Arsip untuk April 2010
Seni dan tips mengontrak rumah (di Bintaro)


Mengontrak rumah bagi sebagian orang mungkin merupakan pilihan yang terbaik dibandingkan dengan membeli rumah. Selain faktor budget, mengontrak rumah memungkinkan orang tersebut untuk mendapatkan ‘feel’ dimana lokasi terbaiknya untuk bertempat tinggal, sebelum kemudian membeli rumah.
Pasalnya tidak sedikit kasus dimana orang sudah telanjur membeli rumah yang ternyata tidak cocok dengan ‘karakter’ dirinya atau ‘karakteristik’ pekerjaannya e.g ada pekerjaan yang mengharuskan pulang larut malam, ada pekerjaan yang wajib datang pagi kekantor. Atau kasus kecil seperti preferensi kedekatan dengan sekolah anak.
1. Dapatkan harga terbaik dilokasi terbaik
Sebenarnya, aturan memilih rumah kontrakan hampir sama dengan membeli rumah: Harga terbaik dengan lokasi terbaik. Untuk rumah kontrakan di komplek cara memilih pun lebih mudah karena umumnya harga-harga rumah yang dikontrakkan relatif sama, tinggal kita jeli untuk memilih rumah mana yang akan kita tempati.
2. Induk semang yang menyenangkan
Syukur-syukur Induk semang orangnya koperatif, tidak terlalu ‘rese’
3. Kondisi rumah
Banyak alasan orang mengkontrakkan rumahnya, untuk rumah kontrakan di kompleks, biasanya alasannya adalah bukan untuk investasi e.g dipindah tugaskan didaerah. Atau tempat kerja ternyata berlawanan arah dengan tempat tinggal. Atau memang untuk semata dikontrakkan (sudah punya rumah utama). Baca entri selengkapnya »
Belajar berkata tidak
Nasihat klasik ini sudah saya dengar sejak dulu, tapi menerapkannya luar biasa susah. Mungkin pembawaan dari kecil, bahwa kata TIDAK biasanya berarti negatif seperti tidak mampu atau tidak sanggup. Sementara didukung juga dari ‘pendidikan’ kata TIDAK pantang untuk diucapkan.
Kalau minggu yang lalu mulai belajar jangan serakah, maka pelajaran selanjutnya adalah belajar berkata tidak.
Jangan serakah
Beberapa hari belakangan ini kegiatan utama saya dalam berinternet adalah unsubscribe. Ya, akhirnya saya mulai menonaktifkan notifikasi dari banyak milis, social network dan email-email lain. Termasuk didalamnya melimitasi jumlah bacaan di google reader, di microblogging dan sejenisnya. Hasilnya lebih baik, inbox saya tidak bertumpuk sebagaimana biasanya, hati saya lebih tenang -karena keinginan untuk senantiasa mengecek email menjadi berkurang.
Sepertinya jargon ‘Jangan Serakah’ berlaku secara universal, bahkan untuk hal yang positif sekalipun. Selalu ada satu titik dimana kita harus belajar kapan harus berkata cukup.

