Rudi Santoso Sindrom
Oktober 31, 2007 — priandoyoAda fenomena menarik yang saya amati seputar hidup teman-teman saya. Ceritanya dimulai ketika saya SMP. Jaman SMP, posisi paling prestisius adalah Pratama Pramuka dan posisi ini paling banyak diperebutkan oleh anak-anak pada waktu itu. Ceritanya, ada seorang sahabat, sebut saja Arif yang akhirnya menjadi Pratama Pramuka. Secara ambisi, kepemimpinan dan wibawa Arif memang cocok jadi pimpinan.
Tapi begitu masa SMA, Arif berubah 180′, Arif tidak lagi tertarik berhubungan dengan dunia organisasi. Tidak tertarik bergabung dengan OSIS, Jamaah pengajian atau apapun organisasi. Pendeknya Arif menarik diri, padahal prestasi managerial Arif sewaktu SMP sudah battle proven, bahkan ditingkat nasional.
Sebaliknya masa SMA adalah masa keemasan bagi Bernhard, Bernhard yang dulunya di cap cupu saat SMP ternyata kemudian aktif berorganisasi, mulai dari ketua I OSIS, menjalin hubungan baik dengan guru-guru dan anak-anak SMA yang bandel-bandel hingga berbagai aktivitas lainnya.
Masuk di periode kuliah, siklusnya pun berubah lagi. Bernhard yang dulu menonjol tiba-tiba menghilang di peredaran. Jangankan mengakomodir keinginan rekan-rekan seangkatannya. Ada reuni angkatan atau buka puasa bersama Bernhard tidak pernah hadir. Dia mendadak hilang, entah kemana.
Siklus ini pun kemudian berulang, dan entah kenapa cukup banyak kejadian seperti ini yang saya temui. Di kampus misalnya, pahlawan baru itu bernama Chandra. Chandra aktif menjelajah kemana-mana. Tapi begitu masuk periode dunia kerja, Chandra pun redup dan menghilang. Padahal dulu dikampus, siapa sih yang ga kenal Chandra.
Terakhir di dunia kerja, yang ketika tahun-tahun pertama dijalani, Dian yang selalu membanggakan bekerja di perusahaan multinasional itu pun mengalami siklus yang sama. Dian yang sempat mendapat predikat alumni paling bersinar pun ternyata redup setelah 7-8 tahun berjalan. Suaranya yang dulu keras di milis kampus pun sekarang hilang. Entah dimana Dian sekarang, harusnya masih di perusahaan MNC tersebut.
Cerita tentang Arif, Bernhard, Chandra dan Dian bisa jadi cerita bahwa hidup itu seperti roda yang berputar. Akan ada masa naik dan akan ada masa turun. Bisa juga cerita bahwa hidup itu orang harus punya alasan. Sekedar menjadi lebih baik pun orang harus punya alasan, apalagi kalau ingin menjadi hebat bukan. Orang harus punya alasan yang kuat.
Buat saya, Tuhan sudah mendesign hidup ini sungguh luar biasa unik. Selalu ada fase-fase kehidupan yang bisa kita jadikan renungan kemana dan sejauh manakah kita sudah melangkah. Kalaupun sekarang tidak ada alasan untuk menjalani hidup ini, ya biarlah, kelak kita sendiri yang akan temukan alasan itu. Toh bisa jadi esok hari saya pun akan mengalami siklus yang sama seperti Arif, Bernhard, Chandra, Dian … dan kemudian saya. Dan kemudian pun saya tidak akan heran mendengar orang-orang pun akan menanyakan
“Ah kenapa si Anjar jadi seperti itu ya, padahal kan, padahal kan… dan seterusnya”
Ada yang pernah mendengar, menyaksikan atau malah mengalami sindrom seperti ini?
PS: Untuk semua rekan-rekan yang masih mencari jati diri. Percayalah masa pencarian itu tidak akan pernah berakhir.













Oktober 31, 2007 pukul 8:37 am
iya, bener, setuju. Saya juga pernah mendengar, menyaksikan, dan bahkan mengalami sendiri (sindrom?) seperti ini. Rasanya sejak tahun2 akhir kuliah saya seperti berhasil mendapatkan segala yang saya kejar, serasa semuanya berjalan lancar dan sukses.
Saat ini memasuki akhir tahun kedua di dunia kerja, rasanya masih terus ingin mempertahankan, keep it rollin’ on…
Bisa ngga ya?
ps: masa sih, sampe akhir hayat ngga akan berhasil menemukan jati diri..? ngga ada gunanya mencari dong..?
anjar: terimakasih pendapatnya mas acooljerk, beberapa teman mengistilahkan ‘rudi santoso sindrom’ ini sebagai ’sindrom sekolah unggulan’ (smp unggulan, univ unggulan dan beban-beban psikologis lainnya)
Oktober 31, 2007 pukul 9:51 am
ah ini mah kelamain ama saya. Gue bgt gitu loh. SMU cupu. Kuliah aktif. Masa kerja kadang merasa kesepian. Terutam apas hari libur. Gak tahu aneh.
Oktober 31, 2007 pukul 10:10 am
Jadi siapa Rudi Santoso itu?
Oktober 31, 2007 pukul 10:14 am
Wah… betul banget banget tuh Mas Anjar, hidup memang seperti Roda kadang di atas kadang di bawah dan yang memutar Roda itu ya kita sendiri ya gak ???
Oktober 31, 2007 pukul 10:38 am
saya baca dari awal sampai akhir kok gak ada menyangkut Rudi Santoso ?
siapa sih dia ya ? kok jadi sindrom ?
saya cari di google gak ketemu euy.
Oktober 31, 2007 pukul 11:31 am
Lha trus hubungannya ma Rudi Santoso apa mas ?
(tulalit)…
Oktober 31, 2007 pukul 11:53 am
Jadi Rudi Santoso itu penemu Sindrom itu ya?! atau Rudinya ikut jadi Ga terkenal gara-gara kena sindromnya.
adouww.. Piusing.
*k’pala ini pusing-pusing..
*badan ini panas-panas..
(Lha koq jadi Genitnya GIGI ya?!) hehehe :)
Oktober 31, 2007 pukul 1:06 pm
sindrom Rudi Santoso itu seperti apa mas? kayaknya jadi agak2 bingung bacanya.
tapi gw punya cerita teman sma dulu yang mantan ketua OSIS ujung2nya malah masuk pesantren dan gak ngelanjutin kuliah, padahal potensi sangatlah ada.
Tapi emang iya sih segala sesuatu itu masa-masanya, mungkin sekarang belum menonjol tapi suatu saat dia malah menjadi hebat atau malah sebaliknya…. :)
Oktober 31, 2007 pukul 2:03 pm
anJAR PriandoYO ruDI santoSO
ngeJAR DunYO, daDIne rekoSO……….
itu kali ya yang dimaksud :) :)
ngejar dunia terus… akhirnya malah capek gak dapat apa2…. ;dulu aktif banget, skr jadi capek dan malah gak muncul sama sekali…..
*maksa banget ya :)
Oktober 31, 2007 pukul 2:14 pm
itulah yang namanya roda kehidupan. senantiasa berputar. tinggal gimana kita mengendalikannya, apakah mau terus, atau stagnan aja, atau mau berbelok pindah ke lain jalur! salam by http://pcmavrc.wordpress.com
Oktober 31, 2007 pukul 2:27 pm
Iya saya sempat juga ngalamin sindrom itu, dan semua terjadi mengalir seperti air aja… kadang hikmahnya baru belakangan kita tau…. saya jadi inget crita ini…
Pohon Tua
Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang
pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan.
Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol
keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak
gagah di banding dengan pohon-pohon lain di
sekitarnya.Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi
beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan
bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung
itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka
dalam kebesaran pohon itu.
Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat
mengisi hari-harinya yang panjang.Orang-orang pun
bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap
singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu.
Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan,
di bawah naungan dahan-dahan. “Pohon yang sangat
berguna,” begitu ujar mereka setiap selesai berteduh.
Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan
tadi.
Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai
sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya
pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan
pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya.
Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang
yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk
berteduh.Sang pohon pun bersedih. “Ya Tuhan, mengapa
begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh
teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau
ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?” begitu
ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan.
“Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak
perlu merasakan siksaan ini?” Sang pohon terus
menangis, membasahi tubuhnya yang kering.
Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau
berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam
kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap
dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi
malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi
menjelang.
“Cittt…cericirit…cittt” Ah suara apa itu?
Ternyata, ada seekor anak burung yang baru menetas.
Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.
“Cittt…cericirit…cittt,” suara itu makin keras
melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama
kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran
burung-burung baru. Satu… dua… tiga… dan empat
anak burung lahir ke dunia. “Ah, doaku di jawab-Nya,”
begitu seru sang pohon.Keesokan harinya,
beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu.
Mereka,akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata,
batang kayu yang kering, mengundang burung dengan
jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana.
Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam
batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya
pun lebih banyak dan lebih beragam. “Ah, kini hariku
makin cerah bersama burung-burung ini”, gumam sang
pohon dengan berbinar.Sang pohon pun kembali
bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya
kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul
di dekat akarnya. Sang Tunas tampak tersenyum. Ah,
rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit
baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.
Begitulah, adakah hikmah yang dapat kita petik
disana? Allah memang selalu punya rencana-rencana
rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha
Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan
jawaban-jawaban buat kita. Walaupun kadang
penyelesaiannya tak selalu mudah ditebak, namun,
yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.Saat
dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain,
diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang
sandingkan-Nya, bukanlah harga mati. Bukanlah suatu
hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan
cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah,
sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak
memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan
sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji kesabaran yang
dimiliki.Maka yakinlah, apapun cobaan yang kita
hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang
sedang dipersiapkan-Nya buat kita.
Nopember 1, 2007 pukul 2:28 am
top dech ceritanya. Zzz..ZZZ.zzzz
Nopember 1, 2007 pukul 3:47 am
kata Alquran sih gitu … wah lama nian gak chatting sama anjar
Nopember 1, 2007 pukul 4:02 am
The story reminds me to Andrea’s books. That our life just like wheel, sometime up and down and only dream that can lift up our destiny become brighter.
The Hero will become a looser if they think they already reach they dream and just stuck in one point. Conversely, their peers still run for next goals and achievement, but the looser with satisfy with what they got now.
So, never stop to dream!!!
Nopember 1, 2007 pukul 4:20 am
gue banget nih. masa sekolah cupu dan katrok. awal kuliah masih sama. setelah mengenal wanita jadi pingin tampil dan terus tampil, berusaha jadi yang terdepan sampe sekarang ….karena aku pencinta wanita …
Nopember 1, 2007 pukul 4:59 am
Iya, bener.
masa kuliah aktif, tapi justru ketika kerja banyak hal yang terasa hilang. rasanya sepi…
hmm… jadi kepikiran kayaknya enakan pas kuliah hehehe….
Beruntung temen saya yang kerjanya jadi orang yg bebas. Masih bisa ikut banyak kegiatan dan bikin banyak kegiatan juga.
huaaahh…
Nopember 1, 2007 pukul 5:57 am
well, ini namanya roda kehidupan. temen saya dulu yang paling cantik di SD sekaligus paling pinter, ternyata akhirnya juga gak lulus SMA. bahkan sekarang dia masih di kampung, tidak merantau di ibukota. sebaliknya, seorang temen di sma yang bisa dibilang medioker ternyata sekarang ada di jepang karena ditugaskan belajar oleh perusahaannya.
saya sih ambil kesimpulan yang sederhana saja: hidup ini penuh dengan misteri. apa yang sudah didapat sekarang belum tentu akan kita pegang selamanya. sebaliknya, apa yang belum kita dapatkan hari ini siapa tahu bisa direngkuh di masa yang akan datang.
apa kuncinya? yang pasti ya selalu belajar, berdoa dan berusaha. bukan begitu mas anjar?
Nopember 1, 2007 pukul 8:08 am
Kehidupan ini selalu berubah. Hanya perubahan itu sendiri yang gak pernah berubah.
Kritik Pak Anjar, saya perhatikan kadang2 posting Bapak di blog ini tidak konsisten antara judul dan isi. “Rudi Santoso Sindrom”, judulnya cukup membuat penasaran, setelah dibaca, isinya tidak sinergi dengan judul, tidak menjawab rasa penasaran walau sudah dijelaskan di salah satu response. Posting sebelumnya “Resiko Punya Banyak Teman” juga tidak selaras dengan isinya. Rasanya kok gak pas aja. Atau saya yang terlalu sensitif ya :-)
anjar: betul, memang banyak juga yang judul dan isinya kurang tepat. saya memang kurang mengeksplore. mungkin karena konteksnya blog ya mba juminten, jadi yang seingetnya saja. lain waktu pasti saya eksplore lebih detail. terimakasih ya sarannya.
Nopember 1, 2007 pukul 8:30 am
gw setuju dengan mbak juminten, maksudnya rudi santoso sindrom itu apa? kalo rudi supervisor gw punya sindrom suka cela-cela semua karyawannya. kalo nggak mencela, dia bisa ngantuk…. (bos rudi, sorry ya.. hehehehe)
kenapa gak dikasih nama sindrom Arif, Bernhard, Chandra dan Dian atau sindrom roda berputar…
Nopember 1, 2007 pukul 1:59 pm
cokro manggilingan yoo…
Nopember 2, 2007 pukul 3:40 am
Pendatang baru nih mas anjar :D
Wah kalau saya kok dari SD sampe kuliah standar-standar ajah yah alias polos tomo…… :D. tapi sih gw yakin dengan kehidupan akan terus berputar. jadi nih lagi nunggu “sindrom rudi santoso”
Nopember 2, 2007 pukul 4:12 am
Oleh karena melihat hal yang sama, saya akan sangat kagum dengan orang-orang yang konsisten “bersinar” dari tahun ke tahun…
Nopember 2, 2007 pukul 10:56 am
@rezayadi
malah saya merasa org yg bersinar setiap tahun nya justru berada di posisi yg paling gamang, krn kita g tau aa yg bakal terjadi padanya apabila dia kehilangan sinarnya…
justru jatuh bangunnya seseorang lah yg membuat sianrnya semakin terang setelah sinarnya sempat menghilang..
*saya sendiri msh mencari2 sumber sinar itu… :(
Nopember 8, 2007 pukul 3:21 am
life is a learning cycle…
kita belajar.. belajar.. dan belajar terus..
menemukan hak baru.. hal baru.. dan hal baru berikutnya…
termasuk dalam pencarian jati diri…. tidak ada kata akhir..
*peace :D
Nopember 14, 2007 pukul 9:19 am
jadi bang anjar ini dulu ketua osis waktu di TN ya?
Mei 15, 2008 pukul 7:31 am
[...] Suatu perubahan karir yang luar biasa. Jadi inget kejadian yang hampir mirip pernah ditulis disini -Rudi Santoso Sindrom. Posted in [...]
Mei 15, 2008 pukul 10:21 am
udah deeh sekarang bilang ajah masanya anjar,……..
Mei 18, 2008 pukul 9:03 am
Njar .. dulu .. ada temenku juga .. seperti .. itu .. selalu bintang kelas … tetapi .. pas kelas tiga saat mau kuliah … apa yang dia bilang … dia sudah capek belajar … dia masuk Akademi Pelayaran … dan entahlah kabarnya hilang sekarang …
Orang terhebat dibidangnya akan ada saatnya merasakan capai .. kejenuhan …. yang luar biasa …
Setuju .. kalo kita melakukan sesuatu harus ada Alasan yang kuat .. bukan hanya memuaskan Ego … karena Ego takkan pernah terpuaskan …