Mitos rumah komplek yang tidak aman
September 25, 2007 — priandoyo‘Isu keamanan itu isu standar di komplek perumahan, bukan isu yang perlu ditakuti. Diperumahan manapun, apalagi yang status secara sosial terlihat lebih tinggi masalah keamanan sudah pasti jadi perhatian utama’
Dinda, suatu ketika ngobrol dengan calon istri seorang teman.
Di Jakarta, concern terbesar setiap warganya adalah masalah keamanan. Sialnya dikota dengan tingkat kriminalitas paling tinggi ini, kita terpaksa memilih rumah untuk tumbuh kembangnya anak cucu kita, generasi terbaik setelah kita. Bagaimanakah seharusnya kita menyikapi masalah keamanan ini? dengan satpam 24/7, pagar tinggi, sensor dan kamera? atau sekedar waspada dan sigap.
Saya dan Dinda, sejak awal mencari rumah selalu menempatkan prioritas keamanan sebagai prioritas utama. Paranoid? belum tentu, Dinda yang anak seorang marinir tahu betul bahwa kejahatan itu terjadi bukan hanya karena niat tapi juga kesempatan. Sedangkan saya? setidaknya pengalaman mendapatkan pendidikan bela negara di asrama cukup memberikan pemahaman bahwa isu keamanan itu menjadi tanggung jawab masing-masing orang, bukan satpam apalagi institusi.
Untungnya, saat ini developer perumahan sudah paham betul bahwasanya keamanan merupakan prioritas utama sebuah komplek perumahan. Baik dari sisi design site map seperti sistem cluster dengan satu pintu masuk/keluar. Maupun dari sisi pengamanan fisik seperti pagar beton 2M dengan kawat berduri, ataupun dari sisi softskill seperti training petugas keamanan dan kerjasama dengan polisi.
Diluar pengamanan komplek rumah pun kita masih bisa melengkapi keamanan rumah dengan skala yang lebih kecil. Penggunaan sensor untuk lampu, pagar hingga CCTV dan lampu sorot khusus untuk rumah sekarang sudah banyak ditemukan. Dalam skala yang lebih besar pun, provider security services semacam SECOM pun sudah melengkapi layanan untuk keamanan untuk rumah.
Kalau komplek sudah aman, rumah sudah dilengkapi dengan sistem keamanan yang baik. Maka sebenarnya hal yang menjadi perhatian terbesar adalah: akses dari/menuju rumah. Akses menuju rumah ini merupakan komponen yang paling sulit dari pengamanan rumah. Sebuah rumah yang melewati kampung -dengan penduduk asli yang memiliki gap sosial- secara inherent memiliki resiko kejahatan yang lebih besar dibandingkan dengan rumah yang single direct access -terlebih yang dibangun oleh si developer.
Sekarang dengan semakin panjangnya todo-list yang harus dipersiapkan dalam memilih rumah saran yang bisa saya berikan adalah:
1. Cari developer yang memiliki reputasi dan pengalaman.
Developer rumah yang baik seharusnya sudah mempertimbangkan faktor keamanan kompleks dan keamanan rumah sehingga kita tinggal fokus pada design akses menuju rumah. Pada umumnya cluster dan rumah baru keluaran terakhir sudah mengadopsi sistem keamanan dengan baik.
2. Selalu ada harga untuk rasa aman.
Ironis, tapi memang kenyataannya seperti itu. Kesejahteraan petugas security yang lebih baik otomatis akan meningkatkan kinerjanya. Hubungan yang baik antara developer dan kepolisian setempat tentunya akan meningkatkan kualitas keamanan dilokasi tersebut yang ujung-ujungya harga tanah/rumah dilokasi tersebut naik.
Akhirnya, banyak saran bahwa memilih rumah sebaiknya diserahkan pada istri -karena istri yang kelak menempati rumah lebih banyak- hal ini bisa dibenarkan, tapi untuk urusan keamanan, pastikan suami memiliki pandangan yang lebih jauh kedepan dari pada sang istri. Tidak sekedar adem, nyaman dan tenang, tapi harus benar-benar AMAN.
Baca juga
-Preman kriminalitas dan kuli angkut di Bintaro
-Keselamatan hidup kita dan gaji satpam 600rb/bulan













September 25, 2007 pukul 1:40 pm
Sebuah rumah yang melewati kampung -dengan penduduk asli yang memiliki gap sosial- secara inherent memiliki resiko kejahatan yang lebih besar dibandingkan dengan rumah yang single direct access -terlebih yang dibangun oleh si developer.
Hmm, tahu benar saya golongan mana yang polapikirnya seperti ini.
September 25, 2007 pukul 10:07 pm
Rumah yang aman, jika tak menyolok dibanding rumah di lingkungan sekelilingnya. Betapapun amannya lingkungan, kejahatan masih mungkin terjadi, dan infonya sering dari orang terdekat. Yang sulit adalah bagaimana mendidik pembantu untuk berhati-hati, karena kalau ada apa-apa merekalah yang terkena lebih dahulu (termasuk anak-anak, jika kita mempunyai anak kecil)….karena untuk harta, cuma ada buku-buku yang bagi orang lain kurang bermanfaat.
Saya lebih suka membuat keamanan lingkungan, kenal baik dengan tetangga kiri kanan, dan saling tolong menolong…inilah yang membuat kangen dengan rumah lama, yang selalu terbuka, pagar tak pernah dikunci…dan aman-aman saja. Lingkungan sekarang, walau aman, masing-masing rumah punya pagar tertutup rapat, kalau siang sepiiii banget (jadi risiko memang pada siang hari, saat penghuni rumah keluar untuk bekerja).
Hmm jadi kangen tinggal di kota kecil, anak-anak bebas berlarian, memanjat pohon……dan rumah selalu terbuka.
Nopember 30, 2007 pukul 1:35 am
Pengalaman saya, pernah tinggal di kampung (kontrak) Jakarta atau rumah sendiri di komplek. Di kampung (Halim Jakarta) sangat aman. Siang hari anak saya dan pengasuhnya bisa tiba2 keluar rumah karena mengejar tukang balon yg sudah lewat. Rumah kosong, pagar membuka tidak dikunci, padahal depan rumah jalan selebar satu mobil yg cukup ramai dilewati penduduk. Mudik 10 hari tanpa persiapan apa2, juga aman. Kami bisa saling nitip untuk ikut ngawasi anak kalau ada apa2 ke tetangga, karena di depannya ada kolam ikan cukup besar. Di kompleks? Ya tahu sendirilah, semua pagar mesti terkunci rapat kalau tak ingin mengundang kejahatan karena siang hari sangatlah sepi. Di kompleks, sulit utk sekedar titip mengawasi anak/rumah, menyiram tanaman seperti waktu tinggal di kampung
Februari 11, 2008 pukul 3:55 am
depan rumah ada gardu lsitrik aman gak? mohon saran