Terlalu banyak informasi
April 21, 2008 — priandoyoAzkia sudah satu bulan, pelajaran terpenting yang didapat adalah: Terlalu banyak informasi selalu membuat bingung.
Ceritanya dimulai dari Demam-nya Dinda selama 4 hari berturut-turut dengan angka 40.38′C sebagai puncak demamnya. Komentar-komentar orang adalah:
A. Harus cek darah Jar, Leukosit dan Trombositnya di cek, lagi rawan DB nih.
B. Minum Panadol tiap enam jam aja.
C. Ah itu wajar, setiap ibu yang baru menyusui pasti demam.
D. Infeksi pasca persalinan bisa jadi tuh penyebabnya.
Ternyata jawabannya adalah: C
Azkia sudah tiga hari ini belum buang air besar. Komentar-komentar orang adalah:
A. Wah langsung dikasih obat (apa gitu lupa namanya) istriku dokter, dulu anakku juga gitu
B. Ah Attar juga pernah kayak gitu, 3 hari malah, gpp tuh, cek dulu perutnya kembung atau engga
C. Ibunya sih kurang makan serat, pepaya, sayur tuh banyakin
D. Wajar aja, buang air kecil lancar kan?
Ternyata jawabannya adalah: D
Dikamar banyak nyamuk. Komentar-komentar orang adalah:
A. Jangan pakai obat nyamuk cair: bahaya
B. Elektrik juga bahaya tuh
C. Udah pakai tudung saji aja
D. Pake raket nyamuk tuh, syukur-syukur pake BlackHole, pencegahan nyamuk paling efektif yang pake mekanis.
Kejadian ini sangat sering kami temui, dan terlebih yang membuat kami bingung adalah jawaban-jawaban itu diberikan oleh orang yang sangat berkompeten dalam bidangnya. Mulai dari dokter umum, dokter spesialis anak, perawat senior, mbah, budhe, sampai teman kantor. Pendapatnya berbeda-beda. Ini baru seputar teknis merawat anak. Apalagi yang berhubungan dengan non teknis seperti karakter, sifat, kepribadian dan keyakinan ya?
Membesarkan anak adalah seni, teorinya beragam dan caranya bervariasi. Mungkin ada saran bagaimana supaya kami bisa menjadi orang tua yang baik. Ups, jangan-jangan bertanya justru membuat kita semakin bingung.













April 21, 2008 pukul 6:07 am
yang penting jangan cepat panik!
April 21, 2008 pukul 6:44 am
emang bener kok mas, banyak bertanya dan banyak berpikir tu malah justru bikin tambah bingung, hehe..
April 21, 2008 pukul 6:59 am
Itulah seninya hidup. Tidak semua tindakan yang kita lakukan sekarang merupakan tindakan terbaik. Karena tidakan kita didasarkan dari pengetahuan yang kita punyai sekarang. Suatu saat nanti di masa depan mungkin kita akan menertawakan hal-hal yang pernah kita perbuat, karena saat itu kita sudah punya pengetahuan yang lebih baik dari saat sekarang.
So, kuncinya teruslah cari ilmu dan pengetahuan dari siapa aja dan dari mana aja! Ilmu yang baik membuat kita menjadi lebih baik, ilmu yang buruk membuat kita tahu kalo itu adalah buruk.
April 21, 2008 pukul 7:52 am
Aku jadi ingat sebuah cerita humor mas Anjar, ketika itu seorang bapak dan anaknya serta seekor keledai sedang berjalan menuju suatu kota:
Ketika berpapasan dengan “orang pertama”, orang ini bilang kenapa tidak dinaiki keledainya,kan bisa buat kendaran itu keledai…maka naiklah si-bapak diatas keledai dan si-anak menuntunnya.
Kemudian perjalanan berikutnya ketemu dengan “orang kedua”, orang ini bilang: waduh kebangetan nih bapak, tidak kasian anaknya malah jalan kaki, bapaknya enak2 diatas keledai..maka gantianlah si- bapak turun dan si-anak naik diatas keledai.
Perjalanan berikutnya ketemu dengan “orang ketiga”, orang ini bilang: waduh kebangetan nih anak, tidak kasian bapaknya malah jalan kaki, anaknya enak2 diatas keledai..akhirnya setelah rapat pleno antara bapak dan anak, diputuskanlah mereka berdua naik diatas keledai biar tidak ada gunjingan lagi.
Perjalanan berikutnya ketemu dengan “orang keempat”, orang ini bilang: Wah bener2 keterlaluan kalian,masak keledai sekecil itu kalian naiki berdua, sungguh tidak berperkehewanan kalian…akhirnya digelarlah MLB diantara mereka, dan putusan finalnya adalah tidak akan mengulangi “kesalahan” lagi, yaitu diboponglah keledai itu oleh mereka berdua dengan cara di tandu…
(dan taulah kita apa komentar dari orang berikutnya yang melihat keputusan mereka..he..he…)
Jadi kata kuncinya adalah, selagi itu baik & benar serta tau kenapa itu kita lakukan… masukan apapun harusnya tidak menjadikan kita jadi plinplan dan ragu untuk membuat keputusan… Nyambung ndak ya…he..he…
April 21, 2008 pukul 9:07 am
Jadi takut punya anak ni…
Eh, tapi aku kan ga bakal punya anak. Wong aku cowok. :p
April 21, 2008 pukul 10:03 am
yang pasti kita Bertanya pasti kita membutuhkan jawaban atas sesuatu, kalo kita tidak tau pasti kita tanya ke orang lain..
saya kira orang lain kalo ngasih pendapat pasti berdasarkan pengalaman mereka atau mereka sendiri mengalaminya..
setelah jawaban kita terima kita punya 2 opsi yaitu kita “telan mentah2″ atau kita analisa lagi jawaban2 itu. kita cari mana jawaban yang paling pas yang sesuai dengan pertanyaan kita tadi.. itulah gunanya kita diberikan akal.
@tonny
setuju, “biarlah anjing menggongong kafilah tetap berlalu”
lanjut brother
April 21, 2008 pukul 11:58 pm
Hahaha…jadi ingat masa lalu. Orang kan pengin membantu Anjar, itupun karena Anjar cerita….tentang keputusan tentu Anjar harus memilih dari berbagai saran tsb.
Dokterpun berbeda? Lha iya, kan orangnya berbeda….
Yang penting berdoa…dan pergilah ke dokter yang Anjar dan Nunung merasa paling nyaman untuk mengobrol, dan diskusi.
April 22, 2008 pukul 12:49 am
Hmm .. kaya’nya saat yang tepat nih menggunakan otak kanan Jar .. dan sudah saya bahas disini.
Intinya .. segala informasi cukup ditangkal dengan intuisi mu yang ada pada sisi otak kanan. Sedangkan analisa berada di sisi otak kiri. Selamat mencoba.
April 22, 2008 pukul 2:54 am
anak saya waktu umur sktr 1 th, tiba2 muntah-muntah… bingung apa karena keracunan makan, masuk angin, atau apa… ke dokter dikasih obat, gak sembuh juga…masih muntah tiba2… hari ke-3 ada ibu-ibu tetangga bilang “ditapel aja pake daun jarak di perutnya”. Pembantuku nyari2 daun jarak ke kebun sekitar rumah… eh langsung sembuh… jadi kayaknya sih sejenis masuk angin deh…krn daun jarak diremas-remas trus ditaruh di perut itu kan berasa hangat plus ada minyaknya.
April 22, 2008 pukul 8:05 am
Dulu juga gitu mas… banyak pendapat ini itu..
Akhirnya ya.. diserahkan ke ahlinya.. Daripada bingung.
Kalau si Ibu ya ke SPOG-nya. Kalau si kecil ya ke DSA-nya.
April 23, 2008 pukul 1:02 am
tapi menurut sy sih mendingan banyak nanya…yang berkorelasi positip dengan banyaknya jawaban, dan tinggal pinter-pinter kita milih jawaban yang -semoga- paling tepat untuk menentukan langkah berikutnya.
kan kita diajarin tawakkal yang artinya: berusaha dengan sungguh-sungguh memperoleh yang terbaik…dan setelah itu baru berserah diri pada-Nya.
btw, mendidik anak emang asyik, menantang & penuh kekhawatiran. yang bisa dilakukan ya..berusaha yang terbaik dan berdoa semoga pilihan kita adalah yang terbaik untuk masa depan mereka
April 23, 2008 pukul 6:07 am
Syukur kalau Azkia sudah bisa bab. Kalau orang dewasa sih tinggal diberi dulcolax. Nah, kalau masih orok? Yang ada orang tua (apalagi OTB) pasti resah.
April 25, 2008 pukul 2:54 am
Ikut nimbrung nih,
Mengenai masalah kesehatan yang terbaik adalah konsultasi ke ahlinya (dokter tentunya), dalam memilih dokter yang baik sepertinya sdh pernah dibahas di sini, poin yg penting adalah pilih dokter yg kita yakini (masuk akal) dan punya segudang pengalaman serupa sebelumnya, namun pada prakteknya bila ada masalah setelah pengobatan, dokter tsb bisa diajak utk diskusi (via phone & free of charge lho). Tidak tertutup kemungkinan dgn cara alternatif (kompres demam pake daun2an, dsb) ASAL konsultasi lagi dgn dokter kita. Banyak pengalaman yg bisa diambil dari kehidupan ini untuk itu silahkan serap semua pengalaman org lain setelah itu konsultasi ke ahlinya. OK guys yang penting komunikasi, selamat ‘menikmati’ hidup buat Mas Anjar dan keluarga.
Mei 7, 2008 pukul 11:30 am
sebenarnya, pendapat para senior itu didasarkan pada pengalaman bro… and sepanjang tidak saling bertentangan sih.. its fine aja. Kan lebih safety lebih baik.. :)