai 7 amdi
wis ngerti dhewe yo njar
Icho
Juli 5, 2007 at 6:28 am
Merokok tu pilihan, semua orang yang merokok sudah tau resikonya. Tapi mereka juga susah berhentinya karena sudah tau enaknya :)
AnangYp
Juli 5, 2007 at 6:39 am
padahal merokok dapat menyebabkan impotensi, gangguan kehamilan, paru2 basah, en krisis kantong keluarga…
the23wind
Juli 5, 2007 at 9:59 am
merokok silahkan
nggak juga silahkan
Resiko resiko merokok jelas untuk keseharan kita sendiri
Tetapi resiko tidak merokok tau berhenti merokok adalah membunuh mata pencaharian jutaan orang
So pilih mana?
It’s on your hand kata iklan tembakau terkenal.. :p
riyantoro
Juli 5, 2007 at 5:02 pm
Bagi rokok dong… asem…
Gak_poenya_rokok
Juli 6, 2007 at 5:11 pm
Pertama merokok saat SD, beli eceran, blm pernah bl rokok 1 bungkus. sejak awal SMA aku stop rokok, krn emang gak bs menikmatinya. Kualihkan uang rokokku utk ngisi pulsa 6 nomer cantik (3GSM matrix,simpati,3 & 3CDMA flexi,fren,starone), trus kugilir utk kuhabiskan ngenet via HP, atau utk call dg teman2 dg murah, krn aku bs memakai kartu yg sm dg punya teman2. Rasanya skrg ini akan lebih banyak orang yg rela gak merokok, asal kartu hpnya ada pulsanya.
ontoseno
Juli 6, 2007 at 6:30 pm
Bagiku merokok atau tidak merokok itu adalah urusan pribadi masing-masing. Akan tetapi, yang menjadi masalah bagiku adalah hal dibalik orang merokok.
Aku tanya kepada para perokok:
“Samean merasa senang ga klo lagi merokok ? Samean merasa lega ya klo lagi merokok?”
Klo jawabannya iya.. berarti samean bersenang-senang diatas penderitaan orang lain. Coba bayangkan asap rokok yang samean2 hembuskan keluar… itu totalitas penyakit!! penyakit bagi yang tidak merokok, penyakit bagi orang-orang sekitar! So, sekalian promosi iklan layanan kesehatan.
“Kepada para perokok, Kesenangan anda bukan berarti kesenangan kami. Asap anda bukan untuk kami. Jadi, hisaplah semua yang seharusnya anda hisap, jangan berikan kepada kami!”
Intinya, klo ngrokok, jangan nyebulin asap! Telen tu asap!
Agustian
Juli 6, 2007 at 11:36 pm
Pernah nyoba nelan asap rokok dan gak bisa tuh….
Maksudku, udara yang kita hisap saja akan terhembuskan lagi (tentu setelah proses-proses kimiawi), apalagi asap rokok.
kunderemp
Juli 8, 2007 at 1:27 pm
Rokok temen dikala sepi, dikala suntuk, dikala semangat dan dikala kegalauan hati. Merokok dapat bikin kita + percaya diri. jadi, tergantung penikmatnya!
Ayam Bangkok diatas genteng
Ngak merokok ngak ganteng….
RIFKI_CHANIAGO
Juli 9, 2007 at 5:59 am
punya temen perokok gak masalah. Tp kalo suami hrs yg bersih dari sejarah rokok. Alhamdulillah dapet deh, hohoho… 20 tahun kedepan bisa2 impoten, paru2 basah, kanker. Yang plg kerasa seh, udah mulutnya bau, badannya bau, gigi kuning… aduuhhh males bgt liatnya. :D :D
istri
Juli 9, 2007 at 5:59 pm
@ Agustian.
Sapa yg kasih asap ke anda.. ?? merokok itu mengisap dan menghembuskan asap rkok, jd asap rokok tdk untk ditelan..
Pilh mana?menghirup asap rokok atau asap knalpot/pbrik?
Mas Dunia ini warnanya bkn cuma Hitam dan Putih aja tp coklat, abu2 n biru jg ada.
Hitam = perokok
Putih = tdk merokok
Abu2/biru dll = buruh pabrik rokok, pajak dr rokok buat negara, penjual rokok, dll
Anda milih warna apa?:-)
lexo
Juli 10, 2007 at 8:21 pm
dosen saya prnah blg klo perokok itu mustinya dikasih” satya lencana” krn mboh impoten, mboh kanker, tetep menyelamatkan mata pencaharian rakyat kecil.
sbnernya klo mo berhenti ngrokok ngapain si repot2 mikrin org kecil yg kerja di pabrik rokok? klo pabrik pabrik tutup ya cari kerjaan lain lo. ato wiraswasta gt poo. jd ga ush alasan yg macem2 utk brhneti rokok. mash byk cara lain utk membantu rakyat kecil tanpa mngorbnkan kshatan kita dan org lain.
saya mw usul ke pemerintah klo pun industri rokok mash dibthkan bgt ya disediakan jg “bilik”2 tertutup (utk merokok) di berbagai tempat. biar ya ngrokok2 sendiri ya sesek2 ndiri.
btw, paru2 kan bukan daging jd ngapain diasap? lagian ngasapin daging jg ga pake nikotin…….
marisa
Juli 12, 2007 at 7:34 am
@marisa
Kok enak bngat ngocehnya.. emg maslah rokok baru muncul skrng pa?? Nenek anda blm lahir “masalah+manfaat” rokok bg org bnyk itu udah ada kok ..
Yg ngangur aja ssh dpt kerja palgi mau cari krjaan baru..
Kalo usulnya anda buat pemerintah boleh lah..gw stuju.:)
lexo
Juli 12, 2007 at 6:12 pm
intinya, kita tu hrs kreatif. byk jalan menuju ke roma. soal cari kerjaan susah pa ga itu relatif. trgntg keoptimisan msg2 kan?
soal klo pabrik rokok tu2p, saya yakin ga ada solusi yg bisa mngntungkan SEMUA pihak. lagian para direksi industri rokok itu kan org pinter semua….klo (misalnya bgt nih) pabrik ditutup ya pinter2nya mrk pindah jalur usaha. ga ada yg bilang menuju kebaikan itu mudah.
anyway, buat para perokok, itu hak kalian. tp jgn smpe hak itu melanggar hak org lain utk menghirup udara sehat.
trus buat para perokok yg udah brkeluarga ato hidupnya msh mash ditggung ortu jg sebaiknya pikir2 lg. soalnya klo mrk sakit, yg kasian kluarganya jg……mrk mah enak tidur di RS. lha keluarganya pontang panting biayain…..
aq sendiri cm strict klo yg merokok itu anggota keluargaq. pasti q larang. krn ya masalah itu td. klo org lain, ga terlalu strict asal mrk menghormati bukan perokok.
marisa
Juli 13, 2007 at 2:07 am
w pikir rokok bikin cerdas, suatu ketika pas ada kerjaan otak udah bundel (gk bisa mikir -red) begitu sedot rokok mak nyusss otak jadi cemerlang,
tau deh knapa bisa bgt, tp kadang ada saat² dimana rokok harus go away…
tribudi
Oktober 28, 2007 at 4:03 pm
i hate smoke
kinindan
Mei 29, 2008 at 3:42 am
31 Mei hari tembakau sedunia, lho. Hayo, puasa ngerokoknya :D
Didik Wicaksono
Juni 1, 2008 at 5:44 am
gawe wong2 sing ga’ seneng “heaven smoke” Ra Osa Kakean Omang Kowe!!!
I.Zul
Februari 25, 2009 at 1:52 pm
kelas 2 smp sampe lulus sma, perokok berat,ganja,mabuk, hidup heaving fun, srh berhenti gue cuekin, stlh lulus,….punya target, harus mengubah kebiasaan tersebut. awalnya berat, tp ya jd biasa asal ada komitmen yg kuat,dan tidak terpengaruh. hasilnya: jadi orang yg tidak membenarkan/ membela klo ternyata dirinya salah/kurang pas.
anx
Februari 25, 2009 at 7:29 pm
mangan ra mangan asal ngrokok…..
Djuned
Juli 4, 2009 at 12:33 pm