Seni membeli rumah: tidak terburu-buru
Beberapa minggu yang lalu seorang teman baik -dan pasangannya- datang ke rumah. Mereka minta diantarkan untuk survey rumah di komplek sekitar kami tinggal. Kebetulan karena kemarin banyak waktu luang, hampir seharian penuh kami sempatkan untuk berburu rumah. Lengkap, mulai dari rumah baru, rumah second, dua rumah teman disekitar lokasi. Sehingga puas betul sang teman mendapat perbandingan rumah disekitar komplek.
Si teman rupanya memang sedang semangat-semangatnya mencari rumah, apalagi dengan calon istrinya yang tentunya bisa merasakan betul tipe rumah seperti apa yang benar-benar cocok untuk mereka berdua. Akibatnya hampir setiap minggu mereka berputar-putar dan hampir setiap minggu pun mereka berkonsultasi apakah sekedar sms ataupun telpon.
Minggu kesekian akhirnya si teman sudah mulai mendapatkan gambaran rumah apa yang bisa dia dapatkan berikut gambaran pembiayaannya. Dengan bekal informasi yang cukup si teman pun kemudian bernegoisasi dengan kantor pemasaran perumahan tersebut. Hasilnya luar biasa: rumah tipe yang ia idam-idamkan dan masih ditambah kelebihan tanah yang cukup luas dibelakang -calon rumahnya di tanah hook, ada kelebihan tanah.
‘Jadi gimana nih Jar, ambil atau engga? rumahnya ok, tipe yang kita lihat kemarin itu, dan ini satu-satunya yang ada kelebihan tanah, cantik banget. Mba’nya minta kita booking fee secepatnya keburu rumahnya dijual ma yang lain Jar’
‘Iya Jon, aku tahu rumahnya itu, bagus kok. Tapi apa ga terlalu cepat nih kamu memutuskan?’ Saya tahu Jono baru 3-4 minggu ini mengunjungi lokasi tersebut.
‘Gimana ya Jar, pengennya sebelum lebaran ini udah ada kepastian, kan enak nanti kalau aku pulang, sekalian ngabarin calon mertua’
‘Tapi Jon, apapun itu, seyakin-yakinnya kamu dengan rumah, urusan membeli rumah ini kan bukan urusan kecil, dananya besar. Coba tunda 1-2 minggu dulu, datang ulang ke lokasi ini, lihat-lihat lagi, jangan membuat keputusan terburu-buru’
‘Tapi Jar, kalau rumahnya kejual gimana?’
‘Ya gpp, artinya belum rezeki, coba tanya nyonya (calon) lagi, sreg atau engga’
‘Wah, bingung aku Jar’
‘Iya gpp, memang ini waktunya bingung, istirahat dulu deh minggu depan datang lagi ke lokasi, rasakan sekali lagi, baru putuskan. Apapun Jon, urusan rumah ini jangan terburu-buru’


wah, anjar sekarang sudah bisa kasih advis buat jangan buru buru yah … heibat.
aku juga lagi bersabar dgn urusan rumah nih. alhasil kami tinggal di rumah sodara dulu huehehehhe .. kebetulan mereka minta kita buat nempatin. http://papabonbon.wordpress.com/2007/10/02/euphoria-rumah-baru/#comment-5285
papabonbon
Oktober 2, 2007 at 6:54 am
Saya juga lagi bingung cari rumah, kemarin lihat-lihat di menteng metropolitan, fasilitas sudah cukup lengkap, pusat belanja pun bisa nebeng Taman Harapan Indah Bekasi. Kebetulan dari kantor (gunung sahari) ke lokasi tidak sangat jauh (cukup jauh tapi masih terjangkau). Dan yang paling utama adalah bebas banjir.
Yang jadi keraguan saya adalah perkembangan kompleks tersebut, mengingat sudah 10 tahun berjalan untuk tahap I baru terisi 50%, sisanya masih tanah atau rumah kosong. Dilihat dari nilai investasi (walaupun rencananya akan ditinggali) dalam 10 tahun kelihatannya hanya akan naik 100%.
Calon saya sudah cocok dengan lokasi tersebut, dan saya juga sudah cocok dengan tipe rumah serta luas tanah, tapi masih akan survey beberapa waktu ke daerah tersebut untuk memastikan.
Oiya satu lagi, sekarang saya juga sedang giat mencari informasi tentang kompleks tersebut via internet, hasilnya dapat komplain di surat pembaca kompas cyber mengenai kemanan perumahan tersebut.
Setuju dengan pak Anjar, saya memang akan survey dahulu selengkap-lengkapnya sebelum memutuskan pembelian (apalagi kalau nanti terikat KPR)
Deon
Oktober 2, 2007 at 8:28 am
pengalaman saya sendiri saat mencari rumah kemaren2 itu butuh waktu sekitar 3-6 bulan. maklumlah untuk mengkombinasikan antara budget yg terbatas dengan ekspektasi yg lumayan tinggi cukup menuntut kesabaran extra. intinya sabar dan teliti serta banyak2lah membandingkan.
osinaga
Oktober 2, 2007 at 8:57 am
Pak OSinaga, apa boleh sharing prosesnya selama 3 bulan itu? akhirnya dapat dimana pak?
Deon
Oktober 2, 2007 at 10:22 am
sebagai ‘mantan kuli bangunan’, kl saya boleh menyarankan, lebih baik beli kapling dan bangun rumah sendiri, apalagi kl punya teman pemborong. memang proses lbh lama dan perlu ketekunan, tapi kita yg menghuni lbh puas dan mengerti seluk beluk rumah terutama bahan bangunannya. namanya rumah real estate, terkadang developer berbuat nakal jg (dulu pernah kerja praktek di developer soale)…’korting’ sana sini shg ketahanan struktur tidak maksimal ; rumah masih nyicil sudah retak sana sini…
apalagi kalau spt teman mas, buru2 beli rumah real estate krn biar camer terharu biru…calon mantu datang dengan ‘paket spesial’. itu bisa2nya si mbak yg jual minta fee buru2, penjual spt itu biasanya karena menutupi sesuatu, siapa tau rumahnya memang susah laku krn aura gak bagus atau malah siapa tau pondasinya udah retak (hiii..).
ini kan cuma saran lho mas…mudah2an bermanfaat. salam kenal….
sisesu
Oktober 2, 2007 at 10:52 am
membeli rumah itu bagaikan mo milih pasangan yg mo kita kawinin, …. Tapi ingat, …. jangan menikah karena kecelakaan…… hheheihihi …. nyambung kaga ya…. hhihihi
Ahmed
Oktober 2, 2007 at 12:15 pm
Mas.. gimana dengan menteng metropolitan? apakah ada yg bisa kasih review? kalau mau bikin post baru itu bagaimana ya?
Deon
Oktober 3, 2007 at 2:15 am
Benar memang beli rumah harus banyak membandingkan
dengan tempat2 lain untuk itu kumpulkan brosur sebanyak2nya datangi pameran property dan setelah itu di survey dulu lihat2 ke lokasi rumahnya soalnya gue udah dua kali beri rumah pertama di sidoarjo dan terakhir di surabaya
selamat berburu rumah mudah2 anda2 dapat sesuai dengan hati nurani .
Mustakim
Oktober 4, 2007 at 12:25 am
Slm kenal Mas….
Aku kan jg berniat mo beli rumah, dr awal agustus udah nyari2 lokasi dan udah nemu perumahan yg sreg tp smp skrng baru byr booking fee. Banyak jg pertimbangannya, pertama kapling yg kita suka tnyt sudah ada yg ngambil krn kita kelamaan mikirnya, dan untuk menentukan kapling lagi agak susah memerlukan debat panjang dg suami. Setelah booking kapling sesuai keinginan suami bbrp hari kemudian dikasih tau developer tnyt kapling tsb mo dibangun mushola,tmn bermain dll, jd pindah lg ngambil kapling yg sesuai keinginanku (seneng jg sh).
Permasalahan kedua surat2 buat ngajuin kredit jg blm lengkap, kadang kesibukan di kantor yg bikin kita gk sempet buat ngurusinnya. Ada waktunya pas istirahat, tp kantor or bank nya jg banyakan pd istirahat.
dEE
Oktober 4, 2007 at 2:07 am
Mas Anjar,
Saat ini banyak dibkin perumahan baru dengan type yang minimalis tapi harganya maximalis :D , kalo menurut mas anjar lebih baik beli rumah second namun tanahnya luas ataukah beli rumah baru namun tananhnya kecil.
mohon sarannya mas.
makasih
senapatipamungkas
Agustus 29, 2008 at 6:22 am
Setuju dengan mas/mbak sisesu. Emang lebih baik beli tanah kavling, soale desain rumah bisa sesuai selera n kebutuhan. Saya juga lagi ada rencana bwt beli tanah kavling. Tapi saya belum tahu kira2 untuk membangun rumah standar tipe 54 tu butuh budget berapa ya? Dengan asumsi kualitas bahan bangunan standar lah, ga jelek2 amat. Mungkin yang berpengalaman bisa memberi masukan. Suwun.
Azta
September 29, 2008 at 1:17 pm
Salam kenal..baru tahu ada blog ini setelah mondar-mandir googling. BTW, saya minta sarannya Mas Anjar, tentang tips membangun rumah di tanah milik sendiri (tidak lewat developer). Thanks a lot!
rifa
Februari 8, 2009 at 2:12 am
assalamu’alaikum wr.wb. mo nimbrung. udah kira-kira setahun ini hunting rumah, mulai dari nggak serius, rada serius, ampe serius n serius banget…hehe…n dalam setahun itu semangatnya ga tentu. Alhamdulillah kira2 2 minggu lalu “nemu” rumah yang pas di kantong n pas di keinginan, padahal pas muter2 hunting rumah, lokasinya nggak kedaftar dalam daftar hunting hari itu. siang iseng2 masuk komplek tsb, n ternyata ada rumah mungil, pojokan, dijual. eh, CP nya gak bisa dihubungi, so kami lanjutin hunting ke daerah lain. sampe sore hari nggak ada yang bikin kami sreg. iseng2 nelpon rumah yang tadi, eh nyambung…begitu nanya harga…alhamdulillah ternyata ga semahal yang kami kira (mengingat rumah tsb ada di lokasi yang strategis, fasum udah terbentuk, perumahan yang sistem cluster tapi berpagar,dll). Sekarang lagi proses pengajuan KPR…doakan semoga lancar ya.
ummu isaura
Maret 19, 2009 at 11:03 am
Teman-teman dan Saudara-saudara ini pada hebat semua.
Bisa mengembangkan seni membeli rumah, tidak buru-buru. Tingkatan saya masih jauh di bawahnya, baru pada tahap seni mencari duit, yang mudah2an pada akhirnya nanti cukup untuk membeli rumah sebelum keburu pensiun.
Mat Karto
Maret 19, 2009 at 2:15 pm