Ask Nina: Apakah resign adalah sebuah solusi?
Awal menulis, saya menulis apapun yang ada dibenak kepala saya. Akibatnya jadi ngalor-ngidul ga jelas, mirip warung kopi. Kadang pertimbangan tulisan yang acak-acakan semata karena ditulis terburu-buru, hufff.
“…Mirip warung kopi karena bahasannya ringan-ringan sehingga terlalu dangkal. Tapi saya melihat sisi positifnya saja. Sepanjang hari kita diubek-ubek dengan masalah pekerjaan yang serius dan menguras pikiran. Sesekali waktu kita break, ngobrol ngalor ngidul kayak di warkop, tambah wawasan, hilang stressnya, semangat lagi kerjanya…” Survey: anda ingin blog ini seperti apa (32 respons)Dengan semangat warung kopi itulah, saya kemudian mencoba mengangkat beberapa curhat dari rekan-rekan seperti: Menghadapi bos otoriter (15 respons), Kalau si bos ga mau tahu (11 respons). Yang ternyata, cukup diminati banyak orang padahal semula dibuat tanpa konsep dan tentunya bukan dari orang yang punya background dan knowledge tepat seputar psikologi/HRD-an
Ask Nina!
Untungnya ada Nina. Jadi, Nina adalah lulusan Psikologi Unpad dan beliau cukup kompeten untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar rekrutmen dan ke-HRD-an. Kebetulan ibu yang sedang menanti kelahiran putranya ini cukup rajin menulis di: Apakah resign adalah solusi?, Bagaimana cara mengatasi persaingan tidak sehat?. Jadi kalau ada pertanyaan, jangan ragu untuk mampir ke blognya Nina
Btw, tentang apakah resign merupakan solusi, Nina memberikan saran bahwa resign hanya perlu dijadikan opsi bila:
1. Kesempatan berkembang rendah
2. Career path engga jelas
3. Masalah yang ada bener-bener nggak bisa diselesain lagi
Begitu ceritanya, semoga jelas ya. Selamat bekerja dan have a nice Monday


Aku setuju dengan pendapat tersebut. Artinya kalau seseorang ingin resign dari tempat kerja tentunya harus ada beberapa penyebab. Sebab resign tanpa pertimbangan yang matangpun tidak akan berbuah solusi. Jika ada waktu mampir juga donk ke blogku di http://www.wdarmawa.blogspot.com
Wawan Darmawan
Desember 4, 2007 at 5:46 am
yg perlu di cek juga :
- apakah benar faktor masalah itu ada di perusahaan? apakah benar faktor masalah itu bukan pada orang itu sendiri? karena kalo ternyata faktor masalah ternyata ada di diri orang itu sendiri… mo kerja dimana aja.. hasilnya bakal sama aja
- faktor berkembang di perusahaan tsb, dibandingkan di perusahaan lain, pastikan perkembangan yg didapat lebih baik di luar ..
- yang perlu juga diingat.. bahwa tiap perusahaan pasti memiliki masalah.. tidak ada perusahaan yang benar-benar bagus dan tanpa masalah. pasti ada ketidakpuasan yg terjadi di lain sisi… sama juga seperti manusia.. nggak ada yg sempurna
- cek juga, bagaimana rencana pengembangan perusahaan kedepan… siapa tahu.. memang saat ini perusahaannya kurang bagus.. tapi ada rencana pengembangan tahun depan, dari pihak manajemen, dibantu oleh konsultan semacam Hay untuk mengadakan perubahan total? dan ternyata nantinya malah akan sangat menguntungkan karyawan? :D
pikir secara matang, jangan karena pertimbangan emosi/mood sesaat
pls correct me if i was wrong :)
tx
wishbeukhti
Desember 4, 2007 at 8:11 am
ada baiknya untuk segera merancang resign, dan mencoba untuk berwira usaha…
indrapendent
Desember 4, 2007 at 11:09 am
Resign kan ga harus ada masalah.
Kalau resign dengan kondisi berikut gimana?
1. Kesempatan berkembang lebih tinggi
2. Career path lebih jelas
3. Tidak ada masalah di kantor lama
purna
Desember 4, 2007 at 11:24 am
Resign….kalo saya dulu resign karena boss yang lama susah diatur sama saya…karena ngga cocok dengan kepala saya…ya udah resign aja ….emang kerja cuman disatu tempat doang ….
Pendekar
Desember 4, 2007 at 12:49 pm
ahh.. kalo menurut saya sih itu alasan no 2,3 dst…
alasan utama resign tetap aja masalah uang…
siapa yg ga goyang kalo ditempat lain penghasilan bisa 4 sampai 5 kali di tempat yg lama.
hadi@extracode.id
Desember 4, 2007 at 1:10 pm
Gimana kalo kondisinya pekerja itu cepat merasa jenuh… ini kejadian dengan teman saya lho, baru setaun dua taun udah pindah2 tempat kerja… pas ditanya alasanya jawabannya cuma jenuh… anehnya lagi dia cepet banget dapet pengganti kalo sdh resign
chatoer
Desember 4, 2007 at 2:15 pm
@chatoer
Mungkin teman kamu itu suka mencari tantangan. Ciri khas calon bos tuh he he…
hardyhuang
Desember 4, 2007 at 5:12 pm
Iya nich, udah bosen kerja dgn gaji tipis, pinginnya kerja dengan gaji telco atau oil…..di surabaya tapinya
Apa mesti check out ya…….tapi suasana kerja di PMDN ini uenak tenan…kekeluargaan buanget gitu lho…..budaya kerjanya juga top abis…….cuman gaji emang tipis sih……puyeng
Caca
Desember 6, 2007 at 12:55 am
Koreksi:
1. Kesempatan berkembang rendah
–> kalau yang di maksud “kesempatan berkembang” = “kesempatan dapat uang lebih”, ya jelas pilihannya, pilih yang bayar lebih saja. Tidak usah terlalu melihat alasan lain :)
2. Career path engga jelas
–> tidak harus “nggak jelas.” Meskipun kesempatan berkembang di tempat lama cukup baik tetapi kalau di tempat baru menawarkan kesempatan yang lebih lagi (tidak perlu menunggu lama untuk naik pangkat, misalnya) ya tetap bisa menjadi alasan untuk resign. Orang pindah dari satu company tidak selalu company lama itu jelek kan, namun ada company lain yang menawarkan lebih.
3. Masalah yang ada bener-bener nggak bisa diselesain lagi
–> justru ini jangan dijadikan alasan. Rasanya tidak ada masalah yang tidak bisa terselesaikan kalau mau sungguh-sungguh mencari solusi. Kalau resign justru kesannya seperti “lari dari kenyataan”.
Intinya: lakukan resign/pindah kerja apabila ada perusahaan lain yang menawarkan gaji dan karir yang lebih baik. Itu saja.
CrizalAlize
Desember 7, 2007 at 1:39 am
Bagaimana ya kalau alasan resign adalah produk dari
perusahaan tempat kerja bertentangan dengan keyakinan seseorang?
wadiyo
Desember 14, 2007 at 3:41 am
Saya barusan dapat training dari HRD, cetak tebalnya kurang lebih begini “75% alasan karyawan resign dari sebuah perusahaan bukan karena perusahaannya, bukan karena gajinya, bukan karena rekan satu level, tetapi karena sikap atasannya”.
Jadi ketika banyak karyawan yang keluar dari sebuah perusahaan yang perlu pertama kali diperiksa adalah tingkah laku dari para supervisor atau managernya. Apakah mereka malakukan karyawan dgn hati, seberapa karyawan diberi kesempatan berekspresi.
Kalau sudah terlanjur betah di sebuah perusahaan tetapi nggak cocok sama atasannya. Ganti saja atasannya, tetapi bgm caranya?
lutfi
Desember 14, 2007 at 3:00 pm
kayaknya 2 alasan paling umum buat resign yg sering aku liat selama ini adalah 1. gaji kurang, jadi cari kerjaan yg lebih tinggi gajinya 2. nggak cocok sama boss
donna
Januari 6, 2008 at 1:46 pm