Arsip untuk September 2010
Kenapa tentara gampang ditipu dan kenapa teamwork itu sangat penting
“A: Jadi gini Jar, tentara itu sebenarnya gampang ditipu lho, apalagi dalam bisnis”
“B: Kok bisa?”
“A: Iya, tentara dalam bekerja itu mengandalkan kepercayaan, untuk bisa menjalankan tugas penyerangan misalnya, si tentara harus percaya betul bahwa si prajurit A akan menjaganya dari sisi kiri dan si prajurit B akan menjaganya dari sebelah kanan. Tanpa kepercayaan tugas itu mustahil bisa dilaksanakan”
“B: “Ok, paham sedikit”
“A: “Iya, apalagi hampir semua pekerjaan dikerjakan secara bersama-sama, dalam satu tim kerja. Praktis, unsur kepercayaan menjadi unsur yang paling penting untuk membangun teamwork yang sangat solid. Esprit de Corps, Jiwa Korsa dan jargon-jargon kebersamaan kan merupakan jargon andalan tentara”
“B: “Hmm, hubungannya dengan gampang ditipu?”
“A: “Nah itu dia, ketika si tentara berhubungan dengan dunia luar, dengan masyarakat pada umumnya. Seringkali si tentara juga terlalu percaya terhadap rekan kerja atau rekan bisnisnya. Akibatnya ya ditipu habis-habisan. Dan kalau bicara statistik, rasa-rasanya tidak sedikit yang tertipu”
“B: “Menarik, menarik analisanya”
“A: “Iya dan jangan lupa, manusia itu pada dasarnya tiga hal: Malas, Bodoh dan Tidak Jujur. Percaya ga? coba lihat diri kamu sendiri? benar kan!”
Dialog dengan teman karib saya saat halal bihalal kemarin mengingatkan saya kembali akan pentingnya membangun kepercayaan. Team yang solid, partner yang langgeng sebenarnya tidak jauh-jauh dari bagaimana sistem kepercayaan antar individu ini dibangun. Kejadian-kejadian yang hampir bersamaan, baik saya pribadi di kantor, pengalaman istri berbisnis dan kejadian luarbiasa beberapa pekan terakhir, hingga pengalaman si teman yang juga tertipu, membuat saya semakin yakin bahwa untuk membangun team yang solid tidak cukup hanya dengan kepercayaan saja, tapi fungsi pengawasan juga merupakan fungsi yang sangat penting.
Diakhir dialog, si teman kembali mengingatkan
“A: Tapi apapun fungsi pengawasan yang kamu rancang Jar, tetap saja, namanya kecolongan itu pasti terjadi. Sehebat apapun dirimu merancangnya”
“B: Iya tuh, terus gimana, pusing juga kan ngaturnya”
“A: Betul, tidak ada pilihan lain. Makanya banyak pengusaha itu hidupnya jatuh bangun, bikin bisnis besar terus tertipu, hilang semua, mulai lagi kemudian menjadi besar. Bukankah orang-orang yang berhasil dengan membangun sistem kepercayaan itu tidak sedikit. Semangat kawan”
Mari menyederhanakan hidup
“Hidup, kalau dibuat kompleks maka akan menjadi sangat kompleks. Sebaliknya kalau dibuat sederhana maka hidup itu sebenarnya (seharusnya) sangat mudah”
Kata-kata yang entah diucapkan pertama kali oleh siapa, diamini oleh banyak orang tapi aplikasinya sangat sulit.
Senin ini kehidupan akan menjadi normal, semua orang sudah kembali bekerja, kemacetan dimana-mana, tuntutan dan tekanan menjadi bagian abadi dalam aspek kegiatan sehari-hari. Setelah momen pengendalian diri sebulan lamanya rasanya hilang dihajar momen bersuka ria saat lebaran tiba, dilanjutkan dengan beristirahat panjang dan Senin ini kehidupan akan kembali berdenyut. Mungkin bukan denyutnya orang sehat, tapi orang stroke yang tersendat-sendat.
Istriku permataku – 10 kewajiban suami pada istri
Sebagai seorang suami, rasa-rasanya asalkan sudah memberikan nafkah lahir dan batin tugas kita sudah selesai. Dan kalau sudah pulang larut malam, rasa-rasanya tidak ada hal yang lebih menarik selain beristirahat dan tidur. Ternyata, tidak demikian. Berdasarkan pengamatan kecil, memang banyak hal-hal kecil, kebiasaan buruk yang saya lakukan yang potensial untuk menimbulkan pertengkaran kecil dengan istri, misalnya kebiasaan buruk untuk menunda perbaikan kecil dirumah, dari memasang spanduk -duh lupa terus Nda, sampai tidak merapihkan barang-barang.
Pembagian tugas dalam rumah tangga sering menjadi penyebab pertengkaran pasangan suami-istri. Pertengkaran rumah tangga sedikitnya menghabiskan 40 menit setiap hari. source
Sepuluh masalah rumah tangga yang paling sering menimbulkan pertengkaran
1. Membuang pakaian sembarangan (35 persen)
2. Mengabaikan perbaikan rumah (28 persen)
3. Mencuci pakaian (24 persen)
4. Tidak memperbaiki peralatan rumah tangga yang rusak (17 persen)
5. Tidak membuang sampah (17 persen)
6. Tidak merapikan kamar dan tempat tidur (12 persen)
7. Meninggalkan kamar mandi terbuka (10 persen)
8. Menyembunyikan sampah (9 persen)
9. Tidak membersihkan cucian piring (9 persen)
10. Memperbaiki sendiri peralatan rumah tangga (6 persen)
Semoga bisa menjadi suami yang lebih baik lagi. Love u nda.
“…Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka…” Al Baqarah 187

