Mengapa teori motivasi seringkali tidak berhasil?

‘Kenapa ya efek mendengarkan motivasi dari motivator semacam Tung Desem ataupun dari penceramah religius tidak bertahan lama. Biasanya hanya bertahan 1-2 jam setelah acara berlangsung. Padahal tadi nda, si penceramah bisa buat jamaah terharu biru, menangis. Disebelahku ada security, gagah besar pake safari dia terisak-isak saat sang penceramah meminta kita mengingat wajah ayah dan ibu’

‘Hehehe, iyalah, makanya membership ESQ tidak terbatas, sekali join kita bisa ngikut sesi ESQ berikutnya’
Dinda ‘penggemar’ ESQ, sebagaimana teman-temannya di BI, Telkom dan perusahaan lain yang sering mengirimkan karyawannya untuk training-training motivasi diluar.

Ada yang tahu kenapa teori-teori dan pelajaran tentang dahsyat, luarbiasa, sedekah baik dalam konteks religi ataupun sekuler tidak efektif bertahan lama. Dan lewat satu hari biasanya kita sudah lupa. Apa yang salah?

Coba seandainya dibalik, kita diposisi motivator, entah sebagai bos ataupun manager. Kita memotivasi anak buah kita, ternyata hasil motivasi kita hanya bertahan 1-2 jam saja. Siapa yang salah?

Ditulis dalam My Opinion.

19 Tanggapan ke “Mengapa teori motivasi seringkali tidak berhasil?”

  1. Wewed Berkata:

    Wah… tetep saja kalo motivator susah dimengerti kata2nya, spt nonton di O-Channel sama Om Mario Teguh, kok tetep gak ngefek ke aku yach? Dimananya yang salah ??

  2. nungqee24 Berkata:

    please deh : “Dinda ‘penggemar’ ESQ” ???

  3. goosei Berkata:

    pada dasarnya semua orang sudah punya motivasi…kalo dibangkitkan dari luar memang paling cuman bisa bertahan 1-2 jam….Kalo motivasi itu datang dengan sendirinya…hasilnya “ngedab edabi” (dahsyat)

  4. ibrahim Berkata:

    Memunculkan motivasi mungkin mudah. Yang sulit itu menjaga konsistensinya. Makanya dalam melakukan apapun pilihlah motivasi yang paling kuat, lakukan evaluasi dan kesadaran.

  5. lucky Berkata:

    MAs anjar: Ada yang tahu kenapa teori-teori dan pelajaran tentang dahsyat, luarbiasa, sedekah baik dalam konteks religi ataupun sekuler tidak efektif bertahan lama. Dan lewat satu hari biasanya kita sudah lupa. Apa yang salah?

    soalnya instan mas…hal-hal yang instan ya hasilnya instan juga…kecuali kalo pencerahan seketika itu mampu dijaga, dan terus dijaga (artinya cuma jadi pemicu doang, seterusnya adalah proses yang panjang, terus mnerus dan nggak instan…).

    *sok tau, hehehe

  6. fertob Berkata:

    Motivasi eksternal itu bertahan paling singkat, ketika reinforcement-nya menghilang maka kita pun kembali seperti sediakala tanpa ada apa-apa. Training Motivasi yang berasal dari luar diri sendiri (ESQ, motivasi relijius, dll) itu hanya bersifat sementara.

    Yang paling bertahan lama itu justru motivasi internal, yang berasal dari dalam diri sendiri, yang berasal dari pemahaman akan kemampuan dan potensi diri sendiri. Ini yang justru sangat banyak menentukan sukses tidaknya seseorang.

    Itulah makanya sampai sekarang saya masih bersikap skeptis thdp pelatihan2 motivasi eksternal yang tidak menyentuh sisi internal manusianya.

    Kalau utk emosi sesaat, silakan saja dijalani… :)

    anjar: skeptis terhadap motivasi external yang tidak menyentuh sisi internal? berarti ada motivasi eksternal yang bisa menyentuh internal? apa tuh om contohnya?

  7. rezayazdi Berkata:

    Huhehehehe… ini sama saja njar, kenapa tiap Jum’at ada khotbah, tapi negara kita gak jauh-jauh dari rangking 1 urusan korupsi huhehehehe….

  8. tonny Berkata:

    Coba pake filosophy “menanam pohon Kurma”, konon critanya pohon kurma yang baik itu nanamnya biji kurmanya ditindih batu besar dulu, biar tumbuhnya akar maksimal untuk menggapai “sumber air hakiki” kedalam tanah, maka ketika mulai tumbuh tunas keatas, dia mampu menggeser batu itu perlahan-lahan dan survive sebagai pohon kurma yang sangat tahan dengan ganasnya alam padang pasir yang kering kerontang sekalipun… dan katanya beda jika nanamnya pohon kurma “hanya” ditaruh di tanah biasa, akarnya hanya “puas” mencapai “jalan air” bukan “sumber air”, sehingga ketika tumbuh keatas daya tahannya lembek dan cepat menyerah pada ganasnya alam padang pasir di sana…
    He..he.. nyambung ndak ya??!!

  9. papabonbon Berkata:

    kok jadi kayak orang indonesia yg negara tropis dengan sumber daya yg abundant …

  10. Imam Mawardi Berkata:

    Motivasi tetap dibutuhkan. Lhhhhhaaa kita puasa ini juga berkat motivasi. Mau bangun malam juga berkat motivasi. Iya kan?

  11. ika Berkata:

    Saya adalah korban training motivasi dan akhirnya depresi..
    Setelah ikut training di thn 1999 yg trainernya khusus didatangkan dari luar negri semangat kerja sy menjadi luar biasa. Itu tujuan dari perusahaan supaya kita lebih giat bekerja dan menguntungkan perusahaan. Waktu itu rasanya Pak Tung juga masih belajar jadi motivator.
    Saya sangat loyal kpd perusahaan dimana sy bekerja, sangking loyalnya dan penuh tanggung jawab sy menjadi lupa sama keluarga saya. Saya akhirnya bingung mana yg hrs jadi prioritas, pekerjaan atau keluarga.
    Untungnya sy memilih keluarga dan ternyata motivasi saya untuk membahagiakan keluarga tidak sia2. Seandainya waktu itu sy memilih pekerjaan mungkin sy sdh gila dan kehilangan waktu yg tidak dapat sy putar kembali.
    Sekarang sy sdh kembali bekerja dan dapat belajar dari kegagalan sebelumnya. Keluarga hrs tetap no.1 atau no.2 setelah Tuhan.
    Kita bisa saja membaca ribuan buku orang sukses, tetapi kita bukan lah mereka.
    Sebelum kita mengetahui kegunaan alat blender, hanya penemunyalah yg tau kegunaannya.
    Dari kecil kita sdh ditanya, kalau besar mau jadi apa? lalu apakah kita salah kalau kita punya motivasi?
    Pernahkah kita bertanya kpd Tuhan yg telah menciptakan kita; What on earth am i here for?

  12. fertob Berkata:

    sorry baru balas, Njar…

    Sepanjang saya mengikuti beberapa pelatihan motivasi, yang saya amati belum sampai menyentuh sisi internal manusia. Beberapa hanya bersifat emosional dan temporary.

    Yang terpenting dari pelatihan motivasi adalah bagaimana seorang motivator mampu untuk menumbuhkan motivasi internal dalam diri seseorang agar menyadari potensi dan kemampuannya. Itu tujuan utamanya, menurutku.

    Sukses tidaknya sebuah pelatihan motivasi bukan dilihat dari seberapa banyak yang datang tetapi efeknya terhadap motivasi internal si individu.

    Jadi kalau kita selalu harus mengikuti pelatihan motivasi setiap kali kita “down”, itu tandanya kita belum bisa menimbulkan motivasi internal dalam diri untuk mampu bangkit tanpa perlu ada motivassi dari luar. Itu namanya seperti kecanduan atau ketagihan. Setiap kali kita butuh, kita mencari “sesuatu” dari luar untuk memotivasi kita.

    Sementara manusia punya kemampuan untuk mengembangkan potensinya sendiri tanpa butuh outside-reinforcement.

  13. Riri Satria Berkata:

    Ikutan nimbrung ah … walaupun komentarnya hampir sama dengan teman2 di atas …

    Suatu entitas, apakah itu manusia, organisasi, perusahaan, keluarga, dan sebagainya, termotivasi biasanya karena 2 hal, yaitu internal pressure serta external pressure.

    Untuk internal pressure, saya pernah iseng2 mengajukan pertanyaan di kelas sewaktu ngajar (di kelas S2, mahasiswanya sudah pada kerja semua), “Siapa yang bekerja karena memang tulus ikhlas karena kerja itu ibadah ?”. Nah, gak ada yang tunjuk tangan tuh … Lihat di http://purbiyanto.wordpress.com/2007/05/21/vitamin-kerja/#comment-23

    Lalu pertanyaan saya lanjutkan, “Siapa yang bekerja karena ingin membiayai rumah tangga dan keluarga sehingga menjadi lebih sejahtera ?”. He he he … semuanya tunjuk tangan. Artinya semuanya bekerja karena memang ada tuntutan eksternal, dalam hal ini adanya external pressure terhadap dirinya, yaitu keluarga, dst.

    Di dunia bisnis juga begitu, sebuah perusahaan kalau mengalami external pressure yang hebat (dalam bentuk kompetisi), maka cenderung untuk melakukan efisiensi, customer satisfaction, mengembangkan SDM, dan sebagainya. Tapi kalo kondisinya monopoli, wallahualam. Lihat aja contohnya Telkom, dulu amit-amit, sekarang jadi bagus, karena external pressure. Kalau masih tetap monopoli, apakah akan menjadi lebih baik ? Gak janji deh …

    Mengapa kita bersekolah ? Karena yakin menuntut ilmu itu ibadah dan kita mampu melakukan sesuatu utk kehidupan ? atau karena memang tuntutan kenaikan karir dan pekerjaan ?

    Tanpa menyampingkan bahwa ada saja di dunia ini manusia2 yang luar biasa dan memiliki motivasi internal yang kuat dalam dirinya, tetapi saya melihat bahwa sebagian besar manusia itu butuh external pressure untuk membangkitkan motivasi dirinya. External pressure ini bukan dalam bentuk pelatihan, melainkan situasi dan kondisi yang memaksa dia harus melakukan sesuatu dengan motivasi tinggi.

    Sebuah perusahaan dengan kondisi PGPS (pintar goblok penghasilan sama), maka tentu saja karyawannya akan cenderung bekerja dengan minimalis atau performance minimal, toh reward sama saja. Tapi kalau menerapkan performance-based reward, nah ceritanya akan lain lagi ..

    Bayangkan, seorang karyawan habis ikut training motivasi yang hebat, lalu balik ke perusahaannya yang PGPS, ya lama-lama dia kendor lagi (kecuali dia memiliki motivasi internal yg tinggi).

    Sebuah bibit yang unggul (competence and well-motivated) akan tumbuh kembang di tanah yang subur (good working place and environment), kalau tidak, lama-lama dia juga akan tumbuh meranggas dan layu …

    He he he .. saya sendiri merasa lebih banyak termotivasi karena external pressure kok .. (well, that’s me with all plus and minus of myself) ..

    Salam sukses selalu
    Riri Satria ( http://www.ririsatria.net )

  14. suryo Berkata:

    hanya mengulang apa yang sudah disebutkan teman-teman diatas:
    1. sesuatu yang instan tidak akan bertahan lama..
    2. apalagi jika lingkungannya tidak sejalan dengan pelajaran teori instan tsb.

    yang akan banyak bertahan saya rasa adalah teori survival: “jika saya tidak berubah, saya akan punah..”

    dan seperti mas Riri bilang diatas hal itu dipengaruhi faktor-faktor eksternal yang selain harus real, tapi juga menghadang didepan mata…

  15. The secret of the great « Anjar Priandoyo Berkata:

    [...] juga Mengapa teori motivasi seringkali tidak berhasil (14 respons). Posted in [...]

  16. eko Berkata:

    In fact, tetap ada perbedaan antara org yg pernah ikut pelatihan motivasi dng org yg belum pernah ikut.
    Kalopun yg pernah ikut belum berhasil, di dlm dirinya masih akan terngiang apa yg didapat selama di kelas motivasi, dan itulah modal utk mencapai keberhasilan.
    Sukses adalah proses.Bahkan org yg sukses pun tidak dijamin akan terus sukses

  17. kabayan Berkata:

    Anjar says: “Coba seandainya dibalik, kita diposisi motivator, entah sebagai bos ataupun manager. Kita memotivasi anak buah kita, ternyata hasil motivasi kita hanya bertahan 1-2 jam saja. Siapa yang salah?”

    Jawabnya : managernya yang disalahkan oleh komisaris.( seperti yang sudah saya alami ). Berarti juga motivatornya salah..itu kata komisaris lho :D.

  18. salikh Berkata:

    salam…
    menurutku kesalahan bukan pada motivatornya…
    banyak hal yang harus dibangun…
    1. motivasi apa yang menyebabkan kita ikut training
    2. gagal ketika kita menunda keberhasilan. Setelah training selesai, lanjutkan dengan plan ke depan.
    3. pilih lingkungan atau kumpulkan orang2 yang mampu menjaga motivasi kita.
    4. komitmen dengan perubahan…
    5. jangan selalu tergantung dengan orang lain.
    6. sesungguhnya kita semua adalah seorang motivator

  19. Lina Berkata:

    Coba ikut Die Hard Motivation Seminar, yg ini beda.. life time warranty. website nya http://www.haryoardito.com

Tinggalkan Balasan