Ternyata masih banyak pembangkit listrik tenaga fosil?
Februari 23, 2008 — priandoyoBaru ngeh, ternyata masih banyak pembangkit listrik di Jawa yang menggunakan bahan bakar fosil (solar, batubara). Saya kira semua sudah menggunakan tenaga air. Setahu saya hanya Papua yang belum ada PLTA? ternyata
*Ga update dengan kondisi negerinya













Februari 23, 2008 pukul 3:21 pm
disuatu hari nanti, giliran fosil kita2 ini yang dijadikan sumber energi oleh generasi jauh jauh dimasa depan.. hehehe
Februari 24, 2008 pukul 2:12 am
Sudah saatnya memanfaatkan energi alam.. potensi terbesarnya energi angin. bukankah Indonesia negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia.. sayang, investasinya masih jauh lebih besar daripada harga minyak atau batubara…
Februari 24, 2008 pukul 12:47 pm
sudah waktunya pake batubara
Februari 25, 2008 pukul 1:43 pm
@anjar: justru solar dan gas menjadi andalan utama.
@doni: kalo batubara, lebih banyak polusinya dibandingkan dengan solar atau gas
Februari 26, 2008 pukul 8:42 am
@ anjar, justru trennya bikin yg batubara karena stock kita bisa dipakai sampai 100 tahun. juga gas potensinya besar. sayang shell dan emerada hess justru menutup galiannya di jatim. tanya kenapa ?
yg potensial sebenarnya air dan sinar matahari, cuman investnya super mahal dan ROI nya lama sekali.
Maret 4, 2008 pukul 8:33 am
Klo IndOnesia si ketergantungan banget sama bahan bakar fosil…. hampir semua pembangkit masih mengandalkan fosil sebagai bahan bakarnya. malah PLN mencanangkan pembangunan 10000MW PLTU yang bahan bakarnya batu bara…. Energi terbarukan kecuali PLTA masih jauuuhhh….
tar klo Sumber Fosil dah abis indonesia gimana ya…???
Malam Gelap Gulita…..
Maret 4, 2008 pukul 8:38 am
PLTA hanya backup ketika peak load terjadi karena startup yang cepat dibandingkan PLTU/PLTG/PLTP/PLTGU.
Harusnya yang digalakkan saat ini adalah PLTP (panas bumi), hanya investor belum ada jaminan karena UU yang belum jelas.
Maret 4, 2008 pukul 9:31 am
pada ngomong sih gampang mas….
Maret 4, 2008 pukul 10:43 am
Tenaga angin : angin di Indonesia kurang kencang
Tenaga air : air sungai cenderung surut (hutan bergundulan)
Tenaga panas bumi : insentif pemerintah kurang dan harga beli PLN tidak membuat investor kepincut (biaya eksplorasi tinggi)
Tenaga Biodisel : minyaknya buat gorengan. Kalau jarak (jatropha) produksi kecil dan buah tidak mateng serentak-> sangat sarat tenaga.
Maret 4, 2008 pukul 3:22 pm
Lho…
PLTU-PLTU itu? kan banyak, nJar..
Maret 6, 2008 pukul 11:02 am
Ada lagi satu nih mas..
pembangkit listrik menggunakan tenaga methan..
kalo liat di acaranya green minute nya metro tv, di Inggris banyak petani dan peternak sapi menggunakan kotoran sapinya untuk pembangkit listrik..
bagaiman dengan kita??.. di negara kita kan juga banyak peternak sapi tuh… :)
Maret 7, 2008 pukul 4:00 pm
PLTA / listrik tenaga air itu kecil daya yang dihasilkan, tidak bisa menyaingi PLTU/PLTG. Solusi yang menarik itu sebetulnya tenaga nuklir karena menghasilkan daya besar, efisien dan bersih. Hanya karena memang lebih beresiko, perlu usaha extra disiplin untuk mengoperasikannya - ini yang meragukan apakah orang Indonesia sanggup.