Perlukah ikut rekrutmen di kampus?

Rekrutmen kampus merupakan salah satu pintu masuk dunia kerja yang paling mudah. Biasanya si perusahaan datang lengkap dengan atribut standing banner, kadang representative yang cantik-cantik dan mas-mas yang terkadang juga alumni kampus yang menjelaskan visi dan misi perusahaannya. Gampang, test terkadang juga diadakan dikampus, follow-up cepat dan sama sekali tidak repot. Dan hampir dipastikan perusahaan yang datang adalah perusahaan yang bonafid.

Masalahnya cuman satu: rekrutmen kampus itu terlalu kompetitif. Supply dan demand tidak seimbang. Kalau ratio antara lowongan dan pendaftar sudah 1:100 apalagi kalau peserta test tersebut adalah rekan-rekan kita sendiri masalahnya bisa jadi panjang. Pengalaman saya, sebagai anak berkemampuan akademik pas-pasan. Berkompetisi di kampus itu sulit. Apalagi kalau sudah menyangkut test psikologi/wawancara. Bayangkan, kalau harus memilih 1 diantara 100, logis saja, penilaian HRD/tim interviewer bisa jadi meleset.

Jadi, coba pertimbangkan baik-baik untuk mengikuti rekrutmen dikampus. Satu-dua kali mungkin tidak masalah, tapi kalau sudah berkali-kali ada baiknya strategi untuk ikut rekrutmen dikampus diubah. Salah satu strategi yang mungkin bermanfaat saat menghadapi rekrutmen dikampus adalah:

1. Lulus pada periode tidak sibuk
Agustus, atau bulan-bulan tertentu adalah bulan paling banyak mahasiswa untuk lulus. Alasannya gampang, kalau ditunda wisuda periode berikutnya, biaya SPP bisa tambah mahal. Akibatnya banyak mahasiswa berbondong2 berusaha lulus pada periode ini. Secara strategi, bila kita lulus periode ini bisa jadi dalam kompetisi pertama kita kalah. Saran: berusahalah lulus lebih cepat pada saat periode wisuda tidak sibuk

2. Mental adalah segalanya, segeralah bekerja biar tidak ada (banyak) beban.
Berkompetisi dengan teman sendiri, jauh lebih sulit dan menegangkan bila dibandingkan dengan kompetisi dengan teman yang kita tidak kenal. Apalagi kalau kita tahu si teman secara personal, akademis dan kepribadian lebih baik dari kita. Pastikan mental kita terjaga dengan baik, salah satunya dengan bekerja terlebih dahulu, dengan demikian kita bisa menghadapi tes dengan santai. Bila perlu, ikutlah test sebelum wisuda/lulus. Pemain yang bermain tanpa beban biasanya punya peluang lebih besar untuk menjadi juara.

3. Perlukah ‘Asyiknya rame-rame’?
Rekrutmen kampus itu menyenangkan, bisa bareng pacar, bisa duduk jejer-jejer dengan gank. Tapi problemnya, kadang kita harus belajar flying solo. Kita perlu belajar berjalan sendiri untuk mencapai tujuan. Banyak kasus, teman yang ‘terpaksa’ meninggalkan kita dibelakang. Sikapi dengan baik, kalau harus punya partner hunting, pastikan bahwa hunting pekerjaan itu masalah personal.

Ada saran dan pendapat lain?

Ditulis dalam Freshgraduate.

19 Tanggapan ke “Perlukah ikut rekrutmen di kampus?”

  1. abdi Berkata:

    rejeki itu gak kita tau ada di mana aja..
    kalo ada kesempatan ya dicoba..
    seandainya kalo memang “jalanmu” dapat kerja melalui rekrutmen di kampus ya kenapa nggak..
    lagipula kalo jauh-jauh cari kerja lebih berat di ongkos..
    jadi…..
    kalo masih bisa rame-rame bareng temen kenapa nggak, nikmatilah detik terakhir kebersamaanmu…
    menurut pengalaman saya juga, rekrutmen dikampus prosesnya bisa jauh lebih cepat tanpa menunggu lama seperti lowongan lain pada umumnya…
    perlukah ikut rekrutmen di kampus??
    jawabannya… ya iyalah…………….

  2. ikow Berkata:

    iya lah ya gitu aja kok repot, ya ikutlah emang cari kerja gampang. jadi apa lagi?????

  3. feha Berkata:

    kalau saya pribadi memilih untuk tidak mengambil jalur rekruitmen kampus.
    dari pengalaman saya HRD perusahaan yang mengikuti acara tersebut pada akhirnya terpecah konsentrasinya dalam melakukan tugasnya (karena banyaknya pelamar)

    pada akhirnya screening yg biasa dilakukan pun menjadi ‘extra screening’, bukan perbandingan kesempatan yg adil :D

  4. mbah_sastro Berkata:

    Rekruitment di kampus punya arti penting bagi aku, dari situlah aku masuk ke dunia kerja di oil co, yg sebelumnya nggak terlintas di pikiranku untuk bisa kerja di sana.
    Tahun ‘97, bbrp jam sepulang dari KKN di Bagelen (Purworejo), aku dikasi tau teman, kalau besok di fakultas akan ada team rekuritment dari oil co yg bonafid. Aku nggak tertarik, karena sudah ‘ngeper’ duluan. Tapi temenku itu tetep ngeyel aja, maksain aku ikut. Sampai-sampai dia kasih aku fotokopi formulir pendaftarannya. Daripada kesel dengerin dia ngeyel terus, akhirnya akupun bersedia ikut. Langsung aku ngikut temanku beli alat-2 tulis buat test di Swalayan Pamor, Jakal.
    Keesokan harinya, ternyata peserta test banyak betul. Ternyata yg datang adalah team rekruiter oil co yg bonafid (the big five oil co). Team rekruiternya datang langsung dari Singapore dan Aussie (perwakilan wilayah Asia Pasifik).
    Setelah presentasi (dlm bhs Inggris tentunya, dan aku nggak begitu paham), formulir pendaftaran dikumpulkan. Setelah dihitung ternyata ada sekitar 800-an pelamar. Keesokan harinya (hari ke-2), namaku terpampang diantara 100-an peserta untuk test wawancara. Aku dapet giliran wawancara sekitar jam 2 siang. Wawancara berlangsung sekitar 45 menit. Di situ ditanya, berapa IPK mu? Apa saja mata kuliah yg kamu ambil? Mengapa kamu ikut ngelamar, sedangkan IPKmu nggak sampai 3? Bisa nggak kamu naikin IPKmu supaya > 3? dll.
    Dengan Inggris yg belepotan, berlogat Jawa medhok, dan gratul-gratul, kulewati juga tahapan quick interview yg 45 menit itu. Akhirnya si interviewernya ngasih tau, “Besok kamu datang ke hotel Ambarukmo, ya! Jam 9 tepat dan jangan telat kayak hari ini!”
    Sorenya terpaksa aku jalan kaki ke Gejayan buat ngetik CV di rental komputer. Keesokan harinya aku berangkat lebih pagi. Kali ini agak istimewa. Di tempat kost, aku minta tolong pada bbrp teman untuk minjamin aku sepatu, celana, kemeja dan dasi yg layak pakai. Maklum, ortu cuman seorang “Umar Bakri” di desa terpencil. He..he….
    Kali ini aku deg-degan juga. Pertama kali wawancara, dan nggak ada persiapan yg cukup. Dengan “Bismillah” aku pergi ke Ambarukmo diantar kawan naik KOPATA. Di situ cuma ada 10 orang untuk wawancara. Wawancara kali ini sangat lama, hampir 2,5 jam. Dari semua pertanyaan, hanya 50% pertanyaan saja yg bisa aku jawab dgn baik. Sisanya au ah gelappp….. Setelah bbrp saat sebelum usai, si interviewer minta waktu 5 menit buat berpikir. Di tangannya terdapat berlembar-lembar kertas hasil catatan dia waktu interview. dan AKHIRNYA, dia ngomong, “We are offering you a job as an engineer in our company”. Itulah kata-2 yg bikin aku hampir pingsan dan hampir nggak percaya. Dan dia juga bilang, “Dari Jogja hanya 5 orang dari 800-an pelamar yg kami terima”. Alhamdulillah, Subhanallah….
    Tapi ceritanya belum berhenti di situ. Dia melanjutkan pertanyannya,”Kapan kamu lulus?” Mati aku, ditanya kapan lulus, sedangkan skripsi aja belum bikin. “Setahun,” jawabku. “OK, one year. Anything happens with your thesis, please let me know!” kata dia.
    Sepulang dari situ, bukannya senang, tapi malah pusing, gimana aku bisa setahun lagi lulus, sedangkan skripsi aja belum aku ambil, bahkan belum masuk dalam rencana study semester. Akhirnya setelah berjuang dan pontang-panting kesana kemari, 9 bulan kemudian aku wisuda. 19 Agustus, aku wisuda. Seminggu kemudian, aku sudah memulai kerjaku di Singapore.
    Terima kasih buat teman-2 kost aku. Kalian sudah bantu aku minjamin sepatu, baju, dll. Dimanapun kalian berada sekarang, kudoakan kalian sukses…..
    I was so lucky….. Karena sainganku ternyata banyak yg IPKnya jauhh di atasku.

  5. ridwan Berkata:

    Yang perlu jadi catatan biasanya rekruitmen di kampus untuk posisi dari corporate yang cukup menjanjikan..
    so, jangan lewatkan klo emang itu ada peluang buat rekruitasi.
    Yang jelas..jangan minder dulu?! rejeki dah ad yang ‘ngatur’.
    seberapa pinternya kita.. seberapa byk skill kita. Tetep yang namanya Momen UNTUNG itu selalu kita butuhkan.dan datengnya G bisa kita prediksikan.
    Good Luck

  6. Johan Batubara Berkata:

    Menurut pengalaman pribadi.. Event ini memang cukup efektif meskipun sangat kompetitif. Karena memang company sudah familiar dengan kampus dan lulusannya. So, manfaatkan baik selain untuk mencari kerja, tapi juga untuk upgrade skill dalam seleksi/test.

    Harus saya akui sistem jemput bola seperti itu masih belum common di Indonesia (entah kenapa), saya baru tau 1-2 company yg mau secure graduate bbrp bulan sebelum lulus. Padahal mereka butuh supply talent,yang lebih safe diambil sebelum mendapat pekerjaan di tempat lain.

    Satu lagi, jangan play with number game. Seperti IPK ato persentase yang diterima, atau pilih divisi yang banyak menyediakan lowongan. Coba tonjolkan diri anda pada aplikasi/CV,buat orang yang membaca tertarik untuk at least memanggil interview/test. Setelah itu baru ‘play’ with your personality.

    Dalam hidup ini tips paling penting adalah be yourself. Sebab pekerjaan itu perlu juga anda nikmati, selain anda juga membohongi diri sendiri jika tidak apa adanya.

    Regards,
    Johan

  7. terios Berkata:

    rekrutmen kampus?
    ya iyalah, kita mana pernah tau rezeki kita jemput lewat mana, kalo ada rekrutmen di kampus ya ikut aja, gitu aja repot

  8. pemula Berkata:

    ikut saja, muka tembok aja….mana tau rejeki kita di situ….siapa yang tau kan…..

  9. Jongjava Berkata:

    MBAH SASTRO,
    Beri aku detail ceritanya dong, menarik banget. mungkin bisa bikin aku termotivasi. sangat menginspirasi aku.

  10. dimasu Berkata:

    mbah sastro… kisah mu bisa dijadikan cerita sinetron. Kisah sukses seseorang yang berikhtiar hingga akhir. hehe

  11. ito007 Berkata:

    mbah sastro, pengalaman anda sungguh luar biasa.
    memang, tidak ada manusia yang tahu takdirnya masing2.
    kita sebagai manusia wajib berusaha sekuat-kuatnya

  12. Maradona Putra Berkata:

    Pengalaman mbah sastro ini, macem pengalamanku sebelum lulus tahun kmrn. Hanya saja masih belum berkesempatan tuk bergabung jd Field Engineer dsna. Namun jadi pengalaman luar biasa bs ikut final interview di salah satu oil service company yg top 5 world dari segi pendapatan .. Masih kerja disana ndak mbah?

  13. Chris Berkata:

    wah pengalaman mbah sastro mantap bgt. tp skr kok cari kerja rata2 yg diliat mula2 cuma IPK/GPA aja ya?

    nasib nih punya GPA biasa2 aja. cari kerja di perusahaan besar jadi susah :(

  14. Asto Berkata:

    menurut saya,,,
    g ada salahnya ikut recruitment kampus….

    kita jadi lbh tau “kemampuan” kita dibandingkan kompetitor lain, klo psikotest pertama dah gugur…..berarti agak gelap masa depan….
    tp klo anda lolos minimal sampe interview, berarti kita dah bisa berkompetisi dengan yang lain……

    kita tinggal mengatur pembicaraan pas interview
    dapat pekerjaan pun tinggal menunggu waktu

    toh g ada salahnya berkompetisi dgn teman2 sendiri
    kita jadi bisa mengevaluasi kekuranagn kita
    kadang memang muncul perasaan iri, “sialan aku kalah ma dia” ya mau apa lagi memang recruiter menilai dia lbh baik dr kita………
    tp pengalaman ini bs untuk modal selanjutnya.

    kesimpulan saya…..
    mending ikut recruitment di kmps drpada melamar di koran2
    karena seperti mencari jarum diatas jerami
    kita tdk tau reputasi perusahaan……..

  15. olin Berkata:

    Wah..Wah… Mbah sastro, kisahmu bs dijadikan inspirasi tuh…
    Msk Chicken Soup aja tuh - Chicken Soup for Tenage Soul

  16. olin Berkata:

    Wah..Wah… Mbah sastro, kisahmu bs dijadikan inspirasi tuh…
    Msk Chicken Soup aja tuh - Chicken Soup for Teenage Soul

  17. fajar Berkata:

    recrutmen campus,..
    ya diikutin aja kalau ada yang cocok. kalo ga cocok ya ga usah. thanks.

  18. lexo Berkata:

    Mbah Sastro ceritanya kereeen bngattt.. Ringkas, padat dan sedrhana. Bikin smua orng termotivasi.
    Aku pribadi salut sama anda. heee

  19. pinkong Berkata:

    Perekrutan di kampus? Justru itu adalah jalan paling efektif untuk mendapatkan pekerjaan. Beberapa alasan yang mendukung:
    1. Sebuah perusahaan rela datang ke kampus karena mereka percaya bahwa alumni kampus tersebut cukup kompeten
    2. Tidak begitu mempermasalahkan IPK (pengalaman pribadi: beberapa teman yang notabene IPK < syarat, diijinkan mengikuti tes sebuah pabrik semen asing di kampus kita, sebuah PTS di YK)
    3. Bagi lulusan dari kampus di daerah Jawa (YK, SBY, SMG, dll) tidak perlu datang ke JKT untuk ikut tes tahap awal yang boleh dibilang peluangnya masih cukup kecil - hemat akomodasi
    4. Kepercayaan diri lebih besar karena tes dilaksanakan di “rumah sendiri”

    Lepas dari semua yang diatas, selalu ‘update’ informasi buat diri sendiri dan terus ‘upgrade’ kemampuan diri guna memperbesar peluang. Semoga menggairahkan.

Tinggalkan Balasan