Anjar Priandoyo

Prospek universitas di luar Jawa

dengan 31 komentar

Kasihan temanku di daerah pusing mo ke Jawa (baca Jakarta) lowongan disana semua. Padahal itukan take risk, kalo gak punya modal gede, padahal baru dipanggil test kesatu dari Sulawesi. Ya. sulit, makanya saya prefer nganjurin sarjana-sarjana daerah buka usaha.

Kecuali perusahaan bonafit kayak tambang asing, itu biasanya dari test awal sudah dibiayai akomodasi tapi kalo perusahaan Indo, segede-gedenya paling dikasih makan siang doang. Kata temanku mereka paling banter mengharap jemput bola sedikit sekali perusahaan yang datang ke kampus.
Mas Laode via email
Komentar:
Ada yang punya pendapat?

About these ads

Ditulis oleh priandoyo

November 16, 2007 pada 7:27 am

Ditulis dalam Pendidikan

31 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Memang itulah repotnya Mas.. Jawa/Jakarta is the center of everything.. Soalnya dari sisi pembangunan di Indonesia juga masih terpusat di Jawa. Jadi daerah luar Jawanya, yang notabene public facility-nya jauh tertinggal dari Jawa, kurang membuat investor tertartik utk mendirikan main company-nya di luar Jawa/Jakarta. Kesimpulan: Usahakan kuliah di Jawa, ikut test di Jawa, penempatan di luar Jawa..hehe..
    **dari yg pengen balik ke Jawa**

    Miko

    November 16, 2007 pada 8:52 am

  2. inget loh, jangan salahkan siapa-siapa. Memang dari dulu pembangunan di jawa lebih pesat karena kultur warganya yang pekerja keras(belum lagi memang kuantitas banyak dan kualitasnya tinggi). Hal ini terjadi jauh sebelum merdeka, pemerintahan Belanda, bahkan dari zaman kerajaan dulu. Coba bandingkan hasil pembangunannya kerajaan kutai, sriwijaya, & Majapahit. jelas banget toh ?

    bagus

    November 16, 2007 pada 9:39 am

  3. Harus diakui, lulusan PT luar Jawa harus berjuang ekstra untuk dapat bersaing dalam bursa kerja dengan lulusan PT di pulau Jawa…

    acooljerk

    November 16, 2007 pada 2:04 pm

  4. Pindahkan ibukota dari pulau Jawa!

    Sumpah.. gue dukung deh kalau orang daerah minta daerahnya jadi ibukota yang baru..

    kunderemp an-narkaulipsiy

    November 18, 2007 pada 2:37 am

  5. Loker banyak di jawa? Wah, nggak setuju nih. Kalo dilihat dari kuantitas pekerjaan, mungkin benar. Tapi, kalo dilihat dari “kualitas dan benefit” pekerjaan, saya nggak setuju….

    Liat aja bukti nyata kalo hampir semua perusahaan yang menawarkan benefit lumayan ada di di luar jawa (ie: CPI-Riau, KPC-Bontang, Mobil Oil-Lhoksukon, Total-Balikpapan dan masih banyak yang laennya)…..

    Cuma, mungkin yang harus diperhatikan ya kualitas pendidikan dan “mental” dari para penggede. Prihatin banget kalo daerah yang “kaya” tapi para penggedenya sibuk ngurusin “perut”….

    Contoh, ngaku mayoritas rakyatnya miskin tapi bisa bikin rumah dinas Rp 39 milyar (ini di daerah bengkalis), ada lagi ngaku camat tapi bisa bikin rumah pribadi sampai Rp 1 milyar (contoh di Duri-Riau) dan ada lagi ngakunya lagi studi ke luar negeri tapi sebenernya jalan2….

    Jadi, seandainya uang tersebut dipakai untuk bikin sekolahan dan universitas, membiayai riset, memberi bea siswa dan sebagainya, dijamin temen2 di daerah maju2…… (tentunya asal tetep low profile, berdedikasi dan mau kerja keras)………..

    QM

    November 18, 2007 pada 9:37 am

  6. Bung QM,

    Bagaimana pun juga Pusat Pekerjaan itu terpusat di Jawa, baik dari sisi kuantitas, kwalitas maupun benefit. Kalo anda bilang di daerah ada : (ie: CPI-Riau, KPC-Bontang, Mobil Oil-Lhoksukon, Total-Balikpapan dan masih banyak yang laennya)…..yah tetap aja ga bisa menandingi pulau jawa Mas..Kalo sekelas CPI Riau – KPC Bontang dll ada disetiap propinsi atau jumlah nya ratusan bahkan ribuan cabang baru bisa disejajrkan dengan Jawa. Tapi kalo cuma di Riau, Kalimantan & Aceh yah ga ada apa-apanya lah. Kalo kita bandingkan (Hanya contoh) misal.. dari sisi kualitas, kuantitas & Benefit maka CPI Riau (1 propinsi loh) mungkin setara dengan Kualitas,kuantitas&benefit di satu Gedung Perkantoran dijakarta. Kenyataannya emang begitu, bahwa Jawa itu masih pusat dari Pekerjaan….

    komandan

    November 19, 2007 pada 9:52 am

  7. inget loh, jangan salahkan siapa-siapa. Memang dari dulu pembangunan di jawa lebih pesat karena kultur warganya yang pekerja keras(belum lagi memang kuantitas banyak dan kualitasnya tinggi). Hal ini terjadi jauh sebelum merdeka, pemerintahan Belanda, bahkan dari zaman kerajaan dulu. Coba bandingkan hasil pembangunannya kerajaan kutai, sriwijaya, & Majapahit. jelas banget toh ? –>
    Haiz…dont be such a narrow-minded pleaseeee…
    anda tentu tidak bisa menjudge dg semudah itu kalau orang2 luar jawa tidak serajin orang jawa….
    Harap anda tidak lupa banyak tokoh2 penting juga berasal dr luar jawa..
    Dan tentu saja pointless untuk membanding2kan suku… Hanya akan berujung provokasi,,
    BTT: masalah loker sy kurang begitu tahu ya..
    tp kalau masalah kualitas ga setertinggal itu kok..
    USU, UNAND dan Univ2 lainnya terus berkembang..kualitasnya pun makin meningkat :)
    Setidaknya sudah ada perbaikan dan mencoba mengejar ketinggalan :)

    etja

    November 22, 2007 pada 2:35 pm

  8. @etja

    narrow minded ? maksut ? saya kan bilang kultur orang jawa itu pekerja keras. apa saya membandingkan dengan suku lain ? apa saya menyebut suku lain di situ ? saya tahu pointless membandingkan suku2, dan satu-satunya yang melakukannya di sini itu dik etja. belajar sosiologi dulu dik etja, dunia itu tidak sehitam putih militer / eksakta kedokteran. Menilai masyarakat itu bukan dari tokohnya, tapi budayanya. Sekarang bagaimana mau maju kalau toko-toko di gorontalo banyak yang tutup siang hari ? Kalau di Payakumbuh selepas maghrib kotanya sudah sepi. Coba bandingkan dengan kota-kota kecil serupa di Jawa, Kediri misalnya. Lagian, orang Jawa itu tidak punya mental perantau (seperti dik etja ini), terbukti dengan falsafahnya “mangan ora mangan ngumpul”. Jadi mau kerja sedikit, kerja banyak, dilakukan di tanah kelahiran sendiri, yang dibangun tetap tanah kelahiran sendiri. Makanya bisa lebih maju dari yang lain.
    Contoh lain, dik etja sendiri kenapa kuliah kedokteran di Unair kalau menurut dik etja UNAND juga berkualitas ? Bukankah dengan kuliah di Unair dik etja jadi riset di Unair juga ? Bukannya salah satu faktor pendukung majunya satu Universitas adalah riset mahasiswanya ? Kalau bukan putra daerah yang membangun daerahnya, lalu siapa lagi ?

    Kali ini kita maafkanlah kalau dik etja masih berapi-api. Memang anak muda itu begitu. Titip salam juga buat pak Dripa di kampus. Semoga unit pengelola data digitalnya maju terus, jangan lupa juga sama puan puan malaysienya yah.

    bagus

    November 22, 2007 pada 11:27 pm

  9. wow panas bo!!!

    senyum itu ibadah

    November 27, 2007 pada 12:46 am

  10. iya nih, lagian di tempat kongkownya praktisi-praktisi engineer..tau-tau ada maba dokter salah kamar komen, OOT, sok tau, provokatif tapi fitnah provokasi, “ngenyek” lagi. Kayanya belum “dikader” tuh.

    bagus

    November 27, 2007 pada 2:15 am

  11. @Bagus
    heheh jelas sekali andalah yang narrow minded!!
    gak perlu di bahas udah kelihatan.

    boleh aja anda mengaku suku jawa bekerja keras tapi tolong
    1. kembalikan emas freeport dari papua
    2. Kembalikan minyak dari riau, kepala burung papua, aceh, sumatera selatan, bontang kepada mereka.
    3. ya udah cukup

    sekedar catt emang membangun univ airlangga, bantuan sekolah2 , bikin jembatan dan lain lain murni dari APBD daerah2 di jawa?
    whata suck of you
    :lol:

    bocor

    November 27, 2007 pada 7:06 am

  12. Hmm…

    Jawa vs luar jawa

    Saya orang jawa yang sudah lama bekerja dan mengunjungi daerah2 luar jawa yang kaya..
    Pendapatan dan pengembangan daerah setahu saya dulunya dikendalikan pemerintah pusat, selanjutnya dikendalikan pemerintah daerah dengan program otonomi.
    Satu contoh saja, balikpapan sudah menjadi terminal ekspor minyak dari tahun 1880-90 sampai detik ini, tetapi sebuah universitas negeri pun tidak ada disana. Kaltim dengan hasil minyak dan gas, batubara, emas, hutan hanya punya satu universitas negri UNMUL, yang fakultas terbaiknya adalah kehutanan, sehingga kebutuhan akan engineer dan manager untuk industri tersebut pastilah disuplai dari jawa, dan warga kaltim hanya akan menonton, dan cemburu saja..lalu siapa yang salah?, bukan warganya tapi pemerintahnya. Pemerintah yang mana? pemerintah dulu dan sekarang..kenapa bersalah? pemerintah dulu tidak memberikan bagi hasil untuk daerah yang kaya, pemerintah sekarang sudah diberi bagi hasil tapi gubernur dan bupatinya terjerat kasus korupsi..apa kata dunia???

    farouq

    November 28, 2007 pada 9:39 am

  13. @bocor

    dari catatan anda saja sudah kelihatan kebodohan anda. univ airlangga dibangun murni dari APBD jawa ? YA ! bahkan jauh sebelum ada yang namanya APBD, bahkan pemerintah Indonesia. tanya etja sana kalau tidak percaya.

    sudah itu…

    bagus

    November 29, 2007 pada 3:05 am

  14. buat apa ke jakarta ?? !!!!…
    sy kurang setuju kalau di jawa pusat segala2nya..
    keluarga kami punya usaha perkapalan di samarinda., sama sekali tidak bergantung dengan jawa., bahkan sekalipun P.Jawa tenggelam kami tetap eksis.. (klien kami dari luar negeri semua).., sy pikir yg membangun P.Jawa adalah orang2 daerah…, lebih baik kembangkan potensi daerah2 masing2…, kami didaerah memang kurang merasakan pembangunan(gedung2 bertingkat).., tapi kami punya aset yg tidak kalah dengan di jakarta…, Ayo sarjana2 daerah.., kembangkan potensi daerahmu….

    Andi Ahmad

    November 29, 2007 pada 10:54 am

  15. @bagus: sok tahu banget sih lo! Sejak kapan blog ini tertutup bagi maba dokter..? Sampe dibilang salah kamar segala, mentang2 merasa sebagai “praktisi engineer”…

    acooljerk

    November 30, 2007 pada 3:41 am

  16. emang orang kalo identitas g jelas bisa ngomong semaunya di internet, tapi begitu ketahuan langsung diem.

    bagus

    November 30, 2007 pada 7:21 am

  17. Cobalah kita berbicara dengan cara yang positif. Tidak perlu saling merendahkan yang ujung-ujungnya tidak menghasilkan apa-apa, selain menambah musuh dan luka di hati.

    ibrahim

    November 30, 2007 pada 7:30 am

  18. amin pak ibrahim. saya juga berharap begitu.

    bagus

    November 30, 2007 pada 7:53 am

  19. Yang salah pemerintah daerahnya… Pegawai negeri di Samarinda lebih kaya dibanding dengan manager di Oil & Gas..? Rata2 berfikir kalau sudah pegang proyek, 5% dari nilai proyek adalah bagian mereka. Bagaimana mau mikirin rakyatnya..?

    Ksatria

    Desember 29, 2007 pada 3:11 pm

  20. Mas dan Mbak

    Saya menyelesaikan studi S1 saya di salah satu Universitas di Padang, Sumatra Barat. Dengan menyelesaikan studi dengan baik, seminggu setelah wisuda saya di terima di salah satu MNC IT Company Dunia di Jakarta, dan pada saat test pun saya di beri akomodasi (Flight-red) .

    Sebenernya tamatan daerah tidak kalah dengan tamatan Jawa, even ketika kuliah di Jawa fasilitas yang di berikan cukup bagus, namun hal ini saya kira tidak membuat tamatan daerah mempunyai kualitas yang tidak kompetitif.

    Even saya kuliah di Daerah, saya juga bisa mendapatkan scholarship ke UI dari Menpora, walau saya tidak ambil karena saya lebih memilih untuk tetap stay di IT Company untuk saat ini.

    Kemampuan dan keinginan individu lah yang juga sangat berperan penting dalam menentukan kualitas dari individu tersebut.

    Dan mostly untuk saat ini Universitas-universitas yang ada di daerah juga telah menerapkan suatu standar pendidikan yang baik, dan terus melakukan perbaikan kedepannya.

    Perusahaan yang mempunyai track record yang baik, biasanya melihat skilled dan keprofesionalisme-an seorang individu ketimbang dimana dia menamatkan studi.

    karena incase, even dia lulusan dari Universitas terbaik pun, namun performancenya gak bagus, ya tentunya Perusahaan juga tidak akan hire orang seperti itu.

    Setiap individu yang mau belajar untuk maju, pasti akan maju.

    Salam

    Bambang Purnomo

    Desember 30, 2007 pada 1:40 pm

  21. Gue ngedukung apa yang dibilang ma mas bambang. jangan sepele ma lulusan daerah.

    Henry April Pandiangan

    Januari 20, 2008 pada 12:23 pm

  22. @bagus
    Kultur warga pekerja keras, nanti dulu bro,
    manut-manut mungkin iya… kyk jaman dijajah belanda dulu.
    knapa belanda lebih mudah menguasai jawa, karena orang jawa lebih mudah diatur, ga kyk orang non-jawa…

    Bisa liat sekarang banyak orang sumatera,kalimantan,sulawesi, berjaya di jawa ini…

    Jawaban untuk masalah ini simple..

    Jakarta/Jawa = pusat segalanya…

    so, wajar aja klo di jakarta punya prospek lebih bagus dibanding daerah…

    jakarta jadi kyk gini juga gara2 jaman orde baru dulu yang centralistik..

    bagus..bagus… pikiran lo ga sama kyk nama lo… picik..
    cape deeeeeee…

    dandi

    Juni 4, 2008 pada 9:17 am

  23. @bagus

    “Praktisi engineer”…????
    ga pantes nyandang praktisi klo pemikiran aja msh sempit…

    atau mau nyaingin praktisi pornomatika??? hehe

    dandi

    Juni 4, 2008 pada 9:21 am

  24. Aku ketawa ada yang bilang satu perusahaan CPI itu cuman 1 perusahaan segedung kantor di Jakarta … INI ORANG PASTI GOBLOK BIN TOLOL IBNU BEGO …..

    Mari saya jelaskan, kalau PT. CPI adalah penghasil 60% produksi minyak nasional. Yang perlu dicatat adalah … MIGAS adalah penyumbang lebih dari 70% APBN nasional kita …….. Jadi, tolong dipikirkan lagi …. apakah satu GEDUNG KANTOR di JAKARTA menyumbang sebesar itu ke APBN Nasional ….

    Luas AREAL KErja PT. CPI saja,,, 3 kali lipat kota JAKARTA …. Di sana semua pekerja nya tinggal, ada sekolah sendiri, ada sistem transportasi sendiri, ada Pembangkit listrik sendiri, ada saluran air sendiri, kawasan eksplorasi di sana semua …. Mana mungkin, perusahaan sekelas PT. CPI bisa disamakan dengan (hanya) satu gedung di JAKARTA ??? WHAT A SH*T …. Yang mungkin, adalah disamakan dengan Satu JALAN JENDRAL SUDIRMAN-THAMRIN-KOTA ..

    Walau pekerjanya tidak banyak hanya sekitar 16 ribu orang saja ….. tapi,,,EFEK DAN PENGHASILANNYA KE NASIONAL LUAR BIASA ,,,, ratusan juta orang jawa bisa ngasih apa ke nasional >????? Perusahaan batik Solo ???? Perusahaan Ukiran Jepara ???? berapa persen tuh nyumbang ke nasional ??? Padahal penyerapan tenaga kerjanya tinggi … tapi kok sumbangan ke nasionalnya masih sedikit ???? ANDA LIHAT,,, PENDUDUK BANYAK TAPI SAMPAH … itu SAMA SAJA DENGAN PERCUMA KUADRAT …

    ududududu

    Agustus 20, 2008 pada 5:26 am

  25. koq arahnya jadi Jawa vs Non Jawa sih?
    Jadi bingung aku…

    riyantoro

    Agustus 20, 2008 pada 7:17 am

  26. Hmmm jangan nyalah menayalahkan laah broow,.. kalo mau minta seluruh kekayaan alam yg udah diambil jawa balik ke daerah ,.. kenapa gak minta aja apa2 yg udah diambil sama asing dari dulu sampe sekarang???, kenapa ribut sendiri siih?? saya sekarang lagi diluar jawa,.. dan memang mereka ini sebenarnya punya sangat banyak potensi utk maju dan berkembang,… apalagi sekarang ini komunikasi makin maju,…. cuma memang inilah tantangan bagi NKRI,… wilayahnya itu bro ,… berpulau pulau,… dan prasarana dalam hal ini jalan daratnya,… ampuuun dah,… kaga ada bagus2nya (ada siih tapi sebagian aja),… Sekarang coba anda bayangkan,… kalo ujung sumatera, jawa hingga bali dan lombok saja bisa terhubung oleh jalan darat,…… entah dengan jembatan ataw terowongan,…. khan otomatis jalur lintas Sumatera pasti lebih hidup dari sekarang,…… demikian juga dengan kehidupan kota2 yang dilintasinya,….. Coba pikirkan juga dengan Pulau2 besar lain,… yang jika prasarana jalannya bisa lebih baik,… tentu tidak akan ada kelangkaan aneka barang yang belum bisa diproduksi sendiri di Papua hingga kepedalamannya,…..
    jadi memang nggak salah jika dulu daendels memprioritaskan jalan lintas jawa terlebih dahulu dibandingkan dengan lainnya,….. jadi yaah gitulah ,… banyak sekali konflik kepentingan disini,… gak cuma basicaly masalah korupsi dan kutipan aja,….. bhhuaah ribet bro,…. tapi kalo manurut saya,… ada baiknya memang putra2 daerah tidak ikut2an merantau ke Jawa (jakarta) disana belum tentu enak dan kehidupannya keras,… lebih baik kembangkan aja potensi2 yang ada didaerahmu masing2,… yang masih sangat2 besar sekali,…….

    maap yaa gak bagus nih komen maklum gak makan sekolahan,….

    jacky

    Agustus 20, 2008 pada 7:29 am

  27. Indonesia muda…, yg damai dong! carilah solusi dri msalah apa yg dibahas. Mas bagus mhon lbih bsa mnghargai sesama, yg lain mhon menyikapi dg positif. peace….!

    yahya-blora-jateng

    Juni 7, 2009 pada 3:42 pm

  28. kita gak bisa bilang klo jawa iu lebih baik dari luar jawa. coba perhatikan lagi UNAND, USU, UNHAS gak keinggalan kok.

    pas bersaing dengan PTN dan PTS pulau jawa, mereka berhasil bersaing kok. cthnya pas perebutan beasiswa full ke LN..luar jawa gak kalah.

    lagian yang pinter2 di PTN dan PTS di jawa, banyak orang luar jawa jg kan?
    mahasiswa asl sumatera misalnya…

    hamda

    Februari 11, 2010 pada 8:00 am

  29. @Bagus : bagus, lo bagusan diem dech…malu2in engineer aja…

    hamda

    Februari 11, 2010 pada 8:13 am

  30. @ hamda,.. nggak usah dipungkiri lah,.. unipersits jawa memang lebih bagus kok,….. ibaratnya kendaraan,… 1000 cc lawan 1500 cc,… bisa yg 1000 cc menang tapi ditambah macem2,.. NOs lah,.. turbo lah dlsb,…. jadi kalo yg diluar jawa mau menang yaah emang butuh extra effort ,.. kira2 harus usaha 150% lah,, utk bisa menang,….ataw dalam kasus beasiswa LN,…. yg dari jawa dapet handycap,.. dan memang tujuan beasiswa itu adalah utk membangun indonesia!!! bukan membangun jawa!!!!,…… cuma jeleknya anak2 dijawa (kota2 besarnya) kadang gak fokus ,….walopun dasarnya sudah hebat,… dan jika kita berdiam sejenak di luar jawa,.. kemudian melihat berbagai kemajuan,… dijawa pada saat yg sama sudah lebih maju lagi,….
    ___ Jadi kalo masalah bagus2an bisa dipastikan lebih bagus Jawa,.. nah yg menjadi maalah,… bagaimana supaya endonesa itu merata,… baik perekonomian,.. pendidikan,,,.. dlsb,… juga penduduknya gak numpuk disatu pulau aja,……

    joko dulut

    Februari 11, 2010 pada 11:19 am

  31. saya rasa, jawaban yang terdidik bukan dijawab masalah ke sukuan ya,
    saya coba jawab mas anjar:-)

    Kl ditanya karena di jawa suku yg berkualitas–>itu bisa membuat katak dibawah tempurung..

    Krn apa–>akan bnyk pertentangan secara EDUKATIF
    cthnya: kl suku jawa blg demikian, ORANG BATAK pasti jawabnya ngekeh dgn kata “BAH” (sedikit Guyon)..krn kaum BATAK cukup banyak org terdidik&pinter hal ini diakui oleh siapapun (Mulai dari JENDRAL, POLITISI, MENTERI,sampai ke Praktisi HUKUM Beken) dgn sederet nama alumnus Penghuni ITB, UI, UNPAD,ITS, USU, dll..

    nah demikian jg dngn suku lainnya,,

    Masalahnya jawabannya adalah hrs edukatif&Real:

    Bagaimanakah Sistem PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA??
    pasti jawabanya adalah: CENTRALISTIC atau Berpusat,

    Berbeda dgn daerah2 maju, cth plg ekstrem kt ambil USA.
    Semua kota di USA maju, krn apa??krn pembangunan yg merata & Tdk terpusat.For Ex:pusat pmrintahan (WASHINGTON), Ekonnomi (LAS VEGAS),dsb.yg dibagi2 secara merata

    Nah Indonesia??Mgkin bs kt jawab sendiri
    Semuanya bertumpuk di satu tempat (Mulai dr pusat pndidikan, perdagangan, pemerintahan, ekonomi,dll)..nah justru hal ini menjadi ancaman akan CROWDED dan mandeknya sisitem Ekonomi pd Titik jenuh, cth (tanah tdk ada lg, jalanan macet,efesien&efektivitas mnjadi stagnan)..
    jd sbnrnya andil dr pemerintah sndiri utk menyikapinya..so jgn salahkan MASALAH BANJIR, etc di zaman sekarang:-)

    Nah terlepas dr itu smw, kita bisa kasi acungan JEMPOL dgn KOTA MEDAN,yg trkenal dgn pkerja keras &suka MANUVER..

    Banyak perusahaan Raksasa sprti RAJA2 sawit,dll..kantor pusatnya mrk lbh memilih MEDAN dgn alasan Access ke Luar Negeri lbh besar (dkt sinapura, malasya, Timur Tengah, dll)..so gak heran kl kemaren Majalah Forbes memasukkan 3 Org trkaya dr 7 org di indonesia berasal dari sumut yg masuk 600 trkaya didunia.

    Demikian jg dgn sekolah Mereka FIGHT utk masuk ITB, UI, UNPAD dan sekolah beken lainnya yg mrk anngap mereka pantas & akan dikejar, yg notabene menjadi penguni2 almamater tsb

    jadi bukan masalah sprti suku (jawa) diatas..dan bukltinya MEDAN bisa jd kota terbesar ke-3 tohh di indonesia..

    So..kl mnrt saya, dgn kondisi sprti skrg ini mmg sudah sulit..saya mau katakan kepada daerah lainn..FIGHT lah utk mencapai sukses& Kl jaadi pngusaha Buat lah Usaha Anda berpusat didaerah MU..sprti org2 Medan tadi..

    selenihnya Biarkanlah pemerintah yg jawab..

    Salam sukses Mas Anjar

    steve

    April 3, 2010 pada 8:40 am


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 436 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: