Memahami komitmen pernikahan
September 27, 2007 — priandoyoSaya dan istri setelah menikah punya komitmen sederhana: Saya tidak boleh memboncengi (apa ya bahasa yang lebih tepat) perempuan lain dalam mobil saya berdua saja. Suatu ketika ada teman kantor yang sedang hamil tua, saya berusaha menolak, tapi karena kasihan akhirnya saya telpon istri saya izin mengantar dia pulang.
Pak Andri, suatu ketika memberi nasihat tentang pernikahan.
Suami itu harus membukakan pintu bagi istrinya, baik pintu rumah ataupun pintu mobil. Jaman Rosulullah SAW dulu karena belum ada mobil, Rosulullah SAW selalu membantu Khodijah (istrinya) naik ke atas unta dengan cara menjadikan paha Rosulullah SAW sebagai pijakan bagi Khodijah
Pak Syafii Antonio, suatu ketika di Lt 52 Wisma Mulia.
“Selalu berusaha pulang tempat waktu!”
Jimmy, saat ngobrol santai di pelataran kantor
“Mengadakan momen special berdua, hanya dengan si dia, lepas dari gangguan si kecil atau pekerjaan rumah lainnya”
Nasihat standar entah diradio mana.
Karena setiap manusia unik, tentunya setiap pernikahan juga unik bukan. Komitmen anda pastinya berbeda dengan komitmen teman sebelah kubikal anda. Kebutuhan pasangan anda tentunya juga berbeda dengan kebutuhan pasangan lain pada umumnya.
Jadi, kata siapa cinta itu tanpa pengorbanan?













September 30, 2007 pukul 5:42 pm
nggak di poligami . itu aja deh
Februari 22, 2008 pukul 7:54 am
jadi pengin nikah…:)