Pekerjaan Sampingan, Manajemen Proyek dan Kreativitas
Beberapa hari yang lalu kami melakukan renovasi kecil dirumah, yaitu mengeramik lantai garasi. Tukang yang kami gunakan adalah rekomendasi dari teman, rekomendasi teman Dinda tepatnya -Dinda untuk urusan per-Teknik-Sipilan, per-Tukangan dan per-Arsitekan lebih menguasai dibandingkan saya. Karena sifat pekerjaannya minor, -mengeramik garasi depan dan belakang- maka pekerjaan dapat dilakukan dalam durasi hari saja.
Cuma, karena cukup banyak pihak yang berkepentingan, mulai dari Dinda, saya, Bapak dan Ibu mertua (yang sebetulnya didatangkan untuk membantu mengawasi) serta Pak Tukang itu sendiri, pekerjaan jadi sedikit tertunda, bongkar pasang pun tidak dihindari. Belum lagi masalah manajemen proyek, budget hingga ide-ide aneh yang muncul ketika proses pengerjaan sedang dilakukan.
Untuk hasil pekerjaan secara umum sangat memuaskan, tukang rekomendasi memang tidak mengecewakan. Sebenarnya selain kemampuan teknis si tukang hal yang juga penting adalah kreativitas dan idealisme si tukang. Tukang yang baik tidak serta merta menuruti keinginan dari si project owner, tapi harus sejalan dengan visi dan kompetensi dia sebagai tukang.
Menariknya, salah satu tukang bekerja freelance dalam proyek ini, artinya dia saat ini bekerja ‘nine to five’ disebuah toko bangunan, dan menjadi tukang pembantu hanya disela-sela kesibukannya dia saja. Kebetulan pula waktunya long weekend sehingga beliau bisa mengajukan izin kepada bos tempat bekerjanya.
Buat saya, pekerjaan kecil dirumah kemarin memberikan banyak pelajaran berharga antara lain:
1. Pekerjaan apapun yang dilakukan bersama-sama, baik atau buruk pasti bermanfaat.
Ini pekerjaan yang melibatkan banyak orang, termasuk ‘pertengkaran’ kecil dengan Dinda seputar design. Tapi, yakinlah apapun hasilnya, dampak bekerja bersama-sama ini pasti positif. Pelajaran untuk mengenal pasangan, keluarga dan orang lain dengan lebih baik.
2. Bahkan tukang-pun bisa cari pekerjaan sampingan.
Ehm, topik sensitif. Tapi buat saya sebagai pengguna jasa, kualitas hasil pekerjaan sangat bagus. Meskipun dikerjakan terburu-buru -beberapa kali hingga pukul 22.00, si tukang tetap bisa memberikan hasil pekerjaan yang sangat baik. Hal ini mengingatkan saya bahwa sebenarnya peluang untuk melakukan pekerjaan sampingan sejenis -tentunya sesuai kapasitas kita- sangatlah banyak, tinggal bagaimana kita mendapatkannya. Dalil klasik tentang network dan pertemanan terbukti dalam hal ini.


Sayang di bangku sekolah kita sering dibutakan nilai dan meng-acuhkan networking. padahal dalil klasik itulahh yg membuat kita hidup.
Arham blogpreneur
Maret 17, 2010 pada 5:32 am
setengah setuju Jar.. hahaha..
berdasarkan pengalaman pribadi, kurang berhasil membagi diri antara ingin berdagang dan pekerjaan pokok (ngantor).
kasus si tukang, dia bisa nyamping sana sini karena sifat pekerjaannya ga pake mikir berat, mengalir saja.
untuk pekerjaan tertentu yang membutuhkan pemikiran, misal berdagang (mikir kualitas produk, mengelola konsumen bla bla), agak susah disambi dengan pekerjaan serius lainnya :(
lebih baik totalitas ;)
justina
Maret 18, 2010 pada 7:05 am
mantaph banget tuh kata-kata yang apapun yang dilakukan bersama-sama pasti bakal bermanfaat,..
ngerampok bank juga termasuk juga khan??
haha
fajar
Maret 22, 2010 pada 12:13 pm
Nah tuh deh.. Kalo cari kerjaan sampingan, ujung-ujungya sampe jam 22.00. Lha wong gak cari kerja sampingan aja, nyampe rumah jam segitu, Njar.. He he he..
Lagian, kalo di kantor in somehow kan kadang2 ada CoC lho, nggak boleh kerja paruh waktu selain yang sifatnya untuk pendidikan (dosen – ngajar), punya usaha yang tidak membutuhkan perhatian khusus karena ada pihak lain yang mengelola, dsb :D
Nina
April 5, 2010 pada 1:22 am
Ini adalah hidup yg ideal penuh makna
sugihartotutut
April 22, 2010 pada 2:37 am
pekerjan sambialn ya itu kan sambialn ya lanris bersukur kta patut bersukur tapi pekerjan sampingan gak jalan , rugi gak usah pernah bisa pesen tok akhir ya rugi tutup lah
dani
Mei 21, 2010 pada 9:48 am
saya suka dengan pekerjaan sampingn misalnya bisis online … :-)
Jabon
Juli 26, 2010 pada 3:58 am
1. banyak teman banyak rejeki itu emang benar….
2. jika sudah banyak teman, pegang amanah…
bingung lihat negara ini
Juni 21, 2011 pada 9:54 am