Belajar sabar dari ular

Ular konon bisa diam berjam-jam menunggu mangsanya. Tapi, begitu mangsa didepan mata dia bisa menerkam dalam orde sepersekian detik. Artinya, si ular tahu betul artinya sabar. Sabar bukan berarti lambat. Sabar selalu dikombinasikan dengan kecepatan, bukan sekedar kecepatan, tapi kecepatan yang luar biasa. Kita perlu belajar sabar dari ular.

Dunia kerja kurang lebih seperti itu, ritmenya sangat lambat. Normalnya kenaikan gaji dilakukan satu tahun sekali, kenaikan pangkat dilakukan setiap empat tahun sekali. Dan empat tahun itu bisa berarti waktu yang sangat lama, apalagi bagi perusahaan yang memiliki sistem promosi yang lebih tradisional. Jikalau tidak sabar bisa jadi potensi kita hanya bertahan di satu dua tahun pertama. Tahun berikutnya memble, dan tahun promosi justru kita menjadi malas-malasan ataupun tidak perduli.

Pertanyaannya seberapa lama kita bisa bersabar? dan seberapa siap kita untuk menerima hasil penantian kesabaran itu.

Seorang engineer yang baik misalnya membutuhkan waktu 8 tahun sejak dia diterima bekerja untuk kemudian menjadi manager network regional. Tahun tahun pertama bekerja engineer itu menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik hingga tibalah tahun keenam dari penantiannya. Ternyata di tahun keenam itu ‘bencana’ terjadi. Ada perubahan struktur, GM regional yang baru ternyata mempersiapkan kandidat lain sebagai manager regional, sehingga sakit hatilah si engineer baik hati tersebut.

Kembali pada kasus ular tadi, bisakah engineer tadi belajar dari sang ular? bukankah dia sudah menanti dengan sabar selama enam tujuh tahun lamanya. Targetnya memang sudah didepan mata, tapi ternyata ada faktor lain yang mengubah takdirnya sebagai penerkam mangsa. Faktor itu bernama timing, kesesuaian waktu.

Ular memang sangat sabar, dia sudah bisa melihat target santapannya dengan sangat jelas. Sekali target itu terlihat dan selamanya target itu terekam dalam ingatannya. Artinya, ular betul-betul memperhatikan dengan detail gerakan sang mangsanya. Meskipun posisi target sangat dekat, ular tidak akan menyerang bila posisinya tidak menguntungkan.

Dunia kerja mungkin jauh lebih rumit, kita bisa mempraktekkan ilmu sabar si ular dalam dunia ini. Dan kalaupun kita mau, ‘ular’ juga punya banyak cara lain untuk menerkam mangsanya. Anda tahu caranya?

Ditulis dalam Leadership.

8 Tanggapan ke “Belajar sabar dari ular”

  1. Nofie Iman Berkata:

    Ayah saya mengajarkan kecerdasan, kesabaran, dan ketenangan ini lewat memancing. Sejak kecil saya memang sering memancing — darat maupun laut.

    Di sini kita tak cuma dituntut cerdas dalam meramu bait dan menggunakan tools; tetapi juga sabar dan tenang dalam menunggu serta mengantisipasi hal-hal yang nggak kita perkirakan sebelumnya. Dan bukankah Allah itu beserta orang-orang yang sabar?

    Bicara soal ular, kalau tidak salah stereotip ’sabar’ ini hanya untuk jenis ular tertentu, seperti boa dan python, tapi tidak berlaku pada jenis yang lain. CMIIW

  2. andrias ekoyuono Berkata:

    sekarang nih jamannya agresif bos, kalau pasif gitu ya disamber orang. Harus proaktif. Perlu ditegaskan bahwa diam itu bukan lagi emas di masa sekarang

  3. maradona Berkata:

    makanya jadi orang yang gesit
    segesit gue

  4. wisnu Berkata:

    wastainu bissobri wassolah

    “Jadikan Sabar dan Sholat Sebagai Penolongmu”

  5. Pendekar Berkata:

    sebagai seorang pendekar ilmu ular sangat mengejawantah dalam diri saya, lambat, pelan, perlahan, penuh kehati-hatian dan percaya diri, namun sekali sodok jangan tanya rasanya….

  6. kabayan Berkata:

    Klo Pawang Ular …?

  7. winterwing Berkata:

    jadi harapan yang telah dipuypuk lama harus rela dihancurkan dalam sekejap ya?

  8. debix_ijo Berkata:

    tapi loooo ati2 za, jngan trlalu dkat dngan ular ntar looo di patuk nyaaaaaaa
    hiiiiiiii

Tinggalkan Balasan