Rezekinya orang menikah
Dalam kebudayaan manapun, pernikahan selalu dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan. Makanya tidak heran dalam jaman manapun pernikahan selalu dirayakan dengan meriah, penuh simbol kesejahteraan, kesetiaan dan panjang umur. Pernikahan selalu dianggap momen yang sakral yang bahkan dalam beberapa kebudayaan dianggap sebagai momen kedewasaan seseorang.
Dulu, waktu masih bujang, nasihat yang paling sering saya dengar seputar pernikahan -tentunya dari orang yang sudah menikah- adalah
“Tenang aja Jar, kalau sudah menikah, rezekinya pasti dimudahkan”
Klise mungkin, dan biasanya nasihat susulannya adalah
“InsyaAllah kalau sudah menikah hati jadi lebih tenang”
Karena saya orang eksakta, logika saya bilang tidak masuk akal. Ya, bagaimana mungkin rezeki lebih mudah, bukankah dibelakang kita ada cicilan KPR, biaya pernikahan, biaya A, biaya B yang rumit. Atau bagaimana bisa tenang, lha wong sebagai suami artinya kita bisa tidak sebebas bujang dahulu. Belum lagi tuntutan masyarakat dan keluarga. Pusing.
Tapi, setelah dijalani ternyata semua nasihat diatas ada benarnya. Tapi, saya tidak akan bercerita bagaimana rezeki yang orang menikah dapatkan karena tentunya parameternya sangat sulit. Contoh, setelah menikah pekerjaan saya dikantor lebih baik, project lebih besar, tim lebih solid sampai urusan menulis pun menjadi lebih lancar, teman menjadi lebih banyak hingga urusan rumah, prasarana fisik yang ajaibnya lebih dimudahkan daripada dugaan saya semula.
Tapi, itu semua sulit diukur kan. Karena nasihat lengkap seputar pernikahan diatas adalah
“Rezeki itu ga selalu berbentuk uang Jar, bisa jadi ada saudara yang membantu, bisa jadi bos kamu memberikan kesempatan lebih baik. Intinya Jar, rezeki itu bisa dateng dari tempat yang tidak terduga”
Nah karena sifatnya yang abstrak ini, saya kesulitan untuk mendapatkan pembenaran nasihat pernikahan tadi.
Kalau menurut saya, rezeki yang pasti didapatkan orang menikah adalah:
1. Wibawa
Wibawa, kharisma, aura, kehormatan, percaya diri atau apapun istilahnya, menurut saya adalah 100% guarantee dari orang yang sudah menikah. Buat saya, apalagi dalam bisnis jasa (professional service) yang saya kerjakan, masalah wibawa ini menjadi sangat penting. Pekerjaan assurance service, tidak lebih dari bagaimana meyakinkan orang lain.
Beberapa kali saya berbicara dengan banyak orang, mulai dari supir kantor hingga GM setempat. Impresi yang saya dapatkan terhadap orang yang sudah menikah selalu impresi yang sangat positif, artinya setengah pekerjaan sudah selesai dimuka.
2. Tanggung jawab
Punya pasangan artinya punya tanggung jawab lebih, artinya kemampuan kita memimpin, kemampuan kita berempati juga akan lebih baik. Ilustrasi yang paling mudah menggambarkan kondisi ini serupa dengan mobil sport. Mobil sport sekelas Porsche ataupun Audi selalu didesign dengan pemberat dibagian belakang mobil. Mobil yang dipacu dengan kecepatan tinggi harus diberi pemberat (wing) dibagian belakang agar mobil bisa berpijak ditanah dan melaju kencang.
Rumah tangga mungkin seperti itu, dengan adanya ‘beban’ istri atau suami. Ajaibnya justru membuat laju kehidupan kita lebih stabil dan lebih baik.
Pertanyaannya, didunia bisnis seperti saat ini dimana karakter adalah segalanya untuk menggapai sukses. Dimanakah posisi pernikahan?


Hmmmm… kalau saya sih setuju dan tidak setuju dengan pendapat anda.
Setuju:
Memang betul, seperti yang anda katakan, menikah dapat membentuk karakter (tidak bisa se-egois kala membujang), pertanggung-jawaban, dan lain sebagainya. Sehingga, karakter ini pun terbawa ke tempat kerja. Tetapi, saya tidak yakin bahwa pembentukan karakter ini semata-mata hanya bisa terjadi karena menikah. Bukankah yang tidak menikah pun karakternya bisa terbentuk? Ini tergantung pribadi masing-masing tentunya?
Juga, memang di mata manusia, ketika seseorang sudah menikah, terkesan hidupnya sudah stabil (apalagi di kebudayaan timur). Sehingga di tempat bekerja, efek psikologis dari rekan kerja, lebih mempercayai seseorang yang sudah menikah (seperti yang anda sudah katakan, terkesan ‘positif’).
Tidak setuju:
Dengan analogi anda. Masalahnya, dari pengalaman yang saya pernah lihat sendiri, justru karena menikah, karir dan pendapatan harus dipertimbangkan dengan si istri. Maksudnya, tidak bisa sefleksibel dalam berpindah antar kota, jauh dari istri dalam jangka lama, dan lain sebagainya. Sehingga, di kasus ini, analoginya menjadi: ‘Si istri bak truk gandengan yang membuat perjalanan lebih berat’
Kesimpulan: saya kurang setuju dengan ukuran menikah atau tidak menikah sebagai ukuran baik atau tidak baik (rezeki atau non-rezeki). Memang harus diakui, di kebudayaan timur, pandangan ini masih sangat kuat (bahwa menikah tentunya jauh lebih baik)
Seperti dari tulisan anda, opini anda dalam hal ini tentunya sangat dipengaruhi atas lingkungan anda (orang tua) dan agama?
Catatan: Tidak ‘pick a fight’ tentunya, hanya ingin mengundang para pembaca berpikir lebih luas lagi ;)
Rusdy
Agustus 1, 2007 pada 12:40 am
analogi Prsche dan Audi-nya lucu :P
ndin
Agustus 1, 2007 pada 1:34 am
“Tenang aja Jar, kalau sudah menikah, rezekinya pasti dimudahkan”
Saya hanya mengkomentari yang diatas ini;
Saya menikah unur 29 tahun dengan bekal keyakinan akan ada rezeki untuk keluarga saya, karena saat menikah saya hanya berwiraswasta dengan income bersih paling Rp. 200.000 per bulan.
Alhamdulilillah, setelah kehamilan istri saya masuk usia 7 bulan, saya mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan.
Sekarang saya merasa lebih kaya lagi dengan 2 anak cewek cowok, karena banyak teman-teman seusia saya malah belum menikah.
Jadi benar rezeki berujud materi lebih dimudahkan, dan rezeki berupa nikmat punya anak istri juga didapat.
ontoseno
Agustus 1, 2007 pada 2:09 am
O ya? Trus gimana dengan yang satu ini:
“banyak anak banyak rezeki”
Henk
Agustus 1, 2007 pada 8:58 am
Menurut saya ada benarnya.
Setiap individu dijamin rezekinya, jadi setiap anak sudah diatur rezekinya. Dan rezeki itu jalannya banyak. Pedagang diberi rezeki lewat jualannya, petani diberi rezeki lewat kebunnya, pegawai diberi rezeki lewat kantornya, anak diberi rezeki dari orang tuanya.
Jadi orang tua yang memiliki banyak anak akan otomotatis menjadi jalan rezeki bagi semua anaknya.
ibrahim
Agustus 1, 2007 pada 9:07 am
jadi pengen cepet2 niy…maksudnyahh cepet dapett ilmunya….
nailah zhufairah
Agustus 1, 2007 pada 9:09 am
amieeeennn…
*cuma bisa mengamien-i dan berdoa semoga saya kesampean keinginan menikah muda*
tyka
Agustus 1, 2007 pada 12:22 pm
Memang rejeki, jodoh dan maut itu kan sudah diatur oleh Tuhan , jadi jangan takutlah kawin muda. siapa yang mau nyusul ???
w4ryo
Agustus 1, 2007 pada 1:32 pm
Yang pasti kalau sudah menikah kita jauh lebih tenang …Okey Booss!!!
suprie
Agustus 1, 2007 pada 1:41 pm
wah ,jadi semakin pingin cpt-cpt nich!!!
ippank
Agustus 2, 2007 pada 12:30 am
wah.. apakah semua itu benar..? apakah karena hubungan suami istri saya yang baru seumur jagung sehingga saya tidak merasakannya ..?
Freddy Hernawan
Agustus 2, 2007 pada 2:03 am
fiuhhh…..
rezeki?…
sayangnya tidak semua orang tua berfikir hal yang sama…. dengan anaknya :(
menikah kan buat ibadah….. rezeki hanya sebagian nikmat yang akan kita dapatkan
poed
Agustus 2, 2007 pada 2:20 am
Kalau dari pengalaman saya pribadi, sih, memang setelah menikah rezeki (kalau dilihat dari segi materi/penghasilan) sama saja dengan sebelum menikah…. cuma, setelah menikah rezeki tersebut benar-benar termanfaatkan dengan benar dan nyata kelihatan hasilnya (e.g. ada barang yang bermanfaat yang terbeli).
Dibandingkan pada waktu masih bujang, benar-benar tidak tahu kemana larinya penghasilan saya selama itu…. sepertinya cuma habis untuk senang-senang nurutin hati…. ga ada tabungan, ga ada barang bermanfaat yang terbeli….
Kalau menurut saya, itu saja perbedaannya…. dalam hal pengelolaan rezeki kita tersebut.
Note: Tapi saya ga menyesal “bandel” pada waktu masih bujang…. karena sekarang ini saya lihat banyak teman saya yang “bandel’nya telat…. karena waktu bujang tidak pernah merasakan menjadi “bandel”, akhirnya “bandel”nya muncul setelah nikah.
Kalau saya sekarang ini, jika ada godaan dan ajakan untuk berbuat yang “bandel”, bisa saya jawab dengan belagunya : “ah, bosen…. dulu sudah pernah”.
Prast
Agustus 2, 2007 pada 4:42 am
Hmm, saya punya temen nih, waktu sekolah dulu dia menikah, mungkin dijodohkan ya. Lama2x sekolahnya keteteran dan nggak selesai, karena harus disambi kerja -apa aja- agar dapur tetap mengebul. Ya sekarang sih dia sudah cukup mapan, tapi di awal harus melalui masa2x sulit.
Teman saya yang lain, baru menikah setelah sekolahnya selesai dan sudah bekerja. Hidupnya mapan juga, tapi tanpa harus melalui masa2x sulit.
Saya sendiri, seminggu sebelum menikah jobless. Hari sabtu menikah, alhamdulillah seninnya langsung bekerja di tempat baru.
Henk
Agustus 2, 2007 pada 5:13 am
sebenernya balik2 ke orangnya. Rezeki itu kan potensialnya sudah dijamin buat semua mahluk hidup, mau kawin mau kagak. Tergantung usaha dan strategi buat nggondolnya.
Ada yang bisa menjadikan menikah sbg penajaman usaha dan strategi, lebih smart, lebih responsible, lebih pede, dsb. Ada yg malah keteteran. Istri hamil, kerjaan ga ada, malah lari ke judi pula.
Kalau cuma linier antara faktor kawin dan rezeki, ntar pada beristri 4 semua dong hahahaha….
barista
Agustus 2, 2007 pada 5:43 am
Yup… masalahnya buat prepare kesana aja dah perjuangan tersendiri mas.
Jadi setidaknya dari awal aja…dah keliatan. jadi buat menikah dan kedepannya tinggal menuai hasil? (hasil opo kie..)
.
.
pokoke, ndang kawin deh hehehe
ridwan
Agustus 2, 2007 pada 9:06 am
orang yang sudah menikah itu rejekinya memang lebih banyak. bisa itu rejeki istri, anak, jadi merger deh.
julfan
Agustus 2, 2007 pada 2:07 pm
ini pengalaman pribadi mas dan mbak….
saya menikah umur 29th (telat sih…) income cuma dari gaji karyawan cuman 1,75jt…
rumah ndak punya..tabungan habis terus…
setelah 4,5 tahun menikah eh…income dari 3 warnet + rmh kost + rmh kontrakkan + gaji = 15jt/bln…
Rumah mungil…mobil phanter thn 2000 …
lebih lagi saya dikarunia 2 putri cantik nan pintar dan sehat …alhamdulillah
jadi percaya menikah itu ada rezekinya…
imam
Agustus 2, 2007 pada 4:03 pm
Yang paling pasti rezeki gak akan datang cuma lewat “nikah”. Musti ada usaha yang lebih dari sekedar nikah.
Tanpa bermaksud bersifat negatif terhadap pernikahan … karena saya juga sdh menikah :) … mungkin lebih banyak lagi yang hidupnya juga tetap susah (kalo tdk mau dibilang lebih susah) setelah menikah … bahkan ditambah anak. Ingat lho … anak itu berhak untuk dapat yang terbaik, dan jaman sekarang anak bukan cuma butuh makan aja.
Kalo diurut dari atas bahwa “semuanya baik” mungkin diluar sana banyak juga yg “gak baik”, tapi gak bisa join ke milis krn gak punya PC dan bisa buka internet :) ..
Persiapan mental dan material, planning kedepan dan beneran dijalanin planningnya … selebihnya ya doa.
Lebih baik berfikir “Nanti bagaimana?” ….. sekarang ini kan kebanyakan orang cuma mikir “Bagaimana nanti!”.
Peace ….
Dion
Agustus 3, 2007 pada 5:58 am
Beneran ta? Saya mau menikah secepatnya aja.
sagung
Agustus 3, 2007 pada 7:11 am
untuk sagung gimana kalau kita menikah saja mana tau rezeki kita bertambah
didin
Agustus 3, 2007 pada 2:40 pm
Sore2 ikut nimbrung padahal semulanya hanya cari2 info tentang KPR eh malah terdampar juga ke link ini :)
Mengenai rejekinya orang yang sudah menikah dan anak yang dilahirkan .. alhamdulillaah kedua hal tersebut Allah kasih kesempatan untuk saya, suami dan anak menikmati rejeki dari-Nya (Nikmat manalagi yang kau dustakan ? ^_^ ).
Walaupun menikah dengan modal nekats .. tabungan gak seberapa .. syukuran nikah pun amat sangat sederhana .. jauh dari hura2 :)
Mau menikah .. calon suami memutuskan kontrak kerja tidak diperpanjang sesuai dengan permintaan saya yang tidak mau keluar Jakarta :)
Alhamdulillaah hanya kosong 2 bulan saja, calon suami dapat kerja di Jakarta .. dan gak lama kemudian kami menikah.
Satu bulan kosong, kemudian saya hamil .. menjelang saya melahirkan .. alhamdulillaah suami mendapat kesempatan kerja yang lebih baik lagi di tempat lain .. Alhamdulillaah wa syukurillaah :)
Sekali lagi .. nikmat manalagi yang kamu dustakan ?
** Btw, tapi mohon maaf .. saya bukan penganut nikah usia muda.
-dinar-
Lapak.info
Dinar
Agustus 7, 2007 pada 10:58 am
nikah umur 22, duit minus karena ketipu beli tanah 45jt. ngontrak di kosan kuecilll.
setelah 3 tahun (skrg umur 25), punya rumah sendiri, mobil baru thn 2007, punya anak yang lucu ganteng dan sehat. Alhamdulillah….
duit sendiri looo…… bukan dikasi mama papa :)
mama-jesse
Agustus 7, 2007 pada 12:47 pm
emang bener rejeki bakal lebih mudah? saya umur 24 rencana menikah akhir 2008 penghasilan saya 1.8 jt sebagai karyawan. saya sudah siap dengan kehidupan pernikahan. yang jadi masalah biaya pernikahan itu mahal apalagi calon mertua maunya banyak. tabungan pas-pasan. gaji segitu-gitunya, orang tua gak mungkin lagi diandelin biayain resepsi. sharing donk cara menemukan solusi yang tepat.
Muzaki
November 20, 2007 pada 4:03 am
rejeki krn nikah??
bukankah menikah itu sendiri rizki dr Allah? kita sibuk mikirin ‘stelah nikah pasti ada rizkinya’ en kita lupa mensyukuri pernikahan itu sendiri. coba, dari posting kategori nikah ini aja, brapa yg bilang blom dpt jodo en pgn cepetan? brati, bisa nikah itu ndiri udah rizki donks?
financial? hmm.. moment2 ‘ajaib’ diatas (misal abis nikah totally rejeki lancar n jabatan naik), menurutku itu skedar reward dr Allah atas kesediaan kita memenuhi sunnah Rasul-Nya.
aku rasa akan lebih indah rewardnya terasa kl kita ga nungguin reward itu, tp konsen dg mensyukuri nikmat merit. sama halnya kl kita kerja jujur en tiba2 naek pangkat tanpa ada tujuan fokus kesitu..
menurutku, justru siapkan diri buat kehidupan merit itu. financial dll mah a surprising reward aja.. dont count on it, n u’ll cherish it even more..
ima ayu
November 21, 2007 pada 8:14 am
rejeki karna nikah? hmmm..
bukankah merit sendiri itu udah mrupakan rizki dr Allah? coba, dr posting di kategori pernikahan ini,brapa yg komen pgn merit tapi blom bisa? jadi, merit itu ndiri udah karunia donks?? betul benar? hehe..
kita suka sibuk membahas en mensyukuri nikmat yg kita dapet after merit, tp ga inget buat mensyukuri rizki pernikahan itu ndiri..
financial? social position? jabatan? tugas? kedudukan?
to me, itu cuma reward tambahan dr Allah atas keiklasan kita menjalankan sunnah Rasul-Nya. belajar giat buat dapet gelar siswa teladan, akan beda kepuasannya dg blajar biar mudeng & tiba2 dpt gelar juara international olimpiade fisika..
my point is, konsentrasikan niat merit buat melengkapi setengah dien. minta sama Allah utk dibimbing ke berkahNya. smua karunia tambahan itu hak Allah buat kasi ato ga. ga usah dipusingin deeeh…]
buat mas muzaki, menurutku ngmg aja ama camer keadaan sesungguhnya. klo emg dia ngeyel mau macem2, resiko pihak cewe donk.. saya jg lg nyiapin pernikahan, insyaAllah th 2008 juga. dana kami yg ada jg pas2an. akhirnya kami kompromi sama ortu saya, mana item2 yg bisa dibuang. lainnya, klo ortu saya keukeuh, ya mreka bersedia nanggung biayanya.. its all bout communication n understanding..
suxes yah!!
ima ayu
November 22, 2007 pada 2:06 am
emang beneran ga siy dgn semua pendapat diatas? kok gw jd makin ragu untuk menikha, umur gw 29thn, tp keinginan buat menikah belum ada secara kerjaan aja masih suka gontaganti belum ketemu yg pas..
emang rezeki Tuhan yg ngatur degn segala kerja keras kita…tapi kalo soal rezeki krn menikah, wah gw ga ada pendapat siy..
bydewey,gw bukan pendukung nikah muda,tapi mendukung nikah dgn persiapan yg matang:)
cheers
senyum itu ibadah
November 22, 2007 pada 4:16 am
ngbaca komen dari semuanya gw semakin yakin nih buat nikah, jadi pengen cepet2,
kebetulan udah punya rencana buat nikah tgl 3 feb nanti, tapi kerja gw masih kontrak bulan desember depan kontraknya abis, ga tau nih diperpanjang apa diangkat atau selesai, tabungan juga ga punya cuma tunggu bonus tahunan dari perusahaan yang katanya sih dapet nanti bulan desember, butuh dukungan moril nih.
btw, gw dapet calon istri yang umurnya jauh lebih muda dari gw, gw 25 calon istri gw 18, ada yang punya pengalaman ga kondisi kaya gw sekarang :)
abdillah
November 23, 2007 pada 1:43 pm
mas abdillah,
nyante aja.. temenku 27 dapet 18 juga survive..
ga ada hubungannya sm umur ko. yg penting karakternya..
gw yg 24 aja kalah dewasa (dari penampakan sekilas siih) sama tu anak 18th.. tipe istri bgt deh.. (maxudnya??)
pokona, udah pantes jd istri..
klo gw, org ngliat gw punya cowo jg malah pada prihatin sm tu cowo: “nge-datenya tiap minggu beliin balon ya a’?”
“sanes bu. es krim stroberi..”
eniwei.. klo si calon, at watever age, udah mau nikah, umur itu totally ga ngaruh watsoever.. (asal udah haid.. hehe)
dg note totally dia yg pengen en menyatakan siap, bukan krn disuruh babenya…
smangat mas!! bismillah aja..
ima ayu
November 27, 2007 pada 2:10 am
buset, mikirin umur, hugh heffner udah bangkotan dapet cw 20-an … 3 lagi ! swt….
masih ada koeshendratmo, demi moore, dll…
bagus
November 27, 2007 pada 2:25 am
Intinya seh reason kita menikah utk apa: ngejar status “sdh nikah”, memformalkan rasa cinta pd kekasih terchayank selama ini, bikin anak, nyenengin ortu, dll. Dan modal utama nya ….. terutama sekali si calon suami harus sgt mencintai sang calon istri. Jgn pernah ngimpi mengajari suami “mulai belajar mencintai istri” stlh nikah. It never works man ! Krn pd dasarnya pria adl “pembeli”, wanita adl “perhiasannya”. Kalo beli “perhiasan” sesuatu yg sebenernya gk gt minat, ngerawatnya akhir nya jg ogah**an khan ?! Kalo yg bener** minat terus akhirnya dapet…. wah, anugrah bo! Contoh extrem nya itu menjelaskan kenapa Pangeran Charles milih Camilla pdhl Lady Di jauh lebih keren. Pun yg terbaik adl saling mencintai, ada pepatah=> “Utk pria : nikahilah wanita yg sgt kau cintai pun dia tdk mencintaimu. Utk wanita: nikahilah pria yg sgt mencintaimu pun kau tdk mencintai dia.” Bagaimana tahunya ? Detik** terakhir saat menjelang nikah hati kecilmu bicara siapa sbnrnya yg plg kau cintai. Itu kenapa di Jawa di malam terakhir menjelang nikah besok, sang pria msh “ditanya” sang calon mertua, benar** niatkah dia menikahi anaknya besok.
Pusmeong
November 27, 2007 pada 5:19 am
saya setuju dengan mas ,Muzaki.?tabungan saldo dibawah saldo,gaji gak naik-naik.ortu………… karena saya penggemar orang2 yang berdikari/mandiri.
Btw., status saya kerja dan kuliah.tapi tidak menutup kemungkinan harus cepat2 mengakhiri masa lajang ini.bicause.teman2 seangkatan dah pada merit,dan faktor usia dah lebih jauh mendukung.pussing banget.
mampuh gak yah ngejalanin :kerja kuliah & rumah tngga.
cari bahan pemasukan nih,
thx
tony
Maret 30, 2008 pada 10:26 am
rejeki memeng sudah ad yang atur tapi klw kitanya ga ad usaha ya sama aj boke-boke juga jd jngan malas mencari rizki yah
lina
April 10, 2008 pada 8:55 am
rejeki memang sudah ad yang atur tapi klw kitanya ga ad usaha ya sama aj boke-boke juga jd jngan malas mencari rizki yah
lina
April 10, 2008 pada 8:56 am
Sy setuju dgn artikel di atas.menikah pst ad rezekiny.berdsrkn pnglmn pribadi.sy mengamati,,,tmn2 sy stlh menkh,jstru slalu blg,knp ga dari dulu sj nikah,bkn skr.itu artiny..ad ketentraman yg di dpt & kenyamanan hdp.walau perjuangan hdp msh hrs di jalani,ad seseorang yg bsa di jdkn t4 berbagi.entah seneng/susah.tujuan lbh terarah di bandingkn yg blm menikah.
Saya,dulu berpkr menikah itu hnylh sebuah hitam di atas puth,toch tetp ad perselingkuhan.
Sebuah legalitas seks,dsb.
Namun,pandangn tsb perlahan memudar.
Seiringny B+ usia.(skr 27 thn)
sy msh sendri,dan mengalami kesepian yg hampa.
Memang sich skr lg jobless/nganggur,,
tp wkt msh bkja,,perasaan kesepian tetp aj menjalari.
Skr,insya allah,bila ad ikhwan yg serius dan mau membimbing,sy siap tuk menerima.
Ninuk setiasih
Desember 12, 2009 pada 6:19 am
[...] tulisan atas pengalaman mas ini janji Allah itu memang benar, hanya saja mungkin kita kadang gak paham karena bentuknya yang [...]
Menikah dan Masalah Finansial « Rei ♥ Sagara
Mei 26, 2010 pada 1:42 pm
Mas, saya ngelink, muhun… (udah ngelink baru izin, hehe)
tierainrie
Mei 27, 2010 pada 12:20 pm
mending nikah da. menyempurnakan agama dan mencegah maksiat. ak jg bujang, pendapatan diatas 2jt, dan calonku apoteker, tetap aj ragu menikah tp takut calonnya kabur. jd mending nikah..
utum
September 14, 2010 pada 3:38 am
sekedar nimbrung boss, menurut saya sih nikah tuh sebuah pilihan,saat ijab terjadi perjanjian antara calon suami terhadap ayah si calon istri.jd karna terikat oleh janji itulah muncul tanggung jawab yang besar suami terhadap istri,mulai dari kebutuhan, keselamatan,hingga kehormatan keluarga.sukses tidaknya pernikahan tergantung suami dalam mengatur rumah tangga.soal penghasilan jangan kuatir selama ada usaha ada jalan serta do’a dan keyakinan. ada yang abis nikah penghasilannya lancar, ada juga yang malah mengalami cobaan kesulitan ekonomi. ya itulah pernikahan merupakan sebuah proses,tergantung kita mau tidak menjalaninya dan menyikapinya dengan bersyukur.pintu rizky akan terbuka jika kita mau mensyukuri ni’mat Allah. percaya dech……
ucup
Oktober 1, 2010 pada 4:19 am
Make it simple dude, bismillah dengan tulus dan ikhlas trus jalanin. Intinya nikah adalah berkah. Saya baru nikah 31 may kemarin dan saya sangat besyukur semua lancar jaya. Allhamdulilah.
Jojow
Juni 3, 2011 pada 7:17 pm