Menjadi pemimpin yang baik
Ada perbedaan yang sangat besar antara mengerjakan sesuatu dengan memimpin orang untuk mengerjakan sesuatu. Seorang arsitek yang handal bisa jadi kesulitan saat memimpin sekelompok arsitek untuk menghasilkan suatu karya. Sebaliknya tidak sedikit pemimpin yang berhasil mengakomodir anggotanya untuk mencapai tujuan, dengan cara mengoptimalisasikan segala potensi yang ada. Rahasianya? menurut saya kemampuan untuk mengelola ego.
Saat mengelola pekerjaan sekelompok orang, hal yang paling sulit untuk dilakukan adalah mengelola ego tiap-tiap orang dengan baik. Ada anggota tim yang egonya kecil tapi potensinya besar, ada yang egonya besar namun potensinya kurang bisa dikembangkan.
Tapi terkadang dilema seringkali muncul, seorang pemimpin dituntut mampu menunjukkan wibawanya dihadapan anggotanya. Sementara disisi lain pemimpin tersebut harus lebih sering mendengarkan apa yang menjadi aspirasi anggotanya.
Kemampuan mengenali ego, memahami emosi diri sendiri setelah kemudian mampu mengelolanya menjadi kunci untuk bisa mengenali dan memahami orang lain. Ayo belajar mengenali diri sendiri.


pertamax….hehe..
Anyway…artikel yang menarik mas Anjar. Saya setuju sekali dan kalau boleh saya mau mencoba comment dari persepsi yang sedikit berbeda tentang seorang “pemimpin yang baik”
Pemimpin yang BAIK. BAIK itu relatif tergantung dari siapa yang memandang. Selama kita bekerja tentu saja kita harus BAIK dari sudut pandang bawahan, pimpinan dan kolega.
Tapi, saya mau diskus kepemimpinan dalam konteks “selama status kita masih pegawai”. saya melihat banyak yang memilih menjadi BAIK di mata pimpinan atau bahkan owner. Dan dari beberapa artikel dan obrolan2 yang saya serap, pemimpin yang BAIK di mata pimpinan/owner adalah yang “get things done”….no matter what…or get the right things done….etc
Walaupun di lapangan dia adalah seorang yang tangan besi, diktaktor, egois, closeminded dll….Tapi selama dia bisa “get things done” maka itu adalah pemimpinn yang baik dan highly rewarded.
persepsi saya ini adalah kepemimpinan konteks “pegawai”. Bukan para pemimpin legendaris yang baik dari sudut pandang sosial, dunia, akhirat yang nama2nya uda jadi nama jalan di Jakarta.
Bagaimana dengan mas Anjar sendiri? atau juragan2 yang lain barangkali?]
nuhun,
andy
Oktober 25, 2010 pada 9:26 am