Anjar Priandoyo

Perilaku Organisasi

dengan 7 komentar

Memimpin 6 orang tentunya berbeda dibanding memimpin 12 orang. Mengelola 2 group juga tentunya sangat berbeda dibanding mengelola 1 group. Sadar atau tidak sadar seringkali kita menggunakan metode pengelolaan atau kepemimpinan yang konsisten itu itu saja sementara jaman berubah dan perilaku organisasi itu sendiri pun berubah semakin cepat.

Semalam, membaca buku Organizational Behavior-nya Stephen P. Robbins -mengingatkan tentang masa-masa kuliah dimana semua penjelasan disusun sangat struktural- mengingatkan saya kembali bahwa pengelolaan organisasi itu tidak bisa dilakukan dengan ‘feeling’ belaka. Karena semua hal yang sifatnya ‘TST’ (tahu sama tahu) itu sebenarnya ada penjelasan ilmiahnya.

Politik kantor misalnya, perbedaan antara manajer sukses dan manajer efektif, motivasi karyawan. Semua hal yang saya yakini TST tersebut ketika dihadapkan dalam sample yang jumlahnya semakin banyak, maka dapat terlihat data-data tersebut membenarkan fakta yang terjadi. Contoh, kelompok karyawan mana yang berprestasi tinggi, atau kelompok mana yang kurang berprestasi.

Moral of the story: Meski saya bukan mahasiswa S2 bisnis, tapi mempelajari text book mengenai organisasi itu sebenarnya lebih mudah jika kita dihadapkan studi kasus langsung dalam kehidupan sehari-hari kita.

Ditulis oleh priandoyo

Januari 3, 2011 pada 12:04 am

Ditulis dalam Pekerjaan

7 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Gaya kepemimpinan setiap orang berbeda, dan kita harus mengenal gaya kepemimpinan kita agar sukses dalam karir.
    Gaya kepemimpinan (S1, S2, S3, S4) tak bisa diterapkan pada orang yang sama karena masing-masing individu adalah unik.

    Belajar tentu diperlukan, juga penyesuaian yang terus menerus, karena selain lingkungan yang berubah, kita sendiri juga berubah. Semoga perubahannya ke arah perbaikan.

    edratna

    Januari 3, 2011 pada 2:35 am

  2. Setiap pemimpin pasti mempunyai gayanya sendiri. Tentu saja tidak ada yang 100% diterima dengan baik oleh anak buahnya.

    Itulah yang menyebabkan ada seseorang yang menjadi sangat berprestasi ketika menjadi bawahan seorang manajer sukses. Tapi menjadi tidak begitu berprestasi ketika dia menjadi bawahan dari seorang manajer lain dengan gaya kepemimpinan yang berbeda.

    Rifky®

    Januari 3, 2011 pada 12:28 pm

  3. Pak, Ada Award Buat bapak anjar…Jika Berkenan diambil Yah…

    http://nurlailazahra.blogspot.com/2011/01/award-dari-tetangga-blogger.html

    nurlailazahra

    Januari 14, 2011 pada 7:28 am

  4. Terimakasih sheringnya mas, artikel di situs ini memberi saya informasi yang bermfaat, keep posting ya …

    coretan9

    Januari 26, 2011 pada 5:09 am

  5. Kulo mikir sampak kpikiran,,,

    Wong mikir

    Januari 27, 2011 pada 7:18 pm

  6. Stiap menungso iku pemimpin. Lan nilai munungso iku kenek d delok teko pengapdiane ing ndermo nang tanggung jawab. Iku pemimpin..

    Wong mikir

    Januari 27, 2011 pada 7:23 pm

  7. Kalau diterapkan konsep keterbukaan di dalam organisasi dan kebersamaan dalam mendapatkan kesejahteraan bersama dengan lebih baik tentunya pemimpinnya dapat banyak sekali saran dari bawahannya dan organisasipun akan semakin lebih besar dan baik

    blogmen

    Februari 4, 2011 pada 7:59 pm


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 317 pengikut lainnya.