Arsip untuk Januari 2010
Tips mudah lulus ujian SIM A/C dan biaya pengurusannya di Jakarta 2010
Polri kini jauh lebih baik, salah satunya terlihat saat pengurusan SIM C baru di Pusat Layanan SIM Daan Mogot. Prosesnya cepat dan total biaya yang dibutuhkan adalah sebesar 125.000, persis sama dengan yang terpampang di website Ditlantas Polri, silahkan di cek Ditlantas Polri – Forum SIM, Ditlantas Polri – Biaya SIM
Biaya pengurusan SIM C di Jakarta tahun 2010
Biaya Pembuatan SIM baru: 75.000 (berkuitansi, dibayarkan di Bank BRI)
Asuransi : 30.000 (berkuitansi)
Kesehatan : 20.000 (berkuitansi)
Administrasi : 10.000 (optional)
Sewa Motor : 5.000 (optional)
Dompet : 5.000 (optional)
Total : 145.000,-
*optional artinya bisa dibayarkan bisa tidak.
Selasa kemarin saya mengurus SIM C baru di Daan Mogot. Menurut papan pengumuman yang tertera disana, untuk proses pengurusan SIM C memerlukan waktu kurang lebih 2 jam. Pengalaman saya kemarin saya membutuhkan waktu 4 jam, karena saya gagal di test teori. Untungnya Polri memberi kesempatan kita untuk melakukan remedial test, segera setelah test teori yang pertama gagal. Test teori pertama saya nilainya 16 (dari minimum 18) kemudian test kedua menjadi 19 lulus.
Tips mudah lulus ujian SIM A/C
Sedikit tips bagi yang ingin mengurus SIM C ataupun SIM A di Daan Mogot.
1. Datang pagi-pagi
Usahakan datang sebelum jam 8.00 pagi. Jangan lupa membawa alat tulis pinsil dan pulpen (bisa beli seharga Rp 2000). Juga jangan lupa membawa fotokopi KTP 4 lembar (bisa juga fotokopi ditempat seharaga Rp 2000).
2. Test kesehatan
Tahapan pertama adalah test kesehatan (mata), segera menuju tempat test kesehatan. Atau bila bingung, segera hubungi bagian informasi, atau polisi yang bertugas dibagian depan pintu masuk untuk mengetahui tahapan pengurusan test. Biaya 20.000. Hampir dipastikan test kesehatan ini lulus.
3. Bayar-bayar
Selanjutnya bayar-bayar, biaya pembuatan SIM baru dan asuransi seperti diatas
4. Test teori
Test teori terdiri dari 30 soal dengan minimum score 18. Untuk tiap jenis SIM soalnya berbeda dan ada 9 variasi untuk masing-masing SIM A, B dan C. Test teori ini merupakan saringan pertama. Beruntung, saya bisa lulus setelah dua kali mencoba, pasalnya banyak teman-teman yang hingga 6-8 kali mencoba test teori dan masih gagal. Menariknya, Polri langsung memberikan remedial test saat itu juga, sehingga tidak perlu menunggu hingga 14 hari. Namun bila remedial test gagal, maka kita hanya diperbolehkan mengulang 14 hari berikutnya.
Soal terdiri dari 2 tipe, hafalan dan analisa. Hafalan seperti, berapa usia minimum mendapatkan SIM C, apa arti rambu, soal tipe hapalan ini merupakan penyumbang score terbesar. Tipe kedua adalah analisa, sekitar 30% rasa-rasanya adalah analisa seperti kendaraan mana yang harus maju duluan, kendaraan mana yang harus menunggu. Soal tipe analisa ini cukup membingungkan. Saking membingungkannya -mungkin karena dalam ‘real life situation’ teori-teori ini tidak mungkin diaplikasikan, maka kita harus berhati-hati betul. Tipsnya adalah buang jauh-jauh persepsi anda selama ini tentang bagaimana mengemudi di jalan raya.
5. Test praktek
Untuk test motor, ada 6 track yang harus dilalui: Angka delapan, Zigzag, Berjalan-Berhenti/rem dan putaran U. Pengalaman test kemarin, penguji hanya mewajibkan test ke 6 yang tersulit, yaitu putaran U pada jalan sempit. Untuk test praktek ini bila gagal tidak ada remedial test langsung seperti test teori. Kita diperbolehkan mengulang setelah 14 hari.
Untuk test mobil, (agak lupa 2 tahun yang lalu nih) antara lain berhenti di tanjakan, parkir paralel
6. Foto, Sidik Jari, Cetak Kartu
Nah untuk tahapan ini juga Polri semakin baik. Proses pengurusan foto, sidik jari dan cetak kartu sangat cepat. Hampir tidak ada waktu untuk menunggu. Rasa-rasanya hari itu jumlah pemohon SIM juga cukup banyak tapi proses tetap bisa berlangsung cepat. Kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan saat saya mengurus SIM A padah tahun 2007.
Masih adakah budaya suap, pelicin, uang terimakasih dan sebagainya?
Harus diakui, selama masih banyak orang kita yang berupaya mencari jalan pintas, ingin cepat selesai maka kesempatan itu pasti ada. Bersama saya kemarin cukup banyak peserta dari lembaga kursus mengemudi atau yang didampingi dengan petugas tertentu. Biaya yang dibutuhkan berkisar
SIM C: 200-300ribu (all in, tinggal foto dan sidik jari)
SIM A: 450-500ribu (all in, tinggal foto dan sidik jari)
SIM A via kursus: 500-700ribu
Perujian, SIM C: 50-100ribu (semisal gagal di teori saja, atau gagal di praktek saja)
Perujian, SIM A: 200-300ribu (semisal gagal diteori saja, atau gagal di praktek saja)
Untuk masalah ini kita tidak bisa menyalahkan Polri saja, tapi karena permintaan ini datang dari masyarakat kita juga. Menurut pendapat saya, kalau pertimbangannya waktu pengurusan rasanya ini bukan masalah lagi ya, karena prosesnya relatif lebih cepat sekarang.
Bagaimana pengurusan SIM di daerah?
Tahun 2005 saya mengurus SIM di Cirebon. Sebenarnya dibandingkan pengurusan SIM di Jakarta, proses pengurusan SIM di Cirebon sudah jauh lebih baik. Mungkin karena volume pemohon SIM tidak setinggi di Jakarta.
Ada pengalaman lain?
PS: kemarin konon ada sidak dari KPK di Pusat layanan SIM Daan Mogot :)
Harga diri laki-laki adalah bekerja
Pagi-pagi di sekitar Kebayoran Lama, sambil mengendari sepeda motor saya melihat ada sticker menarik yang terpampang di bagian belakang motor seseorang. Tulisannya membuyarkan lamunan saya pagi itu disela-sela kemacetan setiap paginya.
“Harga diri laki-laki adalah bekerja” begitu bunyi tulisan dengan huruf hitam dan background kuning -bentuk standar sticker yang sering kita lihat dibelakang motor.
btw, ternyata cukup banyak yang terinspirasi dengan sticker belakang motor tersebut.
Luqmanhakim: Harga diri laki-laki
Ah, ayo semangat bekerja.
Kamus Mandarin/China untuk sangat pemula
AGEN: “Jadi barangnya mau dikirim dari mana pak?”
PEMBELI: “Shenzhen” suara tidak terlalu jelas
PEMBELI: “Sengshen” agak ragu-ragu juga mengucapnya
AGEN: … si agen masih menunggu
PEMBELI: “Iya Sengsen” mengubah dari e (seperti e pada kata meja, menjadi e pada kata tempat”
AGEN: “Oh maksud bapak Sencen ya”
AGEN: Wah, kita tidak punya akses dari Sencen pak, kita ada di Kuangcou. Sencen dua jam dari Kuangcou
PEMBELI: … mencoba mengingat-ingat, apa yang dia maksud Kuancou
” Ah Guangzhou ya, Guangzo, Kuancou”
Susah juga ya, sedikit catatan kecil dari seorang teman, kutipan dari email
b dibaca p; misal ba dibaca pa
p dibaca ph; misal pin dibaca phin
d dibaca t; misal de dibaca te
t dibaca th; misal teng dibaca theng
g dibaca k; misal gong dibaca kong
k dibaca kh; misal ke dibaca khe
c dibaca ch; misal ci dibaca che
ch dibaca ch juga tp ada beda di angin yg keluar dr mulut hihi; misal chi dibaca che
z dibaca c; misal zi dibaca ce
zh dibaca c juga tp ada beda di angin yg keluar dr mulut hihi; misal zhang dibaca cang
sh dibaca s; misal sheng dibaca seng
x dibaca s; misal xi dibaca si
q dibaca ch; misal qi dibaca chi
y, r, h, f, l, m, n cara bacanya tetep sama.
Note:
1. “e” dalam mandarin dibaca seperti “e” pada kata “tempat” bukan “e” pada “meja” :D
2. c, ch, z, zh, sh kalau diikuti huruf “i” maka “i” bacanya jadi “e”
3. huruf “ΓΌ” yang ada di belakang l atau n, bacanya jadi agak iu gitu hehe…
4. yan dibaca yen
5. yuan dibaca yuen
Thanks San
Partai Pencari Kerja Indonesia
Kalau ada partai solid yang bisa memenangkan pemilu 2014 besok, saya ingin memilih Partai Pencari Kerja Indonesia (PPKI). Rasa-rasanya masalah terbesar di negeri ini adalah mencari pekerjaan, dengan adanya pekerjaan, maka akan ada pendapatan rutin, kesejahteraan meningkat dan ujung-ujungnya kualitas generasi yang dibangun melalui pendidikan dan kesehatan bisa terlaksana.
Pengalaman saya pulang kampung ke Cirebon, Jogja atau Malang, rata-rata pertanyaan yang disampaikan oleh sanak kerabat adalah peluang untuk bekerja di kota. Rata-rata si penanya berada dalam usia produktif, rajin bekerja, sayang tidak ada kesempatan.
“Iya Njar, iparku, supir angkot di Depok, sistem setoran sehari bersih cuman bisa bawa pulang Rp 25.000,-”
Berat ya.
Mengendarai motor disaat hujan
Hujan deras, dipagi hari adalah mimpi buruk setiap pengendara motor di Jakarta. Cipratan air, jalan licin nan berlubang, belum lagi kemacetan yang semakin hari semakin menggila. Perlengkapan berkendara mulai dari jas hujan lengkap, sandal cadangan, busi cadangan tersedia di motor. Dulu saya menyimpan perlengkapan tersebut di box bagian belakang motor -yang akhirnya saya copot karena merepotkan saat harus berbelok-belok atau mencari tempat parkir.
Seberat-beratnya hujan, lama-lama saya pun terbiasa. Karena saat hujan menerjang, mesin motor berasa lebih dingin, jalanan licin membuat motor berjalan lebih cepat. Dan kemacetan di jalan memberikan suasana bahwa motor yang saya kendarai ini berjalan sangat sangat cepat.
Saya terkadang menggunakan dua jas hujan rangkap sekaligus. Jas hujan model jacket dilapis pertama, sekaligus melindungi tas berisi laptop. Kemudian jas hujan model ponco lebar dilapis kedua. Kalau bicara waktu yang ditempuh oleh motor saat hujan atau gerimis tiba, dibandingkan dengan waktu berkendara normal, rasa-rasanya tidak ada bedanya.
Hujan bagi saya bukan musuh utama, tapi lupa adalah musuh yang utama. Beberapa kali tertinggal jas hujan dirumah yang sedang dikeringkan, atau lupa membawa sandal cadangan. Rintik hujan gerimis waktu petang merupakan warna tersendiri bagi kota yang sehari-harinya panas terik ini. Selamat hari hujan.
Mengenal Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian PTIK
Kalau ada perguruan tinggi paling menyenangkan di Indonesia, mungkin kandidat itu jatuh pada Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) -sekarang berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian CMIIW. PTIK terletak di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini diperuntukkan bagi perwira Polisi.
Kebetulan saat ini banyak temen SMA yang sekarang sedang menempuh pendidikan di PTIK -kemarin sempat beberapa kali silaturahmi kesana, seangkatan kira-kira ada 20-an orang anak teman SMA.
Kira-kira apa yang ada dibenak para calon pemimpin Polri masa depan ini ya? reformasi Polri kah? idealisme kah? atau seputar nasib bangsa ini kah? hmm rasa-rasanya kurang lebih sama ya. Rata-rata teman-teman sudah menikah punya anak satu atau dua batita. Permasalahan standar seputar bagaimana membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, seputar ‘malas’ tinggal di Jakarta dan ingin tinggal di daerah, seputar bagaimana kreatif memenuhi kebutuhan hidup. Ya akhirnya polisi juga manusia, juga seorang pria, juga seorang suami.
Rasa-rasanya peran apapun yang sedang kita mainkan di dunia ini, entah sebagai si miskin, sebagai si kaya, sebagai yang diatas atau sebagai yang dibawah, semuanya ‘menuntut’ hal yang sama, berbuat sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Seperti katanya banyak orang bahwa Tuhan tidak akan memberi beban melebihi kapasitas orang itu sendiri.
Mesin ketik ibu
Waktu saya kecil, ibu seringkali membawa mesin ketik kerumah. Mesin ketik manual besar yang ukurannya hampir sebesar tas koper polo. Ibu biasa membawanya pulang naik becak dari kantor. Rasanya tidak mungkin juga membawanya naik sepeda motor atau naik angkot. Sebagai seorang PNS kecil bagian administratif sebenarnya tidak begitu banyak pekerjaan ketik mengetik yang harus sampai dikerjakan dirumah. Namun karena anak-anaknya selalu tertarik dengan benda bernama mesin ketik ini maka semakin sering pula ibu membawanya kerumah.
Saya mulai dekat dengan mesin ketik ini karena ibu, biasanya kami gunakan untuk belajar mengetik. Kagum melihat si Ibu mampu mengetik dengan luwesnya dengan 4 jari – bukan sepuluh jari sebagaimana para pakar mengetik. Senang juga melihat bagaimana mechanical device ini beraksi, secara melihat teknologi canggih langsung didepan mata.
Salah satu hal yang senang saya lakukan dengan mesin ketik itu adalah membuat surat. Kebetulan waktu itu ada buku kumpulan alamat pejabat dan menteri yang didapat disalah satu toko buku. Saat itu saya banyak sekali berkirim surat kepada pejabat-pejabat tersebut, dengan harapan si pejabat memberikan kenang-kenangan atau sesuatu. Berhasil juga, Try Sutrisno -walau tentunya ditulis oleh sang ajudan membalas surat yang saya kirimkan beserta foto keluarganya. Senang rasanya bisa mendapatkan balasan surat tersebut.
Kini, jaman sudah berubah, era mesin ketik sudah berlalu, laptop adalah mainan terkini hal seputar ketik mengetik. Secara teknologi laptop memang mengubah segalanya, tapi ada hal mendasar antara mesin ketik dan laptop yang tetap sama hingga sekarang. Bahwa mesin ketik dan laptop bisa menghasilkan karya, berproduktif lewat laptop. Apalagi dengan kecanggihan komunikasi seperti sekarang. Rasa-rasanya tidak terhitung kesempatan yang bisa kita dapatkan dengan memiliki laptop.
*Sepenggal pesan untuk seorang kerabat yang baru membeli laptop, semoga bisa menambah produktivitas dan menambah rezeki dengan laptop barunya. Btw dengan 6 juta rupiah, ASUS K40IN-VX172 merupakan pilihan terbaik bukan ya?
Apa yang orang tua harapkan dari anaknya?
Pertanyaan ini saya coba jawab dari sudut pandang saya sebagai anak dan sudut pandang saya sebagai seorang bapak. Rasa-rasanya hal yang paling orang tua harapkan dari anaknya adalah kemandirian. Kemandirian dalam arti bisa berdiri sendiri, membangun keluarganya, tanpa harus merepotkan orang tua. Nah untuk tujuan yang sederhana ini resep yang digunakan tidak ada yang sama persis dan rasa-rasanya tidak ada satu ilmu pun yang begitu universal untuk menjelaskannya.
Saya melihat ada seorang kerabat -yang kebetulan pejabat, harta berlimpah, anaknya baik-baik -tidak narkoba, tapi kok sudah sekian si anak umurnya tidak bisa mandiri. Atau ada juga kerabat yang punya background pendidikan bagus, dengan analogi berpikir yang luar biasa pula tentang bagaimana membesarkan anak, tapi ternyata hasilnya malah seadanya.
Sebaliknya, banyak anak kampung dari latar belakang keluarga yang sederhana, malah terkadang lebih tidak jelas, yang juga terkadang tanpa visi yang bermutu dari orang tuanya tapi mampu survive, mampu hidup secara mandiri. Jadi, apa resep teman-teman dalam mendidik anak?
Aku cinta Banten

Tak kenal maka tak sayang, mungkin kalimat itu yang paling tepat mengilustrasikan pengalaman kami berlibur ke Anyer kemarin. Berangkat pagi hari dari Bintaro, mobil diarahkan ke Serang. Dengan menempuh jarak kurang lebih 70km, sekitar 1.5 jam akhirnya mobil sampai juga di rumah teman di Serang, seharusnya perjalanan bisa berlangsung lebih cepat namun banyaknya jalan tol yang rusak membuat perjalanan sedikit terhambat.
Route pertama yang ditempuh memang Serang, ibukota Provinsi Banten ini merupakan checkpoint pertama kami. Silaturahmi ke perumahan Titan Arum, Kesatrian Gatot Subroto merupakan agenda pertama. Seputar kantor Gubernuran, workshop Sinar Ciomas, Komplek Perkantoran Provinsi Banten.
Dari Serang perjalanan dilanjutkan menuju Anyer, sengaja kami melewati jalan baru -bukan lewat Tol Serang Barat, sambil melihat-lihat pemandangan tentunya. Di Anyer, agenda selanjutnya makan siang di Sop Ikan, yang ternyata murah -untuk ukuran porsi sebesar itu @20rb/per orang. Keliling-keliling Anyer, turun ke salah satu pantai. Azkia masih takut-takut -ini pertama kali dia bermain di pantai berpasir. Transportasi secara umum lancar, mungkin karena hari minggu dan orang-orang justru sudah pulang ke Jakarta.
Dari Anyer, kembali lagi ke Serang, mengantarkan teman pulang, sambil melihat tempat usaha si teman. Pulangnya disempatkan makan durian di Durian Jatohan Haji Arif (DJHA). Sepanjang hari rasanya agendanya makan dan makan terus. Alhamdulilah secara umum lancar, sampai di rumah sekitar pukul 19.00.
Puas, rencananya rute selanjutnya berkunjung ke Suku Badui -Bunda penasaran banget nih.

Motorola L6 vs Nokia 6303 Classic
Akhirnya setelah 4 tahun lamanya menemani sebagai HP primary, HP utama saya, Motorola L6 tercinta ini dipensiunkan juga. Penggantinya adalah Nokia 6303 Classic -Harga 1.4jt di Okeshop sebelah kantor. Dengan berbagai pertimbangan, terutama kebutuhan utama untuk SMS dan telepon saya rasa Nokia ini adalah yang terbaik buat saya.
Harapannya, lifespan-nya bisa sampai 4 tahun, sama seperti Motorola L6 pendahulunya. Syukur-syukur keluhan yang dialami Motorola L6 didetik-detik terakhir masa baktinya seperti sering hang, restart, phonebook hilang bisa teratasi dengan HP baru ini.
Cara nge-charge baterai HP baru
Oh iya, sedikit catatan kecil tentang prosedur mengisi baterai untuk HP baru (yang juga applicable untuk laptop) bisa dilihat di sini dan sini. Pasalnya setelah beli pasti dipesenin “Jangan lupa charge 6-8 jam dalam kondisi mati ya pak”. Yang ternyata lebih pada mitos. Setelah membaca tulisan seputar baterai tersebut jadi terinspirasi untuk lebih merawat baterai. Duh, telat ya.

