Keterbatasan
April 5, 2008 — priandoyoBagian paling menyenangkan dari sebuah perjuangan adalah titik nol. Suatu titik permulaan dimana dengan segala keterbatasan yang ada, kita meyakini bahwa tujuan yang kita inginkan dapat dicapai dengan cara yang kita yakini. Suatu titik dimana kita telah menghitung segala hal, menghitung selisih jarak, menghitung gap yang harus kita penuhi untuk mencapainya. Suatu titik dimana muncul keyakinan yang sangat kuat bahwa kita bisa mendapatkannya.
Sewaktu lulus kuliah, dan mendapatkan kenyataan bahwa harus mengawali karir di kota besar, dengan minimnya pengetahuan, minimnya dukungan keluarga. Saat itu merupakan saat-saat terberat bagi saya untuk beradaptasi dengan situasi yang serba baru ini. Mulanya banyak ketakutan yang muncul. Apakah karir saya menjanjikan? dapatkah saya menabung? bagaimana bila ada tekanan dari teman dan atasan? Segala keterbatasan ini seringkali membuat saya takut dan tertekan. Saya merasa tidak punya apa-apa, saya merasa nol besar.
Namun, disaat-saat seperti itulah, saya mulai belajar menyimpulkan bahwa memang saya sedang berada dalam titik nol dalam perjuangan hidup saya. Saya belajar untuk ikhlas, belajar menerima, untuk selanjutnya belajar untuk beranjak dari titik nol menuju titik-titik lain yang lebih baik.
Hidup seperti sebuah siklus yang terus berputar. Setiap saat akan ada titik nol yang harus kita lalui. Awal menikah, awal berkeluarga, awal memiliki anak. Dan titik-titik nol yang lain. Setinggi apapun titik yang telah kita capai, akan ada saatnya kembali kepada titik awal itu lagi.
Manusia sangatlah kecil dan terbatas dimata Sang Pencipta. Dengan menyadari titik dimana kita berada, dengan menyadari keterbatasan yang kita miliki, kita bisa belajar banyak hal bagaimana mensyukuri hidup ini dengan sebaik-baiknya.
22:30, Azkia pup lagi Nda













April 6, 2008 pukul 4:32 am
Pada saat melanjutkan studi s1,
saya memutuskan untuk jauh dari orang tua, saya berpikir, saya akan mendapat ilmu yang baik dalam bangku kuliah, ataupun incase ilmu perjuangan dan pengalaman hidup di negeri orang, bagaimana kita harus berattitude, bersopan-santun, dan hidup dengan sederhana, karena
uang kiriman dan kerjaan sampingan untuk tetep melanjutkan studi s1 saya sampe selesai.
Seminggu setelah wisuda, saya di panggil oelh salah satu MNC di Jakarta, yang belum pernah saya bayangkan saya akan bisa survive di kota besar seperti ini,
but, ketika kita bisa tetep memegang teguh prinsip, tetep mau belajar, tekun dan kerja keras,
akan selalu membawa kita kepada sesuatu yang membuat
kita nyaman dimanapun kita berada.
Dimana pun kita berada, satu yang penting adalah kita bisa enjoy, dan selalu bersyukur dengan apa yang kita terima,
niscaya kita akan selalu bahagia.
Saya yakin, hidup adalah pilihan, dan pilihlah kehidupan kita
yang akan membuat kita bisa selalu bersyukur, dan tenang.
Salam
April 6, 2008 pukul 7:34 am
Saya agak tertegun sejenak, mendengar tulisan mas anjar dan mas bambang, emang terkadang kita merasa kita sangat lemah ketika titik terlemah kita datang. Kita merasa bahwa pada saat itulah kita memerlukan Tuhan, dititik kita tidak bisa mengharapkan siapapun.
Siapapun pasti pernah merasakan titik kejayaan dan titik keterpurukan, itulah roda kehidupan yang tidak bisa dipungkiri, yang terpenting adalah kita yakin bahwa kita bisa mengatasi semua kesulitan yang menimpa kita baik, sehingga salah seorang yang sangat dekat dengan saya pernah mengatakan “Tifta, you must have spirit in your life, Be Expert Indifficulties”, yah Be Expert Indifficulties, itulah kata2 yang terus terngiang di telinga saya, Jadilah ahli dalam mengatasi kesulitan-kesulitan mu. Banyak ahli ataupun pakar yang ahli dalam bidang tertentu, namun sayangnya mereka banyak yang tidak memiliki keahlian dalam setiap masalah yang dia hadapi, sehingga tidak aneh banyak kasus orang yang cerdas, pintar dan telah menemukan penemuan2 dahsyat namun berakhir dengan bunuh diri.
April 6, 2008 pukul 2:06 pm
“Manusia sangatlah kecil dan terbatas dimata Sang Pencipta.”
Saya setuju dengan ini, karena dengan bergantung kepada-Nya, saya jadi punya kekuatan untuk melewati zona tidak nyaman.
Ada yang bilang orang ga akan maju kalo cuman bertahan di satu zona nyaman, kalo mo maju kita perlu berpindah dari satu zona nyaman ke zona nyaman yg lain, dan ini biasanya melewati zona tidak nyaman (mungkin dalam bahasa Anjar inilah titik nol itu). Dan kunci untuk melewati zona tidak nyaman ini adalah kita sadar bahwa itu adalah jalan yg harus dilalui kalo kita ingin menjadi lebih baik, lebih expert, lebih dewasa serta lebih bijak dalam menjalani hidup didunia… InsyaAllah!
April 6, 2008 pukul 10:23 pm
Saya setuju sekali dengan mas. Ketika kita kembali pada titik nol itu kita harus lebih mempunyai spirit, motivasi dan keyakinan bahwa kita bisa tuk melakukannya. Jika tidak maka kita akan terpuruk dan tak dapat bangkit. Tetapi yang paling penting pada saat-saat seperti itu kita tidak melupakan Tuhan. Karena DIA pasti akan membantu.
April 7, 2008 pukul 1:39 am
Benar mas Anjar …
Titik nol adalah titik permulaan semua cita-cita dan harapan ditumpukan. Kita bisa mengkhayal apa saja dan berharap apa saja sehingga membuat hidup menjadi semangat untuk mencapainya.
Dalam kehidupan .. kita memiliki banyak titik nol yang memiliki jarak waktu dan target yang berbeda-beda. Kadang berjalan paralel, kadang ada yang sudah selesai ada yang masih terus kita tempuh. Kadang saling melengkapi tapi juga saling bersinggungan.
Kehidupan pada akhirnya bermuara pada satu titik, yaitu kematian. Apapun titik nol yang kita punyai akan berakhir. Setelah itu tiada. Tak ada kesempatan lagi untuk mengulangnya. Tak ada waktu lagi untuk mulai dari titik nol lagi.
Mumpung masih diberi waktu, mumpun masih diberi kesempatan, mumpung jiwa dan raga masih bersatu .. koreksilah hal-hal yang keliru, agar jalan tidak salah arah.
Good luck semua.
April 10, 2008 pukul 10:02 am
wah mantabz..
saya jadi tertegun sejenak setelah membaca tulisan mas anjar ini. karena saya baru menyadari klo titik nol dalam hidup kita itu tidak hanya terjadi di awal kehidupan kita, namun akan terjadi dalam setiap segment/part dalam hidup kita, dan mungkin saja berulang..
hmm, thanx n good luck 4 all..semoga kita bisa beranjak dari titik nol kita, dan menjadikan titik nol sebagai pijakan, bukan sebagai tempat bergatung…
April 11, 2008 pukul 7:54 am
Kagum dan salam kenal buat Mas Anjar !
April 14, 2008 pukul 12:58 am
Salute buat Mas ANjar …