Enam mitos dan fakta seputar tips membeli rumah
1. Lokasi
Mitos: Jakarta macet, jangan beli rumah jauh-jauh, cari yang dekat Jakarta
Fakta: Salah. Hampir tidak mungkin mendapatkan rumah yang ‘representatif’ di Jakarta dengan harga yang terjangkau. Rumah dengan lingkungan yang layak hampir dipastikan jauh dari Jakarta.
Saran: Dewasalah dalam memilih lokasi rumah. Paling tidak untuk pasangan muda, rumah harus memberi kesempatan bagi sang anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Rumah dipinggiran hampir dipastikan memiliki udara yang lebih baik, lingkungan yang lebih asri dan faktanya memang banyak sekolah dasar/tk bagus berada di pinggiran
2. Pembiayaan
Mitos: KPR kan berhutang, untuk apa berhutang sampai belasan tahun, rugi
Fakta: Salah. KPR merupakan produk bank yang dirancang untuk pembiayaan rumah. Segala strategi pembiayaan berikut dengan term of condition disesuaikan untuk pembiayaan rumah. Hampir semua karyawan (apalagi wiraswasta bukan) bekerja bisa mendapatkan rumah yang layak dengan program KPR yang ada saat ini.
Saran: Hampir dipastikan masalah anak muda (dan setiap orang pada umumnya) adalah mengenai pengelolaan keuangan. Mengambil KPR sebenarnya dapat diibaratkan dengan menabung. Dengan KPR kita sebenarnya akan dituntut disiplin menabung.
3. Waktu yang tepat membeli rumah
Mitos: Jangan beli rumah cepat-cepat, sabar saja, kumpulkan uang lebih banyak sehingga nanti rumah yang dibeli lebih baik
Fakta: Salah. Semakin cepat membeli rumah semakin baik, harga rumah akan selalu meningkat setiap tahunnya.
Saran: Belilah rumah sesegera mungkin, karyawan yang sudah 2 tahun bekerja seharusnya mampu mengambil rumah dengan kondisi keuangan dia saat itu. Pun jika karirnya meningkat lebih tinggi selalu ada opsi untuk menjual kembali atau membangun tambahan.
4. Rumah second atau rumah baru
Mitos: Jangan beli rumah second karena ini dan itu atau sebaliknya jangan beli rumah baru karena ini dan itu.
Fakta: Belum tentu. Sangat bergantung dengan kondisi dana yang kita miliki, ekspektasi rumah yang kita inginkan. Hampir dipastikan masalahnya adalah budget. Umumnya rumah second memerlukan pembiayaan awal yang lebih besar (dalam hal DP dan pajak misalnya)
Saran: Masing-masing ada kelebihan dan kekurangan, saran paling mudah: periksa dulu kondisi keuangan anda.
5. Kualitas rumah dari developer
Mitos: Jangan beli rumah di kompleks XYZ disana kualitas bangunannya buruk
Fakta: Benar. Hampir dipastikan, semua rumah dikompleks yang dibangun dengan sistem borongan dari developer memiliki kualitas bangunan yang sangat buruk. Sistem subkontrak yang disubkon secara bertingkat demi efisiensi merupakan rahasia umum pola pembangunan rumah kompleks.
Saran: Telitilah dalam menilai kualitas bangunan rumah anda. Bahkan dalam satu cluster rumah pun ada tukang yang telaten bekerja sementara ada tukang yang baru belajar 2 bulan yang lalu. Hampir dipastikan ada cela dalam setiap pembangunan rumah. Siapkan mental untuk melakukan renovasi kecil-kecilan dirumah anda.
6. Broker dan third party helper
Mitos: Broker itu membuat harga rumah 3% lebih mahal
Fakta: Belum tentu. Broker merupakan pihak yang paling mengerti mengenai jual beli rumah, dari prospek suatu lokasi, valuasi suatu rumah bahkan mengurus proses KPR.
Saran: Umumnya broker memberikan service gratis sampai transaksi terjadi. Segera hubungi broker terdekat untuk memberikan informasi rumah dilokasi yang anda inginkan. Pun jika tidak terjadi kesepakatan harga anda bisa berganti broker ataupun memutuskan tidak menggunakan jasanya.


Soal lokasi, menurut saya masalahnya cuma 1. Harganya ga terjangkau kalo beli di tengah kota. Siapapun pasti mau kenyamanan dan kemudahan rumah di Kebayoran Baru atau Menteng misalnya. Apa daya..
Amir Karimuddin
September 21, 2007 at 8:21 am
Bagaimana kalau strateginya seperti ini pak http://myfamilyaccounting.wordpress.com/2007/09/13/mengapa-orang-cina-lebih-senang-tinggal-di-ruko/
MFA-WP
September 21, 2007 at 8:36 am
wah klo tinggal di RUKO. maaf saja deh pak klo saya.
kasian anak istri butuh ketenangan..
ada saatnya kita butuh pelampiasan untuk hidup tenang bebas dari kerjaan dan tuntutan hidup/ finansial… ya salah satunya adalah saat berada di rumah. makanya rumah harus sebisa mungkin memberikan ketenangan hati :)
aliasing
September 23, 2007 at 10:10 am
# aliasing
he…he.. itulah bedanya kita dengan mereka
MFA-WP
September 24, 2007 at 1:44 am
Mencicil rumah selama 15 tahun sama saja mengontrak rumah sendiri seumur hidup! Lebih baik beli tunai kalau kita mampu.
Junarto Imam Prakoso
September 24, 2007 at 3:49 am
# Junarto Imam Prakoso
Bagaimana kalo seperti ini:
http://myfamilyaccounting.wordpress.com/2007/09/19/berfikirlah-1000-kali-bila-hendak-membeli-mobil-dengan-kredit/
MFA-WP
September 24, 2007 at 4:39 am
kalau ingin mendidik anak jadi pebisnis dan punya jiwa wirausaha, memang sebaiknya tinggal di ruko. ayah angkatnya kiyosaki, yang rich dad, juga tinggalnya di ruko. dia tinggal di toko kelontong yg lalu berubah jadi swalayannya.
saya juga punya cita cita suatu saat akan beli ruko kok. tempat strategis, dan kalau mau tenang, bangun aja lagi bertingkat dan habisin halamannya jadi rumah. :D
papabonbon
September 24, 2007 at 6:56 am
berhutang di Bank bunga-nya sangat besar.. saya pernah menghitung, bila berhutang 10 tahun saja, bunga yg dibayar ke bank lebih besar dibanding jumlah hutang-nya..
di daerah yang sudah stabil (tidak terjadi perkembangan
daerah/ pembangunan infrastruktur baru secara mendadak) laju bunga bank lebih kencang dibanding laju kenaikan harga rumah..
jadi mending numpang saja di rumah ortu/mertua sampe punya duit untuk beli rumah atau sampe nggak ada lagi yg bisa ditumpangin hehee….
alionzo
September 24, 2007 at 7:05 am
#papabonbon:
Emang sampeyan percaya kalo Rich Dad-nya Kiyosaki bener2 ada?
Ardian
September 25, 2007 at 2:24 am
# Ardian
Terlepas ada atau tidaknya Rich Dad Kiyosaki, bagi saya ilmu dan semangatnya bagi saya terus ada dan membara hingga memercikkan api-api motivasi…
MFA-WP
September 25, 2007 at 7:43 am
6 mitos inilah yang membuat saya masih ragu-ragu…apalagi tabungan masih sedikit, masih single pula…
Baiknya, menikah dulu baru beli KPR…atau beli KPR dulu, baru menikah?
Superazis
September 27, 2007 at 2:50 am
Ada artikel pro-kontra atau plus-minus membeli rumah baru vs membeli rumah second gak mas?
aoboru
September 27, 2007 at 3:34 am
Paling gampang adalah lihat dari kemampuan, berapa yang dimiliki jika ingin cash, berapa yang bisa di bayar setiap bulannya jika ingin credit, second atau baru sama saja, selama kita seleksinya bagus, rumah second pun bisa di ubah jadi baru kan?… :)
>>>
“Andy OrangeMood is Online Advertising Consultant & Motivational Blogger”
OrangeMood
September 29, 2007 at 4:29 am
mau nanya dong,
kalo nyari rumahnya lewat agen property apakah kita sebagai pihak pembeli juga mesti membayar fee atas jasa si agen?
Irene
Oktober 4, 2007 at 5:07 am
Klo ane orangnya nekatz,smoga barokah saja,baru kerja 5 bulan,single,anak rantau sudah nekat beli rumah(maklum tipe minim) di cibubur,KPR tentunya, lha wong klo diitung2 sama saja bayarin kos saya,ya mending ikut KPR meski DP menyedot tuntas tabungan untuk sementara, kos udah ga bayar tinggal dirumah sendiri meski masih polos rumahnya. Investasi rumah/tanah ga bakal rugi koq. Menurut saya sih mending KPR daripada ngontrak/ngekos.
nekatz
Oktober 26, 2007 at 8:27 am
@nekatz,
numpang nanya, kerjanya di Cibubur juga? memang paling top kalo tempat kerja dekat dengan rumah (gak cape, dan hemat ongkos transport) – kalo kerja di Jakarta pulangnya macet-macetan ke arah Cibubur yaa kerasa berat juga
(ngomong-ngomong 5 bulan kerja sudah bisa nge-DP? anda kerja apa kang? saya udah 4 tahun DP saja masih harus ngutang ortu hehehe)
nacht
Oktober 27, 2007 at 7:46 pm
Tapi kan kalo rumah di pinggiran jauh. Belum macetnya…bisa dua jam sendiri kalo ngantor. Gimana tuh?? Kemungkinan stresnya kan juga tinggi:)
thea
Januari 15, 2008 at 8:30 am
Satu hal yang jadi pertimbangan lagi adalah soal lelah kalau tinggal di lokasi yang jauh. Istri saya, misalnya, pulang-pergi Rawamangun-Sudirman saja sudah kelelahan dan di rumah bawaannya kepingin tidur saja saking capeknya. Kalau begini terus, rasanya akan sulit bagi kami untuk mempunyai anak.
Stephen
Februari 12, 2008 at 9:21 am
@Stephen : thanks for sharing, dapat lagi tambahan bekal buat cari rumah.
abs
Maret 11, 2008 at 6:02 am
Hai Teman-teman,
Saya masih single, 28 tahun. Saya udah bayar Booking Fee di pesona telaga cibinong, harga rumahnya hampir 170 juta blm termasuk biaya surat2.
Tapi posisi agak dibawah, lagi bimbang takut kebanjiran dari sungai/danau.
Ada saluran air sih dibelakang rumah 2 m.
Lia
April 21, 2008 at 4:47 am
kalo sy udah dapet softloan 150 jt dr kantor..niatnya buat beli rumah.. krn ga cukup duitnya di puter di saham, reksadana, emas.. skrg indeks lg turun ampir 30% yah segitu jg unrealized loss sy.. so makin mundur lg py rumah..target 3 taon lagi.
fey
Juni 11, 2008 at 2:51 pm
#Umumnya rumah second memerlukan pembiayaan awal yang lebih besar (dalam hal DP dan pajak misalnya)#
=>tidak selalu mas anjar, sebetulnya justeru rumah second bisa dapat lebih leluasa untuk sedikit ‘manipulasi’ soal harga yang sebenarnya. pada rumah baru dicluster/kompleks perumahan baru, harga sudah fix dan diketahui oleh pihak BANK, sehingga agak susah untuk memanipulasinya, kelebihannya pada rumah baru pembiayaan oleh BANK bisa mencapai 90%, itu artinya pembiayaan awal oleh konsumen hanya 10%. Sementara di rumah second pembiayaan maksimum adalah 80%, namun kelebihannya pada rumah second, kita bisa tidak mengeluarkan sepeser pun pada saat pembelian rumah via KPR, bahkan kita bisa mendapatkan ‘kelebihan’ uang jika pembiayaan oleh BANK diatas dari nilai jual beli sebenarnya.
sekedar sharing untuk tambahan informasi saja. saya tahu mas anjar jauh lebih tahu soal itu.
Wassalam,@rd.
@rdcikalmart
Juni 12, 2008 at 2:06 am
paling gak enak kerja di jantung kota, jl sudirman dkk.
aapa lagi untuk entri level, walah, hopeless…
salah satu tmn gw kerja di tepian jakarta, gajinya sama. tapi dia sekarang udah bisa beli rumah, scara tempat kerja n rumah relatif deket. dan gw, masih bimbang 7 keliling…
qwertyass
Juni 26, 2008 at 6:57 am
ada yg tau ttg info pesona telaga cibinong..?
Cat Womanz
Januari 7, 2009 at 7:50 am