Sekali lagi tentang prioritas
Ternyata susah ya menentukan skala prioritas itu, sebenarnya rancangannya sudah ideal e.g senin-jumat waktu untuk pekerjaan di kantor, sabtu-minggu khusus diprioritaskan untuk keluarga. Tapi prakteknya lebih banyak gagal atau tidak seimbang yang terjadi. Tidak terbayang bagaimana caranya ada orang di Jakarta yang selain dua hal besar tadi masih punya cukup waktu untuk mengajar sebagai dosen, belajar hal baru, membaca buku, aktif bersosialisasi, rajin berorganisasi dan bahkan tetap produktif berkarya (menulis, fotografi) dan juga tetap seimbang dengan hobi dan kehidupan pribadinya.
Saya sempat mencoba (terobsesi) untuk menjadi seperti itu, masih dalam skala kecil sebenarnya, tapi rasanya tidak sanggup bahkan melihat rencana yang harus saya jalankan seringkali menjadi terbebani. Hal yang malah kontradiktif ya. Bukankah aturan manajemen stress yang pertama itu “Drop one committment” -semoga saya selalu ingat hal itu.

