Untung rugi kuliah S2 di UI
Buat yang tertarik untuk mengambil program S2, ada baiknya mempertimbangkan untuk mengambil program S2 di UI. Mumpung sekarang sedang periode pendaftaran untuk tahun ajaran 2009 nanti (kuliah sekitar Februari 2009). Menurut saya S2 ini sangat menguntungkan, apalagi dengan biaya cukup terjangkau, kecuali ada budget untuk MM yang jauh lebih mahal, bandingkan dengan MM UI yang 70-80juta (CMIIW)
Periode pendaftaran: 13 Oktober 2008 – 28 Nopember 2008
Biaya pendaftaran: Rp. 500.000
Kampus: Salemba / Depok
Biaya: http://www.pps.ui.ac.id/bop-06.htm
lama kuliah: 3 Semester
Ilmu Komputer: 7-10 juta/semester
Ekonomi: 9-10 juta/semester
Detail di: http://penerimaan.ui.ac.id
Mungkin ada yang punya pengalaman lain dengan program S2? konon permintaan S2 untuk tahun ini akan meningkat mengingat cukup banyak institusi yang mewajibkan pengajarnya terutama dari praktisi untuk punya S2, sebelum bisa memberikan pengajaran di kelas.


AFAIK MMUI itu in total biayanya udah lebih dari 100 juta (untuk 2 tahun). Saran lain coba MM Prasetya Mulya
Amir Karimuddin
Oktober 16, 2008 at 3:39 am
thanks infonya.. moga bisa kuliah lagi
triyani
Oktober 16, 2008 at 11:22 am
apa bedanya MM dengan S2?
Forum Investor
Oktober 16, 2008 at 1:31 pm
S2 UI?
Kerennnn…….
Tapi pilih mana:
1. S2 UI jadi pegawai… atau
2. Diploma…, tapi jadi bos…
Salam.
imankristen
Oktober 17, 2008 at 2:20 am
Mungkin saat ini anda bs menjadi Bos dengan title diploma. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan tinggi itu sangat diperlukan. Pengalaman dengan ditunjang oleh pendidikan yang tinggi akan sangat memuaskan.
Aprina
Oktober 6, 2009 at 9:57 am
Ya.. jelas diploma jd boss lah..
pinter itu perlu.. tp pinter ngatur orang itu sangat perlu
Suhada
Oktober 27, 2009 at 9:51 am
mending S2 dan jadi bos
adit
November 8, 2009 at 6:51 am
thanks mas anjar untuk infonya
tatari
Oktober 17, 2008 at 2:24 am
MM UI emang ga terlalu besar SPPnya tapi memberlakukan bahwa tiap SKS ada mbayarnya.
Mending MTI UI walau bukan dari ilmu komputer ga susah koq ngikutin kuliahnya :)
boediarto
Oktober 17, 2008 at 2:24 am
pak bodeiarto dari non IT jg ya ? masuk tahun berapa pak ? mohon ijin share pak, secara sy dari non IT jg
thx
Harri
Juli 26, 2009 at 11:59 am
..duh capek deh…sekolah sampai S2 tapi tetap jadi pegawai,..mending bodho tapi bisa jadi boss…punya duit bisa gaji karyawan…..bisa menghidupi keluarga karywannya,..coba deh 10 semester@10 juta..udah 100 juta…,itu kalau mau buat usaha bisa jadi..jadi mending bodho tapi punya duit dari pinter tapi masih cari duit…silahkan dipikir–pikir lagi bang
wong bodho..
Oktober 17, 2008 at 4:56 am
..wah…nek aku pribadi setuju banget karo pendapat’e wong bodho…lha wong sekolah mahal-mahal,lha nek sudah selesai masih jadi pegawainya orang lain,..lha habis itu setelah kerja mestine pikirane masih mikir kapan modal sekolahku balik,..lha ini mendorong bekerja yang tidak kompeten,.akhirnya..ya mohon maaf ya..korupsi..kkn.lan kanca-kancane..mending duit 100 jt itu dibikin buat usaha yang bisa menghidupi orang banyak..lebih mulia…jadi bener banget kata wong bodho ” Mending bodho punya duit dari pada pinter tapi masih cari duit “..mohon maaf lho bila tulisanku gak berkenan..namanya khan berpendapat ya boleh2 saja tho..suwun mas Anjar
bocah ndeso
Oktober 17, 2008 at 7:09 am
imho: kynya lebih enak lagi kl “jadi orang pinter trus banyak duit..” makin cerdas orang kan makin kreatif, sehingga bisa nemuin banyak alternatif tuk jadi kaya (tanpa harus korupsi tentunya). kl banyak duit tp bodo, percuma. pasti nantinya abis sia2 krn ga punya ilmu tuk ngelolanya.
sista
Mei 25, 2009 at 8:24 am
Mau jadi pegawai ataupun pengusaha, yang penting itu tujuan hidupnya. Kalau dengan jadi pegawai tapi bisa terpenuhi tujuan hidupnya, kenapa gak? Kalau pengen sekedar jadi pengusaha karena cuma pengen duit banyak, boleh2 aja gak ada yang melarang.
Cuma menurut saya entrepreunership is overrated.
jery
Agustus 5, 2009 at 7:18 am
setuju … mau jd entrepreneur itu kn pilihan hidup… lu mau ngumpulin modal trs ngumpulin modal lg mpe botak itu pilihan hidup lo yg pgn jd seorang kapitalist(pemegang modal) yg mengeksploitasi tenaga kerja dgn mengambil surplus dari mereka.. sori y nyindir… hbs situ nyindir para akademis duluan yg pgn ngelanjutin S2…anda loyal terhadap usaha anda.. kami loyal terhadap akademik kami.. anda ingin komoditas dan mengejar komoditas anda sampai anda gulung tikar (business cycle).. kami ingin mengejar ilmu sampai kami ompong… we have a different path, so who are u to judge?
sigit
Oktober 27, 2009 at 2:31 pm
Kalo sekolah terus, kapan ekonomi kreatifnya tercapai, paling ujung2nya kerja di perusahaan asing dgn gaji gede, mis. oil company. Alhasil SDA kita habis dikeruk sama mereka.
Coba bisa kreatif dan mencoba utk kreatif menciptakan produk2 unggulan, membuka usaha, bisa membantu teman2 yang kurang mampu (pendidikan n finasial) untuk bekerja dengan kita.
Kalo uang 80juta bisa dibuat sesuatu, kenapa maksa sekolah tinggi2 tapi mental ttp jadi kuli???!
Julie
Oktober 29, 2009 at 4:23 am
Kalau gw lebih berminat ke ITB atau UGM nkali ya? Soalnya biaya hidup di Jakarta patut dipertimbangkan juga :)
devry
Oktober 17, 2008 at 10:34 am
Hmm hitung-hitungan yuk.
Kalau dengan duit 100 juta kuliah di MMUI menurut saya terlalu mahal, dengan uang yang sama, sebenernya kita bisa kuliah di Eropa, kemudian jika anda qualified, bekerja di sana. Balik modalnya berlipat-lipat.
Contoh ambil master 2 tahun di Perancis, saya ambil contoh di kota saya tinggal dan anda mau ambil Master Certificat d’Aptitude à l’Administration des Entreprises – M2AE (Professionnel)
- Tuition fee 2 tahun : 800 euros termasuk social security
- Room/bulan : 120 euros x 24 bulan = 2880
- Makan : 4800
- buku dan fotokopi : 1000 euros
- transport : 800
total = 10.280 euros->135,199,389.58 rupiah
Kalau anda ambil Ecole d’Ingenieur semisal
Ecole Nationale Supérieure d’Ingénieurs en Informatique, Automatique, Mécanique, Energétique et Electronique – ENSIAME, maka tuition feenya akan lebih tinggi, sekitar 2500 euros/2 tahun, tapi dengan diploma Ingenieur, akan lebih mudah bekerja di Perancis setelah lulus.
Jadi total biaya untuk ambil Diplome d’ingenieur adalah : 11.980 euros-> 157,820,430.55 rupiah
Untuk Di Jerman, saya rasa tidak jauh berbeda karena di Jerman bahkan tuition feenya lebih kecil tapi tidak ada tunjangan sosial untuk apartemen.
So dengan modal yang sama (100 jutaan) anda bisa mendapatkan kualifikasi Eropa dan bekerja di Eropa.
Tentu saja diasumsikan, anda sebelumnya bisa berbahasa Perancis atau Jerman, karena sekolah yang saya maksudkan diatas bukan international program.
Jika anda percaya kemampuan diri dan memiliki luck yang cukup, lebih murah lagi jika anda mau sedikit bersusah payah berburu beasiswa, dengan modal 110 dollar (TOEFL) ditambah 20 dolar untuk biaya pengiriman dokumen, anda bisa mendapatkan master kemudian berburu pekerjaan di Eropa. Tapi masalahnya untuk mendapat beasiswa anda harus memiliki prestasi akademik yang sangat baik (GPA>3.5 dari universitas top), nilai TOEFL >600, juga pengalaman akademik, society riset dan profesional yang cukup. Dan faktor LUCK juga sangat berpengaruh disini….
adhiguna
Oktober 17, 2008 at 12:10 pm
wah bos, tertarik nih untuk penjelasan lebih lanjut…
tapi klo bisa negara yang bahasa inggris aja ada ga?
klo bisa tolong hubungi saya di sfelesia@yahoo.com
thx
Sinta
Agustus 10, 2009 at 3:55 am
Ehm..sudah diriset betul kah biaya keseluruhan kuliah eropa sana segitu? Cost of living di eropa sangat tinggi..perhitungan nilai tukar yang anda buat juga terlalu optimis dengan menilai nilai tukar saat ini tanpa ada perhitungan resiko fluktuasi. Belum lihat kepulangan besar2an para mahasiswa kita karena jatuhnya rupiah atau naiknya nilai tukar ya?
makan 6 euro, sehari? di eropa? sepotong burger saja sudah seharga 18 euro hmmm…
Berdasarkan pengalaman sendiri …cost of living di perancis dan jerman…wow..kecuali anda dapat beasiswa full. Belum biaya transportasi berangkat dan pulang ke indonesia..hampir 25 juta untuk satu kali perjalanan…
Buat teman-teman, silahkan persiapan yang matang dan cari info lebih mendalam terkait dengan kuliah di luar negeri. Kalau biaya terbatas dengan 100 juta itu masih bisa buat modal kuliah di luar dengan catatan full beasiswa…
kecuali kuliah di Australia atau singapura..monggo..
Maaf..bukan maksudnya mengecilkan, tapi gambaran realistis situasi mesti dikedepankan supaya jgn sampai ada teman-teman yang terlantar di negeri orang..
Selamat berjuang!
eko
Oktober 15, 2009 at 4:16 am
bukannya orang eropa rasis ya?susah banget jadi tenaga kerja disana, ga segampang itu mas. tmn saya cum laude dari univ terkena di UK disuruh balik ke indonesia juga padahal dia dari biaya sendiri, bukan beasiswa
lya
Oktober 24, 2009 at 1:56 am
Salam
Duh makasih infonya nie, ingin banget kuliah lagi :)
nenyok
Oktober 18, 2008 at 2:21 am
spoiler alert: S2 emg do-able dlm 3 semester.. tapi harus siap mental utk kurang tidur & kurang gaul (been there done that :p)…
tapi, imho, sblm memutuskan utk ambil S2, sebaiknya dipertimbangkan dulu motivasi pribadi, jurusan yg akan dipilih (+ univ nya), dan pilihan karir ke depannya..
hehe, akhirnyaaa.. ada jg yg bisa aku komentarin dr blog nya anjar :)
aNna
Oktober 18, 2008 at 4:04 am
Mending antar sekolah dan jadi bos tanpa sekolah jangan dipertentangkan. Memang betul sekolah bukan jaminan jadi orang kaya, paling tidak sekolah melatih berpola pikir sistemik dan sistematik dan kemudian anda jadi punya networking, yg mana kalo utk berwirausaha jadi manfaat. Anjuran saya ambil positifnya semua, memang kalo terlalu mahal (kaya mmui) anda musti mikir 2x… lbh baik jangan. Tp kalo yg lain yg masih terjangkau sy kira baik juga diambil. Kuliah itu seneng lo banyak temen baru … Enjoy schooling…
koestoer
Oktober 18, 2008 at 4:09 am
busyet itunganya ratusan juta?? :matabelo:
dobelden
Oktober 18, 2008 at 4:49 am
klo pengen cari jadi pegawai si mending g kuliah, soalnya pas kita selesai kuliah, tp g jd pegawai malahan lebih rendah, siap g>?
hehehe
s2 diamna aja yang penting selipkan niat ikhlas dan segudang prestasi kita sekolah, insya Allah rezeki bakal datang sendiri, karena orang bakal mencari yang berprestasi bukan yang hanya dengan mudah mendapatkan title s1,s2 ato s3.
saya ada dapat cerita dari doktor dikuliah sy (s1) klo kita mencari ijazah maka yang kita dapat hanyalah ijazah dan dunia. klo karena Allah insya Allah dunia dan akhirat kita dapatkan.
lebih parah lagi kata beliau, :kalau kita berani membeli ijazah (mendapatkan dengan mudah dengan cara sogok) maka apa yang kita tanam maka besarnya juga dari benih itu. selamanya kita dililit rantai dosa. hanya karena kesalahan kita yang dinilai g seberapa.
so s2 dimana aja……yg penting bisa bermanfaat bagi orang lain, tidak membodohi masyarakat. moga indonesia kita bisa bangkit….jangan sampai kalah dengan jepang yang negara pulaunya hanya kecil….
salam knl,
hafidzi
Oktober 18, 2008 at 6:48 am
Sebaiknya memang jangan dipertentangkan antara sekolah lagi atau menjadi pengusaha ( jadi bos ?). Pendidikan itu penting, dan murah atau mahal itu kan relatif. Seorang pengusaha yang memiliki knowledge dan know how yang dalam dan luas tentunya lebih punya peluang untuk melahirkan dan mengendalikan perusahaan yang berkarakter kuat. So, jadi pengusaha intelek saya rasa pilihan tepat, bukan ?
Maximillian
Oktober 18, 2008 at 6:54 am
Setuju banget… Pendidikan yang tinggi tidak selalu identik pencapaian uang yang banyak. Tapi pendidikan bisa buat bekal kita untuk membuat judgement lebih baik, dan mencari solusi dari setiap kesulitan yang dihadapi. Baik sebagai boss atau employee. Buat Bang Anjar, keren banget blog-nya.
Mekani Dewasari
Agustus 28, 2009 at 5:27 am
buset…. mahal amat ….
Muda Bentara
Oktober 18, 2008 at 7:03 am
gak usah diperdebatkan sekolah tinggi atau gak. semua baik tergantung pilihan dan niat kita.Emangnya bos doang yang derajatnya tinggi, pegawai juga penting peranannya dalam membangun bisnis.
saya setuju dg adhiguna kalau mang mahal mending ke luar negeri. sdh dapat kualitas luarnegeri, pergaulan luarnegeri, nguasai bahasa asing, wawasannya luas. dll.
btw, kok jurusan MM selalu lebih mahal dari jurusan S2 lainnya ya mas? apa sih kelebihanya? apa di jamin makmur kok sampai jual mahal gitu ya?.
salam
ARI
Oktober 18, 2008 at 8:33 am
kalau saya memang kepingin banget bisa kuliah s2 tapi niatan saya bukan untuk cari nama, gagahan saja, atau cari gaji yang lebih dengan ijazah s2. tapi untuk lebih bisa mendalami disiplin ilmu yang aku kuasai toh untuk nantinya jadi orang berduit atau gak itu ada yang ngatur.aku kurang setuju sama pendapat wong bodho sama cah ndheso kalau sekolah tujuan cari uang ya gak usah sekolah aja bisa kok jadi bos. jadi intinya..belajar itu untuk bisa mengembangkan ilmu yang kita miliki sehingga kita bisa memberikan sesuatu yang berguna atau bermafaat bagi pekembangan umat manusia .
darie
Oktober 19, 2008 at 2:49 am
pilihan menjadi bos tidak ada salahnya, tetapi kalo menjadi bos plus berpendidikan dan berpengalaman kan malah lebih hebat :). saya ambil contoh di tempat saya tinggal di india, dengan kualitas pendidikan bagus dan biaya murah masyarakat disini dengan mudah mencapai jenjang s2. kebanyakan yg mempunyai background IT atau management mereka mencari kerja keluar negeri dan setelah mendapat pengalaman 10 – 15 tahun mereka kembali ke india dan start-up company sendiri :). terima kasih.. semoga bisa menjadi masukan :).
dsnugraha
Oktober 19, 2008 at 6:43 am
KUliah di UI mahal dan sangat berat. Tapi kalau cari prestis boleh lah….. apa lagi buat orang daerah kayak saya…
dsatria
Oktober 19, 2008 at 4:18 pm
Mohon infonya, kalau untuk magister Teknologi Infomasi kelas malam, statusnya bagaimana, kalau di pakai melanjutkan untuk ke jenjang S3 misal di Luar negeri. apa memilihi status yang sama dengan reguler.
terima kasih.
andreas
Oktober 20, 2008 at 2:18 am
100 juta :O
60 juta buat beli mobil seken, 40 juta buat spp :D
haikal
Oktober 20, 2008 at 2:44 am
lebih baik punya pengalaman kerja dulu, baru kuliah S2. Jangan fresh graduate S1, langsung S2. Bingung cari kerjanya.
doel
Oktober 20, 2008 at 3:07 am
mes amis
*doel
gw setuju banget ama komentarnya doel.
gw juga ada rencana kaya gitu….
panji rah.a
Oktober 20, 2008 at 3:35 am
Ada rekomendasi g, untuk ambil program S2 (dual degree) di Swiss German University (SGU) di BSD. Please info yah..tks
reni
Oktober 20, 2008 at 4:06 am
ngejar s2 terus jadi pegawai negeri emang kenapa? duit mulu nih.. cape deh… nyari ilmu kali2 kek buat mengabdi pada indonesia… supaya indonesia maju.. (idealis mode on)
tapi saya masih gak ngerti,,,, kok mas pri seakan2 membedakan MM dgn S2.. emangnya beda?
ganis
Oktober 20, 2008 at 4:07 pm
beda donk kalo kita dan institusi yg lebih mengerti ..tentunya lulusan S2 UI akan ngaruh tuh dari sekian perguruan tinggi lainnya …apalgi lulusan dr luar negeri ,kalo di Partai itu bisa jadi Caleg loh …
Dewanto
Juni 1, 2009 at 9:31 am
Mending S2 ato ikut kursus2 yang mendukung kompetensi kita yah -dudududu- kalo prediksi untuk beberapa tahun ke depan (taruh 5-8 tahun) masih bekerja di level teknis, saya rasa ikut kursus (+ ambil sertifikasi) lebih baik, kecuali kalo mau balik kanan jadi dosen, merintis aja dulu dari Asdos, asdos di yk, saya rasa pilihan bagus, suasana juga mendukung untuk kuliah s2..
r_aelk
Oktober 21, 2008 at 1:44 am
waduh pusing nih…..ngambil S2 gak ya…masalahny saya ngerasa masih kurang nih ilmunya….terutama di IT…jadi tolong kasih recomendasi ke saya….saya mesti ambil s2 dimana ya..
R3tn0
Oktober 21, 2008 at 6:43 am
Gw kecewa banget ama bagian pelayanan pasca sarjana UI, coz waktu gw dateng buat cari tau informasi yang lebih lengkap bwt S2 gw di cuekin aja gitu……..
Rachman
Oktober 21, 2008 at 2:13 pm
mungkin juga masyarakat indonesia sebagian besar cuma yg ada rasa ke ingin tauan kita akan sesuatu yg baru , jadi kalo cuma mo tau doank ..itulah ciri2 kita yg belum tentu mo daftar kuliah …jadi di cuekin deh
Dewanto
Juni 1, 2009 at 9:36 am
@ Adiguna
Walah-walah ngajak itung-itungan. Bagi yg luck dan mau kuliah lagi: bisa juga minta kursus dibayar.
Contoh: di IUT Le Creusot, buka program “Année Specialisée – Technique Commerciale), kursus 1 tahun, yang bayar ANPE/ASSEDIC. Kuliah gratis, malah kitanya digaji sebulan 760€. Magangnya juga dibayarin.
@ semuanya
Mending aku kursus potong rambut saja. Kursusnya yang digaji lagi. Karena di Perancis semua orang pada ngaya-ngaya. Motong rambut cowok (15 menit) bisa narik duit 15-20€.
juliach
Oktober 21, 2008 at 2:13 pm
Kuliah S2 di UI memang TIDAK mahal. saya sudah lulus S2 dari MTI-UI, lama pendidikan adalah 3 semester, total jendral biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan ini adalah 35an juta.
Perincian :
Semester 1: 13 something juta.
Semester 2: 10 juta
Semester 3: 10 Juta.
Buku-buku paling mahal juga 1 juta persemester. Info lebih lanjut lihat di http://www.mti.cs.ui.ac.id.
Salam
Hananto Swasono
hananto
Oktober 22, 2008 at 7:05 am
Update dari last info nya Mas Hananto ..
Sekarang (2008) UI S2 Teknik Industri – utk kelas Jumat malam dan Sabtu – Salemba:
Semester 1 = 17jt
Semester 2 = 11-an jt (estimated)
Semester 3 …..
Kalau yg kelas Depok (reguler) lebih murah 1-2 juta an.
Soalnya skrg lagi ambil … akhir nya kesampaian juga kuliah lagi :). Kalo lulus .. moga2 sama kaya’ Mas Hananto ya … 3 tahun … amiiiiiiin …..
Sigit
Oktober 22, 2008 at 4:53 pm
mendingan kuliah di STIEKU ASMI untuk S2 persemester cuma 2,5 jta dan punya nama lagi …..
Dewanto
Juni 1, 2009 at 9:50 am
koreksi Mas Sigit..
lulus jangan sampai 3 thn…cukup 3 semester. Semester 1 dan 2 ngebut kuliah. Kemudian semester 3 mata kuliah yang diambil cukup sisanya, dan fokus di thesis. Thesis kalau niat dikerjakan dan konsultasi dengan dosen pembimbingnya intens, 1 semester juga selesai, tanpa mengorbankan kualitas.
Sukses menjalani kuliah untuk Mas SIgit.
Regards
Hananto
hananto
Oktober 23, 2008 at 1:16 am
gw masuk kom-ui cuma 1 semester, dgn penghasilan bersih 35 juta, keruk beasiswa dr mana-mana, haha…
udah gitu gudbai deh… buka usaha, nyam nyam nyam……
tukang proposal
Oktober 23, 2008 at 6:05 am
Ribut terus sekolah2…udah dibilangin..kapan majunya nih bangsa kl gak ubah pola pikir…nih Pak Wapres aja bilang sama
Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui, hingga kini pertumbuhan jumlah
pengusaha pribumi berjalan lambat dibandingkan dengan pertumbuhan
jumlah pengusaha nonpribumi. Ini karena minat lulusan universitas di
Indonesia masih sedikit yang ingin menjadi pengusaha. Banyak diantara
anak – anak keturunan pribumi lebih memilih menjadi pegawai negeri
sipil atau seorang tentara.
bocah ndeso
Oktober 24, 2008 at 1:32 am
ALHANDULILLAH dapet info bagus, istri saya pengen s2 he2
gusbud
Oktober 24, 2008 at 4:06 am
ikut ikut
BIG SHOW
Oktober 24, 2008 at 4:43 pm
Maaf sebelumnya jika melenceng ke ugm :).
Background saya s1 jur mi ( skom, unikom lulusan 07).
dgn mengeruk tabungan plus pendapatan usaha net per bulan saya yakin bisa membackup biaya perkuliahan saya selama s2.
Kebetulan saya baca brosur ugm ada itu magister ilmu komputer dan magister manajemen informasi (kelas khusus).
mudah2 an di sini saya bisa dapat informasi dan pencerahan ttg 2 program s2 tsb. Jadi saya bisa mantab pilih yang mana.
minggu depan juga saya survei ke ui, pastinya akan nanya lagi di blog ini :D
jimmi
Oktober 25, 2008 at 5:56 am
di jaman yang serba kompetitif ini, s2 sangat sekali diperlukan :)
joni
Oktober 25, 2008 at 7:20 am
semoga makin banyak program beasiswa s2.
anto
Oktober 25, 2008 at 7:22 am
maju terus negriku. pendidikan kita harus maju
jarot
Oktober 25, 2008 at 7:24 am
Terus terang, saya bingung, kenapa hari gini masih ada yang mempertentangkan antara sekolah dan berbisnis.
Apakah kalau berbisnis itu harus berpendidikan rendah ? Lantas apakah kalau berpendidikan tinggi lantas gak bisa berbisnis ?
Ini pola pemikiran yang aneh menurut saya. Kalau meminjam konsep Jim Collins, namanya the tyranny of OR, atau mengdikotomikan sesuatu yang kelihatannya seolah-olah adalah pilihan, padahal bisa diraih dua-duanya … masalahnya, hanya pilihan ..
Berbisnis kan tidak selalu berarti buka warung bakso atau sejenisnya kan ? bisa juga jadi knowledge entrepreneur seperti konsultan, dsb … apalagi di zaman knowledge economy atau creative economy sekarang kan ?
Sekarang sudah muncul generasi baru entrepreneur di era knowledge economy atau creative economy, dan salah satu ciri khasnya adalah, mereka sangat well-educated …
Jadi, kalau gak mau sekolah, ya gak usah aja, he he he .. jangan bawa-bawa berbisnis sebagai alasan … kalau mau dua2nya, ya lakukan saja … ya nggak ?
yang penting, jelas VISI hidupnya mau jadi apa … he he he … :)
RIRI SATRIA
Oktober 26, 2008 at 12:21 pm
pak, saya seorang programing, ada niatan s2 di UI, tapi masih ada tangguangan 2 adik saya yg mestisaya bantu biaya perkulihan mereka, adakah peluang beasiswa s2 yang bapak ketahui. dan berapa persen kemungkinan mendapatkan beasiswa tersebut, peluang dan probabilitasnya. makasih pak atas jawaban nya..
martha
Juni 23, 2009 at 2:35 am
*doel
kalo kata situ bingung cari kerja setelah s2, mungkin strateginya gini aja, sekarang buru2 cari kerja sama daftar s2,,,abis itu jalanin secara paralel deh nanti, pagi – sore kerja, malam kuliah s2…kalo ngerasa itu bakalan berat nanti, kita simak kata2 mario teguh
>> masa tua seseorang itu susah karena masa mudanya tidak bekerja keras
hehehehhe…
pendapat mas ndesho sama wong bodho itu terlalu pesimistis terhadap pendidikan bangsa ini..lah wong orang2 sukses yang ga sekolah itu bukannya dia ga sekolah,,tapi dia sekolah dari pengalaman hidupnya..dia bisa gitu karena otak kanannya jalan, lah kalo sampean ikutin jalan itu tapi otak kanan sampean ga jalan ya sama aja boong…
setau saya s2 itu untuk memperdalam ilmu loh, bukan untuk modal cari kerja yang kompeten,,insyaAllah kalo ilmu sudah kita pegang, dan kita yakini itu jalan hidup kita,,pola pikiran kita mungkin bukan buat kerja tapi menciptakan lapangan kerja,, kalo pun dia kerja di perusahaan itu harusnya bukan semata2 cari duit tapi mengimplementasikan ilmunya ke dunia nyata dan akan berguna bagi institusi atau organisasi atau perusahaan yang ia tempati…jadi kalo mau kaya itu mah rejeki dari Yang Maha Kuasa…ada orang yang kaya tapi latar pendidikannya cuma tamatan SD, tapi ada juga orang yang kaya dengan latar belakang S2 bahkan S3…semua itu sudah ada yang ngatur,,,jadilah mental orang majuu…
salam
penerus bangsa
Penerus Bangsa
Oktober 26, 2008 at 2:41 pm
to Pak RIRI SATRIA..
Beliau pembimbing saya di MTI-UI untuk thesis, dan kalau menurut istilah basuki…beliau pembimbing thesis yang TOP-MARKOTOP. Salam untuk Pak Riri & Keluarga.
Untuk yang mau lanjut S2, silahkan lanjutkan, dimana ada niat, disitu ada jalan.
Regards
hananto
hananto
Oktober 27, 2008 at 3:15 am
@Penerus Bangsa
Yang bingung cari kerja itu teman kuliah S2 saya, bukan saya (yang kuliah S2 setelah jadi pegawai).
Salam,
Doel
doel
Oktober 27, 2008 at 7:16 am
coba deh pertimbangkan mmugm kelas jakarta. kampusnya di gondangdia. dosennya sli terbang dari jogja dan juga ngajar di kampus2 top lainnya. programnya sudah diakreditasi AACSB (cuma beberapa kampus bisnis top di indonesia yang ikutan ini). uang kuliahnya sd selesai sekitar 55 juta (kelas eksekutif malem) + buku kira2 5 juta. ranking di dunia tahun 2007 no 1 di indonesia untuk ilmu sosial, tahun 2008 no. 3.
lumayan kompetitif kann.. ?
stan juga
Oktober 27, 2008 at 7:45 am
Pegawai tetap = Tetap pegawai, Tapi kalau Pengusaha kecil = Kecil (tapi) Pengu(s)aha.
Pegawai ibarat ikan:
Mau jadi ikan kecil di kolam besar atau jadi ikan besar di kolam kecil?
Mau jadi ekor ikan atau kepala ikan?
Jadi ekor nggak masalah asal jadi ekor ikan paus, dari pada jadi kepala tapi kepala ikan teri. Tapi perlu diingat, bagian ekor itu “goncangan-nya” keras, tapi kalau kepala lebih stabil.
Pegawai tetap
Oktober 27, 2008 at 8:30 am
Kalau ada kesempatan ambil S2, jangan disia-siakan, apalagi kalau masih muda. Nanti kalau terlanjur sudah berumur 50 atau 60, tinggal penyesalan belaka, “kenapa dulu waktu muda saya tidak sekolah S2.”
Percayalah, bersekolah itu tidak pernah rugi (asal sekolah yang bagus ya). Memang perlu biaya, tapi jangan berpikir harus balik modal dalam sekian tahun. Itu investasi jangka panjang.
Mereka yang belum pernah sekolah S2 tapi sudah berbicara negatif (“ngapain kalian sekolah tinggi-tinggi tapi penghasilan toh nggak sebanyak saya yang cuma tamatan SMA/diploma”) akan menyesal suatu saat nanti. Percayalah.
Kinsmart
Oktober 27, 2008 at 10:39 am
Daripada buang2 duit sampe segitu mbok ya mending di infak kan saja…hehehehe…
lagipula gak jaminan S2 kepake, kalo mau mengembangkan pola berpikir ngapain mesti capek2 dan buat buang duit dan tenaga buat secarik kertas ijazah S2. Khan banyak buku2 di yang bisa dibaca otodidak…hehehe…
ada yg kurang IT ya baca aja di internet..udah seabrek2 tulisan tentang IT tinggal pilih mau di bidang yang mana, tehnical or managerial, ditunjang juga dengan certifikasi…
hehehe….sori lho buat yg ambil S2…namanya juga wong ndablek…..
wong_ndablek
Oktober 28, 2008 at 1:11 am
sependapat dgn wong ndableg …kalo istilah kerennya S2 itu semacam Top nya orang yang berhasil pendidikannya ,tapi ada lagi loh yg lebih Top ya S3 ..kalo sampe ke S2 aj udh Top gmna dengan gelar S3 ….yang terpenting lagi kita kuliah tinggi 2 perlu sikap mental ,pandangan dan menerima semua teori manajemen , ekonomi dan bahkan filosofi apalgi kalo sampe S2 bisa kurang gaul sama orang sebelah …lah wong temennya cuma buku 2 doank….
Dewanto
Juni 1, 2009 at 10:03 am
@wong_ndablek
Kalo gitu nanti anaknya Mas wong_ndablek nggak usah dimasukkin sekolah aja Mas, ajarin aja sendiri pake internet. Lagi pula duitnya khan nanti bisa Mas pake buat infak.
pegawaimahasiswa
Oktober 28, 2008 at 4:38 am
Apa bisa ya,,@wongndablek bisa melakukan seperti yg diomonginnya sendiri,,,Dihitung-hitung biaya sekolah SD, SMP, SMA tinggi,,,khan bagus juga buat infak….
Tipa hari ngajar anak di komputer,,trus nyari duitnya kapan,,,Kayaknya kho ngga jalan tuh gagasan,,,
Musolim
Oktober 28, 2008 at 7:26 am
Selain sebagai karyawan di sebuah perusahaan IT, sudah 3 semester ini saya juga mencoba sharing di salah satu Stikom di Jakarta. Kebetulan saat ini saya juga tercatat sebagai mhs S2 semester 1 di MTI-UI.
Menurut saya sih, ga ada ruginya untuk yang namanya belajar, apalagi di tempat yang tepat. Kalau untungnya mungkin ada yang langsung dan tidak langsung. Untung langsung = kebetulan materi2 yang diajarkan berhubungan pekerjaan saya; tidak langsung, Insya Allah ada.
kumay
Oktober 28, 2008 at 7:36 am
Apa bisa ya,,@wongndablek bisa melakukan seperti yg diomonginnya sendiri,,,Dihitung-hitung biaya sekolah SD, SMP, SMA tinggi,,,khan bagus juga buat infak….
Tiap hari ngajar anak di internet/komputer,,trus nyari duitnya kapan,,,Kayaknya kho ngga jalan tuh gagasan,,,
Musolim
Oktober 28, 2008 at 7:57 am
target thn depan ambil s2 IT di UI, tapi duitnya blm ada,he3.
nabung nabung
apkt_nt_ajd
Oktober 29, 2008 at 6:16 am
Gak ada ruginya kok ngambil S2. Apalagi dah lama gak merasakan ruang kuliah. Kuliah umum pertama di MTI-UI waktu itu diisi Pak Jos Luhukay. Wah, rasanya adrenalin langsung naik. Kayak reborn gitu lho :D
Btw, MTI-UI masih 10jt per semester ? murah kok, 30jt++ dah lulus, kalo bisa ngejar 3 semester.
Yhoes
Oktober 29, 2008 at 8:57 am
MH UNTAG JAKARTA Is the best
http://untag.co.nr
untag
Oktober 29, 2008 at 3:02 pm
Mau sharing aja. Gue sangat gak setuju dengan anggapan bahwa sekolah tinggi2 gak ada gunanya. Kalo orang berpikir sekolah itu ujungnya hanya untuk mencari harta sebanyak2nya, menurut gue itu pikiran yg sempit banget. Karena namanya ilmu itu pasti berguna, dan bisa diaplikasikan untuk kemaslahatan orang banyak, tergantung gimana niatnya. Lah bukannya Rasulullah SAW sendiri sangat menganjurkan semua orang untuk berilmu?
Sekarang gue ambil S2 MM, barengan gue ada bapak2 yang umurnya sekitar 40-an awal, dan beliau sangat sukses dalam karir, antara lain direktur untuk perusahaan propertinya sendiri, dan sebagai advokat. Gak cuma itu, beliau juga sangat aktif di salah satu asosiasi advokat di Indonesia. Dia berpendidikan S1 Ekonomi, S1 Hukum, dan S2 Hukum…. and you know what, dia sekarang masih ambil kuliah S2 MM dan S3 hukum.
Jadi yg namanya pendidikan… dipelajari kapan pun dan oleh siapa pun pasti berguna…
Gue sih yakin, Rasulullah gak akan memberi sunah terhadap sesuatu yg akan menjerumuskan umatnya sendiri.
mahasiswa_mm
Oktober 29, 2008 at 3:05 pm
Wajar kalau biaya kuliah mahal, apalagi untuk MM yang notebene pendekatan cost-nya yang non subsidi bahkah diharapkan akan memberi subsidi silang pada jurusan lainnya.
Tetapi saya setuju dengan pendapat gelar bukan yang utama, yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita lebih bermanfaat di masyarakat. Tentu akan lebih baik dengan gelar S2 atau S3 dan memberikan kontribusi maksimal buat bangsa…CMIIW.
Salam
Masrizal
http://www.masrizal-gati.blogspot.com
Masrizal
Oktober 29, 2008 at 3:23 pm
Antara sekolah dengan menjadi “boss”.
surat Antigone kepada Creon:
“alangkah mudahnya memimpin suatu negeri yang isinya orang-orang bodoh saja”.
jadi, orang yang membuat pertentangan semacam itu adalah:
1. bila ia menjadi Pemimpin (“Boss”), maka ia kemungkinan besar akan menjadi pemimpin yang zalim, anti kritik, dan tentulah oteriterian. besar kepastiaanya bahwa ia hanya mampu “melihat sejauh mata memandang” saja. padahal masih banyak hal-hal yang diluar jangkauan pandangan matanya.
2. orang yang sesat dan menyesatkan. argumen itu sendiri mengandung paradok, seperti paradok “Liar Paradok” yang terkenal. bagaimana anda bisa mempercayai kebenaran “argumen” seseorang yang tak menghargai ilmu dan pengetahuan.
untuk kuliah di prancis (adiguna):
1. apakah biaya2X itu sudah semuanya?! bagaimana dengan proses mendapatkan visa-nya (seperti mendapatkan penjamin, Bank garansi, DLL)? bisa kasih tips gak (hehehe). maklum jaman sekarang di indonesia banyak penipu untuk urusan apply Visa ke kedutaan (mungkin karena banyak orang indon yang “nabirong” (nafsu birahi merongrong) “kebelet” pengen jadi “Boss”).
2. kalo mau ngambil S3 bagaimana ya syaratnya?
kalo ngambil S2 sebaiknya jangan langsung dari S1. cari pengalaman dululah. bukan karena masalah setelah kul mau kemana?!. tapi karena pengalaman sangat bagus n berharga dalam penyusunan tesis. tesis kita jadi lebih aktual dan “dekat” dengan permasalahan “hidup sahari-hari”. (gak melulu konsep – kalo konsep cari aj di literatur).
untuk S2 di UI:
S2 UI TOBZ!!!kecuali sekretariat S2-nya!!!
adytia
Oktober 29, 2008 at 4:18 pm
@Adytia…
1. Untuk mendapatkan Visa ke Perancis tidak sulit, asal sudah mendapatkan Acceptance Letter, bukti pembiayaan (rekening Bank, beasiswa etc). Yang agak susah adalah setelah sampai di Perancis, anda harus membuat Titre De Sejour (resident card sementara). Untuk itu anda harus berkomunikasi dengan bahasa Perancis dengan orang-orang paling nyebelin dan birokratis di dunia (lihat di Blog saya). Untuk penjamin,anda bisa membujuk profesor anda untuk menjadi penjamin.
2. Mendapatkan PhD di Perancis tidak sulit, yang penting anda bisa berbahasa Perancis sedikit-sedikit, punya master yang sesuai, punya pengalaman kerja dan riset. Kemudian apply ke profesor/industry yang membutuhkan PhD student, misal Inria :
http://www.inria.fr/travailler/opportunites/doc.en.html
Apply posisi tersebut dengan CV berbahasa Perancis/Inggris.
adhiguna
Oktober 29, 2008 at 7:47 pm
yah semuanya mah pilihan… dan pastinya kita seneng dan mantebbbb dengan apa yang sudah kita putuskan… buat mereka memang yang cinta ma dunia pendidikan, misalnya seorang pendidik ato semacan dosen ata profesor kek sudah pasti sekolah terus untuk menuntut ilmu ya dengan beraneka alasan tujuan yang udah diimpikan… misalnya yar ilmu selama kuliah bisa diajarkan lagi ke orang lain so si dosen bisa lebih bermanfaat bagi orang banyak ^_^ wat karyawan / pegawai juga banyak kan manfaat dari kuliah… yar wawasan tambah banyak yah harapannya biar bisa lebih bijaksana kl mimpin perusahaan ato mimpin anak buahnya… jadi pimpin lebih dengan ilmu… ga cuman “la pokoe yo ngene… ato yo biasane ancen ngene rek”
wat pengusaha kuliah juga penting… ups tapi ga harus seh semua pengusaha tuh kudu sekolah2 sendiri… yah kl aku pengalaman liat banyak juga pengusaha tuh orang2 yang praktis… tinggal cari orang yang pinter trus si pengusaha tinggal belajar & “mengambil” manfaat jadi karyawan yang pinter itu… yah intinya saling membutuhkan…
saya pribadi yang dah pernah mengalami jadi karyawan dan pengusaha lebih memilih jadi pengusaha aja dey dengan berbagai pertimbangan, meskin pada kenyataanya perusahaanku ga sejalan ma kuliah dulu :p… semoga jalan ini lebih berkah aja wat kehidupanku ^_^
karisma
Oktober 30, 2008 at 12:21 pm
Hai mas pri, saya kakaknya resi bismo. menurut saya klo ada uang kuliah aja jangan ragu. Ulama2 penulis buku2 islam banyak kok yang gelar doktor.. jadi jangan ragu. saya alumni MTI UI wah senengnya kuliah di MTI UI dosen2nya nyenengin kecuali sekretariatnya ampun deh!!! japri aja ya klo mau tau! saya bingung juga ya! masak sih cuma baca buku jangan2 nanti salah mengartikan. kayaknya ulama2 jaman dulu juga punya guru cuma bedanya ulama2 itu ngga ada gelar doktornya… kuliah di MTI UI pokoknya gak nyesel deh!!!
Elsy
Oktober 31, 2008 at 2:32 pm
mba ijin share dunk, boleh tak PM ?
thx
Harri
Juli 26, 2009 at 12:06 pm
Weits, posting ini kok jadi kaya reuni MTI UI? Yang reply dari mahasiswa, alumni sampai dosen juga ada :)
Tanpa bermaksud promosi, tapi kuliah di MTI UI memang membuka wawasan, bermanfaat dan menyenangkan,, apalagi setelah masuk semester 2 & 3,, apalagi setelah mulai berkutat dengan tesis,, banyak membuka wawasan baru tentang dunia per-IT-an (IMHO).
Ditambah lagi pembimbing tesisnya Pak Riri, kalau mengutip comment Pak Hananto di atas, TOP MARKOTOP lahh..
So nungqee, semangat yaa!!!! (lohh, salah blog ya? ;p)
aNna
Oktober 31, 2008 at 11:26 pm
ada yang tau tempat kul s2 bisnis yg bagus gak? background pendidikan s1 sy TI, bisa ngambil s2 bisnis gak ya?
neng lia
November 1, 2008 at 4:45 am
hmmm kenapa ga coba nyari beasiswa di jepang?
maksudkyu yang program U to U (antar universitas…..misal…kalo situ lulusan IPB ato ITB….mungkin lebih gampang daftar di hiroshima university…..nyang udeh ada kerja sama nya!)
program U to U ini jelas jaohhh lebih gampang timbang program reguler G to G (biasanya secara nasional plus buanyak benerrrrr interview nya di kedubes!)
kita cuman musti kenal ama prof di kampus aja (malah kadang ga perlu ujian….udeh langsung masuk aja!)
well….problemnya adalah….kalo kita ga bisa nemu (baca : ga kenal) prof penghubung yg di Indo nye!
Tapiiii………..ada lho temenkyu yg sekolah pake modal doa aja plus luck…..NYANG GUEDE!…ginih ceritanya (dohhh kek mo nge dongeng aje dirikyu!) :
sekarang ini kebanyakan uni di jepun…..kekurangan mahasiswa (secaraaaaaaa generasi muda nyee…mualess plus kurang tertarik ama sekolah formal), jadi temenkyu itu random ngirim email ke seluruh prof di jepang (ada kali sehari ….10 lebih email die kirim!…malahan pas pertama kali…..die ngirim ampe 30 orang!).
Nah, kalo mo dpt alamat emailnya sensei/prof nya…coba jalan22 di websitenye. (mrk biasanye udeh naro lengkap!…..coba pilih yg bisa bahasa inggris………….wihihihi secaraaa….langka beneran deh disini yg bisa english…….kerenan orang INDONESIA drehh!)
Pertama kali sihh pasti cuman kenalan22 dulu lah….basa basi…..trus baru dehhh crt tentang riset…..trus lanjut bla bla bla…….
oh yeee ……khusus untuk cewek…..pastiin poto yg dikirim…yg paling kerenn yeee…..soalee…samtaimm……sangking ajaibnye……ada prof sini yg doyan ama mahasiswa cantik!….walo ga bakalan diapa22in juga sehhh!….welll namanya jg USAHA! (ada temenku yg apply beasiswa pake poto lama yg belon kerudungan…….pas nyampe jepun….itu profnye kaget beneran…nerima ibu22 agak melar yg abis kawin plus melahirkan! wihihihi sekali22 nipu penjajah!)
GANBATTE neeeeeeeee!!!!
queenalea
November 1, 2008 at 9:05 am
percuma punya pola pikir yang sistemik dan sistematik atau apalah..kalau gak bisa kaya and tambah melarat cuma buat kuliah. Ujung-ujungnya..Korupsi nilep duit rakyat buat ngembaliin modal kuliah. Mending dipake buat deposito hari tua atau naik haji biar masok surga
BeTe
November 1, 2008 at 5:56 pm
BeTe, anda kok negatif sekali cara pikirnya. Kuliah tidak bikin melarat. Mereka yang melarat itu orang yang tidak punya ilmu, bisanya hanya memikirkan uang dimasukkan deposito…
barney
November 2, 2008 at 1:54 am
Mau ikut kasih komentar nih. Saya sih tidak mempermasalahkan program magister atau apapun namanya, karena setiap pendidikan/pembelajaran pasti punya tujuannya masing-masing. Tapi yang jadi keprihatinan saya adalah masih banyaknya organisasi terutama di pemerintahan yang masih mengutamakan ijasah formal seseorang untuk jenjang karier. Saya melihat banyak organisasi belum menghargai aspek skill dalam jenjang karier. Contohnya ya di tempat saya bekerja, seorang pegawai yang sangat menguasai aspek teknis pekerjaannya-dengan jam terbang dan pelatihan teknis yang dimiliki-dengan gampangnya ‘dikalahkan’ oleh rekannya yang telah mendapat pendidikan S2 di LN dengan program beasiswa dalam jenjang karier. Artinya untuk mendapatkan promosi, seorang pegawai lebih dinilai dari ijasah S2 LN, bukan pengalaman kerja dan kemampuan teknisnya. Saya sering berpendapat bahwa dalam membangun gedung yang baik tidak cukup dibutuhkan arsitek yang baik, namun dibutuhkan tukang yang baik pula. Memang di perusahaan-perusahaan multinasional apalagi yang induknya dari negara-negara maju, program pengembangan SDM lebih maju dan sangat memperhatikan pengembangan teknis/keahlian. Memang fenomena ‘wajib S2′ bagi pegawai, umumnya terjadi di lembaga-lembaga pemerintah. Jujur saja, walaupun banyak rekan-rekan yang bergelar S2 LN di kantor, tapi kok masih terasa sekali fenomena ‘kekurangan SDM yang berkualitas’??
APH
November 2, 2008 at 2:57 am
seribu satu polapikir, bisa sama, bisa juga berbeda. asal semua pola pikir itu di jalankan dengan niat dan ikhlas hati, insyaallah kebahagiaan, kepuasan dan keberhasilan akan tercapai (arti keberhasilan disini bukan menjadi orang kaya!
rugi sekali hidup yang pendek ini, hanya untuk bertujuan menjadi orang kaya.)
kalau kaya hati sich boleh lah.
aida
November 5, 2008 at 5:23 am
wahh utk biaya kuliah sebesar itu rasanya sayang ya kalo tdk bisa dioptimalkan..buang duit percuma, apalagi thun depn rencana b pendidikan akan naek sesuai dengn meningkatnya inflasi..wahhh ckckck..mending buat modal usaha aja dehh
amyrahma
November 5, 2008 at 7:58 am
mohon informasi… u S2 MTI UI apa benar bisa dr jurusan selain ilmu IT…? soalnya sy mo daftar u Manajemen Perbankan sesuai kerja saat ini tp… ilmu IT jg penting bgt u aplikasi di perbankan…
fikri
November 8, 2008 at 8:03 am
kuliah S2 bayar ratusan jut jut…
Kalau emang jalur anda ke S2, jgn tanggung tanggung, seprti pesan adhiguna. go to Europe, DAPET PENGAKUAN INTERNASIONAL UNTUK GELAR S2 ANDA. KERJA DI EROPAH-> SALARY = EXPAT .
ATAU:
JADI ENTREPRENEUR , MEMAJUKAN EKONOMI SENDIRI DAN BANGSA
HA HA HA
Palguna
November 8, 2008 at 8:23 am
ini hanya sekedar masukan dari orang kampung seperti saya. mungkin seharusnya institusi pendidikan memberikan respek untuk peningkatan pemerataan pendidikan dengan cara memberikan jatah satu atau dua kursi kosong yang diperuntukkan bagi kalangan masyarakat umum (lewat seleksi) dengan biaya kuliah gratis hingga selesai tentunya dengan persyaratan yang ketat seperti di stan yang mewajibkan anak didiknya untuk selalu mengedepankan nilai akademik yang selalu berkualitas sehingga anak didiknya selalu berambisi menyelesaikan studi agar tidak terkena drop out. saya pikir hal itu akan menjadi pemicu masyarakat indonesia untuk maju dan kompetitif.
prihardjanto
November 8, 2008 at 2:00 pm
@Fikri, di MTI Fasilkom UI boleh asal lulus ujian saringan masuk. Nanti bagi non-IT ada kuliah matrikulasi.
Kalau S2 Ilmu Komputer UI memang harus dari jurusan eksakta (Math, Fisika, Informatika, T.Elektro).
@ Palguna, kebetulan niat saya memang ngumpulin duit dan pengalaman di Eropa trus balik membangun industri hitech di tanah air. Jadi expat memang enak, tapi tetap saja jadi industrialist di negeri sendiri lebih asik.
Di blog saya, saya nulis sedikit insight tambahan mengenai pendidikan di Perancis.
thx
adhiguna
November 8, 2008 at 2:09 pm
saya setuju dengan Prihardjanto. Skema yang sama diikuti oleh negara maju seperti Perancis dan Jerman.
Di Perancis dan Jerman, sekolah nyaris gratis dari TK sampe Doktor. Tapi susahnya ampun-ampunan (silakan liat blog saya untuk melihat contoh soal ujian SMA di Perancis). Karena itu semua orang bersaing untuk bisa survive, lulus dan mendapatkan pekerjaan.
Silakan membayangkan beratnya kompetisi jika semua orang memliki gelar master. Tapi itu akan membuat negara maju.
adhiguna
November 8, 2008 at 2:17 pm
thx infonya mas adhiguna.. mhn info tmbahan nih ; u fasilkom UI td ntar kuliahnya di salemba atau depok mas? ada kelas malam ga ya?
kuliah S2 juga… kerja juga.. jd pengusaha jg… ( klop dh )
fikri
November 9, 2008 at 7:41 am
Untuk MTI di Salemba only, kelas malam.
Untuk magister ilmu komputer di depok, full time.
adhiguna
November 9, 2008 at 7:18 pm
Tidak ada ruginya untuk Kuliah S2, asalkan tujuannya jelas, dan di tempat yang ‘qualified’. Ada perbedaan BESAR yang saya lihat sendiri, ketika isteri mengambil S2 Ilmu Ekonomi UI dengan Oom saya yang mengambil di sebuah Universitas swasta di Jakarta (tidak perlu disebutkan). Mulai dari waktu/jam belajar, kegiatan seminar, tugas paper, Diskusi, dan Thesis-nya. Intinya, Kuliah Pasca Sarjana itu untuk ilmu dan wawasan agar ada perkembangan karier atau sekedar gelar yang bisa menaikkan golongan di PNS?
Depe
November 10, 2008 at 7:03 am
bener mas… ngambil kuliah lagi mmg u nambah ilmu… kalo u ambil gelar aja percuma… ilmunya yg penting… palagi sy udh 5 th bekerja n mulai sedikit bosan dgn rutinitas kerja… mudah2an dgn kuliah lagi bakal muncul aura baru dgn ilmu baru…
semangat!!!
fikri
November 10, 2008 at 10:57 am
bener mas..
kuliah itu butuh biaya, waktu n tenaga ekstra lebih…
misalnya sy yg udah 5 tahun kerja n saat ini cenderung mulai bosen dgn rutinitas pekerjaan meskipun tiap hari hunting n ketemu org baru n bikin analisa…
insya4jj dgn kuliah lagi bakal muncul aura baru…
semangat!!!
fikri
November 10, 2008 at 11:02 am
pingin sih s2, tapi duit segitu dari mana dapetnya.
Arahman Ali
November 14, 2008 at 2:41 am
mo nanya nih, dari jurusan akuntansi bisa daftar MTI nggak yah..?
soalnya dulu pas lulus SMU pengen bgt kuliah TI, tapi ndak punya biaya, so nyari kuliah gratis,,,,
kuliah yg gratis cm ada jurusan akuntansi…
sekarang dah lulus….mo balas dendam…pengen bgt masuk MTI UI…
dari jurusan akuntansi bisa daftar MTI UI nggak yah..?
please bagi yg punya informasi yg falid
ngepeto
November 14, 2008 at 1:50 pm
Pengen juga nih cari S2, tapi masi ada beberapa hal yg dipertimbangkan. Berhubung niat sekolah lagi untuk benar2 cari ilmu, makanya maunya benar2 efektif dan memiliki arah (baca:jurusan), tidak seperti periode pendidikan sebelumnya, yang sekedar mengikuti arus. Apalagi biayanya juga gak kecil, jadi gak bisa main-main untuk menentukannya. Belum lagi pilihan apakah mau ambil kelas malam atau reguler, karena masing-masing memiliki positif/negatif nya. Kalau benar mau cari ilmu, cari yang reguler, tapi buat dapur dari mana. Kalo kelas malam, kira-kira efektif gak ya buat dapetin ilmu yg maksimal.
Just for thought.
Noverino
November 15, 2008 at 8:46 am
bagosan ambil MM di prasetiya mulya aja….
lagi ada beasiswa tuh…
lumayan kuliah gratisan
fajri
November 15, 2008 at 3:34 pm
@Noverino, kuliah sambil kerja memang sangat berat, dan butuh komitmen untuk melakukannya. Solusinya adalah pilih kuliah yang benar-benar mensupport pekerjaan anda.
Misalnya anda kuliah MTI-Fasilkom UI dan pekerjaan anda adalah software developer. Tentu saja kuliah di MTI mengenai berbagai metode software engineering, management project dan auditing sistem informasi bisa anda terapkan langsung di tempat kerja. Anda bisa membandingkan berbagai macam teori dengan praktiknya langsung di dunia nyata. Real case yang anda temui di dunia nyata bisa anda diskusikan di kelas bahkan anda tuliskan dalam bentuk thesis/paper.
Demikian juga jika anda seorang akuntan/auditor, mengambil Magister Akuntansi tentu akan memberikan anda ide dan inspirasi segar yang bisa anda terapkan di pekerjaan.
Saya bilang justru kuliah sambil kerja, kalau sesuai tentunya, LEBIH EFEKTIF daripada kuliah saja full-time.
Kecuali anda berniat murni menjadi akademisi, bukan praktisi, in that case lebih baik anda mengambil kuliah master berorientasi riset misal Magister Ilmu Komputer di UI, atau M.Phil di UK atau M2 Recherce di Perancis.
Kalau pekerjaan anda tidak berhubungan dengan kuliah, saya rasa sangat sulit dan kurang berguna. Seperti sekarang ada teman saya System Admin yang mengambil masters Microelectronics Engineering, dia keteteran kuliahnya dan setelah lulus masterpun saya rasa tidak ada pengaruhnya apa-apa ke karir dia. Mau apply doktoral pun sulit karena pengalaman riset dia tidak banyak.
So pastikan bahwa kuliah anda memberikan nilai plus bagi anda baik di pekerjaan maupun kemungkinan promosi ke depannya.
adhiguna mahendra
November 16, 2008 at 1:32 pm
ass mas adhiguna mahendra…
mhn informasinya nih… sehub rencana sy u ambil kuliah di MTI UI… skrg sy kerja di salah satu bank swasta sbg Analis Officer… (background accounting), sering krn ga paham ama IT ketika terjadi permasalahan dgn jaringan ataupun komputer yg ada kudu hub bagian IT dulu… jdnya kerjaan kita rada terganggu…
so… jk jd ambil MTI menurut mas adhiguna gimana ya? krn tentunya sy bakalan dpt ilmu baru di bidang IT dan siapa tau malah bs pindah bagian…
wass
fikri
November 17, 2008 at 10:40 am
@ mas Fikri, kenapa tidak mengambil Magister Akuntansi saja? itu jelas akan mendongkrak karir anda.
Ingat bahwa di MTI Fasilkom anda akan diarahkan menjadi profesional di bidang IT management (IT Manager, System Analyst, IS Auditor) BUKAN IT staff, kuliah di MTI tidak terlalu teknis tapi lebih ke paparan teori dan diskusi IT managerial. IT dasar, termasuk Networking dan programming diajarkan tapi hanya yang umum dan fundamental saja. Tentu saja anda akan mendapatkan pengetahuan IT, tapi tidak terlalu teknis dan spesifik.
Mahasiswa MTI rata-rata adalah profesional IT yang berlatar belakang Informatika atau Teknik dan telah berkecimpung di dunia IT selama beberapa tahun dan ingin pindah ke jajaran management sistem informasi.
Kalau anda hanya ingin mempelajari aspek teknis jaringan komputer/system administration/programming sebaiknya anda ikut kursus profesional seperti di Bina Nusantara Training center atau kursus seperti Cisco Networking Academy (ada di Binus dan UI).
Kalau anda ingin pindah karir, bisa saja mengambil MTI. Tapi pastikan bahwa pekerjaan anda sekarang berhubungan juga dengan IT (misal anda jadi berperan juga sebagai system analyst atau auditor IS) sehingga switch career lebih memungkinkan.
Kurikulum MTI 2008 – 2010 adalah sebagai berikut
Semester 1:
IKI81403T Teknologi Sistem Basis Data 4 SKS
IKI81202T Jaringan Komputer dan Komunikasi Data 3 SKS
IKI81701T Proses & Manajemen Rekayasa Perangkat Lunak-3 SKS
IKI81404T Perancangan Sistem Informasi 3 SKS
Semester 2:
IKI82406T Perencanaan Strategis Sistem Informasi 3 SKS
IKI83405T Manajemen Informasi Korporat 3 SKS
IKI82203T Perencanaan Infrastruktur Teknologi Informasi 3 SKS
IKI82901T — Seminar 3 SKS
Semester 3 (Pilihan):
IKI83409T — Manajemen Perubahan & Proyek TI 3 SKS
IKI83903T — Karya Akhir 3 SKS
Konsentrasi Rekayasa Perangkat Lunak:
IKI83704T Rancang Bangun Perangkat-Lunak 3 SKS
IKI83703T Penjaminan Kualitas Perangkat Lunak 3 SKS
IKI8370xT Enterpreneurial Business of Software 3 SKS
Konsentrasi Sistem Enterprise:
IKI83410T — E-Business 3 SKS
IKI8341xT — E-Government 3 SKS
IKI8341xT — Manajemen Risiko 3 SKS
Konsentrasi Tata Kelola TI:
IKI80924T — IT Governance 3 SKS
IKI8341xT — Manajemen Risiko 3 SKS
IKI83407T — Manajemen Investasi Teknologi Informasi 3 SKS
Konsentrasi Manajemen Informasi:
IKI8340xT — Knowledge Management 3 SKS
IKI8340xT — Data Mining and Business Intelligence 3 SKS
IKI8341xT — Manajemen Informasi Multimedia 3 SKS
adhiguna mahendra
November 17, 2008 at 12:19 pm
Berikut tambahan informasi mengenai biaya di MTI Fasilkom UI (dari website MTI : http://www.mti.cs.ui.ac.id)
Estimasi Investasi Kuliah Program MTI UI Semester Gasal 2008/2009
Kelas Siang [14.00 - 16.30 wib]:
BOP (Biaya Operasional Pendidikan) Rp. 10.000.000,- / Semester
DP (Dana Pengembangan, 1x) Rp. 2.500.000,-
DPP (Dana Pelengkap Pendidikan, 1x) Rp. 600.000,-
DKFM (Dana Kesejahteraan dan Fasilitas Mahasiswa)
Rp. 100.000,- / Semester
Total Investasi Semester I = Rp. 13.200.000,-
Kelas Malam [19.00-21.30 wib]:
BOP (Biaya Operasional Pendidikan) Rp. 10.000.000,- / Semester
DP (Dana Pengembangan, 1x) Rp. 2.500.000,-
DPP (Dana Pelengkap Pendidikan, 1x) Rp. 600.000,-
DKFM (Dana Kesejahteraan dan Fasilitas Mahasiswa)
Rp. 100.000,- / Semester
Total Investasi Semester I = Rp. 13.200.000,-
Estimasi Investasi Program MTI-UI
Kuliah Normal 4 (empat) Semester:
- (Rp. 13.200.000 + Rp. 10.100.000 + Rp. 10.100.000 + Rp. 10.100.000)
- Textbooks = (3 x Rp. 1.000.000)
Total = Rp. 46.500.000,-
(Empat Puluh Enam Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)*
* Belum termasuk biaya-biaya yang berkenaan dengan studi, yang akan dikeluarkan oleh masing-masing peserta antara lain mencakup alat tulis menulis, fotokopi, pencetakan, komunikasi telepon, disket komputer atau flash disc, kalkulator, dan lain-lain sesuai dengan keperluannya. Juga belum termasuk biaya penyusunan tesis dan wisuda.
adhiguna mahendra
November 17, 2008 at 4:08 pm
To Pak Adhiguna,
Masih soal MTI nih, saya juga tertarik melanjutkan ke sana, jurusan S1 saya dulu akuntansi, tapi sekarang kerja jadi IS auditor. Masalahnya yang paling besar buat saya adalah waktu yang ga fleksibel (sering keluar kota & kerja lembur kejar deadline). Kalo soal absen di MTI gimana ya? ada alternatif metode belajar ga buat yang ritme kerja nya seperti saya?
Thanks atas infonya
Novri
Juli 1, 2009 at 4:20 am
Ada yang mau bantu kasi ide. Saya sudah hampir 8 th keluar dari pekerjaan karena mengurus rumah tangga. Saya S1 Fisika ( sub Instrumentasi ), pernah bekerja di perusahaan Telekominikasi di bagian data base. Kini saya berniat ambil S2 tapi masih bingung, mau ambil jurusan apa, yang kira – kira :
- nanti bisa kerja tp tidak ngantor alias bikin usaha sendiri,
- masih menyukai hal – hal eksakta tapi jgn yang ngejelimet banget spt kuliah Fisika dulu, kalo bisa rumus – rumus yang akan dipelajari bisa diaplikasikan dengan mudah dengan kata lain materi kuliahnya gampang dicerna ( maklum otaknya sudah tidak seencer dulu waktu masih muda, 2 th lagi mau 40 …..)
Atas sarannya thanks banget ya
Mrs. Bingung
November 27, 2008 at 7:37 am
saya baru lulus s1 hukum, kerja di bank pemerintah, mau kuliah,,, bingung s2 dmn? mohon bantuannya…
udin
Desember 8, 2008 at 12:41 pm
hallo mas, boleh saya minta bantuannya.
Saya sedang mencari info beasiswa/scholarship di LN. Tentang Jurusan Akuntansi ato paling tidak yang ke arah ekonomi / finance.
thanks for the sharing
harry
Desember 15, 2008 at 11:02 am
mas adhiguna…
thanks u saran dr mas ttg pilihan jurusan S2 di UI… tp sy telah baca-nya :p … jd abis ujian baru ketemu saran u pilih maksi atau magister manajemen bidang perbankan… waduh…
but alhamdulillah udh lulus seleksi pertama MTI…
insyaAllah ttp berkah….
mudah2an bs sejajar ama yg udh profesional di IT..
btw… kursus cisco brp lama biasanya mas?
fikri
Desember 17, 2008 at 7:25 am
( tp sy telat baca-nya :p)
fikri
Desember 17, 2008 at 7:27 am
mau pengusaha mau pegawai…kuliah setinggi2nya kan bagus itu….liat aja muryati sudibyo aja lulus s3 ui di umur 80 th..padahal dia kan udah kelas pengusaha besar…belum lg yang punya mac donald juga kul s2 …ui atau bahkan s3..lebih baek jadi pengusaha atau pegawai yang berpendidikan..biar kita bisa kasih contoh ama anak cucu kita biar gak malas belajar..nah kl gak pada berpendidikan mau jadi apa negara ini…payah-payah..lagipula kata siapa pegawai gak bisa usaha..bisa lah…kita kan gak tau ada PHK atau apa..ilmunya pasti berguna…hayo yang mau kuliah s2 semangat..aku juga mau ambil s2 juga walau bukan di ui abis jurusanku gak ada…
marina
Desember 26, 2008 at 4:51 am
Mas, mau nanya background saya S1 Teknik sipil sekarang kerja di salah satu kontraktor Indonesia, kalau saya ingin lanjut mm kira2 bidang konsentrasi apa yah yang cocok? Oiya kalau ada yang punya lowongan Oil gas Company tapi backoffice mohon infonya ya :) thanks
Notosagoro
Desember 28, 2008 at 6:56 pm
Tlng dong kasi saran. Saya sudah 11 tahun bekerja di sektor agrisbisnis kelapa sawit. Jabatan saat ini estate manager di kebun kalimantan timur. Ingin ambil S2 di MB IPB tapi kalau bisa sambil bekerja.
Oh ya, utk MB IPB rata2 berapa lama ya masa studi bisa diselesaikan? thanks
mfaqihtrg
Januari 1, 2009 at 2:44 pm
@fikri
kursus cisco macem2x ada yg 1 bulan, 4 bulan, 6 bulan, tergantung penyelenggara kursusnya. Utk jakarta coba googling inixindo, datacraft, executrain saja, itu yg terkenal2x. Tp klo mau liat yg deket2x rumah, cari saja di web-nya prometric, sapa2x aja partner mereka di indonesia.
Back to the topic,
Kuliah S2 di UI rasanya menyenangkan kok. Walaupun sering telat karena kerjaan yang nda bisa ditinggal, dosen2x saya pengertian. Nguap2x di tempat kuliah juga sepertinya dimaklumi ;p.
Sisi negatifnya adalah, terkadang waktu kita habis utk kerja dan kuliah, waktu bersosialisasi sangat sedikit bahkan mungkin “nyaris” tidak ada, tp relatif juga khan!
Utk PNS ataupun untuk mereka yang kantornya mempertimbangkan strata pendidikan sebagai “cara menaikkan gaji”,rasanya mengambil S2 dimana saja OK dan sangat tepat :).
Teman2x kuliah saya, ada yg branch manager suatu lembaga pendidikan, ada yg manager asuransi, sampe manager IT perusahaan tambang asing, dan tentunya teman2x freshgraduate. Intinya, sapa aja boleh sekolah.
Di kelas kami, 17 orang, lumayan banyak utk ukuran S2. Berhubung malam, krn sering kecapekan abis kerja, suasana kuliah kami buat menyenangkan. Caranya sering nyletuk yg lucu2x aja hehe. Tugaspun sebisa mungkin dibagi-bagi walau itu tugas perorangan. Yang penting kita paham dengan apa yg ditugaskan. Ndak perlu ngerjain semua soal sendiri, waktu anda akan habis utk itu saja, bisa lupa anak istri lho! hehehe.
Intinya, saat anda memasuki kuliah S2, secepat mungkin mengenal semua rekan sekelas anda, catat nomer handphonenya, dan sebaiknya memiliki milis utk sharing tugas dan informasi2x lainnya.
Buat saya S2 bukan utk naik pangkat, krn ngga ngaruh di tempat saya kerja hiks.. tp lebih kearah perubahan pola pikir saja, mencari wawasan baru, dan mencari peluang bisnis. Saya mengambil marketing management, padahal background saya murni telekomunikasi dari STT Telkom (skrg IT Telkom). Tapi sekelas kami, hanya 2 orang yang S1-nya ekonomi, lainnya tidak ada yg sesuai dengan marketing, paling banyak teknik lho! Jadi jangan takut untuk menyesuaikan diri dengan materi, selagi anda mau, insya Alloh anda bisa.
Selamat berusaha untuk menjadi lebih baik!!
D.K. Wardhana
Januari 1, 2009 at 6:33 pm
@dk wardhana…
makasih banget u informasi tambahan yg udah diberikan…
jd dpt info baru nih ttg “marketing management”… kyk bisa menunjang pekerjaan sy di perbankan… boleh ditambahin dikit dong info ttg “marketing management”…
rncana malah mo ambil “cuti di luar tanggungan 1 tahun” u konsen ke kuliah biar bs ambil kursus2 tambahan di luar wkt kuliah n ga setengah2 ilmu IT-nya.. ( ilmu baru yg menyenangkan n ga bisa lepas dr kehidupan kita skrg … )
n teman2 kuliah sy di accounting jd pada minat jg u ikutan S2 semester depan…
fikri
Januari 5, 2009 at 8:33 am
aku mau minta sara nih…aku lulusan s1 komunikasi….ada keinginan ku untuk melanjutkan ke s2 komunikasi….tapi dilain pihak ingin melanjutkan ke s2 psikologi….. tolong sarannya yaaa….
bintang
Januari 6, 2009 at 9:42 am
setelah perjuangan yg lumayan berliku, akhirnya diterima juga di MTI UI,,,,
tes masuknya ternyata sama dengan tes masuk magister yg lain, sama2 susah….
yg mo info biaya pendidikan yg terbaru dan lengkap ada disini nih:
http://penerimaan.ui.ac.id/doc/bp/BP-Magister.pdf
semoga bermanfaat…..
terima kasih buat semua yg sudah memberikan informasi di blog ini……
b@bi
Januari 10, 2009 at 12:29 am
kerja dan kuliah sama2 penting, tinggal mengatur budget kita dulu apakah cukup u biaya kuliah (kalo misal dana minim kita bisa sambil kerja yang sesuai dengan ilmu kuliah s2 sehingga pikiran kita tidak terlalu pecah u/ hal lain).
kuliah bukan melulu u/ cari ijasah s2 saja, bisa jadi setelah mendapat gelar lumayan so kepercayaan publik akan meningkat u/ menggunakan jasa kita, so income meningkat dan kita pun bisa dapat modal lebih u/ menambah karyawan. Jadi dapat pahala dunia akhirat.
regards.
arimita
Januari 14, 2009 at 3:58 am
@fikri
Info tentang jurusan2x apa saja yg ada di UI bisa dilihat di http://penerimaan.ui.ac.id/ . Disitu juga dapat dilihat kapan ada pembukaan pendaftaran, biaya dan lain2x. Setahu saya kuliah di UI ada kemungkinan 100% gratis, asal nilai ujian masuknya memenuhi angka tertentu. Ini bisa ditanyakan ke bagian admin UI jurusan yang anda tuju. Klo di marketing biasanya diminta bikin makalah, klo makalahnya bagus, ada wawancara. Ada juga beasiswa yg 50%, dll lah.
Kayanya skrg sedang ada pembukaan pendaftaran deh:
19 Januari 2009 – 19 Februari 2009. Boss Fikri bisa coba cek saja, siapa tahu ada yg cocok dan cepet2x daftar, biasanya banyak pesaingnya..tp kurang tahu juga nih, taun ini kan taun krisis???ngefek ngga ya..
@arimita, saya setuju bgt dengan anda tentang “S2 bukan hanya mencari ijasah”.
http://m45dh4n4n6.wordpress.com/
D.K. Wardhana
Januari 14, 2009 at 8:40 am
BAGUSAN MANA MM UGM JKT ATAU MM UI ???
Ibu Dosen
Januari 16, 2009 at 5:02 am
balesnya ke blog gw donggggg
Ibu Dosen
Januari 16, 2009 at 5:02 am
MM tu pasaran. Udah terlalu banyak. Nyari di ruko juga ada
Aziz
Januari 22, 2009 at 9:50 am
bagusan prasetya mulya ibu dosen
kl mau applied management yach……
tp yag terpenting itu adalah pengalaman baik di operation dan managerial.
ui atau ugm cuma label…..gak penting2 banget….
j0nk00p1ng
Januari 22, 2009 at 12:42 pm
S2 itu yg penting bikin networkingnya … biar bisnis makin lancaaarr!!!
jim
Januari 27, 2009 at 6:04 pm
Kalo di MIK UI kuliahnya full time ya…! bisa sambil kerja ga ya….?
vicbro
Januari 28, 2009 at 4:13 am
salam kenal temen2
tahun ini aku ada rencana kuliah s2 utk ambil Mkom. rencana sih di undip.
mohon sarannya donk :)
thx
ayyif
Januari 28, 2009 at 2:58 pm
Vicbro, untuk MIK UI harus fulltime. Karena kuliahnya pagi-sore dan full research.
@Ayyif, kamu mau arahnya ke Research and Development atau IT management ? Kebetulan saya pernah berkecimpung di IT management dan sekarang justru ke R&D jadi saya bisa berikan sedikit saran.
adhiguna
Januari 28, 2009 at 3:35 pm
@pak riri satria…, setuju pak…
@pak karisma…, setuju juga…
Memang seharusnya tidak usah diperdebatkan, mau sekolah ya sekolah, mau usaha ya jalanin aja. Semuanya saling mendukung. Paling2 biaya aja yang kurang mendukung kalo masih susah hehehe..
Terkadang yang jadi permasalahan adalah saat kita pertama kali memulai, dalam arti baru awal2 bekerja dan uangnya baru cukup untuk melakukan satu hal saja (bukan kedua2-nya).
Disini insting, niat dan doa harus berperan dan diuji. Apakah memulai sekolah dulu baru buka usaha atau buka usaha dulu baru sekolah. Sepertinya sih jika kedua2nya bisa kita raih, kita akan menjadi manusia yang tangguh khususnya untuk bangsa dan negara kita tercinta ini.
Boy love oil co.
Januari 29, 2009 at 8:05 pm
baru daftar ikut simak ui, doain yaaa
wangsa
Januari 31, 2009 at 5:08 am
info s2 hukum diman yak…??kpn sih pendaftaran nya dibuka..?
thank’s
Pallawa_extenfh@yahoo.co.id
Februari 4, 2009 at 10:46 am
salam kenal teman2
sharing aja nih. saya juga udah mulai berpikir tuk ambil s2 (udah lulus dan bekerja hampir setahun). karena background s1 arsitektur en sekarang kerja di konsultan perencana maka pilihannya kayaknya manajemen konstruksi. Yang jelas saya udah emoh ambil s2 arsitek lagi, soale kuliahnya suntuk makan biaya makan waktu makan tenaga dan ilmu yang diperoleh ngga diapresiasi di tanah air kita ini. kalo dipikir2 ngambil s1 jurusan ini juga udah nyesel banget udah kuliah boros standar gajinya rendah. usaha cari obyekan sendiri di luar kantor juga susah. Masalahnya gaji per bulan 2 juta dengan pengeluaran 500 buat kos, 220rb utk transpor, 250rb untuk orangtua sisanya utk menghidupi diri sendiri dan 250rb saya alokasikan untuk nabung. Kalau begini kapan saya bisa kuliah s2? Tiap bulan uang gaji selalu habis. Kadang iri juga ngeliat temen2 yang bukan dari jurusan ini lebih sukses padahal saya ini lulusan PTN di depok. Mungkin ada yang bisa kasih saran untuk beasiswa s2 jurusan yang terkait?
v.ra
Maret 3, 2009 at 4:03 am
@v.ra,
ternyata yg gajinya dibawah belasan juta bukan cuma saya. Posting v.ra jadi membuat semangat hidup kembali muncul krn aku pikir semua org gajinya belasan juta, atau dua puluh juta, lima puluh juta dst.
Spt biasa…org susah kalo ada temen yg selevel akan bersemangat…berarti meski tertinggal masih ada temennya.
Gubrak
Maret 3, 2009 at 4:36 am
@gubrak, iya jangan patah semangat. Saya dulu di Indonesia udah punya gelar master, gaji dibawah 4 juta kok. Jangan terprovoke dengan orang2 di blog ini yang ngaku baru 23 tahun baru lulus gajinya 50 juta di Jakarta! Atau 3000 usd/hari..
adhiguna
Maret 3, 2009 at 8:29 am
Salam kenal …
kalo ada lowongan pekerjaan, misal ipk min 3.25 untuk s1 atau 3.5 untuk s2 itu … kalo kul s2 berarti diperhitungkan tidak s1nya?
Ada jg dengan ipk 3.00 untuk d3, dan 2.75 untuk s1, gimana kl kul d3 dulu, stelah ada uang dan waktu baru ke s1 tp nilai d3 terlanjur kurang maks karena termakan waktu kerja, dll
kan bnyk contoh disekitar, termasuk saya yg mungkin nilai s1 tidak sebagus itu, jadi ambil s2 untuk “memperbaiki kesalahan” dan ga sedikit mhsw s1 sendiri yg kadang kul nya krg serius, terbagi hal2 lain.
mr. wk
Maret 3, 2009 at 8:36 am
saya cuma mau share aja. suami saya dulunya adalah pegawai disalah satu perusahaan ternama di jkarta, menyandang 3 kali pegawai teladan tapi suami tetep resign dan mendirikan usaha sendiri. alhamdulillah suami sudah punya 10 pegawai tetap dan belasan tim lapangan.maksud saya disini adalah kalo bisa jangan melulu terpikir mencari kerja, melamar sana sini, tapi berusahalah menciptakan lapangan pekerjaan. aapalagi buat para lulusan S2, disinilah tantangannya karena pola pikir mereka harusnya lebih one step ahead. oh iya suami saya lulusan S1, sudah berkali2 apply beasiswa eropa (belgia dan jerman) tapi selalu gagal, padahal IP dan toefl nya lumayan tinggi dan lulusan PTN Depok, ternyata yang lolos beasiswa mayoritas PNS dan Dosen2. Ada yg bisa rekomen beasiswa eropa yg memungkinkan applicant swasta bisa lolos? thanks before
bunda
Maret 4, 2009 at 6:15 pm
yang saya tau kul di prancis memang murah, karena pemerintah mensubsidi. tapi biaya hidup disana mahal sekali..kalau biaya sendiri kayanya berat banget, kalau mau ambil kerja freelance sambil kuliah biasanya kerja apa ya? resto ya? kalo ada yg minat saya pernah denger kuliah S2 jarak jauh by internet and totally free! tapi saya lupa nama universitasnya..coba googling deh, kalo ga salah di eropa. pastinya butuh disiplin tinggi kalo ikut itu, karena kita belajar sendiri tapi nantinya dapet ijazah luar negri
bunda
Maret 4, 2009 at 6:21 pm
@bunda:
wah hebat banget ya suami bunda ini, saya juga kepingin sekali nih berwirausaha sperti itu. Hanya saja masih blm tahu bagaimana cara mengawalinya. Apakah bunda / suami bunda punya email atau blog yg bisa saya kunjungi untuk bertanya tentang berwirausaha ini?
D.K. Wardhana
Maret 5, 2009 at 3:29 am
Saya sangat ingin melanjutkan study saya ke S2,
khususnya di bidang IT,
target saya itu MTI UI,
tapi kog websitenya error yakh (http://www.mti.cs.ui.ac.id/) ????
jadi bingung cari informasinya,,
ohya,, saya tamatan dari PTS di jogja, sekarang kerja di perusahaan networking consultant sebagai System Engineer dengan berbekal beberapa sertifikat professional di bidang networking….
kemaren waktu pertama sekali daftar ke perusahaan ini saya sudah memberi signal ke Boss saya, bahwa saya ingin melanjutkan pendidikan saya,
Boss saya membolehkan namun dengan syarat harus mendahulukan kerjaan,,
so, saya jadi bingung,
dengan kerjaan saya sebagai Engineer saya sering keluar kota, kerja di weekend, dan kerja hingga pagi,,
saya jadi pesimis, apakah saya bisa menjalani pekerjaan saya dan kuliah secara bersamaan,,
hiks….hiks… :(
mau keluar dari kerjaan ini,, tapi saya sangat cinta dengan pekerjaan ini,,, pekerjaan saya itu petualangan,, dan petualangan itu kesukaan saya…..
bingung…
Arik
Maret 5, 2009 at 2:26 pm
MTI UI, kuliah malam dapat makan prasmanan loh……
Gubrak
Maret 6, 2009 at 1:16 am
Jangan cuma nyari gelar ke ui. Masuknya gampang, paling test toefl dan psikotes dan sedikit test bidang yang sangat ecek-ecek. Tapi lulusnya susah. Paling parah kalo pas nuis tesis. Dosennya emang pintre-pinter tapi banyak nggak bisa disakses saking sibuknya. Mo konsultasi kan kudu kirim email progres kerjaan kita dulu, tapi pas ketemuan ama pembimbing dia bilang, sory nggak sempet baca. Kamu ceritain aja isinya. Jadi selama bikin proposal penelitian tuh baik-baik aja. Dosen pembimbing gw pecaya banget ama kerjaan gw. Eh pas ujian proposal dibantai habis ama penguji lainnya. Pdahal kata pembimbingku sebelumnya sdh okeh gitu. Sedih deh gw. Sekarang kalo lo mo masuk ui, lo kudu pinter, rajin, dan jangan banyak berharap dari dosen. Mereka pinter tapi buat diri sendiri. Gw nggak nyalahin penguji krn emang bener analisis mereka. Gw cuma nyalahain dosen pembimbing gw, kok nggak ngasih tau gitu.
Selain itu, klo duit nggak maslaha, mending kuliah di luar negeri. banyak yang sdh ngalamin, lebih mudah dan lebih cepet lulusnya. Lah dosen ui yg masih s1 ato s2 sendiri ogah nerusin di kampus sendiri. Di mipa dosen ui yg lagi s2 malah nyerah karena nggak lulus lulus.
luluk
Maret 7, 2009 at 6:30 am
Dari pengalaman gw ternyata ilmu yang didapet dalam kerjaan sehari-hari kita, sepanjang dijalani dan dijiwai, akan banyak ilmu yang diperoleh. Kampus bukan satu-satunya sumber ilmu. Kalo di ui, boleh dibilang ilmu dari dosennya rada basi. Mereka cuma tau teori yang nggak bisa diaplikasikan dalam kerjaan. S2 atau S3 sering nggak nyambung dengan peningkatan profesionalisme. Orang bule nggak gila gelar tapi mereka sangat profesional dengan kerjaannya. Temen2 saya yang kerja difperusahaan multinasional nggak bergelar s2 ato s2 tapi kalo soal profesionalisme bidang mereka, jago habis! Orang-orang kampus cuma bisa berteori.
Jadi kalo Anda berharap dapat meningkatkan profesionalisme kerja dalam bidang Anda, ui nggak bisa memenuhi tuntuan ini. Banyak temen saya yang negrasa bego banget ketika menyusun tesis di ui karena digoblok-goblokin dosen. Padahal mereka telah menemukan banyak terobosan dalam bidang kerjaan mereka. Doesn ui nggak tau ini.
Kalo mau meningkatkan pengetahuan dan profesionalisme kerja, nggak mahal dan nggak report. Internet bisa dimnafaatkan untuk itu. Internet kayak lautan ilmu pengetahuan tanpa batas asal tahu giman nyarinya. Internet yang dimusuhin para profesor ui konvensional ini bisa ngajarin kita bnayka hal yang para professor terhormat itu nggak tahu atau nggah ngeh.
jadi intinya, gelar s2 apalagi dari ui nggak nendang buat kerjaan. Gelar ini cuma baik buat nakut-nakutin calon mertu. Okeh!
luluk
Maret 7, 2009 at 6:40 am
To Arik: mgkn kerjaan kita mirip2x ya? MTI klo ngga salah itu kul-nya tiap hari, di salemba, dpt makan prasmanan, uenak tenaan…ngga kaya saya harus menahan lapar sampai selesai kul. mgkn bisa dijadikan pertimbangan tuh,takutnya udah terlanjur ke UI malah terlantar krn kesibukan kerja. kampus jg tidak hanya ui di jkt ini, mgkn bisa yg sabtu minggu,tp saya juga kurang tahu kampus mana yang baik utk menimba ilmu IT.
To Luluk: waduuuh….bgitu ya? semoga nasib saya ngga se-apes itu saat menyusun thesis nanti…so far sih enjoy2x aja, ngga terlalu ngarep bgt dengan peningkatan profesionalisme dll. Hanya ingin peningkatan pengetahuan aja, yaa siapa tahu ada manfaatnya di kemudian hari.
KLo mau nyari alternatif sih apa saja bisa dicari, alternatifnya, ngga cuman internet, bergaul dgn yg ngerti di bidang mereka mgkn jauh lbh bermanfaat drpd belajar teori. lni sih mirip “ngga usah sekolah, banyak orang sukses yg tanpa sekolah kok”, :) tp kenyataanya sekolah masih laku2x aja nih. Yah kembali ke orangnya, klo masih kepingin sekolah ya sekolah…yg ngga ya sudah cari alternatif lain yg memungkinkan peningkatan kualitas hidup. Klo kualitas dosen sih, dr pengalaman saya sebenernya sangat bermanfaat, prof yg mengajar juga ada mantan direktur perusahaan mobil bonafid, komisaris holding company yg gede, praktisi perush properti dan retail, praktisi perusahaan PnG dan unilever yg banting setir jadi pengusaha dan dosen, dll yg mnrt saya dan temen2x yg kul sih katanya bagus. saya sendiri tdk bisa mengimplementasikannya langsung, krn beda bgt ilmu yg dipelajari dengan hal yang saya kerjakan, tp cara beliau2x menerangkan sangat jelas, mnrt saya yg ngga punya dasar awal utk kul yg saya ambil. tp penerapannya memang harus makan asam garam dl ya, mgkn disitulah letak profesionalisme seseorang.
Intinya, yg mau ada niatan sekolah dan tidak ada halangan lain ya jgn ditunda, mumpung ada. paling ngga memberikan contoh ke anaknya kelak, bahwa pendidikan itu penting. Buktinya msh ada calon mertua yg mikirin gelar…semoga mertua saya tidak bgitu deh hehehehe
D.K. Wardhana
Maret 8, 2009 at 3:21 pm
wah anda beruntung, dari fak ekonomi ya? Saya dari fib. Profesornya payah deh. Bener tuh saya banyak denger klo di fak ekonomi dosennya paling sial mantan direktur bank. Lah kalo di fib, dosennya kebanyakan hidup di ui dari lahir (maksudnya dari lulus kuliah, gitu) ampe bulukan. eh, sadis ya. Maaf aq lagi bete dah. Aq lagi ngerjain thesis habis minimal lim jam sehari sampe neg ngilat biuku ama komputer. Tidur jam 2 tipa hari. Kerjaan berantakan. Kehdiupan sosial amburadul. Mbaca and ngetik terus, sampe eneg banget. Adoeh..adoeh… Coba deh yang mau kuliah di ui fib (ekonomi sih emang okey) dipikirkan lagi.
luluk
Maret 10, 2009 at 12:09 pm
om.. dan tante salam kenal sebelumnya.. :)
saya mo ikutan kuliah s2 nie.. tapi udah telat daftr. yg jadi persoalan adalah soal ujian nya spt apa ya.. (klo ada tolong d share ya).
thks
g3nk_24
Maret 10, 2009 at 12:46 pm
To g3nk_24: deket2x masa ujian pre-eliminasi (kaya calon artis), biasanya ada try out…keluarin uang dikit lah utk sekedar tau kisi2x dan mengingat mata kuliah dasar jadul pas S1 saja. makan yang bergizi dan tidur yg cukup, seperti kata luluk diatas, masuknya gampang…keluarnya…saya jg blm mengalami…mgkn ambil paitnya bisa liat pengalaman luluk diatas ;)
To luluk: SEMANGAT!!! saya doakan semoga cepat selesai ya!…saya baru smester 2 nih…itupun ngga pernah baca buku, ada juga liat slide doang…msh mikirin kerjaan dll, mgkn nanti klo mo uTS baru ngebut…
Segalanya akan terasa manis, bila saatnya tlah tiba.
D.K. Wardhana
Maret 10, 2009 at 3:29 pm
bagi pengalaman ni.. gw dulu sempet ambil master di ui.. masuk gampang.. kuliah gak susah.. kuliah sambil kerja masih dapet ip 3.9.. yang susah emang waktu mau keluar.. pusing cari dosen… ya tapi asal kita sabar n rajin.. selesai juga tu..
sekarang gw sekolah lagi.. masih master juga di eropa.. (hobi sekolah gw.. hehe).. emang beda banget ma budaya di ui.. pelajaran si emang jungkir balik.. untuk level yang sama dan jurusan yang sama di ui.. kuliah di ui perasaab ga ada apa2nya.. bingung jg gw.. dosen bener2 bantu.. apapun problem kuliah kita.. mrk welcome utk bantu.. bahkan saya pernak kirim imel ke dosen gw jan 1 malem.. eee.. langsung dijawab.. tiap hari dosen nongkorng diruangan.. kalopun pergi jelas waktunya.. so kita ga banyak buang2 waktu untuk nunggu.. tapi di ui enaknya masih di indonesia.. kayak gw yang udah punya anak bini enakan di ui.. hehe..
kesimpulannya.. pilih sesuai dengan kebutuhan dan kemauan.. di luar negeri juga belom tentu cocok untuk kita..
roed
Maret 10, 2009 at 6:21 pm
wow mas roed, thanks utk infonya. klo saya ada duit sgitu mah mgkn saya buka toko beras aja deh, drpada keluar negeri hehhehe…kok mas bisa hobi bgitu sekolah…boleh di share motivasinya mas?
D.K. Wardhana
Maret 10, 2009 at 6:49 pm
Bagi uneg uneg,
Kalo S2 dan S4 atau profesor itu kan utk dunia kampus atau PNS tapi kalo swasta ya gak pengaruh. Di swasta yg paling berpengaruh adalah jam terbang, kursus sana sini, pelatihan, dan tentu saja pribadi yg bersngkutan terutama dalam team work, sejago apapun kalo individual ya akan dipinggirkan.
Lebih profesional lagi setelah sekian tahun bekerja ya membangun bisnis sendiri……Kalo pns sebaiknya jangan berbisnis karena akan berakibat tidak fokus pada pengabdian negara (secara teori pns adalah abdi negara)
Gubrak
Maret 11, 2009 at 1:36 am
om, Dk: memang klo kuliah semangat nya pas daftr. dan paling malesnya waktu mo ujian tugas nya ngantri.
yg lebih parah lagi bayar kuliah nya dari mana “hepeng”?.. huehuehue..
to:om luluk: memang klo kuliah butuh pengorbanan, cepat lulus harapan setiap mahasiswa. yg pasti tetap semangat. buah nya pasti nyata. “kami akan dukung secara moril ..Banjai”
to om roed: ip nya 3.9.. salut kepala nya d bagi berapa petak?.. hobinya sekolah nya sekolah dong!! ada gk karya untuk Bangsa Indonesai. hichickhick..
peace :)
g3nk_24
Maret 11, 2009 at 2:57 am
Saya juga hobinya kuliah. Padahal nggak ada yang maksa. Kirain di tempat kuliah kita bisa memperdalam dan mengkritisi apa yang dilakukan dikerjaan pada tingkatan filosofisnya gitu. Ternyata nggak juga. Dosen suka nggak sabar kalo kita banyak tanya, temen sekelas bawaannya ngocol doang dan pengen cepet pulang bailk ke kantor. Saya justru banyak dapet ilmu ikut komunitas seprofesi baik lokal maupun interlokal, eh internasional.
Klo nggak enak diskusi di kelas pernah juga coba nemuin dosen di ruang pengajar, untuk diskusi lanjutan gitu. Eh ternyat nggak gampang nangkep dosen. Lebih gampang nangkep tokek deh.
Sy juga punya kenalan ilmuwan top di bidang kami yang juga ngajar di Amrik sana. Iseng2 saya email mo nanya argumen dia di journal ilmiah. Eh dibales.kaget juga aku. Nggak sangka orang hebuat kayak dia punya waktu mbales email dari Indonesia. Baik banget mau membalas email padahal saya nggak kernal dia in person dan dia bukan mertua saya. Klo butuh bacaan buat thesis tinggal sebut eh dikirimin. Sy bilang aja Indonesia tuh jaringan internetnya susah banget. Teknologinya masih sekelas jaman dinosaurus. Perpustakaan kampus kita koleksinya kebanyakan diisi reader digest dan intisari tahun 70an. Sementara beli buku lewat amazone nggak punya kartu credit (dia nanya Indonesi belum ada bank apa?), jadi beliau kasihan ngkali. Jadilah aku rajin dikirimin bacaan bermutu lewat email.
luluk
Maret 11, 2009 at 3:01 pm
@ D.K. Wardhana
waduh.. gw juga ga punya duit banyak.. cuma kebetulan dapat schoolarship terus.. hehe.. kalo punya duit gw jg lebih seneng bisnis kaleee…
motivasi.. mencari ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin itu aja..
ni lagi ngejar2 PhD schoolarship dari kampus disini.. doain dapet ya mas..
@ g3nk_24
mencari ilmu jg buat bangsa indonesia.. i’m govt emply (non dosen).. doain ya mas.. gw bisa ngaplikasikan ilmu untuk indonesia.. itu cita2 gw.. okeh..
roed
Maret 11, 2009 at 5:41 pm
Saya pengen banget kuliah S2, tentang kajian wanita, di indonesia cuman ada di UI dan brawijaya, banyak teman2 yang lulusan UI bilg gak usah masuk UI, susah apalagi kita dari prov aceh dipersulit habis habisan. walaupun kita masuk melalui seleksi, Teman teman kasih saran dong kalau ambil kajian wanita di eropa gmm caranya, kemana mencari info n kalau bisa plus dengan beasiswanya ya…
terima kasih..
Mita
Maret 18, 2009 at 4:24 am
Kuliah S2 bukan sekedar untuk mencapai materi berlebih semata nantinya di dunia kerja..tetapi ada kenikmatan tersendiri ketika kita mengambil kuliah S2 dan jika ingin berguna S2 nya akan lebih baik jika diamalkan dengan berkarir di bidang pendidikan dan dunia penelitian serta berusaha menciptakan generasi2 muda terbaik nantinya dengan menjadi seorang dosen yang bermutu….
IT telco
April 13, 2009 at 8:36 am
gawe opo kuliyah duwur2 bos, kalau cuma memperjuangkan teori konsumtif.. memang ini kriteria sebagian masyarakat indonesia yang suka gengsi pendidikan. tapi di balik itu semua penerapannya kosong. apalagi kuliyah sampai begitu mahalnya. hanya orang bodoh yang mau diajak bergelut. tolong korelasikan pendidikan indonesia dan kapitalisme pendidikan.. hanya orang berduit yang bisa menikmati pendidikan yang layak uji… tengok aja di UI.. padahal kalau kita lihat sekarang, (saya ambil sampel daerah jombang: potensi anak daerah banyak yang mempunyai kemampuan lebih, tp akhirnya drop, gara2 melihat biaya yang begitu tingginya). otonomi kampus akan menyejahterakan buat badut2 kaum berduait
wong dheso
April 15, 2009 at 7:31 am
@ wong dheso
satu lagi yg saya sedih mengapa seseorang selalu mempermasalahkan kuliah di tempat bagus hanyalah untuk org2 berduit. Bagi gue itu statement yang bener2 NDESO dan BODOH. Mengapa???kalau si anak memang berprestasi dan pnya talent toh merek bisa mencari BEASISWA yang bejibun jumlahnya di universitas2 ternama di indonesia. Mereka bahkan bisa kuliah tanpa keluar uang sepeser pun.
Jadi bagi gue ga ada alasan seseorang mengeluh ga bs kuliah dengan alasan biaya.
education for all
April 15, 2009 at 8:56 am
Ga rugi lah kuliah di UI, udah kualitasnya oke, bayarnya terjangkau pula.
UI universitas tertua di Indonesia
surip
April 15, 2009 at 12:27 pm
@education for all
Wah jangan langsung generalisasi bos. Untuk dapet beasiswa gak segampang itu. Apalagi panitia beasiswa-nya bermafia. Lagipula beasiswa hanya menjangkau sekian % dari keseluruhan rakyat yang tidak punya. Dan beasiswa itu hanya memenuhi sekian % dari biayanya. Pengalaman pribadi nih. Tapi kalo memang ada niat bisa kok cari duit sendiri buat kuliah daripada berharap kepada para mafia tersebut.
@wong dheso and @UI pro’ers
Memang benar untuk saat ini biaya kuliah makin mahal aja. Scara tidak langsung memvonis orang yang tidak punya untuk tidak bisa kuliah. Buat rekan2 skalian yang nulis disini mungkin kalian ga ngerasain ini langsung makanya komentarnya kebanyakan asal dan ga real dan sekali lagi walaupun beasiswa jalan dengan benar itu hanya mencakup sebagian kecil saja. Terlebih kemampuan tiap orang itu berbeda-beda. Pintar atau tidak belum tentu jaminan untuk berbagi di masyarakat.
Untuk yang Pro UI karena sebagian besar iklannya UI. Wah kalo soal bagus ato nggak saya sendiri kurang setuju jika itu hanya pendapat anda yang sudah kuliah disana. Tidak Objective. Yang anda maksud bagus itu apa? Apakah jika lulusannya udah pasti dapat kerja itu bukti pendidikannya bagus? Kecuali ada parameter yang telah diuji secara internasional dan bukan regional maka anda baru bisa bilang sesuatu bagus. Saya rasa anda2 yang berkutat di bidang keilmuan paham benar akan hal ini. Lalu mengapa kok komentar2 bagus nya terkesan agak “…”?
Memang benar UI punya lulusan banyak dan itu adalah salah satu aspek S2 (mencari relasi) yang menguntungkan dari segi applicant. Tapi anda secara tidak langsung telah mempraktekkan KKN. Percaya ato tidak sistem inilah yang telah membuat negara kita menjadi bobrok. Ga percaya? Coba aja baca komentar2 mahasiswanya sendiri yang katanya bisa santai ngantuk2, tugas personal bisa dibagi2, dll. Sadar tidak bahwa sperti itu yang bisa dibilang bagus? Apakah komentar tersebut secara tidak langsung mengungkapkan bahwa “Gampang kok dapet gelar di UI”. Maaf yah kok kesannya jadi murahan.
Kembali ke topik. Mungkin pertanyaan nya diubah sedikit ke arah subjective. Apakah kuliah S2 di UI menguntungkan untuk prospek karir anda ke depan?
Maka jawabannya adalah iya sebab balik lagi sistem indonesia yang udah tertanam akan memudahkan anda.
Untuk pendidikan indonesia secara overall. Pengalaman saya pribadi. Saya selalu Juara 1 dari kelas satu SD sampai SMP kelas 3. Saya sekolah pindah-pindah dari satu pulau ke pulau yang lain di nusantara tercinta ini. Sewaktu SMA barulah saya melihat fakta dunia pendidikan indonesia yang amburadul. Mulai dari situ saya tidak terlalu tertarik lagi dengan dunia pendidikan Indonesia yang kacau balau. Dan darisana pula saya dapat inspirasi bahwa pendidikan yang baik tidak selalu menjamin seseorang berlaku baik di masyarakat. Dan ada jaminan bahwa tidak selalu orang pintar itu bijak.
Saya pribadi lebih baik dibilang tidak berpendidikan daripada harus menggondol gelar segudang tapi tidak punya pengabdian kepada masyarakat, negri dan bangsa. Terlebih lagi anda2 harusnya sadar kaum ilmuwan punya visi satu yaitu mensejahterakan kehidupan manusia. Jikalau anda hanya berpikir untuk kepentingan pribadi wah sia2 ilmu anda bung.
Buat anda2 yang tersinggung. Baguslah sebab anda jadi berpikir. Just remember, sometimes “chaos” needed to make things better.
Soal kuliah. Gw ga bodo2 amat kok bos. Gw bisa kok dapetin cumlaude dan lulus tercepat. Cuma buat apa? pamer doang? Biar bisa cepet dapet kerja dengan gaji selangit? There are stuffs which money can’t buy.
dudle
April 16, 2009 at 3:04 am
kalo menurut gw sih tetep s2 tuh penting n ngefek banget sama dunia kerja apalagi di jkt.
yang pertama sih karna di indonesia terutama di jakarta, yang udah bergelar S1 udah segudang jumlahnya n lebih banyak lulusan S1 yang punya segudang pengalaman. gw udah lulus n setaun lebih kerja, trus sekarang emang lg cari2 kerjaan lain, tapi yang apply dr grade S1 itu buuuanyak banget jumlahnya.
buat gw, dalam 4 taun ini gw harus bisa nyelesain S2 gw, mumpung nyokap gw mo ngebiayain n masih bisa ngebiayain gw. soalnya nyokap gw kurang dari 5 taun lg udah pensiun, dan karna itu kalo nyokap gw udah pensiun, otomatis gw sebagai anak pertama yang harus menopang n ngebiayain semua kebutuhan orangtua gw. dan misalnya gw udah dapet gelar S2 di UI (AMIIIN) yang notabene kampus kebanggaan seluruh indonesia terutama nyokap gw (secara konservativ mikirnya begitu..), mudah-mudahan gw bisa dapet kerja yang bergaji di atas rata-rata (20 jt an/bln) untuk bikin orang tua gw bangga…(AMIIIIIN)
hiiiks..jadi curhat…
rozemund
Juni 9, 2009 at 12:55 pm
mending kuliah S2 UGM, daripada di UI, dosen UI banyak yg lulusan dalam negeri, dan UI itu menang hanya karena di Ibukota.
donie
April 17, 2009 at 7:42 am
Saya alumni MTI UI dan sebagian besar dosen S2 adalah lulusan luar negeri dengan kualitas & experience yang yahuud…
dan dengan lokasi di Jakarta adalah suatu competitive advantage buat UI karena kita sebagai mahasiswa mendapatkan case study dan terkadang kita juga bisa ikutan mroyek selain itu juga cari relasi yang berbobot donk itu kan juga bantu career kita hehe…
jadi klo mau kuliah di UI gw jamin ga nyesel dech
UI Mania
April 17, 2009 at 8:04 am
Gue pengen kuliah S2 yg murah, berkwalitas dan image nama sekolahnya bagus, tapi gue pengen jadwal sekolahnya sabtu doang, soalnya gue pengusaha yang waktu adalah uang, ada yang bisa ngasih info ?…………………….
herman
April 19, 2009 at 11:56 am
just sharing…
gw alumni S1 feui akuntansi (dulu jalur umptn), kuliah S1 di FEUI menurut gw memang ok, karena teman2nya pun terpilih (sehingga memacu kita juga untuk maju) dan dos en2nya juga (saat itu) berkualitas. tapi saat gw mau S2, gw tidak memilih UI dengan alasan:
1. sistem pengajarannya relatif masih konseptual dibanding kampus yg akhirnya gw pilih (waktu S1 ini menjadi advantage karena sebagai fresh graduate lulusan UI meskipun tidak langsung ’siap kerja’, tapi adalah ’siap belajar’ atau fast learner karena konsep yang sudah relatif kuat. Untuk S2, karena saya sudah punya pengalaman kerja 10 tahun, saya merasa bahwa saya harus mencari materi yang lebih ’siap tempur’).
2. seleksi muridnya tidak seketat S1 UI sehingga kualitas siswa kurang seragam, menurut saya hal ini akan menghambat kemajuan murid lain di kelas.
Akhirnya gw pilih IPMI untuk S2 gw..
Tambahan: Jangan salah sangka ya.. kalau untuk yang S1nya bukan UI sih menurut gw kul S2 di UI masih ok.. so u will learn the UI way.. and bakal bisa bilang… ‘gw lulusan UI’. hehehe :)
wiwidktr
April 30, 2009 at 7:00 pm
Ada yang bisa ngasi saran ngga ya.. saya berencana untuk ambil s2, M. Hub Internasional.
Gimana ya reputasi jurusan ini? Rencana saya mau ambil di UI aja,.. PLease help..
Thank you
Ita
Mei 7, 2009 at 8:53 am
@bocah Ndeso
Klo saya lebih milih Kuliah S2 trus baru jadi Pengusaha, pastinya Network untuk ngembangin usaha juga lebih luas.
Dari pada seperti yang di bilang bocah Ndeso gak kuliah/sekolah jadi pengusaha, paling-paling jadi pengusaha kerupuk kulit atau Peternak Bebek ;p
Rivai
Mei 10, 2009 at 8:07 am
Kuliah itu kan yang dicari semata2 juga bukan hanya untuk mendapatkan peningkatan pendapatan dalam cara singkat, tapi juga ilmu dan networking (dalam konotasi positif tentunya)
Kuliah di UI cukup bermutu kok, kecuali anda punya otak yang teramat sangat pintar dan beruntung atau punya uang yang memadai untuk keluar di luar negeri.
Tapi saya juga setuju, jika bidang kerjanya memang tidak terlalui mensyaratkan (seperti dosen), ambil sertifikasi juga OK lho.
Tidak ada sekolah gratis yang benar2 gratis didunia ini…hanya kerja keras dan kemauan keraslah yang dapat mewujudkan impian kita mendapatkan ilmu terbaik dari sumber terbaik…
Dan kita tidak pernah punya hak untuk mematahkan semangat orang lain untuk sekolah dengan menceritakan pengalaman buruk kita tidak mendapatkan indahnya dunia dan hasil sekolah kita…
Sekolah lah setinggi yang kau bisa dan pulanglah untuk membangun negaramu^^
Hoshi
Mei 10, 2009 at 12:23 pm
Saya baru lulus..
pengennya cari kerja, cuma sampe sekarang blom dapet2..
secara finansial saya mampu untuk kuliah baik di dalam atau di luar negri..
apa yang sebaiknya saya lakukan yah..??
untuk saat ini saya sudah membeli formulir MM BiNus..
untuk biaya 45juta dalam 4 tahun..
apakah itu layak?? soalnya saya cuma denger2 dari teman saja bahwa di BiNus bagus..
kenapa saya ga pilih UI, karena lumayan jauh dari tempat tinggal saya..
mohon tanggapannya ya..
mr.swit
Mei 13, 2009 at 10:30 am
eh salah 45 juta dalam 4 term.. 1 term = 4 bulan, jadi 1,6 tahun..
mr.swit
Mei 13, 2009 at 10:32 am
ikut koment jg ah… saya mahasiswa program pasca sarjana UI jurusan Kajian administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Masyarakat ,biaya awal termasuk semsester 1 sebesar 17 jt,semester 2,3 dan 4 masing2 11,5 jt total kurang lebih 51,5 jt, cuma sharing…
kiki siagian
Mei 13, 2009 at 7:03 pm
saya dah di terima di MTI UI, tp sampe sekarang belom bisa daftar ulang karena hrs bayar smt1 Rp. 15.700.000, apa ada yang mau bantu saya ?
mully
Mei 18, 2009 at 8:23 am
Jangan terlalu berharap banyak dari ui, nak. Nyesel kamu. Pecaya deh. Kalo mo masuk ui, tanyalah diri sendiri, apakah saya seorang independent learner apa enggak. Apa saya bisa belajar mandiri tanpa bantuan dosen dan perpustakaan yang lengkap? Apakah saya bisa mentolerir dosen banyak mbolosnya padahal udah baya muahalnya rek. Saya lagi bikin tesis nyaris nggak dibantu dosen. Setiap konsultasi ngeributin tanda baca(hari gini masih ada loh). Ketahuan dosennya nggak tau banyak bidang penelitian gw. Kalo kasih komentar beraninya soal tanda baca. Lha gw kan baca paling enggak 50 buku dan jurnal. Kalo punya duit s2 di luar aja seeh. Serius!
luluk
Mei 30, 2009 at 6:48 pm
yang pengen kuliah di ui terutama fib (di sini ada linguistik, linguistik terapan, filsafat, kajian wilayah, antro, terjemahan, dll) tolong jangan terlalu lugu ngliat nama besar ui. O ya untuk yg mau masuk applied linguistik, jangan di ui deh. Mereka nggak punya ahlinya. Dosennya rada maksain. Gw heran progam yang nggak didukung oleh sumber daya yang bermutu kok dibolehin ada di ui.
luluk
Mei 30, 2009 at 6:52 pm
S2 …dari duli pingin kuliah S2 ..tapi tabunganku ngga pernah cukup….setiap dana terkumpul ada aja yg datang menawarkan tanah murah dengan luas yang lumayan …yah akhirnya ngga jadi S2 lagi ..pertimbanganku kalo aku sekolah S2 abis 80 juta ….dalam jangka berapa lama saya bisa mengembalikannya sehingga anak dan istri saya ngga kelaparan dan kelamaan puasa menahan keinginnannya …sementara dengan investasi 80 juta …3 tahun kedepan saya bisa dapat menjadi 300 juta ….akhirnya saya berpikir kalo emang mau nambah pengetahuan dan pengalaman dn belajar …saya butuhnya cuman mental buat belajar dan akses internet …sehingga bisa 24 jam belajar hal-hal baru…mudahnya akses internet sekarang ini membuat kita bahkan untuk belajar tidak harus datang ke sekolah …tapi cukup dari rumah …atau lokasi …saya yakin dengan keyakinan dan semangat belajar yang kuat …pengetahuan dan kemampuan saya bisa mengalahkan bapak S2 yg saat ini masih ngajar tapi kalo periksa thesis cuman ngurusin tanda baca karena kemampuan analisis dan otak kanan tidak berkembang…salam pembelajaran ….salut for Andreas Harefa my master learner….
dani deh
Juni 9, 2009 at 4:05 am
Juni 9,2009 jam 14.00
Semenjak saya dipindah dari produksi ke bagian mikir, pinginnya tertantang juga ngambil S2, nyatanya juga soal pulus lagi yang jadi kendala, padahal motivasinya cuman malu temen-temen di bagian mikir semuanya pada S2,.. tapi ya mau dibilang apa. Paling tidak saya setuju dengan pendapat dani deh, ngak perlu kuliah S2, yang penting rajin buka internet, sambil cari tahu, dunia baru dibidang teknologi maupun manajemen, siapa tahu malah bisa jadi S3, he..he..
supangat
Juni 9, 2009 at 7:11 am
BETUL !! lebih baik BISNIS dan MELANJUTKAN SEKOLAH kita baca dengan kacamata lain.. toh memang pendidikan bukan jaminan masa depan yang lebih baik ; belum tentu bikin orang jadi kaya; tapi memang… peluang ke arah itu menurut saya semakin besar (tidak perlu saya jelaskan mengapa). Selain itu tentunya banyak manfaat2 lain yang kita dapat dari pendidikan..apalagi kalau setelah sekolah mau menularkan ilmunya ke orang lain :). Jadi lumbung amal bukan?
Tidak perlu kita compare S2 dengan S1..bahkan lulusan SMP pun ada yang jadi Direktur Utama sebuah perusahaan forwarding terkemuka di negeri ini. Tapi apakah itu berarti melanjutkan sekolah ke SMA dan kuliah S1 sia-sia? Jelas TIDAK.
Nah menurut saya yang lebih enak di bahas adalah di manakah universitas yang menawarkan kualitas pendidikan pasca sarjana yang baik? Karena menurut pengamatan saya pada program Magister Komputer (M.Kom) pada beberapa univ. ternama di negeri ini, mereka hanya menjual gelar Master saja…dan outputnya: mengecewakan.
Yoyo
Juni 9, 2009 at 6:42 pm
biaya MBA UI, dengan dual degree 148.5 juta, barusan saya dikirim surat dari MMUI, kurs euro, dapat MM dari UI MBA dari Univ di Perancis
z4ck
Juni 11, 2009 at 3:56 am
Pengen jg sih ambil MM di UI. Tp klo dibandingin sama PPM lebih aplikatif mana ya ilmunya? ada yg bisa kasih compare ga antara UI dan PPM?
Maturnuwun
Wood wood
Juni 12, 2009 at 1:49 am
mahal banget sekarang yah s2 di UI? untung saya sudah selesai thn 2007
toddler activities
Juni 13, 2009 at 12:31 pm
siapa bilang gak ada yang nerima S2 ??….setau saya kalo udah lulus S2 apalagi masih muda max 28 tahun (dalam arti setelah lulus S1 langsung ambil S2), perusahaan banyak yang rekrut kok…memang sih kita mesti pilih2 perusahaan yang bisa dikategorikan menengah ke atas (perusahaan end user maksudnya), dan ilmu yang kita dapat di S2 bisa digunakan diperusahaan tsb, coba liat di lowongan2 prshan2 tsb (telkom, chevron, total, telkomsel, indosat, BI, Bank Mandiri, BNI, Astra, Unilever,Sampoerna, dll…sering tertulis “S2 (will be advantage)”….kalau perusahan service company atau business partner (alias perusahaan bawahannya/kontraktor perusahaan induk/end user) mana mau nerima lulusan S2, gak guna buat mereka, mereka lebih prefer S1/D3……
so jangan takut untuk ngambil S2 setelah lulus S1(fresh fraduate), asal bidang yang diambil dapat digunakan di perusahaan dan selama S2 kita mesti serius untuk belajar agar dapet hasil yang optimal,…
rezeki udah ada yang ngatur, kita cuman berusaha, berdoa, dan bertanggung jawab dengan apa yang kita pilih….
pemula
Juni 13, 2009 at 3:02 pm
Salam hormat..
sebenarnya saya pengen kuliah S2 tapi karena biaya, jadi cita2 ku sampai S1..
saya sangatlah bersyukur,,
untuk Beasiswa di UI S2 ada gak?
Terimakasih.
azam-personal
Juni 22, 2009 at 1:26 pm
UI memang bejat tak bermoral, bagaimana Indonesia mau maju dan pintar jika warga masyarakatnya dibuat mahal hanya untuk kuliah S2. saya yakin 10 th lagi jika pendidikan kian mahal, indonesia akan menjual negara sendiri kepada rakyatnya. Keparat benar menteri pendidikan yang tak tau diri, bahwa rakyat indonesia wajib hukumnya menda[atkan pendidikan yg murah
togog
Juli 12, 2009 at 12:19 am
Alhamdulillah tahun ini saya masuk di MTI UI, untuk ukuran saya biaya semesteran segitu tidak terjangkau, tp tetep bismillah.
btw ada yg mo share kuliah di MTI kah ?khususnya yg backgroundnya dari non IT
Harri
Juli 26, 2009 at 11:57 am
wah kok rata-rata ambil MTI ? ada yang ambil MIK (Ilmu Komputer) ga heehhe
Reggio
Juli 31, 2009 at 8:29 am
@ v.ra
Tetap semangat! Mungkin sebaiknya kamu cari pengalaman dulu sampe totalnya kira2 2-3 tahun. Trus coba cari kerja di Singapore, arsitek lumayan banyak dicari di sini. Selain gaji jadi naik kamu juga dapat pengalaman ekstra. Nantinya kamu bisa nabung buat S2, either di Singapore (bisa part time mungkin) atau di Indo. Alternatif lainnya ya cari2 beasiswa.
Memang kuliah S2 mahal, apalagi MBA. Saya lagi cari2 MBA & berminat ke INSEAD, tapi biayanya, wuih, 56k euro jelas terlalu mahal buat saya. :P
Akhirnya mungkin pilih balik ke indo & ambil S2 di indo aja. Kebetulan dapat tawaran kerja lagi di indo.
lynx
Agustus 14, 2009 at 5:48 pm
@Lynx INSEAD memang mahal sekali.
Saran saya coba Ecole Supérieure de Commerce Paris, Biayanya jauh lebih murah tapi kualitasnya juga bagus setaraf dengan INSEAD.
Adhiguna
Agustus 19, 2009 at 1:04 pm
Waduh mahal juga ya kuliah S2 di PTN papan atas :) apakah sepadan dan bisa “balik modal” gak ya? hehehe
Student
September 26, 2009 at 12:28 pm
@mas student >> balik modal. bikin usaha kelontong mas.
jk cari prestise dan naik kelas status mah bisa
wkwkwk
abc
September 27, 2009 at 6:19 am
Profesi saya sekarang adalah Arsitek Praktisi.
Alhamdulillah selama 7 tahun kelulusan sudah menangani beberapa proyek sendiri.
Sejak 2 tahun yang lalu kangen untuk kembali ke bangku kuliah dan berniat untuk melanjutkan S2 Arsitektur, tapi minim banget informasinya ya?
Yang punya info boleh email ke saya?
Elly Widiastuti
September 28, 2009 at 8:40 am
mending kuliah di MM UI dari pada MKN unsri sudah biayanya 90 juta, dosennya gila smua, n fasilitasnya enggak ada…
aduh kacau….
Mkn Unsri
September 28, 2009 at 12:07 pm
iya saya setuju dengan mkn unsri… pada enggak ad otaknya mereka tuh…
Notaris unsri
September 28, 2009 at 12:11 pm
Kuliah s2 di UI pengin..tapi belum punya biaya.Suatu saat ingin kesana.Mimpi??
HERPIN PRANOTO
Oktober 10, 2009 at 1:10 pm
Ada yang punya pengalaman kuliah S2 Manajemen Akuntansi UPN Surabaya ngak ya….please sharingnya
Caca
Oktober 26, 2009 at 12:37 am
Kalau S2 Manajemen Akuntansi UPN Surabaya ada yang punya pengalaman…Kuliahnya Jum’at Malem + Sepanjang hari di hari Sabtu
Caca
Oktober 26, 2009 at 12:39 am