Malakin vendor vs cari sampingan diluar
Januari 15, 2008 — priandoyoSetting 1: User
“Enak ya mas kerja disitu, gajinya gede kan?”
“Ah kata siapa pak, engga juga ah. Susah juga nih, jelas kalah sama gajinya bapak”
“Engga mas, jangan salah disini benefitnya biasa aja tuh”
“Oh ya, tapi kan vendornya banyak” Kebetulan si bapak baru saja ngobrol dengan salah satu suppliernya.
“Malakin vendor gitu maksudnya? wah saya ga biasa tuh mas, mending saya cari obyekan lain diluar”
Setting 2: Broker
“Jadi gini Jon, perusahaan ini punya project untuk tahun 2008. Tapi kelihatannya vendor yang ditunjuk ga mampu ngerjain, mau ngambil engga?”
“Sebenarnya kerjaan gampang sih, tapi aku ga punya resource bro, gimana ya?”
“Ah gampang gampang, temen kita kan ada punya PT tuh, pinjem aja”
“Segampang itu kah, pastinya dengan cara-cara yang berlaku di Indonesia kan”
Setting 3: Vendor
“Bisa minta saran engga?, projectku hampir tembus nih. Tapi gara-gara manajemennya ganti kelihatannya jadi tersendat-sendat. Repot deh, gimana ya. Menurutmu projectku prospek engga sih?”
“Yang aku tahu sih budgetnya ada, trus perubahan manajemen itu setahuku malah bikin departemen baru yang memudahkan projectmu jalan bro”
“Iya ya, terus gimana?”
“Lha sekarang tinggal perkara bikin mereka approve aja, competitor engga ada kan”
Awal tahun yang sibuk ini, hampir semua orang membicarakan tentang proyek dan anggaran. Banyak teman memang memungkinkan kita untuk melihat hubungan user-broker-vendor dari sisi yang lebih manusiawi, toh pada dasarnya semua ingin mencari makan yang halal bukan. Dan dalam cerita-cerita diatas, ternyata menempatkan diri dalam masing-masing posisi itu tidaklah semudah yang kita bayangkan.













Januari 15, 2008 pukul 10:23 am
Pake contoh kali ya.
Anggaplah server merek ABC, merek itu memiliki distributor tunggal X di Indo, terus ada 3 Business Partner BP1, BP2 dan BP 3.
Ketika BP 1 dapet info pengadaan dan membawa hardware itu ke Departemen Kemakmuran, maka info itu sampai ke distributor X melalui BP 1.
Lalu Distributor X memberi diskon harga 70% ke BP 1, 50% ke BP 2 dan 45% ke BP3.
Otomatis yang menang BP 1. Trus dari kelebihan diskon itu biasanya BP 1 menggunakan sisanya untuk entertain user, bisa dalam bentuk barang, cash atau training gratis.
Pertanyaannya, kalu kejadian di Dept Pemerintah apakah cashnya jadi halal ? atau kalau di perusahaan swasta, apakah cashnya jadi haram?
Januari 15, 2008 pukul 10:26 am
Memang kalau sudah dalam lingkungan kerja yang demikian kita kadang hanya bisa mengelus dada tanpa bisa berbuat apa2.
Januari 16, 2008 pukul 1:58 am
memang semuanya seharusnya menjalankan perannya. kalo caranya benar kan semua aman dan tentunya senang. makasih bang infonya, semoga ketika saya benar-benar bekerja untuk vendor, bisa melakukannya dengan benar dan sebaik-baiknya
Januari 16, 2008 pukul 2:19 am
kayaknya nomer 2 banget nih, yg paling clean … :)
Januari 16, 2008 pukul 6:43 am
Teori Merebus Katak
Andaikanlah pada sebuah panci berisi air kita masukkan
katak, kemudian panci tersebut kita panaskan di atas
kompor secara bertahap. Saat air masih dingin katak
diam saja, kemudian ketika air mulai memanas sedikit
demi sedikit, tubuh katak pun akan melakukan
penyesuaian suhu. Memang demikianlah salah satu
kekhasan binatang katak, dimana tubuhnya bisa
menyesuaikan diri dengan kondisi sekitar nya.
Lama kelamaan saat suhu terus menaik, katak pun merasa
kepanasan, tapi ia bisa terus melakukan penyesuaian
suhu, sampai pada suhu tertentu, tubuhnya tak bisa
lagi melakukan penyesuaian, ia merasa kepanasan dan
ingin melompat keluar, tapi karena suhu yg tinggi
tersebut, kaki nya menjadi kepanasan dan tak kuat
untuk melompat, ia menjadi lemah. Sehingga akhirnya
saat suhu air dalam panci tersebut sudah sangat
tinggi, katak itu pun mati karena nya.
Demikianlah analogi teoritis mengenai proses bagaimana
seekor katak bisa mati terebus dalam air, karena
instink survival berjalan berlawanan dengan instink
penyesuaian diri yang berlebihan.Makna filosofis dari
cerita fabel tersebut sering berlaku pula pada
manusia. Banyak manusia yg terjatuh pada sebuah
kesalahan, berbuat kesalahan yg fatal berawal dari
kesalahan2 kecil yg dianggap biasa.
Atau melakukan proses penyesuian diri atau kompromi yg
berlebihan sehingga melupakan rasa mawas diri yg
adalah juga salah satu bentuk metode survival manusia
menghadapi berbagai kesalahan dalam perjalanan
hidupnya.Seorang anak yg sedang bermain2 api,
diperingati oleh ibu nya, “hai nak, janganlah
bermain2 api, terbakar tangan mu nanti”. Nggak apa
kok bu, api nya kecil kok, kata sang anak kecil. Namun
seringkali terjadi api kecil jadi membesar dan
mencelakakan. Ibu yg sudah puluhan tahun pengalaman
hidup menyadari hal tersebut, namun anak kecil yg baru
beberapa tahun hidup di dunia ini, sering meremehkan
hal2 kecil tsb.Seorang pria dewasa yg sudah
berkeluarga, awalnya iseng2 saja, guyon, becanda
dengan sekretaris teman sekantornya.
Awalnya mungkin hanya sekedar saling kirim sms atau
email, lama kelamaan jadi ketagihan juga untuk
ngobrol2 langsung. Kemudian sekali waktu ajak jalan2
bareng, makan siang bersama, sampai rasa cinta pun
bersemi karena nya. Karena telah terkena mabuk asmara,
akhirnya pertimbangan rasional pun hilang, sampai
berakhir pada perselingkuhan , perzinahan yg
menyebabkan rusaknya rumah tangga. Itulah akibat
iseng2 bermain ”api asmara” , bisa “terbakar”
syahwat karena nya.Seorang pekerja, sekali waktu
diberi hadiah kecil oleh supplier atau kontraktor di
tempat nya bekerja, mungkin hanya sekedar souvenir
kecil seperti gantungan kunci atau topi. Ah ini kan
hanya sekedar tanda terima kasih, nilai nya pun tak
seberapa.
Di waktu lain ada juga supplier yg mengajak makan
siang. Hal tersebut terus berlanjut, dan kita
menganggapnya masih biasa, sampai lama kelamaan kita
terbiasa menerima sesuatu dari rekanan bisnis
perusahaan yg nilai nya makin besar, kita pun tak lagi
hanya sekedar menerima, tapi malah meminta pada rekan
perusahaan, nanti mau ngasih apa nih, kalau kontrak
nya jadi ? , katanya sambil guyon pada rekanan. Lama
kelamaan hadiah makin membesar dan keputusan
perusahaan pun ditentukan dari berapa besar nilai
pemberian ( kick back, komisi atau apapun namanya ).
Itulah salah satu bentuk korupsi yg telah banyak
merugikan bangsa kita. Mungkin kita menyadarinya, tapi
susah untuk keluar karena kita telah terjebak dalam
sebuah lingkaran setan, yg sebenarnya kita sendiri
memulainya. Seorang yg berusia paruh baya, tidak
menyadari bahwa metabolisme tubuhnya sudah mulai
berkurang kemampuan nya. Dan ia tetap menyantap
makanan apapun dengan lahapnya,merokok dan berbagai
kebiasaan tidak sehat lainnya, Ia menganggap dirinya
masih kuat seperti saat ia muda dulu. Ah nggak apa2
kok sedikit ini, tapi lama kelamaan jadi ketagihan.
Akhirnya ia banyak terkena penyakit akibat makanan
seperti ; maag, kelebihan kolesterol, asam urat,
hipertensi, diabetes dll.Begitu pula halnya orang yg
terjebak menjadi pencandu narkoba, awalnya pun dari
anak muda yg iseng2 sekedar coba2, namun akhirnya jadi
kecanduan, dimana ia tak bisa lagi mengendalikan
dirinya.
Dan banyak kasus2 lain dalam kehidupan kita sehari
hari, yg bisa digambarkan dengan teori merebus katak
tadi. Dimana manusia banyak terjebak pada kesalahan
karena mengabaikan kesadaran dirinya sendiri,yg tak
begitu menghiraukan kesalahan2 kecil.Sebagai manusia
yg lebih mulia dari binatang seperti katak, harusnya
kita bisa menjaga diri, mengembangkan kemampuan mawas
diri, berhati hati yg merupakan salah satu bentuk
survival method nya manusia.Haruslah disadari dalam
hidup ini, kita selalu mendapat godaan dari setan,
lawan sejati perjalanan hidup ini, yg tak ingin kita
menapaki jalan lurus.
Dan teori merebus katak adalah salah satu metode
bisikan setan menyesatkan manusia. Setan musuh sejati
manusia berumur lebih panjang, jadi dia tahu tentang
kelemahan manusia2 sebelumnya, tahu pada kondisi apa
saja manusia tergoda, dan sudah terbukti sepanjang
jaman, bahwa dengan berbelok sedikit demi sedikit dari
jalan yg lurus adalah penyebab banyak manusia terjatuh
pada jalan yg salah.Berkaitan dg kesusilaan, dalam
agama islam, kaidahnya ialah “janganlah kau dekati
perzinahan” , bukan langsung jangan berzinah,
misalnya, antara lain karena sifat manusia yg sering
ceroboh, seperti katak tadi.
Kalau sudah mulai mendekati perzinahan, akan sangat
mudah seseorang terjatuh pada kubangan maksiat
tersebut.Begitu pula dengan “perkeliruan2” lain
nya, seperti korupsi, kebohongan publik, selingkuh,
candu narkoba, penyakit, kemunafikan dll. Kebanyakan
berawal dari hal2 kecil yg dianggap biasa. Integritas
diri yg lemah, tak berpendirian, sehingga cenderung
kompromistis atau plin plan.Marilah kita menjaga diri
dari kesalahan2 kecil yg kalau dibiarkan kelak akan
menjadi bencana bagi diri kita sendiri.
Januari 16, 2008 pukul 7:51 am
ini bukan terjadi diswasta saja, bahkan di proyek-proyek pemerintah hal ini lebih kental terasa.
Bagaimana sebuah tender bisa diatur antara sesama peserta proyek, lalu bagaimana seorang kontraktor harus mengeluarkan fee untuk pimpinan proyek sekian persen agar bisa ditunjuk sebagai pemenang tender dan agar pelaksanaan proyeknya lebih mudah.
Jadi intinya kembali kepada personal masing-masing, saya kasih contoh demikian :
Si A menemukan sebuah dompet dijalan, Si A tahu itu bukan haknya (hati kecilnya menolak) sekarang tergantung Si A.
Inilah Self Control dalam diri kita, jika instrumen Self Control (hati kecil/budi) berfungsi dengan baik, maka keputusan yang diambil pastilah yang terbaik. Namun jika instrumen ini sudah tidak berfungsi dan terkalahkan oleh nafsu yang kuat maka keputusan yang diambil pasti buruk dan hasilnya tentu juga buruk bagi dirinya sendiri maupun keluarganya.
Jadi ini bukan perkara yang sulit dan juga bukan perkara yang mudah. Tergantung kebiasaan dan kondisi saat itu. Secara garis besar komentar saudara Tony diatas komen saya, rasanya perlu kita renungkan.
Januari 16, 2008 pukul 10:23 am
Yang kayak gini mah wajar kok.. bukan cuma terjadi di Indonesia. Di Jerman pun ada goverment projekt (project LUSD, http://www.computerwoche.de/it_strategien/539642) yang udah ngehamburin 20 juta Euro (!!!) dan gagal total. Yang jadi masalah karena proyek tersebut dikerjakan oleh CSC tanpa melalui proses yang benar dan berlaku. Seharusnya menurut undang2 setiap government project yang bernilai >200.000 Euro harus dipublish ke seluruh Eropa untuk dapetin tender. Sama aja kan kayak di Indonesia :)
Btw. CSC (Computer Sciences Corporation) itu termasuk salah satu perusahaan IT terbesar di dunia. Katanya :)
Januari 16, 2008 pukul 4:32 pm
analogi kataknya panjang bangeet,…
*hidup pemalakan vendor*
*hidup pencari obyek diluar*
yang penting saya masih bekerja dalam “rel” saya sebagai kuli frekuensi. begitu tidak pedulinya saya terhadap pemalakan vendor karena saya juga dipalak oleh operator/provider. Tapi kayakna hal ini udah menjadi lumrah di negara kita, dan saya pun tidak bisa apa apa. hanya mengikuti aliran air sadja.
meskipun sudah berusaha mencari obyekan diluar, tetep saja susah. tapi sekarang saya mencoba adsense dan mulai tumbuh angkanya… semoga bisa cair akhir taun ini :D
Januari 21, 2008 pukul 3:20 am
kemarin kenalan dekat saya yang sudah 20 tahun malang melintang sebagai vendor buku mengeluh karena kalah tender terus, karena vendor lainnya menggunakan ‘pendekatan’ langsung ke guru-guru sekolah, sehingga ketika tender dilaksanakan selalu kalah. tapi beliau tetap tidak mau ikutan cara-cara tersebut walaupun kelihatan kondisi perekonomian beliau semakin berat, entah sampai kapan dia bertahan?