Anjar Priandoyo

Nabung, Sekolah, Hijrah

with 24 comments

“…Saya nemu blog ini setelah ada refer link dari teman yang bingung tentang statusnya sebagai IT mid class worker di Indonesia dengan gaji yang tidak pernah cukup, dan selalu merasa “salah” karena tidak bisa bekerja di Oil/gas atau Telco. Saya adalah jebolan 1st tier rank bschool di UK, dulu S1 di sekolah teknik di Bandung, selama 6 thn kerja di service company punyanya ex-wapres US sbg logging field engineer. Sharing dan gamblang bukan bermaksud pamer: gaji pertama langsung di 9juta diluar kontrak rig, bonus proj, etc. 3 tahun kemudian THP jd 16jt, dan saat resign sebelumnya tiap bulan ditransfer 24juta lebih diluar macem-macem allowance.

Itulah yg saya tabung sebelum habis semua untuk bayar biaya bschool, dan selepas itu, saya gabung dgn Consulting firm (satu diantara ini: Bain&co, McKinsey, Mercer, Eli-Lilly, Lehman Bro) dengan paket yang jauuuh lebih besar dari yang didapat saat masih di oil area. range yg sy dpt: > USD$ 117.000

Jadi….oil/telco bukan satu2nya area dmn org bs dpt gaji+bonus besar…toh sampe skrg saya masih sewa rumah dan tdk pny mobil :P jadi buat temen2 di indo, jgn pikirkan soal gaji di telco/NGO/IT or else, let it go by the flow, bikin planning utk career upgrade. Di luar negri, standar gaji sdh baku utk tiap area lain dgn di indo yg gaji org seenaknya. di negri saat ini sy tinggal,gaji semua di satu level sama tanpa liat paspor, tdk spt di indo, bule bego dibyar ribuan dollar hanya utk duduk pake dasi…”
Edo

Komentar:
Beberapa teman juga berjuang lewat Scholarship, mungkin ada pendapat lain?

*quote mid class worker, keren juga istilahnya hehehe

Written by priandoyo

Juli 24, 2008 pada 9:21 am

Ditulis dalam Dunia Kerja

24 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Good advice.
    Tapi kata orang hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari hujan emas di negeri orang.

    Memang struktur renumerasi di Indonesia nggak jelas blass.

    dnial

    Juli 24, 2008 at 11:49 pm

  2. “..kerja di service company punyanya ex-wapres US sbg logging field engineer” — kayaknya (kalo ngga salah) di Halliburton yah :) ? Setahu saya oil-service company juga bisa jadi beda rate salary-nya antara yg di Indonesia dengan di luar. Apalagi persaingan di bidang ini cukup ketat, dipimpin oleh Schlumberger.
    Kalo menurut saya mas, selain faktor struktur renumerasi yang kurang jelas, sebagai konsultan saya rasa salary-nya tentu juga lebih besar. Logikanya: konsultan kan tempat untuk berkonsultasi, jadi orangnya musti pinter :) Makanya dibayar mahal.

    taufan

    Juli 25, 2008 at 2:37 am

  3. Heran banget, kenapa sih orang standarnya dunia terus? mau gaji berapa aja kyknya gak cukup2, padahal dengan gaji pas pun orang bisa hidup bahagia, gak lupa zakat/sedekah buat bersiin harta kita.
    Kalo merasa prestasi kerja tak sebanding dgn pendapatan, ya jauh2 lah dari indonesia. Du weisst schon, alter! You know already, dude!

    Resi Bismo

    Juli 25, 2008 at 4:31 am

  4. numpang KAMPANYE untuk Indonesia bro, pilih 7 wonder yang baru :

    http://www.new7wonders.com/nature/en/liveranking/

    itu situs untuk pilih 7 keajaiban alam dunia yang baru Indonesia punya 3 kandidat:

    1. Lake Toba.
    2. Krakatau Volcanic Island.
    3. Komodo National Park.

    Kalau kita orang Indonesia Tiap orang nyumbang suara 1 saja, kayaknya kita bisa terpilih.

    masway

    Juli 25, 2008 at 4:59 am

  5. tuk nabung aje sulit banget,
    pas gajian habis untuk membiayai
    hidup yang bertambah sulit,
    gimana mau sekolah…

    cakman!

    Juli 25, 2008 at 5:59 am

  6. @Edo
    Menarik sekali ceritanya dari logging field engineer (= logger?) jadi konsultan.

    Mengupgrade career (aka Merubah nasib, mencari gaji gede) emang macem2 jalannya, salah satunya ya sekolah lagi untuk switching career.

    Top business school butuh duit banyak, pengalaman kerja cukup idealnya > 2 tahun (kalo MBA bisa minta at least 5 th sbg requirement), minta pengalaman kerja di salah satu Fortune’s 500 companies, terus sama S1 dari uni top (idealnya).

    Biaya gede, butuh gaji gede (kalo ngandalin duit sendiri; bukan minta ortu :p). Lah kalo gajinya pas-pasan mana bisa buat sekolah lagi? Mau berapa lama? Nah tabungan perlu gaji gede (yg artinya lebih dari pengeluaran kita, kalo mau sekolah pake USD ya jangan bilang gaji sekian rupiah cukup… pasti njomplang nilainya kalo dituker ke usd).

    Kerja di perusahaan gede dg gaji gede butuh diterima di perusahaan gede yg mau bayar gaji gede. Penerimaan ini butuh luck dan berkat dari Yang Maha Kuasa.

    Kesimpulan:
    Manusia berusaha dan Tuhan yang menentukan
    Men try their best and God do the rest

  7. Ehem,

    Halliburton dapetnya segitu yaa mas,

    Lompat —> zona aman —> Lompat = Siklus Hidup

    Kodz

    Juli 25, 2008 at 5:13 pm

  8. Hmm top business school UK ya, apa nih? LBS? LSE? Oxford ?? penasaran juga….

    Kerja di mana nih US atau UK ? gue rasa UK nih karena lulusan MBA UK langsung dapat HSMP disana…..

    Memang idealnya ambil MBA sih…tapi ya itu, mahal……

    adhiguna

    Juli 25, 2008 at 7:17 pm

  9. Saya sudah lama gak setuju dengan peribahasa yang disebut @Dnial :-) Tetap lebih enak hujan emas di negeri orang, nanti emasnya khan bisa dikirim ke negeri sendiri biar tambah makmur..hehe

    Saya juga dulu sempat berkeinginan sekolah lagi via scholarship di luar negri. Tapi mungkin emang belum rejeki, jadinya ya lebih memilih jalur kerja, mumpung dengan level pendidikan sekarang aja masih keterima di negri orang :-)

    Nanti kalau udah ada duit , baru ambil master :-)

    Erwin Baja

    Juli 25, 2008 at 8:43 pm

  10. setuju Mas Edo, memang telco dan Oil/gas bukan satu-satunya dan kenapa teman mas Edo merasa bersalah tidak bekerja di telco/oil/gas? menurut saya, sih hadapi saja.
    Masalah cukup atau tidak cukup rasanya bukan hanya masalah orang yang bekerja di industri telco/oil/gas. Dan untuk hidup berhasil tidak harus di telco/oil/gas saja kan?
    Menurut saya yg perlu dipikirkan adalah career planning, seperti yg disarankan teman2 pada posting sebelumnya. Kita perlu menentukan target pribadi per 6 bulan, per tahun, per 5 tahun, per 10 tahun, misalnya umur 30 apa target hidup dan kerjaan anda, demikian pula untuk umur 40 atau 50? Semua adalah personal planning(anda merencanakan apa yg ingin anda capai), kalau sejalan dengan career path perusahaan ya syukur alhamdulillah, kalau tidak anda yg full control atas hidup anda.
    Di luar negeri memang struktur gaji sudah cukup matang dibanding negara kita, malah sebenarnya adalah kesempatan buat kita bukan? saya kalau bisa memilih minta dilahirkan juag sebagai bule…maksud saya intinya, mereka tidak minta dilahirkan sebagai bule kok, sama seperti kita, jadi menurut saya just be wise about it.

    joko

    Juli 27, 2008 at 3:52 am

  11. jangan psimis, mental kita mesti dirubah dari biasanya tdb (tangan dibawah) menjadi tda (tangan di atas), yang dilihat jangan goalnya, tapi coba mulai dari sasaran terkecil, ketika anda siap kaya, maka perjuangan untuk kaya itulah yang realistis anda pikirkan. susun trik kearah itu. Toh orang kayapun asalnya dia tidak punya. Jika ingin meraih gelar DR, jangan dilihat beratnya. yang realistis tapaki setapak demi setapak untuk memperoleh gelar itu, karena tidak mungkin kita langsung diberi gelar DR, tapi harus SD dulu, SMP, SMA dst.

    arip ahmad ripai

    Juli 29, 2008 at 4:20 am

  12. satu pelajaran,seorang kawan disemester V sebuah perguruan tinggi negeri dia berpikir apa saya mampu menyelesaikan kuliah, ada beberapa mata kuliah yang harus mengulang, padahal orang tua dikampung menginginkan dia selesai tepat waktu. waktu itu rasanya ia ingin keluar. jika perasaan itu terus diperturutkan tentu dia tidak memperoleh hasil, namun dengan sigapnya dia jawaban tantangan tersebut, saya harus selesai tepat waktu, ada strategi yang dia gunakan, ketika temannya yang ada di grade atas mengajukan penulisan skripsi, sang temanpun mengikuti hal tersebut, tentunya dengan persyaratan jumlah matakuliah dan ipk minimal. Singkatnya dia bisa melewati seminar usulan penelitian, dengan giatnya dia menyelesaikan skripsi, tentu saja hasilnya dia bisa menyelesaikan skripsi tersebut dengan baik. lalu bagaimana dengan mata kuliah yang tertinggal, dia datangi dosen demi dosen dengan membawa skripsi yang sudah selesai tadi, dia perlihatkan kepada dosennya, bahwa dia sudah selesai dengan skripnya, namun yang kurang dia belum lulus mata kuliah. melihat hal tersebut sang dosen tentu maklum, sang mahasiswa diberi tugas tanpa harus mengulang dalam semester normal, dengan demikian tuntaslah persoalan beberapa nilai yang belum lulus, akhirnya dengan ucapan syukur, dia berhasil tepat waktu sama sebagaimana teman-teman yang ada di grade atas.
    dari sana kita dapat mengambil pelajaran ternyata jalan yang disangka kita terjal, jika ada usaha sungguh ada jalan keluarnya, maka jalanpun akan terasa lapang. janganlah mengebiri persepsi kita, luaskanlah dada kita untuk menggapai kemajuan.

    arip ahmad ripai

    Juli 29, 2008 at 4:38 am

  13. Lagi getol-getolnya posting di blognya Anjar

    Gua gak tau kebenaran pepatah hujan-hujanan segala macem…

    Menurut gua, gaji Rp. X di indo bisa kasi standar hidup setara dg gaji USD. Y di luar negeri, gua masi pilih gaji USD karena sekarang jaman uda globalisasi… bukan main lokal lokalan lagi. USD Y ditukar ke Rp bisa jadi berapa coba? Bisa jadi investasi di indo (kita di luar negeri prihatin dikit)

    Fakta lain
    Kalo mau berlibur ke negeri lain gak takut gertak sambal dollar yg laen… kuat juga dollar kita (NZD, SGD, AUD, CAD, USD, kan semua diatas Rp5rb per dollarnya)… palagi kalo liburannya ke indo… bisa dapet bintang 5 bo….

    SEBENARNYA INI MAU JADI THREAD TERSENDIRI tapi bukan saya yg punya blog :p

    Eit… jauh dari keluarga/teman/pacar uda kita sikat di asumsi awal kita lho ya….

    Demikian juga dg faktor sistem dan infrastruktur atau kenyamanan hidup di luar negeri uda kita babat dg asumsi kita di awal…

    Maaf pembaca, isu “prospek kerja /promosi karir ke depan/jangka panjang” is excluded dari case study kita ini :p kekeke

    So… pilih mana hidup dan bekerja di indo atau di luar negeri?

  14. Waduh kok lupa naruh asumsi-nya:
    “All other things being equal”
    (anggap aja ini diposying sebelumnya :p)

  15. Ini gua orang yg sama ama yg diatas kok avatar gua tetep aja gak ganti2 apa wordpress uda kenal gua makanya dikasi seal itu2 aja. Coba tak akalin ganti nama… ganti seal apa gak ya?

    Michael

    Juli 29, 2008 at 10:00 am

  16. Ini gua orang yg sama ama yg diatas kok avatar gua tetep aja gak ganti2 apa wordpress uda kenal gua makanya dikasi seal itu2 aja. Coba tak akalin ganti nama… ganti seal apa gak ya?

    James

    Juli 29, 2008 at 10:00 am

  17. Oh kalo Suryo dikasi seal kuning kalo James dikasi seal ijo… waduh mas Anjar, sorry gak bermaksud nge-junk ya

    James

    Juli 29, 2008 at 10:01 am

  18. Enaknya kerja di luar negeri itu nilai mata uangnya memang tinggi. Jadi nggak minder kalau harus liburan ke negara2 yang nilai tukar mata uangnya kecil.

    Nabung juga lebih besar duitnya.

    Gak enaknya?

    gak punya POWER (if you know what I mean). Presiden dan Jendral pun disini powernya dibatasi.

    Padahal power Is very important for a man.

    It explains mengapa cowok bule di negaranya cemen dan takut cewek. Tapi begitu sampe negara seperti Indonesia langsung bertingkah seperti raja, mereka itu HAUS POWER, dan orang Indonesia memberikan itu pada mereka secara gratis.

    adhi

    Agustus 4, 2008 at 6:55 am

  19. Ini baru topik bermutu…. :p
    Motto hidup : kejarlah ilmu setinggi-tingginya.

    Yang jelas 3 bidang yang banyak ilmu dan besar salarynya:
    1. Pertambangan dan Energi (Oil n Gas tentunya paling tinggi)
    2. Telekomunikasi Multimedia (IT, Telkomunikasi dan konco2na)
    3. Perbankan dan Keuangan (Bank dll)

    Tapi apakah bahagia dengan gaji segitu tinggi..!!??
    Apakah gak ada keinginan untuk mencari ilmu lebih tinggi lagi..!!??

    Yang jelas saya salut ama Orang yang nulis nih posting…
    Cari ilmu di luar negeri… apalagi di Eropa dimana Universitas disana dijaga mutunya (alias bersaing ketat).
    beda ma Indonesia dimana Universitas sudah menjamur seperti jualan kacang aja.

    Btw carilah ilmu setinggi-tingginya. pasti kebahagiaan akan datang dengan sendirinya (asal dipakai dengan bener loh ya khikhikhikhikhi….)

    Ahmed

    Agustus 4, 2008 at 12:57 pm

  20. Ahmed, setuju. Cari ilmu setinggi2nya itu lebih memuaskan daripada sekedar materi.

    Selain 3 bidang yang anda sebutkan, ada satu bidang lagi yang sebenernya prospective, tapi belum banyak dilirik orang Indonesia yaitu Industrial Automation. Termasuk Robotics/Mechatronics, Industrial Vision, Digital Signal Processing and Industrial Process Control.

    Kalau anda menguasai ini, anda akan dicari di negara2 maju, di Indonesia mungkin belum ya..

    Qualifikasi untuk Industrial Automation engineer itu biasanya master/PhD di bidang ME, EE, Vision atau CS.

    Satu lagi enaknya study di Eropa adalah sekolah Doktor murah. Dan kalau kita pintar nego, project di industry bisa kita jadikan thesis doktoral.

    Di kantor saya hampir 50% engineer punya gelar engineering PhD.

    adhi

    Agustus 4, 2008 at 1:22 pm

  21. Yah..tetep aja kalau soal kerja atau stay jelas di LN lebih nikmat (dalam hal materi):

    1. Melahirkan biaya gratis

    2. Pas lahir, anak di kasih uang cash oleh govt

    3. Bantuan uang tiap minggu untuk sang anak sampai usia 16thn

    4. Saat anak kuliah, govt turun tangan dan memberikan uang saku cuma2 PLUS subsidi biaya kuliah (yang nantinya menjadi kewajiban si anak untuk membayar setelah mereka bekerja) – otomatis Ortu lepas tangan mengenai segala macam biaya kuliah kuliahnya.

    TAPI……segala macam kenikmatan itu sifatnya relatif :)

    Zipper

    Agustus 17, 2008 at 7:55 am

  22. “a place called home is where you can make it.
    not where you were born”
    -quoted from a friend at Jakarta Post ;) -

    vixen

    September 26, 2008 at 7:36 am

  23. $117k ?? per bulan ?? duit semua tuh? apa campur daun rambutan?

    mupeng

    Januari 24, 2009 at 1:31 pm

  24. kenapa si yang diuber uaaaaang mulu.. apakan uang tujuan hidup kita? bukankah Dia telah menentukan? apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup kita? setahu saya belum berubah menjadi “uang” kan? saya lulus s1 dengan predikat “terbaik” dari salah satu univ negri di republik ini.. sekarang saya sekolah master di salah satu univ terbaik di eropa.. saya punya banyak kesempatan kalo sekedar mencari “uang yang banyak”.. tapi saya sangat mencintai republik ini.. saya tetap milih menjadi pns walaupun gajinya 2 juta aja ga sampe.. saya kadang bingung.. kalo kita semua berlomba-lomba mencari “uang” dengan menjadi “mesin” pencari uangnya perush2 asing.. siapa yang akan membangun republik ini?.. dan marilah kita kembali ke tujuan hidup yang telah ditentukan olehNya..

    roed

    Januari 24, 2009 at 2:14 pm


Tinggalkan Balasan