Anjar Priandoyo

Masih bergunakah program persiapan dunia kerja?

with 9 comments

Saya pernah mengulas mengenai Bandung Talent Source (BTS), sebuah program skill sourcing yang mempersiapkan calon tenaga kerja di dunia professional. Sampai saat ini program ini masih debatable untung ruginya. Ternyata, program model ini tidak hanya diadakan oleh BTS tapi salah satunya oleh ZTE-STTTelkom. Dan diluar skill sourcing sebenarnya masih banyak program persiapan dunia kerja (yang seharusnya kita analisa terlebih dahulu untung dan ruginya)

Sekolah Tinggi Teknik Telkom (STT Telkom) membuka pusat pelatihan bekerja sama dengan Zhongxing Telecommunication Equipment Co. Ltd (ZTE).

SMART program merupakan program ZTE-STTTelkom Training Centre, yang ditujukan untuk memenuhi permintaan Sumber Daya Manusia operator baru CDMA2000 (SMART Telecom, Sinar Mas Group). Mereka minta saat ini sebanyak 100 engineer, dalam bidang CDMA BSS (BTS-BSC), CDMA MSS, Transmisi dan RF Optimization.

Training akan berlangsung 1 bulan, kemudian On The Job Training (dipandu oleh ZTE Engineer) selama 4-6 bulan (sudah mendapat gaji pada saat OJT)

“Kalau tidak salah tempatnya sama-sama di STT Pelatihannya. Bingungnya, apa ini bukan cuman proyeknya  dosen2 STT Telkom? Soalnya mentor alias pengajarnya itu dosen STT Telkom dan praktisi telekomunikasi katanya. Gak tau juga yg dimaksud dengan praktisi tuh sapa. Semoga bukan mahasiswa STT yang dah dianggap praktisi. Iming-imingnya sih kerja di sinarmas tapi bayar trainingnya hampir 10 jutaan. Memang sih ada sertifikasinya.”
Komentar salah satu rekan

Pun tidak harus berupa skill sourcing, program untuk persiapan dunia kerja ini cukup banyak seperti:
1. Seminar persiapan dunia kerja
Interview, tips psikologi, pasar dunia kerja, membuat CV dan sebagainya. Seminar ini laku keras. Tapi? ada yang tahu efektivitasnya.

2. Skill Upgrade
PPIC (Product Planning Inventory Control), Oracle Fundamental, Fraud Auditing adalah satu satu program skill upgrade yang marak diselenggarakan dikampus-kampus, dan hebatnya selalu banyak peminatnya.

Padahal kalau dilihat dari kacamata bisnis, ujung-ujungnya adalah cash flow. Ada demand yang cukup tinggi dari calon tenaga kerja, dan ada ketakutan akan kompetisi didunia kerja.

Pertanyaannya kembali, masih perlukah program-program seperti ini?

Written by priandoyo

September 7, 2007 pada 4:33 am

Ditulis dalam uncategorized

9 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. perlu sekali mengingat mayoritas output pendidikan tinggi di Indonesia belum menciptakan orang2 yg siap bekerja

    feha

    September 8, 2007 at 12:06 am

  2. Salam kenal mas pri..
    Mau coba ikut meramaikan komunitas disini :)

    hmmm kalo menurut saya pilihan sih..
    Elemen yang terlibat:
    1. Industri yang butuh engineer dengan spesifikasi tertentu
    2. Training yang bertugas untuk membekali ilmu bagi engineer
    3. Peserta Training

    Kalo secara gamblang, cashflow yang muncul mungkin:
    Industri -> peserta -> training center
    Industri nantinya bisa menghidupi si peserta training, dan peserta training membayar ke training center untuk mendapat ilmu.

    Kalo ditanya masih perlukah,
    Mungkin jawaban dari pihak industri, “ya bebas aja.. yang penting saya perlu engineer dengan spesifikasi seperti ini. Jika ternyata lokal tidak ada, maka saya akan mengimpor”

    Kalo jawaban dari pihak training center mungkin, “hmmm ternyata pihak industri butuh seperti itu, ada baiknya kita produksi engineer lokal, dengan begitu saya untung, industri juga untung, peserta juga untung.”

    Kalo dari peserta, tergantung kondisinya. Mungkin ada yang merasa skill waktu kuliah kurang, atau butuh kehidupan yang lebih pasti, mengharapkan pengalaman OJT, ada mba-mba cakep disitu, hehe apapun bisa menjadi alasan, apalagi kalo mumpung punya dana berlebih.

    menurut saya pribadi perlu. Tapi saya sendiri sepertinya tidak pengen ikut.. Kesannya percuma udah kuliah mahal-mahal ternyata masih perlu ikut training lagi yang ternyata juga mahal huehehe
    Tapi gatau ya kalo udah kepepet masih jobseeker juga dan kebetulan punya dana lebih hihihihihihi.

    so.. balik lagi ke pesertanya menurut saya :)

    salam

    tomfreakz

    September 23, 2007 at 3:46 pm

  3. malas ah ikut gituan, dah capek nih kuliah di ST3 dan nanti kalo ikut ZTE-ST3 itu yang ngajar dosen2 saya juga, jadi kayak kuliah lagi…….mending nyari pengalaman kerja langsung di lapangan sesuai bidang ilmu di kuliah…walaupun dari perusahaan2 kecil dulu/outsourcing dulu tapi perusahaannya harus bergerak di sektor ilmu yang kita dapat dikuliah, tapi kalo bisa langsung perusahaan besar sih.

    seperti prinsip pemain sepakbola aja soal transfer2 pemain…pertama2 di klub2 kecil dulu, nanti kita tunjukkan performance kita di sana, nanti lama2 pasti klub2 besar bakal berminat ama kita……hihihihi

    Pemula

    Oktober 4, 2007 at 12:29 pm

  4. Gampang aja mas Pri… Mau bikin riset kecil?
    Coba buka iklan lowongan kerja (jangan sebut nama perusahaan anda) di koran atau website, let’s say fresh graduate untuk yunior engineer network performance. Dari total jumlah pelamar, berapa yang surat lamaran dan CVnya ok? Kemudian, panggil interview, berapa yang ok? Kemudian saring lagi dengan psikotest, berapa yang ok? Kemudian kasih deskripsi pekerjaannya, kondisi kerja, tuntutan kerja, dsbnya, hitung berapa yang masih tinggal…

    From my experience, in average, to get 1 damn good engineer, who has good knowledge, good skill and good attitude you need to select from 10-20 fresh grad ! Kalau anda pergi ke luar pulau Jawa, anda perlu 15-30 fresh grad untuk mendapatkan a real good engineer.

    Kalau saya bisa mendapatkan seseorang yang kualitasnya bagus, maka saya seperti penambang yang gembira jika mendapatkan sepotong berlian dengan bentuk tidak karuan setelah memilah ratusan kerikil atau bongkahan tanah. That damn good engineer nantinya masih harus diasah lagi supaya menjadi berlian dengan harga berlipat-lipat dan pantas ditaruh di etalase…or someday he/she become good top executives.

    Ngomong-ngomong sepakbola, ada gak seh bedanya pemain yang mulai dari tarkam (antar kampung) dengan pemain lulusan sekolah sepakbola MU atau Real Madrid? Kalau belajar di sekolah sepakbola MU, anak-anak akan dilatih teori dasar (ini knowledge), latihan fisik, praktek bermain dengan strategi (ini skill), dilatih oleh orang yang capable/coaching (ini membangun attitude), pertandingan eksebisi (ini skill) apalagi kalau lawannya MU senior… Sementara pemain tarkam, skill mungkin bisa ok tapi knowledge dan attitude? Berapa pemain sepakbola tarkam Indonesia bisa go Int’l dan dapat bayaran selangit?

    Saya rasa masih perlu lah program persiapan kerja…tidak diperlukan lagi kalau Depdiknas dan Uni di Indonesia sudah punya kualitas pendidikan seperti di Amerika atau Eropa. Bukan menghina, tapi kurikulum dan kualitas pendidikan di Indonesia masih payah mas Pri ! Orang Indonesia itu punya bekal pintar tapi proses pendidikannya yang buruk.

    Thanks.

    Indra S

    Oktober 18, 2007 at 8:15 am

  5. Bang Pri,
    kurasa beda kali itu konsep BTS dan Smart ZTE-STTT. Abang mesti review lagi itu, apa skill sourcing apa itu pelatihan produk. Tujuannya mungkin sama tapi cara dan prosesnya menurutku beda, kepentingannyapun jauh beda.

    Horas !

    Batak

    Oktober 18, 2007 at 8:23 am

  6. [...] Ngomong-ngomong sepakbola, ada gak seh bedanya pemain yang mulai dari tarkam (antar kampung) dengan pemain lulusan sekolah sepakbola MU atau Real Madrid? Kalau belajar di sekolah sepakbola MU, anak-anak akan dilatih teori dasar (ini knowledge), latihan fisik, praktek bermain dengan strategi (ini skill), dilatih oleh orang yang capable/coaching (ini membangun attitude), pertandingan eksebisi (ini skill) apalagi kalau lawannya MU senior… Sementara pemain tarkam, skill mungkin bisa ok tapi knowledge dan attitude? Berapa pemain sepakbola tarkam Indonesia bisa go Int’l dan dapat bayaran selangit?…. Pak Indra S. [...]

  7. gak tau……..q ga ikutan

    qmos

    Agustus 30, 2008 at 10:40 pm

  8. kakak2 semua
    saya mo tanya ?
    berapa gaji kerja stelah ojt di zte tersebut?
    mohon dibalas

    ade

    Oktober 13, 2008 at 9:27 am

  9. kak
    apakah semua peserta training itu diterima kerja semua di vendor tersebut atau ada yang tidak ?

    ade

    Oktober 13, 2008 at 9:30 am


Tinggalkan Balasan