Sabar dan optimis dalam mencari pekerjaan
Malam itu, di kereta AC ekonomi terakhir menuju Serpong, saya melihat salah satu penumpang yang sedang sibuk membaca iklan lowongan pekerjaan via gadget canggihnya. Si penumpang yang mungkin usianya 20-an akhir tampak sibuk melihat jobstreet, jobsdb dan situs lowongan kerja lainnya. Kalau melihat caranya menavigasi informasi lowongan kerja dengan sangat terampil, rasanya saya bisa menyimpulkan bahwa kegiatan ‘browsing’ pekerjaan ini termasuk kegiatan yang rutin dia lakukan setiap pulang dengan kereta api. Apalagi kalau melihat hampir sepanjang perjalanan kereta situs itu yang terus menerus dia amati.
Dulu ditahun-tahun pertama bekerja saya juga sering melihat teman-teman yang ritual rutin setiap paginya (sebelum era Blackberry seperti sekarang) ritual pagi dimulai dengan browsing informasi lowongan kerja. Ritual rutin ini biasanya berakhir setelah 2-3 tahun bekerja, setelah menemukan pola pekerjaan yang tetap.
Buat teman-teman fresh graduate -si para pencari kerja. Tentunya semangat untuk mencari pekerjaan ini senantiasa perlu dibangun. Apalagi bila sudah tidak lagi menemukan kecocokan bekerja yang bisa dikarenakan oleh banyak hal, mulai dari reorganisasi hingga ketidaksesuaian visi bisnis dengan kondisi saat ini. Apapun, mencari kerja atau mencari peluang adalah skill dasar yang perlu senantiasa dibangun dan dikembangkan.
Hehehe ampe sekarang juga saya masih liatin situs lowongan kerjaan mas, padahal udah 6 taun kerja heheheh
Indra
Agustus 29, 2010 pada 11:27 am
Coba bisnis sendiri bisa menjadi pilihan yang baik.
Pilihan saya adalah internet marketing yang saya pelajari di solusibisnisonline.com
Solusi Bisnis Online
Mei 10, 2011 pada 4:30 pm
sabar … sabar … sabar !
sekedar berbagi
Agustus 30, 2010 pada 7:13 am
sebenarnya pekerjaan itu tak perlu di cari tapi pada hakekatnya pekerjaan itu menungggu kita, sadar nggak jika kita selalu aktifitas iju merupakan contoh pekerjaan kecil, cuman pekerjaan yang bisa mendatangkan uang itu yang harus dipikirkan pekerjaan ata yang pas untuk hasilnya dapat di trrima orang lain, untuk itu pilih saja pekerjaan apa saja yang orang lain membutuhkan hasil dari pekerjaan itu, apapun bentuknya, jadi menurut saya menungggu pekerjaan itu tak perlu kita lakukan. ingan segala peluang telah lalu lalang di depan kita, hanya kita saja yang harus peka dan mampu beradaptasi dengan tingkah laku konsumen. cobalah dari pekerjaan ringan karena lambat laut akan besar juga.
masis
September 14, 2010 pada 10:25 am
betul mas … tetep aja liat lowongan kerja yang aduhai mah ngiler meski skarang tidak gencar seperti dulu. malahan sekarang planning lagi mau resign padahal belom ada kerjaan baru… temen-temen sampe kaget jungkir balik….hehehe. sudah nda cocok lagi environmentnya padahal baru sebulan ini ada kenaikan salary….:(
SJ
Agustus 31, 2010 pada 5:48 am
kayaknya rejeki emang udah ditentuin… selama kerja sering nyari kerjaan baru … rentetan tes udah dicoba sampe interview english,psikotes segala macemnya, kalo bukan rejeki tetep aja gagal. wong tes kesehatan saat lagi ngga fit … :(
BelajarBahasaInggrisMudah
Agustus 31, 2010 pada 5:53 am
kerjanya emang cari kerja Mas,
sudah dari tes ke tes di jalanin,
sampai detik ini belum ada yang “nyanthol”.
sabar, sabar, sabar.
Pecinta Indonesia
September 7, 2010 pada 9:18 am
Kalau ada yg lebih baik kenapa tidak?
Sebelum masuk ke comfort zone, dan mandeg gak bisa ke mana-mana :)
riyantoro
September 13, 2010 pada 6:52 am
Pak, saya dpt mslh berat kyk gini, mohon masukkannya
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5587026 kalo bisa dibales k email saya ya. saya pengemar blog ini. Trima Kasih
agung
Oktober 15, 2010 pada 2:52 pm
hm…roker juga ya? serpong pula.. hehe.. :D senangnya nemu blogger roker juga.. barangkali suka ketemu sebenernya di kereta. hehe.. salam kenal!
yusako
Oktober 19, 2010 pada 8:54 am
Pak Ari, saya minta pertimbangan dunk…
saya freshgrad dari b’ground teknik, dan sudah diterima kerja setelah wisudaan.. dulu saya tertarik melamar di perusahaan ini karena ada tawaran di training ke jepang selama 2 tahun trus digaji double Indonesia-jepang. Oleh karena itu waktu interview saya berani mengajukan expected salary yang lumayan besar sekitar 4-5 jutaan. Karena perusahaan itu termasuk perushaan otomotif yang kata HRD nya adalah terbesar dibidangnya. Posisi perusahaan ada di Bekasi Pak.
Tetapi ketika pengumuman final saya diterima, saya Cuma di kasih gaji jauh dari expected saya, sekitar 2,3 jt pak, dan waktu itu karena saking senangnya atau eforia fresgrad dapat kerja, saya iyakan saja tanpa saya nego lagi. Bahkan menurut ortu saya segitu termasuk besar disbanding gaji PNS. Ya sudah saya langsung taken kontrak begitu saja. Tapi satu hal yang mengecewakan adalah tawaran training ke Jepang untuk saya ditiadakan karena itu untuk laki-laki. Padahal di info lowongan kerjanya tidak menyebutkan gender. Sebenarnya dengan setengah terpaksa juga saya akhrinya masuk kerja. Saya hanya berpikir waktu itu takut nolak kerjaan yang sudah didapat, takut kualat.
Posisi yang ditawarkan ke saya adalah PPC. Tapi sampai sekarang saya bertahan posisi tersebut belum juga diberikan ke saya. Jadi pertama kali kerja saya diikutkan proyek 2tahunan perusahaan sekaligus belajar mengenal perusaaan. Saya sampai bingung mau apa setiap kali berangkat kerja. Seperti tidak ada target. Istilah nya saya seperti anak magang yang kadang2 bingung, do nothing di kantor.
Melihat ketidak jelasan jobdesk saya, maka supervisor saya meletakkan saya di posisi proyek perbaikan baru yang sedang dijalankan perusahaan. Yaitu manajemen delivery barang, yang , mana tugas saya adalah menghitung jumlah keluar masuk box untuk delivery barang. Bahkan ketika tidak ada operator yang membantu saya mesti turun tangan angkut2 box sambil membersihkannya. Saya benar2 stress pak…. Mengingat saya kesini dengan berbagai bayangan indah. Ternyata saya Cuma jaid operator yang tidak jelas jobdesknya.
Saya ingin resign pak, saya beberapa kali mengirim lamaran ke perushaan lain yang lebih bonafid, beberapa kali pula dipanggil tes, walaupun ada beberapa perushaaan yang tidak saya datangi karena terpentok jadwal kerja.
Saya takut kebanyakan ijin, takut resign juga sebelum dapat yang baru. Tapi saya juga tidak mau di tempat yang ternyata prospeknya tidak pasti seperti sekarang.
Walau saya punya keyakinan akan dipanggil tes oleh banyak perushaan mengingat saya termasuk cumloud dan aktivis kampus dulu Pak..
Bagaimana ini pak,, apa saya perlu resign secepatnya atau pintar2 mencari strategi mencari kerja di perushaan lain sambil bertahan?
Mohon Bantuannya sangat Pak…
tia
Februari 17, 2011 pada 7:47 am
@tia
Sebaiknya Anda segera cabut dr tempat itu.
Di luar masih banyak company lain yg lebih baik.
Untuk apa kita menua di tempat yg tidak membahagiakan?
Hidup ini singkat. Hiduplah yg cemerlang.
joko
Maret 22, 2011 pada 3:20 am
yup.. sangat setuju, buat apa kita bertahan dengan pekerjaan yang jau dari harapan kita, sedngkan diluar sana mash banyak pekerjaan yang lebih baik, hidup terlalu sempit jika kita tidak memulai hal yang baru.
Saputra Alfino
November 22, 2012 pada 8:47 am
Betul…
banyak pilihan ada di luar sana….
dadigen
Mei 10, 2011 pada 4:17 pm
aktivitas yang sama saya lakukan 6 bulan terakhir ini setelah “dipaksa” keluar dri salah satu program MT.
codinda31
Juli 2, 2011 pada 12:19 pm
Saya lulusan akutansi smk. . .pingin cri kerja. M0hon do’a,nya. . .
Faisal
Februari 17, 2012 pada 5:54 am