Karena sempitnya waktu?

Kita hidup dalam dunia yang serba tergesa, mulai dari berangkat kerja kita berpacu dengan waktu, menyelesaikan deadline kita juga berpacu dengan waktu. Semua hal diukur dengan waktu. Semakin efisien waktu yang kita kerjakan maka semakin banyak kemudahan yang kita dapatkan.

Sempitnya waktu ini mengajarkan kita untuk bekerja dengan efektif. Sempitnya waktu ini mendorong manusia menciptakan project management, mendorong tercipta metode-metode agar sesuatu bisa dikerjakan lebih cepat, lebih baik, lebih sempurna agar kita punya lebih banyak waktu.

Sempitnya waktu juga mengajarkan kita untuk bisa lembur hingga dinihari, menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam karena tahu besok semua akan terlambat. Sempitnya waktu juga mengajarkan kita untuk menciptakan reminder agar kita bisa melakukan lebih banyak hal lagi dalam suatu waktu. Ah ketamakan kita terhadap waktu.

Sempitnya waktu juga memacu kita menjadi karakter yang arogan, merasa bahwa waktu yang lebih banyak yang kita telah miliki selalu lebih hebat dibandingkan orang lain. Sempitnya waktu juga membuat kita menjadi pemarah, bahwa kita selalu menuntut adanya kesempurnaan dalam segala hal kehidupan.

Padahal, kapan sih kita merasa punya cukup waktu
kapan sih kita bisa belajar untuk puas

Ditulis dalam Leadership.

8 Tanggapan ke “Karena sempitnya waktu?”

  1. areta Berkata:

    yep, padahal waktu jalannya biasa ajah, tp rasanya cepet buanget!
    org2 jd cepet tua n cepet mati (ya gak c?)
    anak2 jg udah pd kehilangan masa kanak2. kebanyakan belajar. skrg materi yg mrk pelajarin d skul berat bgt n byk bgt. jaman gw masih kecil, anak2 masih cupu2. gk kyk anak2 skrg.

  2. meli Berkata:

    Yup!! setuju banget… waktu berasa cepat, apalagi pas qta ketinggalan pesawat, berangkat kerja macet, kok waktu udah cepat berlari… beda sekali dengan ketika aku ke luar jakarta, seperti padang, lampung, dll…waktu jadi berasa lama sekali. kemungkinan karena ritme kita udah terbiasa dikejar waktu kali’ ya… sekalinya ada waktu banyak, jadi berasa kok lambat waktu bergulir….itu kali ya yg bikin orang jadi cepat marah???……

  3. ihedge Berkata:

    “Sempitnya waktu ini mendorong manusia … agar kita punya lebih banyak waktu.”

    Sayangnya waktu bebas yang didapat dengan perbaikan2 itu malah dipakai untuk semakin menambah beban, bukan untuk dinikmati, dirasai.

  4. papabonbon Berkata:

    gimana yah, buat overtime supaya pendapatan ndak njomplang, je … :D

  5. denagus Berkata:

    Ya, begitulah waktu. Saya pernah membuat prinsip diri, Hari ini harus lebih baik dari kemarin atau minimal hari ini sama dengan kemarin. Akhirnya, ternyata saya tidak tahan banting. Nggak bisa idealis! Maka dengan mempertahankan kualitas dari aktivitas (dalam hal ini bisa dikatakan istiqomah), betul-betul sudah merupakan sebuah prestasi / capaian target yang memuaskan. Memang tidak gampang lho… Sepertinya sepele. Contoh sederhana, Menjalankan sholat 5 waktu selama seumur hidup?! Saya pernah lupa, gara-gara menundanya! Padahal sholat yang kita tinggalkan, tidak bisa digantikan oleh sholat dilain waktu. (bukan menjamak sholat lho).

  6. hananto Berkata:

    Sempitnya waktu kayaknya lebih sering utk melakukan hal-hal yg rutinitas. Asalkan jng krn rutinitas jadi lupa “mengasah gergaji” kita sebgai program self development :))
    Kenal sama Syarif Hidayat mas? biyen cah ilkom UGM

  7. edratna Berkata:

    Kalau kita menyadari waktu terbatas, buatlah program yang seimbang…dan agar tak lupa simpan di reminder.

    Justru karena sempitnya waktu ini, membuat jeli orang berbisnis, ada cafe dekat kantor, jadi kalau tunggu pacar, suami/isteri tak bosen lagi. Apalagi kalau ada fasilitas internet, bisa-bisa malah lupa pulang.

    Kalau hubungan suami isteri masih mudah diatasi, ketemu di cafe mana…tapi bagaimana dengan anak? Ini yang perlu dipikirkan, apalagi Jakarta makin macet dari hari ke hari.

  8. ikow Berkata:

    baru sadar aku kalu sampeyan pernah di mgl n yk, pantes tulisannya mirip eyang umar khayam, emang tul seh di jkt itu smuanya kliatan serba sibuk dan kesusu, tapi ya itulah jkt palagi kalu sampeyan pernah di yk, saya juga pernah punya prasaan gitu kok mas, dan skr sy ada di medan, lumayan lho berangkat jam 7 lewat masuk kantor jam 730, masih sempet ngopi dan bercengkerama dengan keluarga, itulah mas di jkt memang nyebellin, tapi gimana yaaaa??? sayapun akan selalu merindukan jakarta. tolong dibuat topik baru ” Kenapa harus di jkt???” thx. ( tuh disini kerjaan bisa cepet selesai, pasilitas juga nggak kalah ya??, mungkin kalu di jkt yg ideal kita tinggalnya teteup di dlm kota mungkin massss, baru deh enak nggak pake macet2, btw lagi nabung nih utk bisa beli di tengah kota, 1 m cukup nggak yaa???

Tinggalkan Balasan