Sufiah Yusof dan Rudi Santoso Sindrom
Mei 15, 2008 — priandoyoBaru-baru ini Papabonbon menulis artikel mengenai Sufiah Yusof, Si Anak Jenius yang dibiayai pemerintah Malaysia bersekolah di Oxford pada usia 13 tahun, dan sekarang 10 tahun kemudian beralih profesi menjadi pelacur, selengkapnya. Suatu perubahan karir yang luar biasa. Jadi inget kejadian yang hampir mirip pernah ditulis disini -Rudi Santoso Sindrom.













Mei 15, 2008 pukul 3:28 pm
wew.. talenta dari Tuhan yang sangat disia-siakan.. hidup hanya sekali kok dibuang-buang >..<
Kisah ini kok agak mengingatkan ama buku “God’s Callgirl”. Itu buku tentang mantan biarawati yang beralih jadi pelacur.. Hum.. hidup ini memang susah ditebak.. Seseorang bisa berubah 180 derajat dalam sekejab..
Mei 16, 2008 pukul 1:28 am
Mungkin ada yang nggak seimbang dalam gaya hidupnya dia. Imbas dari kejeniusannya?
Mei 16, 2008 pukul 5:19 am
Hidup adalah pilihan…sayang pilihannya yang negatif.
Pilihan untuk mendengar bisikan setan dibandingkan dengan bisikan nurani….moga-moga di cepat sadar sebelum disadarkan dengan menyaksikan rekaman kejadian di alam kubur……
Mei 16, 2008 pukul 7:21 am
mengapa kite yang ngributin,
wong orang-nye aje suka & menikmati,
kata-nye zaman kebebasan,
biarlah dia bebas menentukan pilihannya.
jangan hanya meneriakan&meng-agung-agungkan kebebasan, tetapi masih mengganggu kebebasan orang lain.
mestinya harus adil bro…
Mei 16, 2008 pukul 10:41 am
bisa jadi pelacurnya pejabat english tuh?
ato dibooking ma pemaen2 liga inglish
Mei 16, 2008 pukul 12:14 pm
emmm rosulullah pernah bersabda yang intinya, jika lihat seseorang adalah lihatlah sahabatnya, di ibaratkan seorang sahabat adalah penjual minyak wangi dan pandai besi, kalau kita bersahabat dengan penjual minyak wangi pasti kita akan dapat wanginya, tapi jika bersahabat dengan pandai besi suatu saat kita akan terkena api atau kalau ga pasti kita akan kotor, emmm menurut aku selama 10 tahun ini siapa sih sahabat Sufiah Yusof.. mungkin itu yang bisa merubah dari sufiah si jenius menjadi sufiah yang saat ini……, Nyambung ga ya he he he
Mei 16, 2008 pukul 2:01 pm
kayaknya yg masalah si bokapnya … lha bapaknya dipenjara 3 tahun karena akan memperkosa muridnya sendiri
ibunya sufiah malah pengen setting homeschollingnya sufiah dgn cara yg menyenangkan, tapi bapaknya kayaknya lebih tertarik pendidikan keras ala john stuart mill yg legendaris itu, atau kalau yg pernah baca buku trilogy bartimaeus, dia pengen ngajar ala masa kecilnya nathanael itu …
Mei 17, 2008 pukul 5:40 am
Yah….namanya manusia…
Tapi kasihan juga ya….
Very faster traffic blog :
http://www.tiphit.co.cc
Mei 17, 2008 pukul 8:07 am
diambil aja hikmahnya…
salam kenal
Mei 17, 2008 pukul 9:07 am
KAPAN yA ada generasi Indonesia yang bisa seperti itu ?
Mei 17, 2008 pukul 4:21 pm
hmm… sebagai jenius math..
kira2 apa ya yg dipikir saat ml…
alt. 1 :
1 jam 130 pounds
sehari 10 jam = 1300 pounds
sebulan kerja 20 hari = 26.000 pounds
setahun kerja 10 bulan = 260.000 pounds
th ke 2 naikin tarif 2 kali lipat krn sdh makin pengalaman..
alt. 2 :
jika panjang senjata x cm,
kecepatan goyang y kali per detik,
maka kecepatan tembak akan z km/jam,
dg amunisi yg dihasilkan sejumlah a mililiter,
sehingga dibutuhkan tembok pengaman setebal b milimeter
hehe…
sori ya commentnya…
lagi males mikir yg berat
Mei 19, 2008 pukul 2:58 am
Dikasih berkah kok malah disia-siakan… ;)
Mei 19, 2008 pukul 4:42 am
Hehehehe…. kalau saya lihat dr sisi yang lain. Kisah ini malah mirip dgn novelnya Dee : Supernova edisi pertama (Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh). Ketika kamu sangat
pintar, berjiwa merdeka, bebas, dan tidak mau terikat dengan apapun juga, maka kamu tidak akan “melacurkan” otakmu buat orang lain. Maka pilihan yang dilematis adalah memilih untuk melacurkan tubuh. :)
…ironis… :|
@ papabonbon :
saya malah pengen nerapin model John Stuart Mill itu. Btw, H. Agus Salim juga mendidik putra-putrinya sendiri, dan nggak disekolahkan ke sekolah umum. :)
Mei 22, 2008 pukul 9:58 am
tapi ini yg komentar dah pada lihat foto-nya si Sufiah belum? Wau… cakep banget, badannya bagus lagi, dah kayak model..:-D
Mei 25, 2008 pukul 5:44 pm
Sindrom : Jason H, siswa paling cerdas di SMU Coral Springs Florida yang bercita-cita masuk kedokteran, tega menusuk guru fisikanya, Pologruto, dengan pisau dalam perkelahian di ruang praktik fisika? Peristiwa itu terjadi karena Pologruto memberi Jason nilai 80 pada sebuah tes, dianggap menghalang-halangi Jason meraih cita-citanya.
Cerita tragis seperti dipaparkan Daniel Goleman dalam Kecerdasan Emosional, (Gramedia, 1999, cet ke-9, h 43-4)
menyiratkan pesan ambigu: bagaimana
mungkin seorang siswa yang cerdas dan terpandai di kelasnya justru berbuat sesuatu yang tak rasional?
Jawabannya, jika kita lacak ke akar pendidikannya, mereka adalah produk pendidikan yang hanya menekankan segi kepintaran dan kecerdasan secara IQ, dengan mengabaikan segi-segi kecerdasan emosi (EQ), apalagi spiritual (SQ).
Maka, sekolah (formal) boleh selesai. Tetapi, belajar tak pernah berhenti. Belajar adalah “proses menjadi” dan petualangan hidup. Belajar sejati adalah belajar dalam kehidupan. Memaknai kehidupan secara lebih bermakna, berarti, dan religius-spiritual.