Mesin ketik ibu
Waktu saya kecil, ibu seringkali membawa mesin ketik kerumah. Mesin ketik manual besar yang ukurannya hampir sebesar tas koper polo. Ibu biasa membawanya pulang naik becak dari kantor. Rasanya tidak mungkin juga membawanya naik sepeda motor atau naik angkot. Sebagai seorang PNS kecil bagian administratif sebenarnya tidak begitu banyak pekerjaan ketik mengetik yang harus sampai dikerjakan dirumah. Namun karena anak-anaknya selalu tertarik dengan benda bernama mesin ketik ini maka semakin sering pula ibu membawanya kerumah.
Saya mulai dekat dengan mesin ketik ini karena ibu, biasanya kami gunakan untuk belajar mengetik. Kagum melihat si Ibu mampu mengetik dengan luwesnya dengan 4 jari – bukan sepuluh jari sebagaimana para pakar mengetik. Senang juga melihat bagaimana mechanical device ini beraksi, secara melihat teknologi canggih langsung didepan mata.
Salah satu hal yang senang saya lakukan dengan mesin ketik itu adalah membuat surat. Kebetulan waktu itu ada buku kumpulan alamat pejabat dan menteri yang didapat disalah satu toko buku. Saat itu saya banyak sekali berkirim surat kepada pejabat-pejabat tersebut, dengan harapan si pejabat memberikan kenang-kenangan atau sesuatu. Berhasil juga, Try Sutrisno -walau tentunya ditulis oleh sang ajudan membalas surat yang saya kirimkan beserta foto keluarganya. Senang rasanya bisa mendapatkan balasan surat tersebut.
Kini, jaman sudah berubah, era mesin ketik sudah berlalu, laptop adalah mainan terkini hal seputar ketik mengetik. Secara teknologi laptop memang mengubah segalanya, tapi ada hal mendasar antara mesin ketik dan laptop yang tetap sama hingga sekarang. Bahwa mesin ketik dan laptop bisa menghasilkan karya, berproduktif lewat laptop. Apalagi dengan kecanggihan komunikasi seperti sekarang. Rasa-rasanya tidak terhitung kesempatan yang bisa kita dapatkan dengan memiliki laptop.
*Sepenggal pesan untuk seorang kerabat yang baru membeli laptop, semoga bisa menambah produktivitas dan menambah rezeki dengan laptop barunya. Btw dengan 6 juta rupiah, ASUS K40IN-VX172 merupakan pilihan terbaik bukan ya?


Hahaha…jadi ingat mesin ketikku, menemani malam-malam saat anak-anak sudah tidur.
Karena bos bilang..”Kau boleh pulang tepat waktu, tapi kerjaan, besok pagi jam 7 sudah di meja saya,”
edratna
Januari 14, 2010 pada 1:14 am
IYa saya juga mesin ketik yang dulu berjaya kini mangkrak dirumah, mo dijual katanya sayang,’buat kenang-kenangan’, kata ibuku. salam dari pernikahan adat Indonesia.
pernikahan adat
Januari 16, 2010 pada 1:16 pm
Mesin ketik nan penuh kenangan manis dan sedikit menyakitkan, terutama bila ada tetangga yang sakit gigi. karena suaranya yang sangat menghentak sperti musik rock metal…. tapi aku pernah dapat tips biar gak berisik…. dengan memberi alas bantal… yah sedikit jadi peredam lah….
salam kenal…. maen2 ya ke blog http://PakAsep.Wordpress.Com
Pak Asep
Januari 14, 2010 pada 1:57 am
wempi pake asus f80s
Wempi
Januari 17, 2010 pada 1:37 pm
wempi kok fotonya beda ?
papabonbon
Februari 4, 2010 pada 9:53 pm