Anjar Priandoyo

Kutu loncat itu talenta atau penyakit?

with 40 comments

Jangan khawatir saya punya pengalaman yang sama dengan anda, karena saya memang kutu loncat. Pernah ada cerita interview dan sudah sampai ke level GM nya tapi katanya dia alergi orang yang suka pindah2 kerja (tanpa bertanya apa alasannya), sehingga proses saya berhenti sampai disitu. Faktanya tidak banyak orang yang berani kutu loncat kok, karena tidak cocok untuk semua orang, ini hanya untuk orang2 tertentu dengan talent tertentu pula.

Biasanya karena fast learner, kalau orang lain perlu waktu lama untuk belajar, mungkin kutu loncat perlu waktu setengahnya. Yang perlu “stay” lama kalau anda sedang mau belajar sesuatu, tapi targetkan 1 thn untuk jadi expertnya, kalau maturity, akan berjalan dengan waktu.
Badrun,

About these ads

Written by priandoyo

Februari 11, 2008 at 1:30 am

Ditulis dalam Pekerjaan

40 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ampunnnn Mas Anjarr….
    Dibahas mulu nih ttg kutu loncat..
    Saya udah kapok kok Mas..
    Suerrrr Dueehhh…
    Skrg saatnya “mencoba untuk setia..” (Kyk lagunya Krisdayanti)

    Oiya saya mau nanya:
    Bener nggak sih kalo perusahaan Jepang anti bgt sm orang yg tidak loyal.. Sementara kalo perusahaan Amerika dan Perancis cuek2 aja..

    kanadianto

    Februari 11, 2008 at 2:44 am

  2. Oiya saya mau nanya:
    Bener nggak sih kalo perusahaan Jepang anti bgt sm orang yg tidak loyal.. Sementara kalo perusahaan Amerika dan Perancis cuek2 aja..

    Umumnya sih emang gitu. Tapi seiring makin globalnya sebuah company, maka perusahaan Jepang juga semakin tidak anti kutu loncat. Terus kalo dulu mungkin persh Jepang menganggap pindah setiap 5 tahun adalah kutuloncat, sekarang mungkin pindah setiap 1-3 tahun baru dianggap kutu loncat.

    Uniknya, banyak juga perusahaan yang merasa “aneh” melihat orang gak pernah pindah. Mereka berpikir, “nih orang gak laku ya ? atau gak berkembang ?” hihihihi

    Terus, kalau posisi yang demandnya jauh lebih besar daripada supplynya, maka udah gak pikir kutu loncat lagi, yang penting dapet orang deh :-)

    Makanya, hal itu gak bisa digeneralisir.

    andrias ekoyuono

    Februari 11, 2008 at 3:09 am

  3. Iya..perusahaan Jepang emang lebih mengutamakan loyalitas, berbeda dengan perusahaan2 Amerika atau Eropa. Kultur budaya kerja yang menyebabkan hal tersebut…

    Di kantor saya, engineer2 senior rata-rata sudah berkerja selama belasan tahun dan mereka tidak tertarik dengan tawaran menggiurkan dari vendor2 telco lain ^_^

    Yang sering keluar masuk di kantor saya justru engineer2 muda, yang hanya bertahan 1-2 tahun saja untuk mencari ilmu, kemudian berpindah tempat mencari tantangan lain (termasuk saya yang lagi lirik-lirik lowongan nih..he..he..)

    Ini sepertinya dipengaruhi pola pikir dari kalangan muda yang lebih senang terhadap tantangan dan hal-hal baru…

    ipasha96

    Februari 11, 2008 at 4:51 am

  4. Kutu loncat ada enaknya kan? orang kan punya adaptasi tersendiri mungkin juga butuh tantangan yang nggak di dapat ditempat ia bekerja sebelumnya. add link daku yaaaaa

    lil4ngel5ing

    Februari 11, 2008 at 8:25 am

  5. kutu loncat… ??? tergantung profesinya apa kalee yah… ga bisa disamain 1 dengan yang lain.

    buat saya pribadi yang cuma seorang sales admin, 1 tahun saja cukup, baru tahun kedua mulai mencari ladang lain yang lebih hijau… setelah dirasa cukup koneksi dan pengalaman serta timing yang tepat bikin deh usaha sendiri…. masa kerja ma orang mulu, sekali-kali ngerjain orang napa… hehehehehe

    nana

    Februari 11, 2008 at 9:23 am

  6. klo ndak sanggup jd kutu loncat?

    dobelden

    Februari 11, 2008 at 10:42 am

  7. Itu semua mengenai loyalitas saja kayanya. Kalau ga salah perusahaan juga bisa dinego buat urusan loncat-loncatan ini. Apalagi kalau bisa ketemu bossnya yang bisa tau kinerja hariannya. Pasti dipertahankan dengan menambah gaji atau meningkatkan posisi misalnya. Kalau kinerja harian ga bisa diharapkan ya kalau mau loncat ya silahkan.

    abasosay

    Februari 11, 2008 at 12:44 pm

  8. menurut pengalaman saya selama kerja di IT.. tipe2 kutu loncat kebanyakan sih orang2 yg pintar bicara tapi skill tekniknya kurang.. dan ketika pekerjaan tidak selesai padahal sudah mengumbar janji dengan berbagai alasan hingga akhirnya terbebani sendiri.. track recordnya ya seperti itu.. sempat menemui beberapa programmer yg mengaku skillnya mumpuni.. tapi akhirnya keluar kerja dgn cara yg extreme.. resign dengan hanya mengirim email bahkan ada yg tanpa kabar.. tanpa mau bertemu, sampai ganti no telpon dan tidak bisa dihubungi sama sekali, meniggalkan pekerjaan yg terbengkalai..

    dodol

    Februari 11, 2008 at 2:23 pm

  9. Di politik hal ini sudah menjadi trend. Tak perduli dianggap penyakit atau cari penyakit :P

    djunaedird

    Februari 11, 2008 at 2:34 pm

  10. kutu loncat sering diartikan orang-orang yang kurang memiliki loyalitas. magang sebentar lalu loncat. kepentingan dirinya lebih utama ketimbang perusahaan. makanya, banyak manajer yang kurang suka dengan tipe pekerja seperti itu. utamanya, bila sebuah perusahaan butuh keahlian yang mendalam untuk menjalankan misinya. bidang kerja yang butuh pengalaman yang cukup lama. contohnya, dunia jurnalistik, pertambangan, riset, dll. katanya orang PSDM sih gitu… :mrgreen:

    sitijenang

    Februari 11, 2008 at 3:41 pm

  11. saya termasuk kutu loncat bukan yah :mrgreen:

    purna

    Februari 12, 2008 at 12:29 am

  12. jepang dan korea [kecuali samseng :p ] suka yg punya loyalitas tinggi. sayangnya nggak diiringi remunerasi yg layak. makanya banyak eks perusahaan asia yg lari keperusahaan eropa atau amerika. dimana jadi kutu loncat justru dihargai. karena berarti orang ini laku dan dibutuhkan.

    kalau kerjaan mah sama ajah. sama suka kaget kagetan, dan gonta ganti struktur organisasi. jadi kenapa harus loyal, toh sama aja suka deg ser dimana mana.

    kecuali jadi pns lho, ya .. cuman kan gak enaknya jadi pns, kalau di suruh ke daerah kudu terima, sementara kalau di swasta bisa ngancam pindah kerja. dan kalau gak mempan, ya udah pindah kerja aja beneran :)

    papabonbon

    Februari 12, 2008 at 2:56 am

  13. Wah, istilah ‘kutu loncat’ kurang enak didengar…kesannya negatif , padahal menurut hemat saya, kalau seseorang laris pindah-pindah kerja, itu bisa juga mengindikasikan :
    1. Dia punya market value yang bagus…makanya laris di pasaran…
    2. Dia punya portable skill yang kepake di mana saja
    3. Dia seorang fast learner dan anti status quo alias comfort zone…

    Yang perlu dilihat, apakah lompatan itu ke arah yang lebih baik (gaji, posisi, etc) atau ke arah yang lebih jelek ? Kalo lebih jelek baru deh bisa dipertanyakan, jangan2 di tempat sebelumnya engga berprestasi atau engga kepake..

    Saya sendiri termasuk kategori suka pindah..maks saya stay di satu company 2.5 tahun, sejauh ini saya sudah nglewatin masa kerja di 5 perusahaan padahal total masa kerja saya baru 8 tahun lewat bbrp bulan. Namun dari semua track record saya, tidak pernah saya meninggalkan sesuatu yang jelek atau ‘un-finished business ‘ di perusahaan sebelumnya. Malah pernah saya ajukan surat resign sehari sesudah saya sukses menyelesaikan kerjaan regional di Vietnam, India dan Thailand sekaligus. Umumnya saya resign bukan karena bosan atau ada masalah, tetapi lebih kepada new challenge dan quantum leap untuk salary maupun jabatan. Seandainya saya stay di perusahaan pertama sampai detik ini, saya yakin salary saya saat ini maksimal cuma berubah 400% dari salary fresh graduate saya saat itu…sementara dengan pindah kerja, salary saya saat ini sudah 1000% daripada salary fresh graduate dulu, plus sudah di posisi yang baik secara karir progress.

    Kesimpulannya, saya yakin bahwa langkah yang saya ambil dengan pindah perusahaan beberapa kali adalah langkah yang tepat.

    Baja

    Februari 12, 2008 at 3:16 am

  14. setuju ama Baja, setidaknya kalau kita resign utk pindah kerja, hendaknya dengan baik2, menjaga silaturahmi & persahabatan, tidak meninggalkan pekerjaan yg belum selesai . gw yakin company mengerti keinginan kita untuk maju..

    dodol

    Februari 12, 2008 at 3:50 am

  15. Betul sekali Bung Dodol…silaturahmi tetap harus dijaga..jika berhenti baik-baik dan silaturahmi terjaga,ada kemungkinan di masa mendatang perusahaan yang sebelumnya menawarkan kepada kita untuk kembali bergabung dengan posisi dan package yang jauh lebih baik. Sudah saya buktikan juga, setelah beberapa tahun resign, perusahaan ke-2 dan ke-3 di daftar resume saya, pernah menawarkan untuk kembali dengan posisi dan package yang jauh lebih baik.

    Baja

    Februari 12, 2008 at 4:15 am

  16. yah,loyalitas bagi orang jepang sangat penting..

    *sok tahu*

    lahapasi

    Februari 12, 2008 at 6:10 am

  17. saya sering pindah juga, tapi sebagian tempat kerja saya management nya kurang baik. lalu saya pindah apakah saya bisa digolongkan kutu loncat? dan minggu lalu saya baru keluar dari salah satu perusahan jepang karena saya di terima menjadi manager di sebuah perusahan lainnya? ada gaji dan perhatian yang lebih tinggi di tempat saya sekarang apakah saya juga disebut kutu loncat?. tapi ada satu yang tidak pernah saya tinggalkan ya itu mengajar.

    satya sembiring

    Februari 12, 2008 at 6:13 am

  18. Kalo kutu loncat dibahas bagus atau tidak, yang bertahan terlalu lama di satu perusahaan berarti harus dibahas juga donk..

    Khan hanya ada dua alasan kenapa orang tidak mau pindah:

    1. Tidak Mau Pindah
    Mungkin karena perusahaannya sudah extra nyaman, remunerasi sangat baik, fasilitas dan corporate culture klop dengan kita, dll.

    2. Tidak Mampu Pindah
    Stuck di satu perusahaan, takut untuk pindah karena khawatir justru dapat tempat yang lebih buruk, atau merasa tidak punya kemampuan untuk pindah. Padahal tiap hari hati menangis dan menjerit tidak tahan dengan kondisi yang ada sekarang.. Hehehe..

    Nah ini menarik juga khan utk dibahas.. Terlalu lama di satu tempat juga ada tidak bagusnya khan..

    Regards.
    http://kanadianto.wordpress.com

    kanadianto

    Februari 12, 2008 at 7:18 am

  19. tergantung profesi… yah saka kira itu benar juga seh.. tapi kalo jadi kutu loncat jaraknya keseringan.. ya… loncat-2 teruss. nggak mandek-2 :)

    hmcahyo

    Februari 12, 2008 at 7:26 am

  20. dulu sewaktu masih muda (hi..hi..berasa udah tua), saya sering jadi kutu loncat, kebanyakan sih karena salarynya ngak cukup :D
    Sekarang, lumayan sudah bertahan selama 8 tahun (halah, apa karena ngak mampu pindah yah)
    salam kenal yah mas.

    usmarfams

    Februari 12, 2008 at 7:45 am

  21. [] Gak enak rasanya jika di sebut pengangguran, stereotype yang berkembang di masyarakat kita selalu bernada negatif (-) jika mendengarkan kata “pengangguran” []

  22. Mas Anjar mustinya definisi Kutu Loncatnya di jelaskan dulu… supaya gak rancu……
    kalo menurut saya yang bisa masuk kategori kutu loncat adalah orang yang masa kerjanya di suatu perusahaan kurang dari 2 tahun, baik dia berprestasi atau tidak kalo masa kerjanya kurang dari segitu menurut saya kurang baik. karena masa kerja 2 tahun adalah masa dimana kita sebagai karyawan baru bisa menganalisa 3 faktor yang menentukan untuk pindah kerja atau tidak yaitu :
    1. Apakah karir kita masih bisa berkembang di perusahan itu,
    2. Jika bisa apakah “karier path” yang ditawarkan sesuai dengan yang kita inginkan ? (baik dari jenis pekerjaan, lingkungan kerja dll)
    3. jika saya stay di perusahaan tersebut apakah tujuan hidup & tujuan keuangan kita bisa tercapai di masa yang akan datang.
    inilah dasar mengapa kita memutuskan untuk pindah kerja atau tidak. bukan kepada apa yang sudah kita dapat sekarang tetapi apakah di perusahaan tsb kita bisa “membeli” mimpi kita atau tidak. dan saya menyarankan agar hal ini terus dipertimbangkan pada tahun ke 2, ke 4, 6 dst pada masa kerja kita.
    Begitu juga dengan Perusahaan,pada masa 2 tahun inilah Perusahaan baru bisa menilai apakah karyawan ybs bisa menjadi “Pemain Utama” di perusahaannya atau hanya menjadi “pemain cadangan”.

    Mas Poer

    Februari 12, 2008 at 12:44 pm

  23. Mendingan Kutu Buku yeah,….?

    arya

    Februari 12, 2008 at 5:24 pm

  24. @dodol

    Waaa..mr.dodol, gw korban kutu loncat, persis seperti yang lo ungkapin.
    Satu lagi tambahan, sang kutu meloncat tanpa serah terima jabatan dan data2 pekerjaan.
    Tahu akibatnya?? Perusahaan hampir collaps, saya dan teman2 yang tersisa, yang bukan di bidang pekerjaan nya diharuskan melanjutkan pekerjaan yang terbengkalai.

    Oke, no problem, the show must go on !! I said to my friends: “keep your fighting spirit, although we have no ability.!!”
    “To accomplish great things : We must not only act, but also dream; not only plan, but also believe !”

    Satu hal yang dilupakan oleh sang kutu loncat, dia tidak menyadari bahwa kami ( kawan yg ditinggalkan ) mempunyai kecerdasan lain, walaupun notabene IQ kami tidak sehebat dia. Finally, we get away from needle hole, the game have been terminated beautifully. Bye mr.bug. Thanks God.

    Setelah sukses , beberapa kutu loncat berkeinginan untuk kembali, tak masalah. Tapi akan saya katakan kepada mereka : Now, it’s our era, you must follow our rule !, please forget it about your rule previously.

    Aa Culun

    Februari 12, 2008 at 5:54 pm

  25. penginnya gak loncat…apa daya malah dipaksa loncat..alias sering kena restrukturisasi…

    maripoza

    Februari 13, 2008 at 5:34 am

  26. Kenapa karyawan harus loyal kepada perusahaan, saat perusahaan tidak pernah merasa harus loyal terhadap karyawan..?

    @Aa Culun: tentunya perusahaan yg baik tidak bisa tergantung pada satu orang, bahkan tidak kepada sang pemilik perusahaan.

    Klo memang ada 1 orang karyawan yg mampu membuat sebuah perusahaan collapse hanya karena ketidakberadaannya, malah baiknya dia membuat perusahaan sendiri. Untuk apa kerja sama orang terus.
    Yah, ato paling tidak pindah ke tempat lain di mana dia bukan yg paling hebat, sehingga ada dorongan utk berkembang.

    Saya ingat Jack Welch pernah bilang bahwa saat seseorang melihat sekeliling di tempat kerjanya dan tidak melihat ada yg lebih ‘hebat’ / ‘mampu’ daripada dirinya, itulah saatnya dia pindah kerja.

    Saya harap perusahaan anda sudah belajar, bukan untuk membenci sang kutu loncat, tapi untuk memiliki backup/cadangan untuk semua posisi penting dalam struktur perusahaan.

    acooljerk

    Februari 13, 2008 at 7:01 am

  27. @acooljerk

    bro.. kalau didunia IT.. bekerja dalam sebuah project adalah satu team.. bisa saja si kutu loncat tidak peduli dengan perusahaan.. tapi bagaimana dengan nasib teman2 satu teamnya.. merekalah yg akhirnya nanti akan berusaha mati2an menutupi celah yg ditinggalkan sikutu loncat..
    di perusahaan IT yg bagus pembagian kerja sudah jelas.. gw pernah nemuin seorang kutu loncat yg dikerjakan bertanggung jawab sebagai software architect dan notabene dia digaji lebih tinggi dari seorang developer biasa karena keahlian dan tanggung jawabnya… tugasnya merancang sebuah framework utk dipakai selama development.. tapi ternyata di tengah jalan framework yg dirancang terbukti labil dan tidak bisa memenuhi kebutuhan aplikasi.. kemudian si kutu loncat keluar dengan berbagai alasan.. meninggalkan masalah.. utk mencari penggantinya tidak mudah utk didapat..
    bayangkan apa yg terjadi.. framework di tambal sulam atau extreme di buat ulang..
    pekerjaan yg sudah dilakukan oleh anggota team yg lainnya akan menjadi sia2.. bayangkan waktu yg terbuang, dan perasaan anggota team yg lain..

    dodol

    Februari 13, 2008 at 8:28 am

  28. @dodol: saya mengerti argumentasi anda.

    Tapi benar juga kan, justru di dunia IT biasanya loyalitas karyawan malah lebih kurang dibandingkan misalnya; di perbankan atau manufaktur. Karena profesional di bidang IT punya kemampuan yg lebih portabel, bisa dipindah2. (Selain karena jagoan2 IT ini biasanya juga sangat percaya diri dan individualistis..:-D cmiiw deh…)

    Idealnya memang, setiap karyawan keluar secara baik2, ada one month notice, lengkap dengan transfer2 kerjaan, dll…

    Tapi kalo saya, lain kali akan menyewa 2 orang software architect daripada cuma berharap bahwa karyawan saya tidak akan kabur.

    Btw, saya juga profesional di bidang IT kok. Juga bekerja di perusahaan services yang, katanya sih, bagus. Di sini saya melihat bahwa manajemen berusaha agar setiap karyawan dengan spesialisasi khusus ada backup-nya.

    Tapi tentu saja, ini juga tidak mudah karena orang2 dengan spesialisasi khusus juga tidak murah.

    Piss bro…

    acooljerk

    Februari 13, 2008 at 1:58 pm

  29. kalau dibilang kutu loncat sebagai penyakit, saya rasa terlalu berlebihan…

    kalo saya menganut pandangan sebagai berikut:
    1. When you can’t grow, then just go.
    2. Go when you already grow.

    semua adalah bagian dari perjalanan dan pengembangan diri. yang penting jadilah kutu loncat yang profesional, menyelesaikan tanggung jawab dan bekerja sebaik mungkin sehingga yang ditinggalkan tidak sakit hati.

    Perusahaan atau manajer yang baik akan mengerti kalau kebutuhan pekerjanya sudah tidak bisa dipenuhi, maka mereka akan pergi cepat atau lambat. Tinggal bagaimana strategi memperlama masa tinggal pekerja tersebut, atau membuat si kutu loncat profesional bisa menshare ilmu dan pengalaman yang dimilikinya.

    suryo

    Februari 18, 2008 at 12:39 pm

  30. heheh jati kutu loncat enak lho, ada kepuasan tersendiri.
    sekarang si bukan jamannya lagi loyal ama perusahaan tapi harus loyal ama profesi hahaha. Loyal ama profesi jadi kutu apa aja jadi, tidak dibatasi oleh ruang, waktu dan aturan perusahaan alias SOP.
    Malah jaman sekarang pertanyaan harus dibalik, karyawan yang terlalu loyal ama perusahaan harus dipertanyakan apa dia masih sehat .
    Kayaknya kita sama persepsi, mudah-mudahan loncatan kita suatu waktu ketemu di suatu perusahaan hahahhahaha……

    pesok

    Februari 18, 2008 at 1:26 pm

  31. saya setuju dengan mas anjar kalo kutu loncat adalah seorang fast learner, mgkn saya termasuk orang yg spt itu.
    Tapi ada tambahan lagi, sebenarnya kutu loncat bukanlah keinginan pribadi saya, tp lebih kepada sifat oportunis seseorang yang didukung dengan istilah “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri”.
    Selama ada better offer, buat saya tidak jadi masalah menjadi kutu loncat….hehehehe

    telco labour

    Februari 24, 2008 at 3:21 am

  32. Yup bener, sama saya pun termasuk kut loncat, saat ini sudah hampir 4 perusahaan tempat saya kerja :D :D saya mulai kerja thn 2004 sampe skrg sudah 4 perusahaan, heheh dan Alhamdullilah setiap pindah selalu ada peningkatan dari sisi skill atau pun Salary :D

    yg penting timing utk pindah itu pas, dan itu jgn meninggalkan warisan alias pekerjaan yg terbengkalai :D :D

    @telco Labour
    yup lebih ke sifat oportunis dan selalu merasa tidak puas :D :D (sifat dasar manusia)..

    klo kita tidak menjadi kutu loncat, apakah perusahaan yg akan kita tinggalkan tersebut bisa menjamin masa depan kita ..??

    Sah2 aja klo kita resign dengan cara yg baik dan tidak banyak meninggalkan track record yg buruk…

    adzie

    Maret 4, 2008 at 11:40 am

  33. mo minta saran niy..

    bertahan di vendor telco dgn gaji kisaran 4jt jam kerja office hour atau pindah ke operator penyedia IP service dgn gaji kisaran 5jt jam kerja shift2an..

    trus knp yah, nego gaji tuh susah banget, pengalaman setahun lebih di network n telco g dianggap krn ada standar gaji yg diikuti…cape deh…

    millrasyad

    Maret 5, 2008 at 4:20 am

  34. Mau share kutu loncat…

    Boleh dibilang saya seorang kutu loncat bgt. Setiap tahun saya selalu pindah kerja (sudah 4X). Hal ini sebetulnya bermotif Ekonomi bgt. karena untuk menghidupi keluarga yang kurang mampu. Pertama kali saya mengincar BUMN karena saya dengar gajinya lumayan & masa depan terjamin. tetapi setelah setahun bekerja di BUMN ternama tsb, saya merasa kalau saya butuh tempat kerja yang lebih menantang. Lalu saya pindah ke salah satu multinational company dengan posisi SPV, di perusahaan ini sering sekali diumumkan kalau akan ada manager baru atau direktur baru yang saya lihat historynya ternyata mereka semua itu merupakan kutu2 loncat yang sukses. setahun kemudian saya iseng2 coba apply posisi manager di salah satu perusahaan multinational juga. ternyata keterima, padahal umur & pengalaman saya kurang memenuhi syarat. Sejak itu saya mulai berpikir, ternyata di Swasta umur tidak begitu diperhitungkan, yang penting adalah kemampuan & potensi. Penghasilan saya sekarang sudah >10X dari penghasilan saya pertama bekerja & posisi sudah manager. padahal usia masih di bawah 27thn. Jadi ternyata kalau jadi kutu loncat & pindah ke tempat yang tepat ada baiknya juga. Bagi yang masih ingin meloncat, meloncatlah ke tempat yang lebih baik dalam segala hal…

    Anggra

    Maret 11, 2008 at 4:20 am

  35. Pekerjaan yang dulu sangat nyaman, orangnya OK-OK, pokoknya semua OK lah…..
    Cuma 1, loyalitas tidak dianggap di Perusahaan itu…buat apa kita loyal dan berusaha mati2an, toh setelah kontrak selesai, harus ada seleksi ulang untuk perpanjangan kontrak….bahkan disamakan dengan orang baru dengan remunerasi seperti fresh graduate tanpa fasilitas apapun!!!!!!!!!!!!!

    Jo

    Maret 11, 2008 at 10:45 am

  36. hmm.. gak ada yang satu hari kerja yah. aku dah lompat 10 kali gak ada yang cocok. 1 hari resign penyakit ini trus berlanjut sampai aku menemukan yang pas. lama2 jadi hobi juga neh.heh. Cari kerja yang cocok ini relatif menurutku.
    kalo aku lebih cendrung melihat kemungkinan untuk maju diperusahaan tersebut. karena aku marketing jadi aku liat dulu sistem pemasarannya, kalo aku gak suka aku keluar karena aku gak yakin aku bisa maju. yang kedua apakah aku ada motivasi kerja di perusahaan itu, biasanya aku termotivasi kalo ada bonus dari hasil penjualan. yang ketiga pertimbangan kemajuam karir diperusahaan tersebut.
    pertimbangan lain masih ada tapi gak sepenting yang diatas.
    Gmnpun juga jadi kutu loncat sangat melelahkan karena sudah capek2 ikut tahap seleksi akhirnya malah pilih resign trus cari lagi dan seterusnya.

    vicT

    April 8, 2008 at 6:05 pm

  37. aku mau share, & minta pendapat dari teman2.

    Pada Awalnya aku lulus sekolah SMU, aku langsung krj di bidang marketing. Di kantor itu aku sangat senang dgn sifat kekeluargaannya. Tp atasan aku tak mengerti bahwa aku butuh ruang & wkt utk dapat kembang & bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik ( misalnya : aku ingin melanjutkan study S1, tp atasan aku melarang aku, beliau maunya aku selalu ada disampingnya setiap saat/tanpa ada batas wkt kerja. Sehingga aku tdk punya wkt utk kuliah ). Setelah 1 tahun bekerja di sana, aku merasa tertekan dengan keadaan itu, aku akhirnya menjadi kutu loncat.

    Lalu aku pindah ke dunia perbankan, di kantor ini pun aku merasa sangat nyaman. Bahkan saat ini aku bisa menlanjut kuliah S1 pada malam hari, dari salary yang aku dapat di bank tersebut. Namun utk meningkatkan karier di sini, aku sedikit terhambat karena aku belum selesai S1nya. Itu artinya aku harus menunggu peningkatan posisi sampai aku lulus S1 ( kurang lebih 3,5 thn ), selama itu aku berfikir aku masih bisa berkarya yang lebih baik lagi dari pada menunda sampai 3,5 thn. Setelah 1 th saya bekerja di kantor itu, akhirnya aku jadi kutu loncat lagi.

    Sekarang ini aku sdh 3 bln berada di kantor yang baru bidang IT, kantorku yang ke-3 (di tahun ke-3 setelah aku lulus dari SMU). Aku kerja pagi & kuliah malam, bagiku sudah biasa. Tapi aku merasa ada yang berbeda antara kantor aku sekarang dgn kantor aku yang dulu-dulu. Di sini merasa sangat tidak nyaman, meski pun aku salary yang ditawarkan jauh lebih besar dr kantor yang dulu-dulu. Yang membuat aku tdk nyaman adalah : lokasi sangat jauh dr rmh & kampus, krywn di sini bersifat individualisme ( sampai terkadang sering terjadi selisih paham ), job describtionnya tdk jelas ( sampai aku bingung mau kerjakan apa di kantor ? di samping kiri-kanan, depan-belakangku, lebih sering main games/chating di komputer masing-masing. Pada mulanya aku ikuti gaya mereka bekerja tp ini tdk dapat membuahkan hasil apapun kualitas diriku yang lebih baik ). Aku tak tahan dengan kondisi seperti ini, aku bekerja serasa tersiksa lahir & batin ( jauh diperjalanan sampai kejar2an wkt, tiba di kantor tidak ada kerjaan, tidak bisa berkomunikasi atau kerja sama dengan karyawan yang lain ). Aku ingin sekali resign dr kantor ini, tp aku belum cetak prestasi apapun di kantor baru ini.

    Sedangkan di kantor yang pertama & kedua, mereka menunggu aku joint kembali di kantor tersebut.

    Aku sempat merasa dengan menjadi kutu loncat sangat bermanfaat utk perkembangan & pertumbuhan diri menuju kualitas yang lebih baik. Aku minta pendapat teman2 yang berhasil/sukses setelah menjadi kutu loncat, aku harus bagaimana untuk menyikapi situasi & kondisi yang saat ini aku alami?

    Thanks ya … ;)

    Re

    April 29, 2008 at 5:09 am

  38. @Re
    Balik aja.. belum mencetak prestasi di kantor baru ya ga masalah dong, lingkungannya ga kondusif gitu kok.

    haikal

    April 29, 2008 at 5:41 am

  39. klo jadi kutu loncat untuk ngedapetin nilai rupiah … itu dibilang sah ga ? :D

    manufaktur

    Desember 4, 2010 at 5:39 pm

  40. Kaiaknya ga bisa jd kutu loncat dhe…dh trlanjur tua :(

    dalijo klutuk

    Juli 21, 2011 at 12:27 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 483 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: