Laporan perjalanan mudik Lebaran 2008
Tahun 2008 ini akhirnya menjadi tahun paling lengkap dalam perjalanan mudik saya. Rute semula Jakarta-Malang-Cirebon menjadi Jakarta-Malang-Jogja-Cirebon. Mulai dari jalur udara Sriwijaya, jalur darat Bus Coyo hingga jalur kereta api Cirebon express. Semakin lengkap dengan membawa anak 6 bulan. Nampaknya pengalaman selalu menjadi guru yang paling berharga.
1. Mudik 2008 ini ternyata tidak separah mudik 2007. Mungkin karena jeda liburannya terdistribusi. Ada beberapa orang yang mulai pulang hari kamis, jumat atau bahkan baru hari senin dan selasa. Akibatnya kemacetan pun sedikit terdistribusi.
2. Data dari Dishub mengatakan bahwa jumlah pemudik meningkat, tapi yang saya temukan jumlah pemudik sedikit menurun dibandingkan tahun 2007. Pemudik umumnya adalah keluarga muda yang memiliki penghasilan cukup untuk pulang. Pemudik usia menengah 20-40 umumnya menunda mudik tahun ini karena biaya yang cukup tinggi, apalagi harus mengangkut anak-anak mereka. Dan pemudik usia tua 40-50, apalagi yang kedua orangtuanya meninggal juga berkecenderungan tidak pulang. Memang tidak valid sih, tapi yang saya rasakan di Malang, Jogja, Purwokerto dan Cirebon demikian. Mungkin perlu survey dan penelitian lebih lagi tentang pola mudik.
3. Pengangguran dan tidak adanya pekerjaan merupakan masalah paling sering ditemukan saat bertemu orang-orang di daerah. Walau agak kontras dengan justru semakin tingginya budaya konsumtif didaerah. Semakin banyaknya Alfamart, Rental PS, Minuman keras. Mudik selalu mengajak kita untuk melihat realita kehidupan sosial dengan lebih terbuka.
4. Perjalanan membawa bayi selalu memberikan pengalaman yang berharga. Banyak kesalahan yang kami lakukan, mulai dari barang bawaan yang terlalu banyak. Pentingnya membawa termometer dan obat-obatan hingga jadwal balik lebaran PRT. Azkia menempuh perjalanan yang cukup berat, terutama perjalanan darat Malang-Jogja. Perbedaan suhu antara Bintaro, Malang, dan Jogja membuat dia seringkali panas dan rewel bila malam tiba.
5. Nilai baru dalam berkeluarga. Ya, karena status saya kepala keluarga dengan satu anak. Rasanya ini juga pengalaman baru yang harus saya pelajari. Ternyata posisi saya bukan lagi anak si bapak, ataupun menantu si mertua. Tapi lebih sebagai kepala keluarga dimana fokus dan tanggung jawab utamanya adalah pada istri dan anaknya. Ya perubahan peran ini perlu waktu.
Ada pengalaman tentang perjalanan mudik yang tidak tertuliskan?
Bintaro lepas subuh


setuju sekali dengan point no 3 mas anjar.
Saya juga mudik ke daerah pelosok di sumatra dan persis seperti itu yang saya temui.
Salam kenal
azka
Oktober 8, 2008 at 2:44 am
alfamart dan indomaret sudah merambah kota2 kecamatan..
harga2 yang bisa sangat murah sudah membuat toko2 kecil disekitarnya mati ( paling tidak di kampung saya seperti itu ).
seharusnya pemerintah kota (atau pusat) memperhatikan hal ini. Retailer besar seharusnya tidak menjamah kota2 kecil.
dragz
Oktober 8, 2008 at 3:47 am
perjalanan mudik saya dari bandung ke malang lewat jalur selatan, dan ternyata untuk urusan jalan raya yang paling parah tuh di Jawa Tengah..jalannya jelek, jarang rambu, terutama di Solo wah…bisa bikin nyasar sampe berkali-kali, karena petunjuk arah hampir gak ada, dan kalopun ada ditaruhnya dibawah yang gak keliatan.
kalo fenomena alfamart dan indomart saya lihat hampir dimana-mana, bahkan dipelosok bayah (banten bagian ujung)pun yang mananya alfamart tuh ada…meskipun ada manfaatnya buat saya yang mudik, tapi tetep aja kasian pedagang kecil.
Macet pas balik ke bandung…wah….itu jadi pengalaman paling buruk deh..bayangin aja dari solo ke bandung 24 jam…..
ren
Oktober 8, 2008 at 4:34 am
ada lagi, bagi yang lewat jalur darat, ketemu dengan gambar sutrisno bachir di sepanjang jalur mudik :-)
andrias ekoyuono
Oktober 8, 2008 at 4:45 am
@ andrias > gambar gambar caleg juga seabrek mas..
mybrainsgrowell
Oktober 8, 2008 at 8:23 am
Mudik saya kemren ke Situbondo Jatim Jalur yang sebenernya susah lewat apapun cos mentok2 mesti lewat jalan darat SBY-STB yg notabene sempit lewat lapindo yg macet dan panas apalagi..
Angkutan yang saya tumpangi juga lengkap ky Mas Anjar berangkat pas di peak season 26 Sep 2008 jam 18.00 By Gumarang — Nyampe Pasar Turi esok harinya jam 08.00 –lanjut Bis Sby Bungur situbondo (7jam-an) persis jam 4 sore nyampe di tanah kelahiranku tercinta.
Rute balik lagi-lagi pas di peak season 5 oct 2008 kali ini mampir2 dulu. Situbondo-Pandaan (5jam) nginep semalam –> Pandaan- Sby (1,5jam) –> Lanjut JUanda 21.00- Jakarta 22.10 (1jam 10menit) lanjut Damri-Gambir (45menit) terakhir Taxi Gambir-Setiabudi (Tepat jam 00.00)….Sangat Melelahkan tp begitu menyenangkan.
anis
Oktober 9, 2008 at 6:21 am
perjalanan memang masih panjang. akankah kan terus begini ceritanya?
zetta172
Oktober 9, 2008 at 8:55 am
salam. numpang lewat dan baca……mudik menjadi budaya baru orang indonesia saat berlebaran..maklum memang banyak sekali perantau yg mengau nasib di kota-kota besar. trmasuk saya, tapi saya nggak mudik tahun ini.
pks benda baru
Oktober 13, 2008 at 11:22 am
Huffff……berat bgt salam kenal Om. Maen2 dunk ke kerajaan ratu yah….
vevelove
Nopember 6, 2008 at 8:30 am
mudiknya digeser ke long weekend yg lain … cari low season
jim
Januari 27, 2009 at 6:05 pm