Bisnis tanpa preman
Agustus 13, 2007 — priandoyoKonon faktor penting dalam bisnis adalah lokasi. Saya sih percaya, apalagi kalau bisnis ini skala kecil dan menengah. Faktor lokasi ini bisa jadi maha penting dalam kesuksesan bisnis. Ambil contoh, saya punya rencana membuat terminal bayangan di seputaran Jakarta ini. Terminal bayangan ini penting, karena berdasarkan pengalaman saya dari Bintaro, sangatlah sulit untuk mencari bis ke arah timur (Tegal, Semarang, Cirebon) karena mau tidak mau saya harus menuju terminal Pulogadung, Lebak Bulus, ataupun Stasiun Gambir jika harus mengambil kereta.
Beruntunglah, sudah banyak armada bis yang menyadari pentingnya mengejar bola ini. Belakangan cukup banyak ditemukan terminal bayangan di Kebayoran baru, Dewi Sri di Ciledug, dan beberapa lokasi lain yang saya tidak hafal. Konon menurut supir taksi yang rajin pulang ke arah timur. Bisnis seperti ini sangatlah menguntungkan. Tinggal punya lokasi cukup strategis untuk parkir 2-3 bis, membuat ticketing sederhana dan beres. Bisnis ini bisa dijalankan dengan modal sangat kecil, biaya operasional rendah dan keuntungan pasti.
Diluar bisnis terminal bayangan ini, ada berjuta bisnis-bisnis skala kecil menengah lainnya yang modalnya tidak besar, tidak sulit, tapi jelas dibutuhkan nyali untuk bisa sukses dibidang ini. Ambil contoh tempat fotokopi, warung makanan, lapak DVD bajakan hingga agen koran. Bisnis-bisnis kecil menengah ini faktor suksesnya sudah jelas: lokasi.
Iya kan, apa bedanya warung padang di Gang belakang Mal Ambassador dan di pinggir jalan di Cipete. Rasa? kurang lebih sama lah, kualitas juga tidak jauh beda. Masalahnya, si Gang Ambassador dikunjungi ratusan dan di Cipete tidak. Customer di Ambassador adalah orang kantor, dan customer di Cipete bisa jadi orang rumahan. Bedanya? bisa omset puluhan juta setiap bulan.
Faktor lokasi tidak jauh-jauh dari issue keamanan, keamanan tidak jauh-jauh dari preman dan aparat (polisi, tentara, bea cukai dkk). Akibatnya bisnis tanpa memperhitungkan faktor lokasi bisa jadi berantakan. Bukankah semua bisnis itu High Risk High Return? semakin tinggi resikonya, semakin besar keuntungannya?













Agustus 13, 2007 pukul 5:38 am
loh…kok bawa-bawa aparat bea cukai (bc), emang orang bc kurang apa kerjaan sampe nongkrongin warteg ato terminal bayangan? la wong tugasnya cuma sebagai bulldog export-import di international airport atau pelabuhan! yang benar saja njar….!
Agustus 13, 2007 pukul 5:54 am
siapa yang bawa-bawa bea cukai, baca lagi mas ahmed. malu sampeyan nanti dilihat orang komentar sembarangan. sekalian deh ditambahkan aparat: petugas imigrasi, petugas dllajr, petugas dinas kesehatan. heran deh, pada ga pinter-pinter nih.
Agustus 13, 2007 pukul 6:25 am
apa mata saya yang rabun ya? om tolong di check lagi tulisannya terutama yang paragraph terakhir tuh, saya copy ya tulisan om anjar “faktor lokasi tidak jauh-jauh dari issue keamanan, keamanan tidak jauh-jauh dari preman dan aparat (polisi, tentara, bea cukai dkk)…”! baca lagi dong anjar, wong tulisan sendiri kok lalen piye toh….! kalo saya salah lihat besok mataku mo di lasik!!!
Agustus 13, 2007 pukul 6:41 am
saya kutip ya tulisan bung anjar “Faktor lokasi tidak jauh-jauh dari issue keamanan, keamanan tidak jauh-jauh dari preman dan aparat (polisi, tentara, bea cukai dkk)…..”. tolong di check! kalo saya yang salah baca, besok saya mo operasi ato kalo salah ngutip berarti saya yang bego!
Agustus 13, 2007 pukul 6:45 am
Mas Ahmed, anda ga salah baca kok, mata anda juga tidak perlu dilasik. Anda hanya perlu belajar bahasa indonesia.
Agustus 13, 2007 pukul 10:15 am
ok deh……….!
saya cuma ingin tanya om:
1. dalam tulisan itu “keamanan” dimaknai apa?
2. aparat & preman ditulisan om, apakah keduanya sebagai simbiosis mutualistis ato saling bertentangan sesuai dengan khitohnya? anda kan tahu sendiri bagaimana pandangan masyarakat terhadap aparat.
Agustus 13, 2007 pukul 10:31 am
nah gitu dong mas ahmed, jadi seneng saya.
1. keamanan ditulisan diatas, dimaknai ga diganggu bisnisnya. memang ada pengertian yang lain ya.
2. aparat dan preman, ya jelas saling bertentangan kan.
*jadi bingung sendiri nih.
mas ahmed mungkin punya pengalaman bikin bisnis dan bagaimana cara sukses berhubungan dgn preman, dengan aparat. mungkin intinya posting saya gitu mas.
Agustus 13, 2007 pukul 10:58 am
hehe…
kalo saya baca, emang langsung terbayang relasi kontradiksi :D
bisnis high risk high return….hmmm…
saya mah pilih low risk high return :D
ada ngga yah :D
Agustus 13, 2007 pukul 12:27 pm
Kemaren saya cari2 suvenir buat pernikahan di Pasar Pagi MangDu. Puter2 keliling2, para pe-de-ge pada bilang kalo akhir2 ini di Tj Priok lagi “lampu merah”. Padahal prosedur (S-O-P) sudah dijalankan ’seperti biasa’. Ga tau deh kenapa jadi susah masukin barang akhir-akhir ini..hehehe.
Buat saya pribadi, jadi pingin tau, kalo ada yang tau selak beluk dan ‘lika-liku’ usaha-usaha sejenis. Katanya untungnya besar lhoooo..huehehehehe
*yang cuma pengen tau doang*
Agustus 14, 2007 pukul 1:45 am
lho, bisnsi besar juga urusannya lokasi kok. McD tuh jagonya lokasi. makanya KFC dulu banget, sempat melet, terutama yah karena kalah lokasi.
trus bandingkan JC & Co dengan Krispy Cream. JC & Co lokasinya rata rata lebih strategis. dah gitu yg parah Krispy cream untuk ukuran Indoensia terlalu manis.
Agustus 14, 2007 pukul 5:57 am
ya…biasanya salah satu alsn pmilihan lkasi yg sy plajari adlh untk memperkcil pjk & bnyk lg yg laen.
ttng ganguan kemanan ya..harus jauh2 dr preman & dkt2 ama polisi dunk…
mazz ahmed & maz Anjar lam knl…
eh mazz2 yg akur dunk..:-)
Agustus 15, 2007 pukul 3:17 am
Wah, kalo’ pengalaman saya kok gak gitu yah..
Kita malah harus akur dengan preman setempat karena bagaimanapun mereka yang “mengaku” memiliki daerah tempat kita jualan. Jadi ya pinter2 kita aja.. Dan sebisa mungkin ada backup aparat juga.
Tapi ada juga ternyata “aparat” ato mungkin mengaku aparat (Mode Bingung: ON) yang berlaku seperti preman di jalanan.
Itu yang saya alami sih..
Agustus 15, 2007 pukul 4:15 am
weleh-weleh
Agustus 15, 2007 pukul 12:21 pm
Soal preman sih ada dimn-mana,sekalipun di negri antah barantah tetap aja ada, yang jadi soal keadaan menjadi rancu manakala preman tersebut pake baju seragam instansi pemerintah dan menjadikan preman asli sebagai tukang tagih mereka maka terpaksa kitapun harus bersikap seperti preman pula….negri ini memang menyedihkan
Agustus 16, 2007 pukul 2:13 am
masih banyak juga yang mikir lokasi numero uno yak..
ada kok bisnis yg bisa gede juga tapi lokasi bukan harus pada posisi strategis.
saya kenal dgn orang yang mempunyai bisnis yang cukup bagus, bahkan bisnis beliau ini sudah skala nasional. tapi lokasi tidak berada di girlan (pinggir jalan - red) yang cukup strategis.
jika ditilik pada bisnis retail mungkin benar lokasi ada hal penting.
tapi klo bisnis yang lain belum tentu. jasa misalkan atau produksi.
jadi? tergantung kan bisnis apa yang ingin dibentuk.
Agustus 16, 2007 pukul 3:49 am
wah kalo bisnis MLM bisa dibilang low risk dan kemungkinan bisa High Turn donk.. pantesan banyak yg tergiur sama MLM
Agustus 20, 2007 pukul 2:05 am
Kalo’ ngomongin bisnis di luar retail memang komponen lokasi bisa jadi nomer sekian. Tapi untuk retail lokasi adalah yang terpenting karena itu juga menjadi media promosi kita ke Customer..
Saya kebetulan ada problem nih, saya punya bisnis makanan dan kebetulan di lokasi itu banyak sekali premannya. Sudah berbagai macam cara saya lakukan mulai bayar uang keamanan, bagi2 produk gratis. Tapi rasanya kelakuannya kok sama saja. Bikin efek negatif untuk pelanggan..
Kira2 temen2 ada yang punya pengalaman bagaimana mengatasi ini gk yah??
Thx..
Agustus 22, 2007 pukul 7:40 am
Preman ini memang social problem untuk bisnis. Kalau preman berseragam kedinasan, asal kita galak sedikit dan pinter argumen, mereka biasanya mundur koq. Tapi kalo preman lokal yang suka malak dan mabok…wah…ini masalahnya.
Biasanya makan waktu panjang untuk melunakkan mereka. Pendekatannya mulai dari sudut kesukuan atau asal daerah. Kalau suku/daerah tidak sama, coba pendekatan kewilayahan. Datangi ketua RT/RW, karang taruna, atau ormas tempat preman-preman itu “ngantor”. Kalau memang harus kasih setoran, jaminan keamanannya apa….
Kalau masih nggak beres juga, ya lapor polisi…. Lawannya cuma polisi…