Arsip untuk Oktober 2010
Melihat dari sisi yang berbeda
Apa sih solusi yang paling mujarab mengatasi stress? menurut saya jawabannya hanya satu: mengurangi beban. Mengurangi beban atau apapun yang menjadi penyebab stress adalah solusi yang paling mujarab. Cara mengurangi itu pun banyak triknya, mulai dari mendelegasikan (bagi yang sudah punya anggota), me-simplify (bagi yang single fighter) hingga yang paling gampang: kabur, lari, lepas (bagi yang tidak ada pilihan). Intinya beban itu harus dikurangi, apa dan bagaimanapun caranya. Gampang kan.
Lalu bagaimana bila masalah tersebut adanya pada tingkat organisasi atau sekelompok orang yang lebih besar. Satu department lah yang merasa bebannya terlalu berat, atau ada divisi yang merasa fungsinya tidak mendapatkan perhatian. Atau ada sekelompok orang dalam perusahaan yang sudah sangat frustasi menyikapi situasi yang terjadi.
Menurut saya pribadi, bila hal itu terjadi atas sekelompok orang, maka situasinya bisa menjadi sangat buruk, sikut-sikutan, saling menjelek-jelekkan, hingga tren ‘orang-orang bagus meninggalkan perusahaan’. Tapi disisi lain sekelompok orang ini sebenarnya punya potensi yang lebih besar dan tentunya punya kemampuan yang lebih baik dalam menyikapi beban yang dihadapi bersama.
Bukankah kendali hidup itu ada ditangan kita.
Bintaro, kicauan nglantur dipagi hari
Menjadi pemimpin yang baik
Ada perbedaan yang sangat besar antara mengerjakan sesuatu dengan memimpin orang untuk mengerjakan sesuatu. Seorang arsitek yang handal bisa jadi kesulitan saat memimpin sekelompok arsitek untuk menghasilkan suatu karya. Sebaliknya tidak sedikit pemimpin yang berhasil mengakomodir anggotanya untuk mencapai tujuan, dengan cara mengoptimalisasikan segala potensi yang ada. Rahasianya? menurut saya kemampuan untuk mengelola ego.
Saat mengelola pekerjaan sekelompok orang, hal yang paling sulit untuk dilakukan adalah mengelola ego tiap-tiap orang dengan baik. Ada anggota tim yang egonya kecil tapi potensinya besar, ada yang egonya besar namun potensinya kurang bisa dikembangkan.
Tapi terkadang dilema seringkali muncul, seorang pemimpin dituntut mampu menunjukkan wibawanya dihadapan anggotanya. Sementara disisi lain pemimpin tersebut harus lebih sering mendengarkan apa yang menjadi aspirasi anggotanya.
Kemampuan mengenali ego, memahami emosi diri sendiri setelah kemudian mampu mengelolanya menjadi kunci untuk bisa mengenali dan memahami orang lain. Ayo belajar mengenali diri sendiri.
Tekun dan konsisten
Bapak saya pernah bercerita bahwa bila seseorang menekuni pekerjaannya dengan baik, apa pun yang dilakukannya pasti akan membawa hasil. Saya saat ini merasa sedang dalam proses menekuni -yang problemnya ternyata variable waktu yang tidak jelas. Singkatnya saya seringkali tidak sabar dengan hasil yang tidak kunjung muncul.
Walau tidak berarti gagal sama sekali, paling tidak saya belajar bahwa perlu waktu yang cukup panjang untuk memahami dengan baik apa yang kita lakukan dan akan menuju kearah mana pekerjaan yang kita kerjakan.
Ambil contoh pekerjaan yang saya lakukan sekarang, untuk memenangkan sebuah project paling tidak perlu waktu 2-3 bulan mulai dari pembuatan RFI, TOR hingga Proposal dan Presentasi Project. Ini belum termasuk durasi project yang dikerjakan yang berkisar dari 1-2 bulan hingga yang berdurasi panjang 2-3 tahun.
Untuk bisa unggul disemua pekerjaan yang kita lakukan hal yang paling penting menjadi prioritas adalah kemampuan untuk membaca, kemampuan untuk bertindak jauh lebih cepat dibandingkan orang lain. Dan yakinlah bahwa semua usaha yang kita lakukan pasti akan terbayar, walau mungkin bukan saat ini, mungkin bukan besok atau tahun depan, tapi pasti terbayar.

